Rangkuman Berita Utama Timteng Jumat 18 April 2023

Jakarta, ICMES. Massa kelompok Yahudi Neturei Karta yang dikenal anti-Zionis menggelar unjuk rasa di kota Al-Quds sembari mengibarkan bendera Palestina dan membakar bendera Israel.

Tentara Iran mengumumkan pihaknya telah menyita sebuah kapal tanker minyak yang membawa kargo Amerika Serikat dan mengibarkan bendera Kepulauan Marshall di Teluk Oman, karena pelanggaran hukum.

Lembaga Human Rights Watch menyatakan bahwa pasukan penjaga perbatasan Turki telah melakukan penganiyaan dan penembakan secara membabi buta terhadap warga Suriah yang mencoba melintasi perbatasan.

Kantor berita Bloomberg melaporkan bahwa tak kurang dari 19 negara telah menyatakan minatnya untuk bergabung dengan kelompok BRICS.

Berita Selengkapnya:

Massa Yahudi Neturei Karta di Israel Kibarkan Bendera Palestina dan Bakar Bendera Israel

Massa kelompok Yahudi Neturei Karta yang dikenal anti-Zionis menggelar unjuk rasa di kota Al-Quds sembari mengibarkan bendera Palestina dan membakar bendera Israel pada Rabu malam (26/4).

Mereka menggelar pawai di lingkungan Mea Shearim di kota Al-Quds pada momen peringatan “Hari Kemerdekaan”, yaitu hari berdirinya entitas Israel dan pengusiran penduduk Palestina. Dilaporkan bahwa mereka adalah para pengikut gerakan Neturei Karta, yang dalam bahasa Aram berarti “penjaga kota”.

Bahasa Aram sendiri adalah bahasa Semit Barat Laut yang berasal dari orang Aram di wilayah kuno Suriah, dan dengan cepat menyebar ke Mesopotamia dan Anatolia timur di mana bahasa ini terus ditulis dan diucapkan, dalam varietas yang berbeda, selama lebih dari  3000 tahun.

Para pengikut gerakan itu menggelar pawai yang diriuhkan dengan pekikan slogan-slogan penolakan terhadap berdirinya negara Israel, sembari mengibarkan bendera-bendera Palestina.

Neturei Karta yang terdiri atas umat Yahudi Haredi berkeyakinan bahwa berdirinya negara ilegal Israel bertentangan dengan ajarab agama Yahudi, dan mereka menolak Zionisme dengan segala bentuknya. (alalam)

AL Iran Tahan Kapal yang Memuat Kargo AS di Teluk Oman

Tentara Iran mengumumkan pihaknya telah menyita sebuah kapal tanker minyak yang membawa kargo Amerika Serikat (AS) dan mengibarkan bendera Kepulauan Marshall di Teluk Oman, karena pelanggaran hukum.

Dalam sebuah pernyataan, Angkatan Laut (AL) Iran, Kamis (27/4),  mengatakan, “Tadi malam, sebuah kapal tak dikenal bertabrakan dengan kapal Iran di perairan Teluk Persia, yang menyebabkan hilangnya dua orang dan cederanya sejumlah awak lainnya.”

AL Iran menjelaskan, “Bertentangan dengan peraturan internasional dalam kasus seperti itu, yang membutuhkan bantuan kapal, kapal itu melarikan diri dari Teluk Persia, dan segera setelah permintaan dari Pusat Kontrol dan Penyelamatan Maritim (MRCC), AL Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran, dalam kerangka Pusat Keamanan Maritim Internasional yang bermarkas di Chabahar (tenggara), melakukan pengejaran dan identifikasi kapal tak dikenal itu dan menahanannya di Laut Oman.”

Sesuai perintah pengadilan , dalam operasi ini, kapal perusak Binder dari AL Iran menahan kapal pelanggar tersebut dan membawanya ke perairan pantai Iran.

Di pihak lain, AL AS mengumumkan bahwa Iran telah menyita sebuah kapal tanker minyak yang mengibarkan bendera Kepulauan Marshall di Teluk Oman.

Menurut media AS, data pelacakan satelit dari MarineTraffic.com menunjukkan bahwa kapal itu terletak di Teluk Oman, sebelah utara ibu kota Oman, Muscat, serta datang dari Kuwait dengan tujuan Houston, Texas. (alalam)

Miris, HRW Laporkan Tentara Turki Telah Membunuhi Banyak Warga Suriah di Perbatasan

Lembaga Human Rights Watch (HRW) menyatakan bahwa pasukan penjaga perbatasan Turki telah melakukan penganiyaan dan penembakan secara membabi buta terhadap warga Suriah yang mencoba melintasi perbatasan, dan HRW mendesak pemerintah Ankara untuk menyelidiki pelanggaran ini dan meminta pertanggungjawaban mereka.

Dalam sebuah laporan, HRW, Kamis (27/4), menyebutkan, “Penjaga perbatasan Turki menembak secara membabi buta ke warga sipil Suriah di perbatasan dengan Suriah, menyiksa dan menggunakan kekuatan berlebihan terhadap pencari suaka dan migran yang mencoba menyeberang ke Turki.”

HRW menambahkan, “Pemerintah Turki harus membuka penyelidikan dan meminta pertanggungjawaban penjaga perbatasan yang terlibat dalam pelanggaran HAM berat ini, termasuk pembunuhan di luar hukum, dan mengakhiri impunitas lama atas pelanggaran ini.”

Hugh Williamson, direktur organisasi Eropa dan Asia Tengah, mengatakan, “Pembunuhan sewenang-wenang terhadap warga Suriah itu adalah yang paling mengerikan, dan itu adalah bagian dari pola brutal penjaga perbatasan Turki tanpa pemerintah menangani atau menyelidikinya secara efektif.”

Disebutkan bahwa kekerasan pasukan penjaga perbatasan Turki itu telah menyebabkan kematian ratusan warga Suriah sejak 2015. (raialyoum)

19 Negara, Termasuk Mesir, Saudi, UEA, Aljazair, Iran dan Indonesia Siap Bergabung dengan BRICS

Kantor berita Bloomberg melaporkan bahwa tak kurang dari 19 negara telah menyatakan minatnya untuk bergabung dengan kelompok BRICS.

Duta besar Afrika Selatan untuk BRICS, Anil Sooklal, dalam sebuah wawancara mengatakan bahwa blok pasar yang berkembang dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan itu akan bertemu di Cape Town pada 2-3 Juni untuk membahas perluasannya.

 â€œYang akan dibahas adalah perluasan grup BRICS dan bagaimana ini akan terjadi,” tuturnya.

Dia menambahkan, “13 negara meminta untuk bergabung secara resmi, dan enam negara lainnya meminta secara informal. Kami mendapat permintaan untuk bergabung setiap hari.”

China memulai pembicaraan tentang perluasan ketika menjadi ketua kelompok BRICS tahun lalu, saat mencoba membangun pengaruh diplomatik untuk melawan dominasi negara-negara maju di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Perluasan yang diusulkan itu memicu kekhawatiran di antara anggota lain bahwa pengaruh mereka akan berkurang, terutama jika sekutu dekat Beijing diterima.

PDB China lebih dari dua kali ukuran gabungan keempat anggota BRICS lainnya, menurut Bloomberg.

Sooklal mengatakan bahwa menteri luar negeri dari lima negara anggota telah mengkonfirmasi bahwa mereka akan menghadiri diskusi pada bulan Juni. Selain keanggotaannya, mereka juga akan membahas “titik-titik panas” yang terjadi di lapangan dewasa ini, termasuk Sudan, menurut Russia Today.

Sejak BRIC terbentuk pada tahun 2006, kelompok ini hanya menambah satu anggota baru, yaitu Afrika Selatan, pada tahun 2010.

Pada bulan Februari Sooklal mengatakan bahwa Arab Saudi dan Iran termasuk di antara negara-negara yang secara resmi meminta aksesi. Negara lain yang tertarik untuk bergabung termasuk Argentina, Uni Emirat Arab, Aljazair, Mesir, Bahrain dan Indonesia, bersama dengan dua dari Afrika timur dan satu dari Afrika barat – yang tidak dia sebutkan namanya.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengungkapkan sebelumnya bahwa kelompok BRICS akan membahas inisiatif untuk menciptakan mata uang bersatu di antara negara-negara anggota selama KTT yang akan diadakan di Afrika Selatan.

Menurut Duta Besar Afrika Selatan untuk BRICS, kelompok tersebut bermaksud mengadopsi keputusannya tahun ini mengenai penerimaan anggota baru, serta menentukan kriteria yang harus dipenuhi oleh negara-negara yang ingin bergabung dengan aliansi tersebut, termasuk Arab Saudi, Mesir, dan negara lain yang telah mengajukan permintaan resmi untuk bergabung dengan aliansi itu. (raialyoum)