Rangkuman Berita Utama Timteng Jumat 17 Juni 2022

Jakarta, ICMES. Presiden Suriah Bashar Al-Assad menyatakan bahwa negaranya dan Rusia sedang berperang melawan satu musuh yang sama.

Juru bicara Departemen Luar Angkasa Kementerian Pertahanan Iran Ahmad Hosseini menyatakan negara ini berencana menguji coba roket pembawa satelit Zoljanah yang dikembangkan di dalam negeri.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Ali Bagheri Kani menegaskan negaranya tidak akan membiarkan Rezim Zionis Israel mengkampanyekan Iranphobia.

Berita Selengkapnya:

Presiden Assad: Suriah dan Rusia Berperang Melawan Musuh yang Sama

Presiden Suriah Bashar Al-Assad menyatakan bahwa negaranya dan Rusia sedang berperang melawan satu musuh yang sama.

Hal itu dia nyatakan dalam kata sambutannya saat ditemui delegasi bersama Rusia dan Republik Donetsk yang dipimpin oleh Dmitry Sablin, kepala pihak Rusia pada Komite Persahabatan Parlemen Suriah-Rusia, dan Menteri Luar Negeri Donetsk Natalia Nikonorova, Kamis (16/6).

Kepada Presiden al-Assad delegasi tersebut menjelaskan situasi di wilayah Donbass dan perkembangan operasi militer khusus Rusia di wilayah itu serta upaya pemulangan penduduknya ke kota-kota mereka setelah situasi di banyak daerah pulih dan rekonstruksi dimulai.

Para anggota delegasi itu menegaskan keinginan mereka memperkuat dan meningkatkan taraf hubungan dengan Suriah di segala bidang.  

Dalam rangka ini Menteri Luar Negeri Donetsk menyampaikan pesan Presiden Donetsk, Denis Pushilin, kepada Presiden al-Assad, dan Al-Assad pun menyambut baik pesan ini sembari mengungkapkan kesiapan Suriah memulai kerja untuk peningkatan hubungan dengan Republik Donetsk pada level politik.

Presiden al-Assad mengucapkan selamat kepada anggota delegasi itu atas terbebasnya sebagian besar wilayah Donbass dari cengkraman Neo-Nazi, dan menekankan bahwa Rusia dan Suriah berperang melawan satu musuh yang sama, dan bahwa Amerika Serikat adalah pihak yang mengelola terorisme dan neo-Nazi.

Presiden al-Assad menyatakan bahwa konfrontasi utama dan terbesar adalah melawan kebijakan hegemonik Barat, yang merasa sebagai sentral dunia sehingga ingin mengelola dunia sesuai dengan kepentingannya.

“Karena itu, negara-negara yang membela kedaulatannya sudah seharusnya membangun hubungan yang kuat satu sama lain, yang sekiranya memperkuat pendirian mereka dan mewujudkan kepentingan bangsa mereka,” ujar Al-Assad.

Presiden Suriah menekankan pentingnya kerjasama ekonomi dan hubungan kebudayaan, terutama karena “apa yang dialami rakyat Donbass mirip dengan apa yang dialami rakyat Suriah, sebab negara-negara Barat menggunakan senjata sanksi ilegal dan blokade untuk melumpuhkan ekonomi negara-negara yang tak bersedia tunduk kepada mereka.” (alalam)

Iran Mengujicoba Peluncuran Roket Pembawa Satelit “Zoljanah”

Juru bicara Departemen Luar Angkasa Kementerian Pertahanan Iran Ahmad Hosseini menyatakan negara ini berencana menguji coba roket pembawa satelit Zoljanah yang dikembangkan di dalam negeri.

“Tiga peluncuran pembawa satelit Zoljanah direncanakan untuk penelitian; satu sejauh ini telah dilakukan dan dua lainnya akan dilakukan nanti,” kata Hosseini, Rabu (16/6), sembari menyebutkan bahwa performa roket tiga tahap yang menggunakan bahan bakar kompon itu bisa dievaluasi di setiap peluncuran.

Menurutnya, roket itu berbobot 52 ton dan panjang 25,5 meter, dapat membawa beban hingga 220 kilogram pada orbit 500 kilometer di atas permukaan tanah.

Pekan lalu, Badan Antariksa Iran mengatakan pekerjaan telah dilakukan untuk mempersiapkan tujuh satelit lagi untuk diluncurkan ke orbit.

Pada Maret lalu Pasukan Dirgantara Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) berhasil mengorbitkan satelit pengintai baru bernama “Nour-2”.

Satelit ini dikirim ke luar angkasa dengan roket Qassed buatan dalam negeri dab diorbitkan pada ketinggian 500 km untuk misi pengintaian.

Pada 22 April 2020,  Iran berhasil mengorbitkan “Nour-1”, satelit militer pertama Iran, pada ketinggian 425 km dengan menggunakan roket Qassed yang menggunakan bahan bakar majemuk padat-cair.

Pada Juli lalu, Pasukan Dirgantara IRGC merilis gambar beresolusi tinggi yang diambil oleh Nour-1 dan memperlihatkan Pangkalan Udara al-Udeid, yang menampung hampir 13.000 ribuan pasukan AS di Qatar.

Para pejabat Iran berulang kali menekankan bahwa program militer dan senjata negara republik Islam  bertujuan defensif.

Para analis pertahanan dan pengamat militer mengatakan bahwa latihan-latihan militer Iran dan kemajuannya dalam produksi alutsista  terbukti berhasil menjadi faktor pencegah serangan musuh-musuhnya. (fna)

Iran Nyatakan Tak akan Membiarkan Israel Kampanyekan Iranfobia

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Ali Bagheri Kani menegaskan negaranya tidak akan membiarkan Rezim Zionis Israel mengkampanyekan Iranphobia.

Hal itu dia kemukakan pada pertemuan Asosiasi Akademik Islam Iran di Universitas Teheran, Kamis (16/6), sembari menguraikan fitur strategis aparat kebijakan luar negeri Iran.

Hal yang sama juga dia nyatakan di halaman Twitter-nya dengan menuliskan; “ Musuh-musuh bangsa Iran harus tahu bahwa Iran, yang mampu mengalahkan kampanye ‘tekanan maksimum’ AS  dan memaksa para pemimpin Gedung Putih untuk mengakui kegagalan memalukan ini, tidak akan membiarkan Zionis mempromosikan Iranofobia melalui ‘pemerasan maksimum’ dan melegitimasi sentimen anti-Iran mereka.”

Dalam pertemuan itu,  Bagheri Kani juga menekankan bahwa di antara fitur strategis aparat kebijakan luar negeri dalam pemerintahan Iran  saat ini adalah menghindari “menghabiskan kekayaan kebijakan luar negerinya” demi keberhasilan diplomasi.

 “Dengan kata lain, untuk menunjukkan bahwa kami berhasil di bidang diplomasi, kami tidak mau berkompromi soal prinsip dan landasan politik luar negeri [Iran] dan garis merah kemapanan [Islam],” tambahnya.

Dia menjelaskan bahwa dalam aparat kebijakan luar negeri, Iran memiliki hubungan dekat dengan negara lain bukan bergantung pada atribut Timur atau Barat, melainkan pada kemampuan mereka membantu Iran memenuhi kepentingan dan keamanan nasional  serta kesejahteraan rakyatnya.

Rabu lalu, Dewan Gubernur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengadopsi resolusi yang diusulkan oleh AS dan tiga pihak Eropa dalam kesepakatan nuklir Iran tahun 2015 (Inggris, Prancis, dan Jerman). Resolusi itu menuduh Iran tidak kooperatif dengan Iran badan pengawas nuklir yang bernaung di bawah PBB tersebut.

Pemicu resolusi tersebut adalah laporan yang dikeluarkan oleh IAEA setelah Direktur Jenderalnya Rafael Grossi melakukan kunjungan kontroversial ke Israel dan bertemu dengan para pejabat rezim Zionis ini pada akhir bulan lalu.

Badan tersebut telah menerima dokumen yang dipasok oleh Israel tentang program nuklir Iran, yang oleh Teheran dianggap sebagai dokumen palsu yang disediakan oleh anggota organisasi teroris anti-Iran Mujahedin-e-Khalq (MKO).

Sementara itu, Asisten Presiden yang juga kepala Organisasi Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, menekankan bahwa aksi membuat kegaduhan politik dan media serta memaksakan tekanan tak akan dapat mempengaruhi Iran.

Kepada wartawan di kota Natanz, di provinsi Isfahan, Iran tengah, Kamis (16/6), dia menegaskan bahwa membuka kembali apa yang disebut berkas studi “PMD” tidak akan membantu pihak Barat dalam hal apa pun.

Dia mengatakan, “ Salah satu tujuan dari perjanjian nuklir adalah penutupan selamanya berkas tuduhan kosong Barat terhadap Iran, dan pembatalan embargo. Sebagai imbalannya, kami menerima beberapa pembatasan aktivitas nuklir kami, mengabaikan beberapa hak sah kami, dan kami pun menyetujui beberapa tindak pengawasan agar mereka menanggalkan tuduhan-tuduhan mereka sebelumnya untuk selamanya, atau pembatalan sanksi.” (alalam/presstv)