Rangkuman Berita Utama Timteng Jumat 17 Juli 2020

IRGCJakarta, ICMES. Untuk pertama kalinya, militer Iran menyebutkan jumlah orang Iran yang terbunuh oleh serangan Rezim Zionis Israel di Suriah.

Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi menegaskan negaranya tidak akan tinggal diam melihat setiap fenomena yang dinilainya merupakan ancaman langsung bagi keamanan nasional Mesir dan Libya sendiri serta Arab secara umum.

Azerbaijan dan Armenia saling tuding menembaki posisi militer dan desa, melanggar satu hari gencatan senjata dalam bentrokan perbatasan antara dua negara eks-Uni Soviet yang telah lama berseteru tersebut.

Rusia mengaku telah mengantongi informasi bahwa pasukan Amerika Serikat (AS) yang menempati Zona Al-Tanf, Suriah, melatih kawanan militan bersenjata, dan karena itu Moskow mengecam tindakan AS tersebut.

Berita selengkapnya:

Pertama Kali, Iran Ungkap Kerugiannya Akibat Serangan Militer Israel di Suriah

Untuk pertama kalinya, militer Iran menyebutkan jumlah orang Iran yang terbunuh oleh serangan Rezim Zionis Israel di Suriah.

Juru bicara Angkatan Bersenjata Iran, Mayjen Abu al-Fadl Shukarji, Kamis (16/7/2020), mengatakan bahwa serangan Israel terhadap Suriah selama sembilan tahun terakhir menewaskan delapan orang Iran.

Dia membantah klaim media Israel dan Barat yang menyebutkan jumlah orang Iran yang tewas di Suriah mencapai ratusan atau bahkan ribuan.

Shukarji menilai jumlah besar itu sengaja diklaim oleh Israel dan AS demi mengobarkan perang psikologis dan propaganda terhadap Iran, dan sebagai dalih bahwa Iran masih ada di Suriah.

“Kehadiran Iran di Suriah adalah legal, dan itu dilakukan atas permintaan pemerintah dan rakyat Suriah, dengan tujuan membantu mereka menghadapi terorisme Amerika dan Israel serta untuk berurusan dengan terorisme ISIS,” ujarnya.

Selama bertahun-tahun, media oposisi mengklaim banyak orang Iran terbunuh di Suriah, meskipun hanya memberikan sedikit bukti untuk mendukung klaimnya.

Selain memalsukan jumlah kematian, jumlah total orang Iran yang ada di Suriah juga sangat dilebih-lebihkan, sehingga beberapa website anti-pemerintah bahkan menyebutkan angka “90.000”.

Iran menegaskan bahwa sejumlah anggota militernya datang Suriah selaku penasehat militer, dan mereka menjalankan misinya secara sah karena  resmi diundang oleh pemerintah Damaskus. (tasnim)

Presiden Mesir Sebut Tentaranya Sanggup Ubah Jalannya Perang di Libya

Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi menegaskan negaranya tidak akan tinggal diam melihat setiap fenomena yang dinilainya merupakan ancaman langsung bagi keamanan nasional Mesir dan Libya sendiri serta Arab secara umum.

“Tujuan utama upaya Mesir di semua tingkatan menuju Libya adalah mengaktifkan kehendak bebas rakyat Libya untuk masa depan yang lebih baik bagi negara mereka dan untuk generasi masa depan anak-anak mereka,” ujarnya dalam pertemuan dengan para syekh dan pemuka suku-suku Libya di Kairo, ibu kota Mesir, Kamis (16/7/2020).

Dalam pertemuan yang mengangkat slogan “Mesir dan Libya adalah satu orang dan satu takdir” itu Presiden Mesir menyatakan bahwa “garis merah” yang dia umumkan sebelumnya adalah seruan untuk perdamaian dan demi mengakhiri konflik di Libya.

El-Sisi kemudian bersumbar, “Mesir memiliki pasukan terkuat di kawasan sekitar dan benua Afrika, serta mampu mengubah kancah militer dengan cepat dan tegas di Libya jika mereka ingin melakukannya.”

El-Sisi memastikan kehadiran pihak asing telah meningkat ketegangan di Libya, terutama setelah Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) menandatangani perjanjian dengan Turki.

Menurutnya, perjanjian ini mendorong Turki untuk mendirikan pangkalan angkatan laut dan udara di Libya, selain mendatangkan pasukan bayaran untuk membantu pasukan GNA mengendalikan minyak Libya dan mengancam keamanan negara-negara sekitar.

Dia juga mengatakan, “Ketika pasukan Mesir nanti memasuki Libya, bendera Libya akan dipegang oleh para sesepuh suku.”

Kepada para sesepuh suku-suku Libya El-Sisi menegaskan, “Kami akan memasuki Libya atas permintaan Anda, dan kami akan keluar juga atas perintah dari Anda.”

Di pihak lain, para syekh dan tokoh suku-suku Libya menyatakan otorisasi penuh mereka kepada El-Sisi dan Angkatan Bersenjata Mesir untuk campur tangan demi apa yang mereka sebut melindungi kedaulatan Libya, mengambil semua langkah pengamanan kepentingan keamanan nasional Libya dan Mesir, menghadapi tantangan bersama, dalam rangka mengkonsolidasikan seruan parlemen Libya agar Mesir campur tangan untuk melindungi rakyat Libya dan menjaga kesatuan dan integritas negaranya. (sputnik/arabnews)

Azerbaijan Ancam Serang Fasilitas Nuklir Armenia

Azerbaijan dan Armenia saling tuding menembaki posisi militer dan desa, melanggar satu hari gencatan senjata dalam bentrokan perbatasan antara dua negara eks-Uni Soviet yang telah lama berseteru tersebut.

Kementerian Pertahanan (Kemhan) Azerbaijan, Kamis (16/7/2020), menyatakan salah satu tentaranya tewas, sementara Kemhan Armenia mengatakan seorang warga sipil terluka di desa Chinari akibat serangan drone Azerbaijan.

Sebelum itu, 15 tentara dari kedua belah pihak dan satu warga sipil telah tewas dalam kontak senjata perbatasan sejak Ahad lalu antara dua negara yang pernah berperang di wilayah pegunungan Nagorno-Karabakh pada tahun 1990-an itu.

Kemhan Azerbaijan memperingatkan Armenia akan menyerang stasiun tenaga nuklir Metsamor di Armenia. Ancaman ini dinyatakan sebagai tanggapan atas ancaman Armenia untuk menyerang waduk Mingechavir atau instalasi strategis lainnya di Azerbaijan.

“Pihak Armenia seharusnya tidak lupa bahwa sistem rudal terbaru yang tersedia untuk pasukan kami mampu mengenai Stasiun Energi Atom Metsamor dengan akurasi tinggi, yang akan berubah menjadi tragedi hebat bagi Armenia,” ancam juru bicara Kementerian Pertahanan Azerbaijan, Kolonel Waqif Dargankhali.

Kementerian ini merilis video yang memperlihatkan drone kamikaze Azerbaijan yang disebutnya telah menyerang gudang amunisi Armenia di dekat perbatasan.

Kemhan Armenia mengklaim angkatan udaranya telah menembak setidaknya 13 drone Azerbaijan sejak 12 Juli.

Iran dan Rusia mengaku akan berupaya mengurangi ketegangan antara Azerbaijan dan Armenia, sementara Turki yang bersekutu dengan Azerbaijan bersumbar akan membuat Armenia “membayar mahal” karena berkonfrontasi dengan Azerbaijan. (aljazeera/interfax)

Rusia Kecam Tindakan AS Melatih Kawanan Bersenjata di Suriah

Rusia mengaku telah mengantongi informasi bahwa pasukan Amerika Serikat (AS) yang menempati Zona Al-Tanf, Suriah, melatih kawanan militan bersenjata, dan karena itu Moskow mengecam tindakan AS tersebut.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova, Kamis (16/7/2020), mengatakan, “Ada informasi bahwa mereka yang menduduki ‘zona keamanan’ di sekitar pemukiman At Tanf – kami berbicara tentang orang Amerika – melatih dan memasok senjata kelompok militan bersenjata ilegal Mughawer al-Thura. Ini dilakukan untuk aksi-aksi sabotase di bagian-bagian lain Suriah.”

Tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut,  Zakharova menyebutkan bahwa di kawasan yang ditempati pasukan AS secara ilegal di Suriah, para teroris “alih-alih ditumpas, malah didorong untuk melanjutkan kegiatan mereka.”

Selasa lalu dilaporkan bahwa sejumlah pria bersenjata anggota kelompok Mughawer Al-Thourah yang ditangkap oleh Pasukan Arab Suriah (SAA) di dekat Palmyra, Suriah, mengaku telah dilatih oleh pasukan AS.

Mereka juga mengaku telah dikirim untuk suatu misi yang antara lain menghimpun informasi tentang pasukan Rusia dan Iran di Suriah untuk dijadikan target serangan. (sputnik)