Rangkuman Berita Utama Timteng Jumat 17 Januari 2020

rouhani dan proyek nuklir iranJakarta, ICMES. Presiden Iran Hassan Rouhani menyatakan negaranya sekarang memperkaya uranium lebih banyak daripada sebelum menandatangani perjanjian nuklir.

Yahya Safavi, penasehat Pemimpin Besar Iran Ayatullah Ali Khamenei, menyatakan AS tidak membalas serangan rudal Iran terhadap pangkalan militer AS di Irak karena Washington mengetahui bahwa reaksi balik Teheran akan dapat mencelakakan pasukan dan pangkalan AS di kawasan sekitar.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengumumkan bahwa negaranya pasukan ke Libya untuk mendukung pasukan pemerintahan Perdana Menteri Fayez al-Sarraj dalam perang melawan kubu pasukan Khalifa Haftar.

Berita selengkapnya:

Rouhani: Iran Kini  Memperkaya Uranium Lebih Banyak

Presiden Iran Hassan Rouhani menyatakan negaranya sekarang memperkaya uranium lebih banyak daripada sebelum menandatangani perjanjian nuklir Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) dengan beberapa negara terkemuka dunia pada tahun 2015, karena negara-negara penandatangan yang tersisa dalam perjanjian ini gagal memenuhi komitmen mereka.

Pada pertemuan tahunan ke-59 Bank Sentral Iran (CBI), Kamis (16/1/2020), Rouhani menyatakan Teheran kini sudah tidak lagi menghadapi pembatasan di bidang energi nuklir.

“Hari ini, pengayaan (uranium) dilakukan lebih daripada waktu itu (sebelum penandatanganan JCPOA) dan kami tidak berpangku tangan. Jika mereka (pihak lain dalam JCPOA) mengurangi komitmen mereka, kamipun akan melakukannya, ”ujar Rouhani.

Dia menyebutkan bahwa ketika Presiden AS Donald Trump menarik negaranya keluar dari kesepakatan nuklir multilateral itu, Iran tetap bersabar dan enggan melakukan “kesalahan” serupa. Iran justru mendesak pihak-pihak yang tersisa dalam kesepakatan itu agar mengkompensasi keluarnya Washington.

“Jika mereka menebus (keluarnya AS), kita akan bertahan pada JCPOA, dan jika mereka gagal melakukannya, maka sebagai balasan kita akan mengurangi komitmen kita,”ungkap Rouhani.

Rouhani menyebut negaranya mengadopsi “kebijakan yang tepat dan melakukan hal yang benar,” mendorong khalayak dunia, termasuk Eropa dan rekan-rekan Trump sendiri, agar mengutuk tindakan presiden AS itu dan menilainya “salah.”

Presiden Iran menambahkan bahwa dengan JCPOA Teheran telah membuktikan upayanya berinteraksi dengan dunia.

Rouhani kembali mengecam presiden AS karena melanggar JCPOA dan keluar darinya secara sepihak. Dia menyebut perilaku Trump yang “tak dapat diprediksi” itu telah menyebabkan masalah tidak hanya bagi Iran, melainkan juga seluruh dunia.

Dia juga mengecam AS karena mengintimidasi pihak-pihak Eropa dalam JCPOA, yaitu  Prancis, Inggris dan Jerman, dan mendorong mereka agar ikut meninggalkan JCPOA.

Rouhani menyampaikan pernyataan demikian setelah The Washington Post melaporkan bahwa pemerintahan Trump mengancam akan mengenakan tarif 25 persen pada impor mobil Eropa jika tiga negara Eropa yang dikenal sebagai EU3 atau E3 itu menolak menuduh Iran secara resmi melanggar JCPOA. (presstv)

Penasehat Pemimpin Besar Iran Ungkap Sebab Mengapa AS Tak Membalas Serangan Rudal Iran

Yahya Safavi, penasehat Pemimpin Besar Iran Ayatullah Ali Khamenei, menyatakan AS tidak membalas serangan rudal Iran terhadap pangkalan militer AS di Irak karena Washington mengetahui bahwa reaksi balik Teheran akan dapat mencelakakan pasukan dan pangkalan AS di kawasan sekitar.

“AS mengetahui bahwa jika mereka membalas Iran maka ribuan pasukan serta pangkalan mereka akan celaka, karena itu mereka mengurungkan niatnya,” ujar Safavi, Kamis (16/1/2020).

Dia juga menyebutkan bahwa penyebab lain AS urung membalas ialah ketakutan Presiden AS Donald Trump terhadap lautan pelayat yang mengiringi jenazah mantan komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Jenderal Soleimani yang terbunuh di Baghdad oleh serangan AS.

Safavi menambahkan, “Presiden AS sekarang ini tidak sepenuhnya mengerti kaidah politik, keamanan, hubungan, dan undang-undang internasional. Tentara AS akan terpaksa keluar dari kawasan Asia Barat (Timteng).”

Seperti ramai diberitakan, Kementerian Pertahanan AS Pentagon Jumat 3 Januari 2020 mengumumkan bahwa serangan udara AS di dekat Bandara Internasional Baghdad pada dini hari itu telah menewaskan komandan Pasukan Quds IRGC Jenderal Qassem Soleimani dan wakil ketua pasukan relawan Irak al-Hashd al-Shaabi, Abu Mahdi al-Muhandis, serta beberapa orang lain yang menyertai keduanya.

Iran menyebut serangan itu sebagai aksi teror, dan pada dini hari Rabu 8 Januari 2020 IRGC membalas serangan AS itu dengan menghantamkan puluhan rudal balistiknya ke dua pangkalan militer AS di Irak, termasuk Lanud Ain Assad yang ditempati oleh sekira 1500 tentara AS.

IRGC mengklaim serangannya itu menewaskan 80 tentara AS, sementara Presiden AS Donald Trump mengklaim serangan balasan Iran itu tidak menjatuhkan korban tewas maupun luka.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Iran Amir Hatami, Kamis, menilai serangan balasan Iran itu sebagai wujud “keperkasaan negara Iran” dan “bukti kebulatan tekad Iran dalam melawan musuhnya”.

Dia menambahkan, “Musuh jangan pernah mencoba lagi menjajaki tekad bangsa Iran dan keputusan tegas Republik Islam Iran”.

Hatami juga menyatakan bahwa berkat petunjuk Ayatullah Khamenei negaranya berhasil mengandaskan berbagai konspirasi musuh di kawasan Timteng serta menggalang persatuan dan kekompakan umat Islam, terutama negara-negara yang terlibat dalam Poros Resistensi. (raialyoum/tasnim/alalam)

Presiden Turki Umumkan Pengiriman Pasukan ke Libya

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengumumkan bahwa negaranya pasukan ke Libya untuk mendukung pasukan pemerintahan Perdana Menteri Fayez al-Sarraj dalam perang melawan kubu pasukan Khalifa Haftar.

Dua minggu lalu, Erdogan meminta parlemen memperkenankan pengerahan pasukan ke Libya.

Pengumuman pengiriman pasukan Turki itu dinyatakan beberapa hari menjelang pertemuan di Berlin, Jerman, yang akan membahas krisis Libya dan akan dihadiri oleh Erdogan.

Presiden Turki menegaskan negaranya akan terus menggunakan semua cara diplomatik dan militer untuk menjamin stabilitas di perbatasan selatan darat maupun laut.

Erdogan menyatakan Ankara tidak akan membiarkan kekacauan terjadi di jalanan, dan tidak tunduk  kepada organisasi “teroris”.

“Kami tidak membiarkan panggung jatuh ke tangan para penggalang kudeta, sebagaimana juga tidak menerima pengepungan atas negara kami di sepanjang perbatasan selatan dan ketundukan di depan serangan ekonomi… Kami telah menetralkan 1.250 teroris organisasi PKK selama 2019, dan kami menghalangi banyak kegiatan terorisnya” ungkapnya, Kamis (16/1/2020), seperti dikutip oleh kantor berita Anatolia.

Sehari sebelumnya dilaporkan bahwa beberapa sumber di Suriah menyebutkan sebanyak 2000 militan Suriah telah bertolak dari Turki dan akan segera tiba di Libya untuk berperang.  (raialyoum)