Rangkuman Berita Utama Timteng Sabtu 16 Februari 2019

al-yamani menlu hadi dan netanyahuJakarta, ICMES: Pemimpin Gerakan Ansarullah (Houthi), Abdul Malik al-Houthi, menyerukan kepada warga Yaman simpatisan kelompok ini agar berpartisipasi dalam pawai unjuk rasa akbar pada hari Ahad besok  untuk menandai “permusuhan mereka terhadap entitas Israel.”

Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Mayjen Mohammad Ali Jafari, mengingatkan kepada kawanan teroris agar menunggu balasan telak dari IRGC atas serangan teror mereka baru-baru ini terhadap IRGC.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan kepada televisi NBC yang berbasis di Amerika Serikat (AS) bahwa segala upaya untuk melancarkan aksi militer terhadap Iran tak ubahnya dengan bunuh diri.

Ratusan teroris anggota kelompok ekstremis Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) menyerah kepada aliansi Kurdi-Arab Suriah yang bernama Pasukan Demokrasi Suriah (SDF) di distrik Hajin di bagian timur Suriah dekat perbatasan Irak.

Berita selengkapnya:

Kubu Hadi Bersanding Dengan Netanyahu, Ansarullah Serukan Unjuk Rasa Akbar Di Yaman

Pemimpin Gerakan Ansarullah (Houthi), Abdul Malik al-Houthi, menyerukan kepada warga Yaman simpatisan kelompok ini agar berpartisipasi dalam pawai unjuk rasa akbar pada hari Ahad besok (17/2/2019),  untuk menandai “permusuhan mereka terhadap entitas Israel.”

“Pawai ini akan menegaskan keberlepasan bangsa Muslim kita dari pengkhianatan para munafik, dan menegaskan pula pendirian prinsipal bangsa ini dan kesolidannya dalam melawan agresi,” katanya  dalam sebuah pernyataan pada Sabtu malam (15/2/2019).

Orang-orang munafik yang dia maksud ialah elemen Yaman loyalis presiden tersingkir Abd Rabo Mansour Hadi, sedangkan agresi yang dia maksud ialah invasi militer pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi terhadap Yaman.

Al-Houthi menambahkan, “Konferensi Warsawa hanyalah satu di antara sekian banyak stasiun  konspirasi terhadap umat, namun apa yang membedakannya dari banyak stasiun lain sebelumnya adalah tampilan di depan umum secara terbuka setelah selama ini berjalan secara rahasia.”

Khaled al-Yamani, menteri luar negeri pemerintahan Mansour Hadi,  terlihat duduk di sisi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada pembukaan Konferensi “Perdamaian dan Keamanan di Timur Tengah” di Warsawa, ibukota Polandia.

Pemandangan ini memicu kontroversi luas di media Yaman dan membangkitkan reaksi kemarahan di situs jejaring sosial di mana banyak orang menuntut pemecatannya.

Tanpa menyebutkan nama Khaled al-Yamani, Al-Houthi menegaskan bahwa pemandangan tersebut menggambarkan pengkhianatan yang “memalukan, menghina, dan menyingkap posisi yang dikehendaki si pengkhiatan dan para juragannya (aliansi Saudi dan Uni Emirat Arab) terhadap bangsa kita yang mulia, naudzu billah”

Dia menambahkan, “Mereka ingin menjadikan bangsa kita yang mulia ini sebagai boneka Israel dan alat bagi Amerika sebagaimana yang mereka sendiri. Mereka ingin mengeluarkan bangsa ini dari posisinya yang dimuliakan Allah dengan iman, dan di jalur orientasi dan pengkhianatan itu mereka ingin menjadikan kemerdekaan, kemuliaan, dan kebebasan bangsa ini sebagai tumbal, dan membuatnya berlepas dari norma dan budi pekertinya.”

Namun al-Houthi juga menegaskan, “Bangsa kita yang mulia tetap bersiteguh pada keimanan, moral dan kemanusiaannya bersama bangsa Palestina dan kesucian, berkomitmen kepada isu-isu besar umat, dan permusuhannya terhadap Israel pelaku perampasan dan agresi terhadap umat Islam adalah pendirian yang mendasar dan berbasis akidah.”

Konferensi Tingkat Tinggi Warsawa mengenai Timur Tengah dimulai Rabu lalu. Dalam KTT yang digalang oleh Amerika Serikat (AS) ini Washington berusaha menggalang dukungan dunia kepada upayanya memberikan tekanan maksimal terhadap Iran dan dukungan optimal kepada Israel. (raialyoum/alalam)

Sebut Nama Saudi Dan UEA, Komandan IRGC Minta Kawanan Teroris Tunggu Pembalasan

Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Mayjen Mohammad Ali Jafari, mengingatkan kepada kawanan teroris agar menunggu balasan telak dari IRGC atas serangan teror mereka baru-baru ini terhadap IRGC.

Seperti diketahui, serangan bom bunuh anggota kelompok teroris Jaish al-Adl telah menerjang bus pasukan elit Iran tersebut hingga menyebabkan sedikitnya 27 anggota IRGC meninggal dan 13 lainnya cedera di daerah Sistan-Baluchestan di bagian tenggara Iran, Rabu (13/2/2019).

Mayjen Jafari, Jumat (15/2/2019), menegaskan, “Tekad pemerintahan Islam akan lebih bermanifestasi dan meninggalkan pengaruhnya menyusul pertumpahan darah yang telah mereka lakukan.”

Dia menambahkan, “Tak diragukan lagi kami pasti akan memberikan tindakan setimpal terhadap para teroris yang mengekor kepada pemerintah-pemerintah reaksioner di kawasan, UEA dan Arab Saudi, yang menerima pesanan dari Israel dan Amerika.”

Lebih lanjut  Jaafari mengimbau pemerintah Pakistan agar melakukan tindakan penanganan secara tersendiri terhadap elemen-elemen anti-revolusi Islam Iran. (alalam)

Zarif: Menyerang Iran Sama Dengan Bunuh Diri

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan kepada televisi NBC yang berbasis di Amerika Serikat (AS) bahwa segala upaya untuk melancarkan aksi militer terhadap Iran tak ubahnya dengan bunuh diri.

“Kelompok yang sama yang dulu berada di balik invasi terhadap Irak sedang mencoba menyulut perang terhadap Iran. Tindakan ini sama dengan bunuh diri, ” katanya dalam wawancara di sela-sela Konferensi Keamanan Munich, Jerman, Jumat (15/2/2019).

Zarif mengingatkan bahwa negaranya berbeda dengan negara-negara lain.

“AS biasanya berurusan dengan negara-negara yang kemampuannya bergantung pada luar negeri, sedangkan  kami mengandalkan bangsa kami yang merupakan sumber legitimasi dan kekuatan bagi kami,” ujarnya.

Ditanya mengapa Presiden AS Donald Trump menyatakan keinginannya untuk bertemu dengan Presiden Iran Hassan Rouhani dan membahas lagi perjanjian nuklir Iran, Zarif menyoal, “Mengapa kita harus menegosiasikan lagi suatu perjanjian yang merupakan hasil dari 13 tahun negosiasi, mengingat bahwa kami sudah bernegosiasi bahkan termasuk dengan AS?”

Dia juga mempertanyakan kredibilitas Trump dengan mengatakan, “Mengapa kita harus memercayai Presiden AS Donald Trump, dan apakah dia akan mematuhi tanda tangannya?” (alalam)

Jumlah Terbesar, 450 Anggota ISIS Menyerah Di Dekat Pertabatasan Suriah-Irak

Ratusan teroris anggota kelompok ekstremis Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) menyerah kepada aliansi Kurdi-Arab Suriah yang bernama Pasukan Demokrasi Suriah (SDF) di distrik Hajin di bagian timur Suriah dekat perbatasan Irak.

Pemimpin pasukan adat kawasan barat provinsi Anbar, Irak, Sheikh Qatiri Samarmad al-Obeidi, Jumat (15/2/2019), mengatakan kepada laman berita al-Furat News, “Lebih dari 450 anggota ISIS menyerah kepada SDF di distrik Hajin, Suriah, dekat perbatasan Irak.”

SDF yang didukung AS, Jumat, mengambil kendali penuh atas distrik Hajin yang semula menjadi basis ISIS terbesar di daerah kantung terakhir  kelompok ini di provinsi Deir al-Zour di bagian timur laut Suriah setelah berkobar pertempuran sengit yang menimbulkan banyak kehancuran di distrik tersebut.

Dilaporkan bahwa ISIS kini terkepung di sebuah kawasan sempit dengan luas kurang dari 80 kilometer persegi yang membentang di sepanjang sisi Sungai Eufrat dari desa Al-Bukhater dan desa Abu Hassan di sebelah timur Hajin, bahkan hingga ke perbatasan Suriah-Irak.

ISIS yang tersebar di area seluas sekira lima kilometer, sebelah timur sungai Eufrat di utara Abu Kamal, dari arah utara terkepung oleh SDF, sedangkan dari arah selatan terkepung oleh Pasukan Arab Suriah (SAA) yang merupakan pasukan pemerintah Suriah. (alalam)