Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 18 Februari 2019

kapal selam fateh iranJakarta, ICMES: Presiden Iran Hassan Rouhani telah meresmikan kapal selam baru “Fateh” (Penakluk) yang dipersenjatai dengan rudal jelajah (cruise) untuk meningkatkan kekuatan pertahanan negara republik Islam ini.

Jutaan orang Yaman berkonsentrasi dan berpawai di lebih dari 20 titik yang tersebar di beberapa provinsi Yaman untuk berpartisipasi dalam aksi “Berlepas Diri Dari Pengkhianat” yang menolak dan mengutuk normalisasi hubungan Arab dengan Israel.

Persatuan Ulama Muslimin Internasional  mengingatkan dampak negatif aliansi negara-negara Arab dengan Rezim Zionis Israel yang digalang dengan dalih demi melawan Iran, dan menegaskan bahwa “sasaran sebenarnya adalah isu Palestina.”

Berita selengkapnya:

Iran Luncurkan Kapal Selam Baru Yang Dilengkapi Rudal Jelajah

Presiden Iran Hassan Rouhani telah meresmikan kapal selam baru “Fateh” (Penakluk) yang dipersenjatai dengan rudal jelajah (cruise) untuk meningkatkan kekuatan pertahanan negara republik Islam ini.

Upacara peresmian kapal selam buatan dalam negeri Iran ini  diadakan di pelabuhan selatan kota Bandar Abbas, Provinsi Hormozgan, Ahad (27/2/2019).

Fateh yang sepenuhnya berbasis teknologi dalam negeri ini dapat beroperasi di kedalaman lebih dari 200 meter di bawah permukaan laut selama hampir lima minggu.

Kapal selam semi-berat pertama Iran seberat 527 ton ini mampu membawa dan menembakkan rudal jelajah yang dapat  diluncurkan dari posisi terendam dan dilengkapi dengan persenjataan canggih lain, termasuk torpedo dan ranjau laut.

Fateh juga dibekali sistem peluru kendali dan sistem radar sonik canggih yang dapat mengidentifikasi kapal musuh.

Akhir November 2018, dua kapal selam kelas “Ghadir” yang mampu meluncurkan rudal, torpedo dan ranjau bawah permukaan ke permukaan juga bergabung dengan armada Angkatan Laut Iran.

Presiden Rouhani dalam kata sambutannya pada upacara tersebut mengingatkan bahwa negaranya akan melawan segala bentuk agresi sebagaimana pendiriannya selama 40 tahun sejak kejayaan revolusi Islam tahun 1979, dan Angkatan Laut Iran memiliki posisi tersendiri dalam pertahanan ini.

Dia menambahkan bahwa ancaman asing dan sanksi Barat terhadap Iran justru telah memacu industri dalam negeri sehingga Iran berhasil mengembangkan potensi dan meraihkan kekuatan yang besar di segala bidang, termasuk pembuatan berbagai jenis kapal selam.

Menteri Pertahanan Iran Amir Hatami menyebutkan bahwa kapal selam Fateh dapat menembakkan torpedo berdiameter 533 milimeter serta dapat membawa delapan ranjau laut dan dua torpedo cadangan.

Dia menjelaskan bahwa kapal selam Iran baru ini terdiri atas lebih dari 412.000 keping dan merupakan hasil dari 4,202 juta jam kerja para ahli Iran.

Dia juga menegaskan bahwa kehadiran Fateh merupakan satu bukti baru bahwa kawasan Teluk Persia dapat menjaga keamanan dan pertahanan wilayahnya sendiri tanpa perlu mendatangkan kekuatan-kekuatan asing yang justru menjadi sumber ketegangan.  (presstv/alalam)

Yaman Dilanda Unjuk Rasa Akbar Anti Normalisasi Hubungan Dengan Israel

Jutaan orang Yaman, Ahad (17/2/2019), berkonsentrasi dan berpawai di lebih dari 20 titik yang tersebar di beberapa provinsi Yaman untuk berpartisipasi dalam aksi “Berlepas Diri Dari Pengkhianat” yang menolak dan mengutuk normalisasi hubungan Arab dengan Israel yang belakangan ini dilakukan secara terbuka setelah semula secara diam-diam.

Gelombang kemarahan menyebar di Yaman dan mengecam partisipasi Arab dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Warsawa yang mempromosikan normalisasi hubungan Arab dengan Israel.

Rakyat Yaman meluapkan kemarahan itu melalui aksi demo besar-besar yang diikuti oleh jutaan orang di berbagai kota di sejumlah besar provinsi dengan slogan “berlepas tangan dari para pengkhianat.”

Di Sanaa, ibu kota Yaman, unjuk rasa akbar mengutuk pelibatan nama Yaman dalam proses normalisasi hubungan dengan Israel, dan menekankan komitmen mereka kepada cita-cita Palestina dan pembebasan kota al-Quds (Yerussalem).

Di provinsi Taiz, tiga demonstrasi terjadi di lokasi yang berbeda. Di provinsi Hajjah, para demonstran berkonsentrasi di kota Hajjah, Aman, Kahlan, Kahlan al-Sharaf, Tihama, alun-alun Ar’am, dan Aflh al-Sham.

Di provinsi Bayda warga setempat turun di jalanan kota yang menggunakan nama yang sama dan kota Radaa.

Di provinsi Mahwit, penduduk membanjiri kota Imran dalam pawai “Berlepas Diri Dari Pengkhianat”, sebagaimana penduduk juga turun ke jalanan kota Qafla Atar di provinsi Amran.

Lautan massa juga mengalir ke kota Dhamar dan kota Ibb, dan pawai serupa juga terjadi di provinsi Al-Jawf, Al-Dalea, Hodeidah, Taiz dan Ibb.

Para demonstran menyatakan penolakan mereka terhadap semangat normalisasi hubungan dengan Israel yang juga diusung oleh perwakilan pemerintahan Abd Rabbuh Mansour Hadi pada KTT Warsawa, dan mengutuk duduknya perwakilan itu di samping Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Para demonstran menekankan prinsip bangsa Yaman dalam mendukung perjuangan Palestina dan pembebasan kota suci Al-Quds.

Pemimpin Gerakan Ansarullah (Houthi), Sayyid Abdul Malik al-Houthi, dalam sebuah pernyataan pada dua hari sebelumnya menyerukan kepada seluruh anak bangsa Yaman agar berpartisipasi dalam pawai unjuk rasa akbar pada hari Ahad (17/2/2019) untuk menandai “keberlepasan diri dari para munafikin pengkhianat” dan demi menegaskan keteguhan mereka pada pendirian, iman, dan kontinyuitas mereka dalam melawan agresi. (alalam)

Persatuan Ulama Muslimin Internasional: Arab Menjilat AS Dan Israel Agar Menyerang Iran

Persatuan Ulama Muslimin Internasional  mengingatkan dampak negatif aliansi negara-negara Arab dengan Rezim Zionis Israel yang digalang dengan dalih demi melawan Iran, dan menegaskan bahwa “sasaran sebenarnya adalah isu Palestina.”

Persatuan Ulama Muslimin Internasional  (al-Ittihaad al-‘Aalami li’ Ulama’i al-Muslimin/International Union of Muslim Scholars /IUMS) adalah organisasi ulama Ahlussunnah yang berbasis di Doha, Qatar.

Sejak November 2018 organisasi ini dipimpin oleh Syaikh Dr Ahmad Abdul Salam Al-Raisuni dari Maroko ini setelah sebelumnya dipimpin oleh Syaikh Yusuf Qardhawi, ulama ternama dan kontroversial asal Mesir.

Dalam sebuah pernyataan, Ahad (17/2/2019), IUMS menjelaskan,”Muslimin menyimak dengan penuh rasa prihatin atas apa yang terjadi pada Konferensi Warsawa (mulai diselenggarakan Rabu lalu) berupa pertemuan sejumlah besar pejabat Arab dengan Perdana Menteri Negara Israel yang menduduki Tanah Suci dan negeri mereka di Palestina, membunuh anak-anak mereka, mengepung kota-kota mereka, dan menjudaisasi Al-Quds (Yerusalem) dan Palestina dengan bantuan Amerika.”

Organisasi ini mengingatkan, “Benjamin Netanyahu (Perdana Menteri Israel) sangat senang dalam konferensi ini sembari berucap, ‘Ini adalah titik balik bersejarah’, sementara Menteri Luar Negeri Amerika menyerukan pendekatan dan tindakan untuk mencapai kepentingan bersama antara  Arab dan Israel, dan orang-orang Arab ini lupa terhadap semua yang telah dan akan dilakukan Israel di Al-Quds, Tepi Barat, dan lain-lain.”

IUMS menambahkan: “Beberapa di antara mereka bahkan menyambut dengan ungkapan diplomatik dan dukungan untuk apa yang dilakukan rezim pendudukan (Israel) di Palestina dan Suriah, dan mencemooh apa yang dilakukan para pejuang muqawamah (resistensi anti Israel) yang terkepung…  Semua ini demi membujuk Amerika dan Israel agar menyerang Iran…. Semua indikasi yang ada menunjukkan bahwa sasaran utamanya adalah isu Palestina dan merealiasi apa yang disebut The Deal of The Century (prakarsa damai Amerika Serikat untuk Palestina dan Israel).”

IUMS memperingatkan bahwa “jika terjadi serangan terhadap Iran maka (kawasan) Teluk dan Jazirah (Arabia) mengalami kekacauan destruktif yang hanya akan menguntungkan musuh.”

Lembaga ini menekankan bahwa “keamanan Dunia Islam, termasuk keamanan kawasan ini, tidak akan tercapai melalui kerja sama dan aliansi dengan musuh dan rezim pendudukan yang mengintai kesempatan dan yang slogannya di atas Knesset (parlemen Israel) adalah ‘Dari Sungai Nil Hingga Sungai Eufrat’ serta berambisi untuk kembali ke tanah Khaibar, tanah Bani Nadir dan Qainuqa di Madinah al-Munawwarah.”

IUMS kemudian menegaskan, “Bukan rahasia lagi bahwa proyek Zionis didasarkan pada perpecahan umat (Islam) dan kekacauan agar umat ini disibukkan dengan berbagai persoalan dan perangnya, sementara Zionis sendiri menjadi penonton yang dapat mewujudkan keamanan dan stabilitasnya.” (raialyoum)