Rangkuman Berita Utama Timteng Jumat 14 Februari 2020

soleimani dan nasrallahJakarta, ICMES. Pemimpin kelompok pejuang Hizbullah Libanon Sayid Hassan Nasrallah menceritakan bagaimana dia pertama kali bertemu dengan Jenderal Soleimani.

Turki mengancam akan menyerang para “ekstremis” di provinsi Idlib, Suriah, menyusul kecaman keras Rusia terhadap Turki terkait dengan kawanan teroris di kawasan tersebut.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir mengapresiasi prakarsa Presiden AS Donald Trump yang dinamai Kesepakatan Abad Ini terkait dengan konflik Palestina-Israel.

Berita selengkapnya:

Mengharukan, Sayid Nasrallah Ceritakan Pertama Kali Bertemu dengan Jenderal Soleimani

Pemimpin kelompok pejuang Hizbullah Libanon Sayid Hassan Nasrallah menceritakan bagaimana dia pertama kali bertemu dengan Jenderal Soleimani, komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang terbunuh oleh serangan AS pada awal Januari lalu.

Nasrallah menyebutkan bahwa sejak awal pertemuan para tokoh Hizbullah dengan Soleimani mereka sudah dapat menangkap aura positif dalam diri sosok pejuang legendaris dari Iran itu.

Sekjen Hizbullah ini dalam wawancara dengan media Iran, Kamis (13/2/2020), memuji disiplin yang dijalankannya di mana dia selalu fokus dan eksis di medan laga bersama para mujahidin.

Nasrallah mengaku pertama kali berjumpa dengannya di Libanon setelah dia diangkat sebagai komandan Pasukan Quds.

“Kami berjumpa dengannya di sini dalam pertemuan perkenalan kami dengannya. Sebelum itu saya tidak mengenal Haji Qasem, yakni belum pernah bertemu dengannya, karena dia semula selalu berada di medan-medan perang di Iran dan lalu bertugas di provinsi Kerman, atau Sistan Baluchistan dan semisalnya. Bahkan ketika kami ke berkunjung ke Teheran kami juga tidak bertemu dengannya. Jadi kami semula tidak mengenalnya, dan baru pertama kali bertemu di sini, Beirut,” ungkap Nasrallah.

Dia melanjutkan, “Sungguh, sejak awal pertemuan itu kami merasakan adanya keharmonisan jiwa, intelektual, dan spiritual, dan sejak saat pertama itu kami seolah sudah puluhan tahun mengenalnya, dan diapun seolah juga sudah puluhan tahun mengenal kami.  Jadi, kesan pertama dari pertemuan pertama Haji Qasem dengan para pejabat dan pemimpin Hizbullah, baik mujahidin maupun politisinya, adalah kesan sedemikian baik, positif, dan interaktif, dan sejak itulah dimulai hubungan dengan sosok Haji Qasem dan berlanjut hingga saat kesyahidannya.”

Sayid Hassan Nasrallah kemudian memuji “madrasah” (displin) yang dijalankan oleh sosok yang oleh media Barat dijuluki sebagai “Jenderal Bayangan” itu.

Dia mengisahkan, “Madrasah Haji Qasem ialah pergi ke gelanggang-gelanggang aksi, ke medan tempur, dan kancah-kancah lain. Sejak tahun 1998, yakni sejak kami mulai menjalin hubungan dan saling kenal antara kami dan Haji Qasem, atau sekitar 20-22 tahun lalu, jumlah kedatangan kami kepadanya minim, sedangkan dia selalu mendatangi kami, pergi ke lapangan dan medan laga. Di sini dia menjumpai dan melihat semua rekan, dan pergi secara langsung ke lapangan, serta menyimak para pejuang dan mujahidin.” (alalam)

SAA Masih Bergerak Maju, Turki Ancam Serang “Ekstremis” di Idlib

Turki mengancam akan menyerang para “ekstremis” di provinsi Idlib, Suriah, menyusul kecaman keras Rusia terhadap Turki terkait dengan kawanan teroris di kawasan tersebut.

“Akan digunakan kekuatan di Idlib terhadap orang yang tidak menghargai gencatan senjata, termasuk para ekstremis… Kami akan mengirim unit-unit tambahan untuk memperkokoh lagi gencatan senjata dan demi menekankan bahwa itu berlanjut,” ungkap Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar, Kamis (13/2/2020).

Turki dan Rusia telah berulang kali menyatakan pencapaian gencatan senjata di provinsi Idlib sebagai bagian dari upaya mereka untuk mengakhiri pertempuran di Idlib.

Namun, meski ada kesepakatan untuk mengurangi eskalasi antara Ankara dan Moskow, Pasukan Arab Suriah (SAA) melancarkan serangan di Idlib sejak beberapa bulan lalu dengan dukungan angkatan udara Rusia, dengan alasan bahwa Idlib menjadi benteng terakhir kawanan teroris di Suriah.

Ketika operasi militer SAA meluas di Idlib, terjadi saling tuding antara Turki yang menyokong kelompok militan dan Rusia yang mendukung pemerintah Suriah.

Dalam konteks ini, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menuduh Moskow berpartisipasi dalam “pembantaian” warga sipil, sembari mengecam “janji yang belum dipenuhi.”

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov lantas balik menuduh Ankara tidak melakukan upaya untuk “menetralisir para teroris di Idlib,” dan menegaskan kondisi demikian “tak dapat diterima”.

Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan Turki bertanggung jawab atas “krisis di Idlib,” dan menuduh Ankara “gagal memenuhi kewajibannya mengenai pemisahan antara militan oposisi moderat (Suriah)” dan kelompok-kelompok ekstremis.

Sementara itu, SAA sendiri masih bergerak maju di bagian barat laut provinsi Idlib dan memperkuat kendalinya atas beberapa desa yang baru direbutnya dalam pergerakan menuju daerah strategis Atarib hingga pintu perbatasan Bab al-Hawa antara Suriah dan Turki.

Dalam perkembangan terbaru, SAA berhasil membebaskan desa Aradah dan desa Syeikh Ali yang terletak di jalur Damaskus-Aleppo dari pendudukan kelompok teroris Hay’at Tahrir al-Sham alias Jabhat al-Nusra dan para sekutunya.

Bersamaan dengan ini, bala bantuan militer Turki yang terdiri dari tank dan mobil-mobil lapis baja juga tiba di pinggiran provinsi Idlib dan Aleppo.

Dalam peristiwa lain, Israel kembali menyerang Suriah dengan menembakkan rudal dari arah Dataran Tinggi Golan.

Kantor berita Suriah, SANA, melaporkan bahwa unit pertahanan udara Suriah telah membidik obyek-obyek penyerang di angkasa Damaskus dan berhasil merontokkan beberapa di antaranya.

Tanpa keterangan lebih lanjut, SANA menyebutkan bahwa serangan ke ibu kota Suriah itu berasal dari Dataran Tinggi Golan yang diduduki Rezim Zionis Israel. (raialyoum/alalam)

Menlu Saudi Apresiasi “Kesepakatan Abad Ini”

Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir mengapresiasi “prakarsa Presiden AS Donald Trump yang dinamai Kesepakatan Abad Ini terkait dengan konflik Palestina-Israel, dan menyebutnya sebagai insiatif yang dapat menyediakan basis negosiasi kedua pihak.

“Palestina harus memutuskan sendiri, dan kita harus mendukung mereka. Saya percaya bahwa hal-hal akan menjadi jelas setelah pemilihan AS (dijadwalkan untuk 3 November 2020),” kata Jubeir pada konferensi pers di sela-sela kunjungannya ke Bucharest, ibukota Rumania, Kamis (13/2/2020).

Dia menjelaskan bahwa dalam prakarsa yang diumumkan Trump pada 28 Januari lalu itu terdapat beberapa elemen positif yang dapat memfasilitasi negosiasi antara para pejabat Israel dan Palestina.

Para pemimpin Palestina sendiri, yang memutuskan semua hubungannya dengan Washington pada akhir 2017 setelah Trump mengakui Yerusalem al-Quds sebagai ibu kota Israel, segera menolak mentah-mentah prakarsa itu. Presiden Palestina Mahmoud Abbas bahkan menyebutnya bertempat di “keranjang sampah sejarah.”

Berbeda dengan mereka, Kementerian Luar Negeri Saudi pada 29 Januari lalu justru mengaku “menghargai” upaya Trump dan menyerukan perundingan langsung Israel-Palestina.

“Kerajaan (Saudi) menghargai upaya pemerintah Presiden Trump untuk mengembangkan rencana perdamaian yang komprehensif antara pihak Palestina dan Israel,” ungkap kementrian itu kepada kantor berita resmi Saudi, SPA. (presstv)