Jakarta, ICMES. Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah dalam sebuah pidatonya, Kamis (11/11), menyatakan bahwa Arab Saudi menghendaki perang saudara di Lebanon, tapi sekutunya tak sanggup memerangi Hizbullah.

Pemerintah Iran menanggapi kunjungan Menlu Uni Emirat Arab (UEA) Abdullah bin Zayed Al-Nahyan ke Damaskus, dan menyebutnya sebagai satu langkah postif.
Komandan Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran Brigjen Amir Ali Hajizadeh menyatakan bahwa Israel ditakdirkan untuk musnah, dan bahwa kekuatan drone militer Iran telah membangkitkan kecemasan negara-negara musuh Iran, terutama AS, dan menjadi duri tajam di mata mereka.
Berita Selengkapnya:
Sayid Nasrallah: Nabi Dihujat Saudi Diam, Perang Yaman Dikecam Malah Geram
Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah dalam sebuah pidatonya, Kamis (11/11), menyatakan bahwa Arab Saudi menghendaki perang saudara di Lebanon, tapi sekutunya tak sanggup memerangi Hizbullah, dan bahwa kunjungan Menlu Uni Emirat Arab (UEA) Abdullah bin Zayed ke Damaskus tak ubahnya dengan pengakuan atas kemenangan Presiden Suriah Bashar Al-Assad atas oposisi bersenjata yang didanai oleh negara-negara Arab Teluk Persia.
Sekjen Hizbullah juga menegaskan bahwa AS tak dapat berdominasi sepenuhnya di Lebanon adalah berkat perjuangan para syuhada.
“Sampai sekarang kami belum dapat membebaskan Lebanon dari pengaruh dan hegemoni AS, Lebanon belum keluar dari pengaruh AS, tapi tak ada hegemoni mutlak. Kami telah mencegah hegemoni AS atas Lebanon yang sudah dapat berdiri di atas kaki sendiri dengan melakukan kehendaknya… Lebanon sudah sekian tahun mendapat tekanan, yang berlipat ganda di masa pemerintahan Trump, tapi Lebanon dapat menghadapinya berkat prestasi para syuhada,†papar Sayid Nasrallah.
Dia menekankan keharusan menolak dikte asing, karena “negara yang menerima dikte ini (pastilah) berdusta ihwal kedaulatanâ€.
Mengenai krisis hubungan Lebanon-Arab Saudi belakangan ini, Sekjen Hizbullah menyebut Saudi sengaja mencari-cari alasan untuk membangkitkan krisis dan eskalasi dengan cara menunjukkan reaksi yang amat dan sangat berlebihan dalam bereaksi terhadap pernyataan Menteri Informasi Lebanon George Kordahi tentang Perang Yaman.
“Reaksi Saudi terhadap pernyataan Menteri Kordahi sangat, sangat dan amat berlebihan. Ada para pejabat AS dan diplomat Arab yang bahkan menyebut perang terhadap Yaman dengan ungkapan yang lebih tajam daripada pernyataan Kordahi… Ada negara-negara yang menghujat Rasulullah dan melindungi para penghujat itu tapi Saudi sama sekali tak berbuat apapun terhadap mereka… Saudi menampilkan dirinya sebagai sahabat bagi sebagian besar bangsa Lebanon, tapi apakah patut sahabat berperangai demikian?†cecar Nasrallah.
Dia melanjutkan, “Suriah yang kami sebut sahabat bagi Lebanon sama sekali tak bertindak apapun terhadap Lebanon meskipun negara kami ini mencelanya selama 16 tahun. Suriah tak mencegah masuknya gas dan listrik ke Lebanon meski mendapat serangan, hujatan dan agresi… Iran juga terus melanjutkan kesiapannya membantu tanpa berharap pamrih dari siapapun meski juga mendapat serangan dan hujatan. Lantas apakah patut sahabat berperilaku demikian terhadap sebuah negara hanya lantas bermasalah dengan seorang menteri?â€
Menanggapi desakan supaya Kordahi mundur, Sayid Nasrallah menegaskan dan menyoal, “Kami menolak pemecatan atau pengunduran diri Menteri Informasi Lebanon. Apakah pengunduran diri atau pemecatan mencerminkan negara berdaulat dan bermartabat? Apakah persoalan akan selesai dengan adanya Saudi? Tuntutan dan persyaratan Saudi tak akan berakhir di Lebanon, dan apakah kemaslahatan nasional terletak ketundukan dan terhinaan? Salah satu kemungkinan dari krisis ini ialah bahwa Arab Saudi mencari-cari alasan untuk membuat krisis dengan Lebanon.â€
Sayid Nasrallah menyebutkan, “Kami tahu peran dan agitasi Saudi dalam Perang Juli (Hizbullah vs Israel tahun 2006) agar perang ini berkelanjutan. Saudi juga ingin para sekutunya di Lebanon terlibat perang saudara dengan Hizbullah demi melayani Israel dan AS…. Saudi tak memberi bantuan apapun selama bertahun-tahun, karena menghendaki perang saudara, tapi di Lebanon ada dua tipe orang; satu tak menginginkan perang saudara, dan yang lain tak berkemampuan memasuki perang demikian.â€
Sekjen Hizbullah juga berbicara tentang Israel dengan menyebut negara Zionis ilegal itu sekarang sedang cemas setelah dulu pernah menyebut Arab Springs sebagai lingkungan yang kondusif baginya.
“Latihan-latihan militer Israel berulang kali di wilayah utara Palestina pendudukan merefleksikan kecemasan Israel terhadap Lebanon. Latihan-latihan itu mencerminkan ketakutan Israel terhadap serbuan Lebanon ke permukiman di Al-Jalil (Galilee), dan mencerminkan pula kekhawatiran bahwa kubu resistensi (Hizbullah) akan masuk ke Al-Jalil,†ungkapnya.
Sayid Nasrallah menegaskan bahwa Israel tahu persis besarnya kekuatan militer dan strategi Hizbullah dan para sekutunya, dan bahwa “jika kubu resistensi masuk ke Palestina (Israel) utara dan Al-Jalil maka dampaknya sangat besar bagi entitas rezim pendudukan.†(raialyoum)
Iran Sebut Kunjungan Menlu UEA ke Suriah Langkah Positif
Pemerintah Iran menanggapi kunjungan Menlu Uni Emirat Arab (UEA) Abdullah bin Zayed Al-Nahyan ke Damaskus, dan menyebutnya sebagai satu langkah postif.
Al-Nahyan berkunjung ke Damaskus Selasa lalu dan mendapat sambutan hangat dari pemerintah Suriah. Kunjungan tingkat tinggi UEA ini tercatat sebagai yang pertama kalinya sejak negara-negara Arab Teluk Persia memutus hubungan dengan Damaskus akibat krisis yang melanda Suriah sejak tahun 2011 di mana negara-negara itu menyokong dan mendanai kelompok-kelompok pemberontak dan teroris Suriah.
Kemlu Iran dalam sebuah pernyataannya yang dirilis Kamis (11/11), menyebutkan bahwa Menlu Iran Hossein Amir Abdollahian dalam kontak telefon dengan sejawatnya dari UEA Abdollah bin Zayed Al-Nahyan menilai kunjungan Al-Nahyan ke Damaskus sebagai “satu langkah positifâ€.
Sebagaimana beberapa negara Barat dan Teluk Persia, UEA pada Februari 2012 memutus hubungan diplomatiknya dengan Damaskus, sekira setahun setelah pecahnya perang saudara dan badai terorisme di Suriah. Pada akhir 2018, UEA kembali mengaktifkan kedutaan besarnya di Damaskus hingga menjadi awal indikasi keterbukaan Teluk terhadap pemerintah Suriah.
Kantor berita UEA, WAM, melaporkan bahwa kontak telefon tersebut dilakukan atas inisiatif Abdollahian, dan dalam percakapan antara keduanya juga dibahas berbagai persoalan hubungan bilateral, bidang-bidang kerjasama,dan upaya pengembangan segala kegiatan yang menunjang kepentingan kolektif kedua negara. (raialyoum)
Jenderal IRGC: Israel Ditakdirkan Musnah
Komandan Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran Brigjen Amir Ali Hajizadeh menyatakan bahwa Israel ditakdirkan untuk musnah, dan bahwa kekuatan drone militer Iran telah membangkitkan kecemasan negara-negara musuh Iran, terutama AS, dan menjadi duri tajam di mata mereka.
“Sekarang, musuh-musuh kita mengatakan bahwa kita harus berunding mengenai rudal dan drone yang telah menjadi duri di mata mereka,†ujar Hajizadeh, Kamis (11/11).
Dia menyebutkan bahwa upaya negara-negara Barat membatasi kekuatan militer Iran menandakan besarnya kekuatan negara republik Islam ini, dan Teheran tak akan sudi menuruti upaya itu.
“Kami tak memerlukan pembicaraan tentang kekuatan kami, sebab musuh membicarakan apa yang dapat membatasi kekuatan rudal dan pertahanan Iran,†lanjutnya.
Menanggapi ancaman terbaru Israel, Hajizadeh bersumbar, “Satu-satu rezim yang berbicara mengenai ketahanan hidup dan eksistensi adalah rezim Zionis. Karena itu, rezim yang berbicara mengenai eksistensinya adalah rezim yang ditakdir untuk kehancuran, dan tak bisa berbicara tentang kehancuran negara-negara lain.â€
Hajizadeh mengakui bahwa Israel mampu melakukan serangan terhadap Iran, tapi dia memperingatkan bahwa Teheran akan menang dalam konflik bersenjata, dan bahwa desakan konstan dari sekutu Israel untuk membatasi program misil Teheran adalah bukti nyata bahwa Iran berkemampuan memenuhi ancamannya untuk melenyapkan Israel, jika negara Zionis ini menyerang terlebih dahulu.
Sebelumnya, Kepala Staf IDF Israel Aviv Kohavi mengungkapkan bahwa militer negaranya telah melakukan persiapan untuk kemungkinan serangan terhadap situs nuklir Iran.
Tel Aviv yang selalu mengklaim Teheran sedang mengembangkan senjata nuklir mendesak negara-negara besar dunia untuk tidak memulihkan kesepakatan nuklir Iran 2015 dengan dalih bahwa perjanjian ini justru dapat meningkatkan kemampuan Iran untuk membuat nuklir. (raiayoum/sputnik)







