Rangkuman Berita Utama Timteng Jumat 12 Maret 2021

ayatullah khamenei melambaiJakarta, ICMES. Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam pidato menyambut peringatan hari pengutusan (bi’tsah) Nabi Muhammad saw menjelaskan misi agung yang terkandung dalam bi’tsah, termasuk perlawanan terhadap kekuatan angkara murka.

Pasukan Rezim Zionis Israel kembali diketahui bertindak kasar dan bengis terhadap anak-anak Palestina di bawah umur. Aktivis Palestina Naser Nawajaeh merekam detik-detik peristiwa penangkapan lima anak kecil Palestina di daerah selatan Al-Khalil (Hebron), Tepi Barat.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Saeed Khatib Zadeh mengecam Arab Saudi dan para sekutunya terkait dengan berlanjutnya perang Yaman dengan menyatakan bahwa sudah seharusnya Saudi sekarang terjaga dan sadar akan realitas Yaman.

Berita Selengkapnya:

Peringati Bi’tsah Nabi, Ayatullah Khamenei: Islam Mengajarkan Perlawanan terhadap Kezaliman

Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam pidato menyambut peringatan hari pengutusan (bi’tsah) Nabi Muhammad saw, Kamis (11/3),  menjelaskan misi agung yang terkandung dalam bi’tsah, termasuk perlawanan terhadap kekuatan angkara murka seperti yang kini direpresentasikan oleh Amerika Serikat (AS) dan sekutunya di Timteng, dan karena itu juga menyerukan keharusan AS keluar dari Irak dan Suriah.

Mula-mula dia menjelaskan bahwa peringatan bi’tsah Nabi saw merupakan hari besar bagi para pendamba keadilan di dunia, terutama umat Islam, dan bahwa bi’tsah beliau adalah anugerah agung bagi seluruh umat manusia yang mengajak manusia kepada tujuan-tujuan luhur yang bukan hanya untuk kehidupan di akhirat melainkan juga di dunia, termasuk di ranah sosial dan politiknya.

“Bi’stah Nabawi bertujuan menciptakan tatanan politik untuk mewujudkan tujuannya. Sang Maha Pencipta adalah penguasa semua tatanan sosial, sumber hukum adalah kitab-kitab samawi yang turun kepada para nabi, dan para nabi adalah orang yang memerintah di tengah masyarakat serta menerapkan hukum-hukum ilahiah… Agama adalah suatu program yang paripurna bagi kehidupan manusia, dan tak terbatas pada (urusan) individu,” ungkapnya.

Ayatullah Khamenei menyebutkan bahwa siapapun nabi yang diutus oleh Allah untuk menerapkan hukum-Nya pasti ditentang oleh kaum mustakbir dan zalim, dan karena itu pula “musuh menentang Islam politik yang mengelola negara dan lembaga-lembaganya.”

Dia menjelaskan bahwa revolusi besar Islam di Iran adalah dalam rangka menjalankan misi yang terkandung dalam bi’tsah, dan bertolak dari prinsip perlawanan terhadap kezaliman dan penindasan serta pembelaan kaum mustadh’afin, sehingga apa yang pernah dialami Nabi saw berupa konspirasi kaum zalim dan mustakbirin juga di alami oleh revolusi Islam Iran.

“Dalam menghadapi revolusi Islam, musuh menebar dusta dan penyesatan, mengesankannya memusuhi bangsa-bangsa, padahal Republik Islam (Iran) tak memusuhi siapapun, justru bergaul dengan baik dengan siapapun yang tidak memusuhinya, namun di saat yang sama Al-Quran melarang kita bersahabat dengan musuh, menyerukan penggalangan kekuatan untuk menghadapi musuh, dengan kesabaran dan keteguhan yang disertai kekuatan yang dapat mengalahkan musuh,” terangnya.

Dia menambahkan, “Perang lunak lebih berat dan berhahaya daripada perang keras, karena dengan perang lunak musuh membidik kesabaran masyarakat, dan ketika saling bernasihat kebaikan dan kesabaran terputus maka hilanglah kehendak dan menyebarlah keputus asaan.”

Ayatullah Khamenei juga menyinggung gejolak perang di Yaman dengan menyebutkan bahwa invasi dan blokade Saudi dan sekutunya terhadap Yaman yang sudah berlangsung enam tahun terjadi dengan lampu hijau AS, namun rakyat Yaman dapat membela diri dan solid menghadapi serangan musuh, dan karena itu mereka lantas dicap sebagai teroris.

Pemimpin Besar Iran mengecam sikap PBB dalam masalah ini dengan menyoal, “Mengapa PBB tak mengecam kejahatan yang sudah enam tahun dilakukan terhadap bangsa Yaman, dan malah menyalahkan rakyat yang membela diri?”

Lebih lanjut, dia memastikan bahwa Washingtonlah yang menampilkan dan mensponsori kelompok teroris ISIS demi memuluskan eksistensi AS di Timteng, dan dengan dalih memerangi kawanan keji ini AS tak segan-segan mengadakan pangkalan-pangkalan untuk militernya di Irak dan Suriah.

Pemimpin berserban hitam sebagai tanda ulama keturunan Nabi saw ini mengungkap standar ganda eksistensi asing di Timur Tengah. Dia menyatakan bahwa eksistensi Iran di Irak dan Suriah selalu dipersoalkan dan ditentang oleh musuh-musuhnya, padahal eksistensi itu sebatas layanan konsultasi, bukan pengerahan militer, sedangkan pihak musuh jelas-jelas hadir secara militer yang bahkan ditandai dengan pengadaan pangkalan-pangkalan militer mereka.

Ayatullah Khamenei lantas menegaskan keharusan pasukan AS angkat kaki dari Irak dan Suriah.

“Amerika harus keluar dari Irak dan Suriah secepatnya, dan musuh yang pengkhianat ini tak dapat dipercaya,” tandasnya.

Dia juga mengecam apa yang dinilainya kepalsuan dan standar ganda AS dalam isu nuklir. Menurutnya, AS yang pernah melakukan genosida yang menewaskan 220,000 orang dalam satu hari tak layak berlagak sebagai pihak yang berjuang mencegah produksi senjata pemusnah massal. (mm/alalam)

Kejam, Detik-Detik Pasukan Israel Tangkap Lima Anak Palestina

Pasukan Rezim Zionis Israel kembali diketahui bertindak kasar dan bengis terhadap anak-anak Palestina di bawah umur. Aktivis Palestina Naser Nawajaeh merekam detik-detik peristiwa penangkapan lima anak kecil Palestina di daerah selatan Al-Khalil (Hebron), Tepi Barat.

Dalam rekaman video yang beredar di berbagai media Timur Tengah sejak Kamis (11/3) itu terlihat anak-anak kecil Palestina diseret dan dimasukkan ke dalam mobil oleh sejumlah pasukan Zionis bersenjata lengkap dengan dalih bahwa anak-anak itu mengambili tanaman gundelia .

Tampak anak-anak itu menangis dan berusaha memberontak agar dilepaskan, namun pasukan Zionis tetap menyeret paksa dan menggelandang mereka ke arah mobil.

Sumber-sumber lokal mengatakan kepada kantor berita Palestina, Wafa, bahwa tiga di antara lima anak itu bersaudara dengan usia 7-11 tahun. Lima anak itu dibawa ke permukiman Kirbat Arba.

Disebutkan bahwa tiga anak itu dilepaskan setelah ditahan selama lima jam, sedangkan dua lainnya yang berusia 12 dan 13 tahun masih ditahan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut karena dalam undang-undang militer Israel anak dengan usia itu sudah dapat ditindak secara hukum.

Di hari yang sama tiga pemuda Palestina menderita luka terkena tembakan pasukan Zionis, sementara satu lainnya ditangkap dalam peristiwa bentrokan antara kedua pihak di kamp pengungsi Al-Dahihah di selatan Bethlehem.

Sumber-sumber keamanan Palestina menyebutkan bahwa tiga pemuda itu luka diterjang peluru tajam di bagian kaki dalam insiden bentrokan ketika pasukan Zionis mendatangi kamp itu serta menembakkan peluru tajam, gas air mata, dan bom suara. Para korban itu dilarikan ke Rumah Sakit Al-Jam’iyyah Al-Arabiyyah di Beit Jala, dan kondisi mereka dilaporkan stabil.

Sebelumnya, pasukan Zionis juga telah menangkap dua anak kecil di kamp pengungsi Al-Fawar di selatan Al-Khalil. Jaringan berita Al-Quds di halaman Twitter-nya memosting beberapa gambar yang memperlihatkan tindakan pasukan Zionis menutup mata dua anak itu dan menggelandang keduanya ke dalam penjara dengan dalih bahwa keduanya telah melemparkan batu ke arah bus pemukim Zionis yang melintas di selatan Al-Khalil. (rt/alyoum7)

Perang Yaman, Kemlu Iran: Sudah Waktunya Saudi Terjaga dan Sadar

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Saeed Khatib Zadeh mengecam Arab Saudi dan para sekutunya terkait dengan berlanjutnya perang Yaman dengan menyatakan bahwa sudah seharusnya Saudi sekarang terjaga dan sadar akan realitas Yaman.

“Sudah berlalu enam tahun tanpa terealisasinya ilusi penaklukan Yaman dalam tempo tiga minggu, maka sudah tiba saatnya mereka terjaga,” pesan Khatibzadeh kepada Saudi dan sekutunya, Kamis (11/3).

Dia menambahkan, “Saudi kembali melanggar prinsip-prinsip moral dengan cara membom rakyat Yaman yang terblokade dan terkucil. Saudi harus menghentikan pembantaian ini, dan menentukan batas bagi perangnya terhadap Muslimin dan Arab.”

Yaman dilanda perang sejak tujuh tahun silam antara kubu gerakan Ansarullah (Houthi) yang menguasai Sanaa sejak 2014, ibu kota Yaman, dan beberapa provinsi lain di satu pihak dan kubu presiden pelarian Abd Rabbuh Mansour Hadi di pihak lain.

Sejak Maret 2015, pasukan koalisi yang dipimpin Arab Saudi melancarkan intervensi militer ke Yaman membela kubu Mansour Hadi dengan asumsi bahwa Ansarullah dapat segera dikalahkan. Putra Mahkota Suadi Mohamed bin Salman saat itu bersumbar bahwa pihaknya akan dapat menumpas Ansarullah dalam tempo beberapa hari atau paling lambat tiga minggu.

Namun kenyataan, Ansarullah yang didukung oleh tentara yang berada Sanaa dan beberapa provinsi lain belakangan ini terlihat semakin kuat dan gencar melesatkan rudal balistik dan drone berbuatan bom ke wilayah Saudi sebagai balasan atas blokade dan serangan udara Saudi dan sekutunya yang menjatuhkan banyak korban sipil dan kehancuran infrastruktur. (alalam/raialyoum)