Rangkuman Berita Utama Timteng Jumat 12 Juli 2019

iran teluk persiaJakarta, ICMES: Rusia menuduh AS berusaha menambah ketegangan di kawasan Teluk Persia sehingga Negeri Beruang Merah itu mengaku khawatir terhadap kemungkinan terjadinya “konfrontasi langsung” menyusul akumulasi peristiwa antara Iran dan negara-negara Barat.

Kepala Staf Angkatan Darat AS Jenderal Mark Milley angkat bicara mengenai ada atau tidaknya kemungkinan perang negara adidaya ini terhadap Republik Islam Iran.

Wakil panglima pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Brigjen Ali Fadavi memastikan AS dan Inggris akan menyesali tindakan mereka menahan kapal tanker yang memuat minyak Iran di kawasan Gibraltar.

Kepala otoritas Palestina Mahmoud Abbas menyatakan bahwa prakarsa damai AS di Timur Tengah yang dikenal dengan nama “Perjanjian Abad Ini” gagal seperti nasib konferensi Bahrain.

Berita selengkapnya:

Rusia Cemaskan Resiko “Konfrontasi Langsung” Iran dengan Barat di Teluk Persia

Rusia menuduh AS berusaha menambah ketegangan di kawasan Teluk Persia sehingga Negeri Beruang Merah itu mengaku khawatir terhadap kemungkinan terjadinya “konfrontasi langsung” menyusul akumulasi peristiwa antara Iran dan negara-negara Barat.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov, Kamis (11/7/2019), mengatakan, “Situasi sangat mencemaskan, dan kami melihat bahwa resiko terjadinya konfrontasi langsung meningkat pesat belakangan ini serta semakin menyulitkan harapan akan terjadinya perkembangan peristiwa (positif) di masa mendatang.”

Seperti dikutip kantor berita resmi Rusia Ria Novosti, Ryabkov juga mengatakan, “Washington melakukan segala sesuatu supaya krisis berkelanjutan dan terus memburuk.”

Dalam perkembangan terbaru, Inggris mengklaim pasukan Iran Rabu lalu berusaha mencegat kapal tanker Inggris di Selat Hormuz namun terpaksa mundur setelah pasukan maritim Kerajaan Inggris turun tangan melindungi kapal itu. Iran membantah klaim ini.

Kremlin mengaku “mengikuti dari dekat” perkembangan situasi di Teluk Persia dan konsisten kepada “kebebasan pelayaran tanpa syarat di Teluk Persia dan Selat Hormuz” demi kelancaran “perekonomian dunia”.

“Kami kembali mengimbau kepada semua pihak untuk menahan diri di Teluk Persia agar situasi tidak semakin memburuk dan semua persoalan sensitif dapat diselesaikan melalui jalur dialog,” ungkap juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, Kamis.

Pasukan Inggris sejak pekan lalu menahan kapal tanker pengangkut minyak Iran di perairan Gibraltar yang berada dalam kekuasaan Inggris di ujung selatan Spanyol. Iran menyebutkan tindakan ini sebagai aksi “pembajakan” di perairan internasional.

Presiden Iran Hassan Rouhani Rabu lalu memperingatkan bahwa tindakan Inggris itu “berkonsekuensi” buruk. Sedangkan mantan komandan IRGC Mohsen Rezai pada 5 Juli lalu menyatakan Iran bisa jadi akan membalas tindakan itu dengan mencegat kapal tanker Inggris. (mm/raialyoum)

Jenderal AS Berkomentar Soal Kemungkinan Perang terhadap Iran

Kepala Staf Angkatan Darat AS Jenderal Mark Milley angkat bicara mengenai ada atau tidaknya kemungkinan perang negara adidaya ini terhadap Republik Islam Iran.

Dia menyatakan bahwa pemerintah AS tidak sedang mempelajari gagasan perang terhadap Iran seperti perangnya terhadap Irak pada tahun 2003.

Dalam sidang dengar pendapat di komisi angkatan bersenjata Senat AS, Kamis (11/7/2019), jenderal berbintang empat itu menjelaskan bahwa pemerintah AS tidak mempelajari gagasan pengiriman 150,000 pasukan militer ke Iran sebagaimana terjadi dalam perang terhadap Irak.

Saat menjawab pertanyaan tentang ini dari senator Tom Cotton dia mengatakan, “Sebaiknya tidak mendiskusikan soal operasi militer dalam sidang terbuka. Tapi tidak, saya tidak yakin bahwa (dalam pemerintahan Presiden AS Donald Trump) ada orang yang serius memandang gagasan apapun seperti yang Anda sebutkan sekarang.”

Dalam sidang itu dia juga mengatakan, “Saya tidak tahu apakah perang dengan Iran akan terjadi, tapi jika terjadi maka tak diragukan lagi akan berpengaruh signifikan pada distribusi pasukan yang bertanggung jawab atas prioritas pertahanan kita.”

Meskipun menyebut Iran belakangan ini meningkatkan “aktivitas keji”, namun Milley tidak mengkonfirmasi adanya keperluan AS menempuh tindakan-tindakan tambahan terhadap Iran.

“Saya kira, waktu akan memperlihatkan ada atau tidaknya keharusan itu. Ketegangan tentu saja meningkat, dan kita akan melihat situasi dalam beberapa bulan terakhir,” tuturnya. (mm/rt)

IRGC Sebut AS dan Inggris akan Menyesal Menahan Kapal Tanker Iran

Wakil panglima pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Brigjen Ali Fadavi memastikan AS dan Inggris akan menyesali tindakan mereka menahan kapal tanker yang memuat minyak Iran di kawasan Gibraltar.

“Seandainya pihak musuh membuat perhitungan sederhana saja niscaya mereka tidak akan melakukan tindakan yang sangat konyol itu. Tanker itu disewa untuk membawa muatan, tapi  mereka berbuat sedemikian rupa, dan akan sangat menyesali perbuatannya ini,” ujar Fadavi kepada wartawan di Isfahan, Kamis (11/7/2019).

Fadavi mengatakan bahwa revolusi Islam Iran telah mematahkan semua upaya kotor dan keji kubu arogan dunia serta menyiapkan sarana dan strategi yang diperlukan untuk membela kaum tertindas di dunia, termasuk bangsa Palestina.

Karena itu, lanjutnya, tidaklah aneh jika AS dan Inggris melakukan tindakan-tindakan pengecut terhadap Iran setelah mereka tak sanggup menggunakan otot untuk menekuk Iran.

Dia menyebut peristiwa penembak jatuhan drone pengintai canggih AS oleh IRGC meggunakan sistem “3 Khordad” yang sepenuhnya dibuat di dalam negeri oleh para kader pasukan dirgantara IRGC sebagai salah satu bukti ketegasan dan kemampuan Iran membuat dan melaksanakan keputusan.

“Ini merupakan salah satu kemenangan, dan akan terus berlanjut. Masalah ini berpangkal bukan pada kondisi sekarang. AS sudah pernah memasuki perang terhadap kami pada tahun 1987 hingga tahap di mana dalam operasi “Karbala 5” mereka terlibat perang secara langsung terhadap kami sehingga bahkan kapal perang AS menyerang pesawat penumpang kami. Tindakan ini sudah dimulai sejak 30 tahun silam,” papar Fadavi. (alalam)

Abbas: “Perjanjian Abad Ini” Gagal

Kepala otoritas Palestina Mahmoud Abbas menyatakan bahwa prakarsa damai AS di Timur Tengah yang dikenal dengan nama “Perjanjian Abad Ini” gagal seperti nasib konferensi Bahrain.

Dalam pembukaan sesi kedua kedua rapat Dewan Penasehat Fatah di Ramallah, Tepi Barat, Kamis malam (11/7/2019), dia mengatakan, “Sikap Palestina solid dan jelas mengenai semua rencana dan perjanjian mencurigakan yang diupayakan untuk menghabisi” rencana nasional Palestina.

Seperti dilansir kantor berita resmi Palestina, Wafa, Abbas menyebut Perjanjian Abad Ini sudah berakhir dan gagal sebagai kegagalan “lokakarya Manama” yang, menurutnya, telah membuktikan kepada dunia bahwa “Palestina adalah angka pelik yang kepentingan dan hak nasionalnya tak dapat dilanggar ataupun diremehkan.”

Dia menambahkan bahwa setelah Washington mengumumkan statemen-statemennya, baik yang mengakui Quds (Baitul Maqdis/Yerussalem) sebagai ibu kota Israel maupun terkait dengan UNRWA dan lain-lain soal Palestina, “AS bukan lagi mediator bersih yang dapat diandalkan.”

“Kita dan bangsa kita siap menanggung beban demi urusan utama nasional, dan tidak akan mengabaikan syuhada, korban luka, dan tawanan,” tegas Abbas.

Dia menuding Israel terus melanggar perjanjian-perjanjian yang telah diteken oleh kedua pihak di bawah pengawasan internasional, dan melakukan tindakan-tindakan sistematis untuk menghancurkan Perjanjian Oslo.

Mengenai rekonsiliasi Fatah dengan Hamas, Mahmoud Abbas mengatakan, “Kita selalu menyatakan bahwa ada kesepakatan 2017 yang diteken di Kairo dengan pengawasan dari saudara-saudara kita di Republik Arab Mesir. Kami masih berkomitmen kepada perjanjian ini sebagai dasar untuk mewujudkan persatuan nasional, dan kami menantikan respon gerakan Hamas untuk segera mulai menerapkan pasal-pasalnya dan menyudahi perpecahan kelam yang merugikan urusan nasional kita di semua levelnya.” (wafa)