Rangkuman Berita Utama Timteng Jumat 10 Mei 2019

Jakarta, ICMES: Sayap  militer gerakan Jihad Islam, Brigade al-Quds, menegaskan pesatnya perkembangan industri militer Kubu Resistensi di Jalur Gaza berkat dukungan Republik Islam Iran.

Persatuan Ulama Muslimin di provinsi Diyala, Irak, menyatakan mengumumkan mobilisasi umum atau mengerahkan kekuatan rakyat jika Iran diserang oleh negara mana pun.

Sedikitnya enam warga sipil tewas dalam peristiwa bentrokan massa demonstran dengan milisi Kurdi Pasukan Demokrasi Suriah (SDF) di distrik al-Shuhail di pinggiran timur laut provinsi Deir Ezzor, Suriah timur.

Teheran dan Moskow mendesak Eropa agar mematuhi perjanjian nuklir Iran tahun 2015 demi kebertahanan perjanjian yang dinamai Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) ini.

Berita selengkapnya:

Brigade Al-Quds Palestina: Rudal “Badr-3” Melesat Berkat Dukungan Iran

Sayap  militer gerakan Jihad Islam, Brigade al-Quds, menegaskan bahwa penggunaan rudal “Badr 3” dalam konfrontasi Gaza-Israel pada 4-5 Mei lalu menunjukkan pesatnya perkembangan industri militer Kubu Resistensi di Jalur Gaza, dan semua ini terjadi berkat dukungan Republik Islam Iran.

Dalam pidato yang disiarkan saluran TV Palestine Today, Rabu (8/5/2019), juru bicara Brigade al-Quds Abu Hamzah menegaskan, “Perkembangan kemampuan industri militer ini tidak akan terjadi tanpa dukungan kepada Kubu Resistensi, terutama dari Republik Islam Iran, yang tak pernah meninggalkan kami barang sehari di semua bidang.”

badr-3 brigade al-quds

Dia menambahkan, “Pengoperasian rudal Badr 3 membuktikan perkembangan luar biasa dalam kemampuan manufaktur militer di Brigade al-Quds.”

Abu Hamzah juga mengatakan, “Dalam pertempuran kita menyaksikan prestasi-prestasi di lapangan, dan ini juga tidak mungkin terwujud tanpa adanya pusat kolektif dan komunikasi antara Brigade al-Quds dan Brigade al-Qassam pra-eskalasi, demikian pula koordinasi dan kerja sama yang ada antara keduanya dalam kejadian.”

Mengenai serangan Israel dia mengatakan, “Serangan Israel ke rumah-rumah penduduk menunjukkan kepanikan musuh dan kelemahannya dalam berhadapan dengan Kubu Resistensi di medan pertempuran.”

Jalur Gaza diwarnai eskalasi militer sejak Sabtu pagi lalu (4/5/2019), ketika tentara pendudukan Israel melancarkan serangan udara dan artileri berat ke berbagai sasaran di Jalur Gaza, sementara faksi-faksi pejuang Palestina di Gaza menembakkan banyak roketnya ke Israel selatan.

Menurut Departemen Kesehatan Palestina di Gaza, serangan Israel menggugurkan 27 warga Palestina, termasuk 4 wanita, 2 janin, 2 bayi dan satu anak, serta   melukai 154 warga Palestina lainnya.

Salah satu pejuang Palestina yang gugur terkena serangan udara Israel adalah Hamed Ahmed Al-Khodari, seorang komandan Hamas. Militer Israel menyatakan bahwa Al-Khodari adalah sosok yang bertanggungjawab menyalurkan bantuan Iran kepada para pejuang Palestina di Jalur Gaza.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) memublikasi video serangan udaranya terhadap sebuah mobil yang dikendarai Al-Khodari di sebuah jalan di kawasan yang padat bangunan.

Di pihak lain, menurut media Israel, empat warga Zionis tewas dan sedikitnya 130 orang terluka akibat gempuran roket Palestina yang diluncurkan dari Jalur Gaza.

Menurut channel al-Aqsa, situasi di Jalur Gaza kembali tenang namun dengan status waspada pada hari Senin (6/5/2019), menyusul pengumuman gencatan senjata antara Gaza dan Israel yang diprakarsai Mesir dan pihak internasional.( railayoum)

Persatuan Ulama Irak Akan Serukan Mobilisasi Umum Jika Iran Diserang

Kepala Persatuan Ulama Muslimin di provinsi Diyala, Irak, Jabbar al-Mamouri, mengaku akan mengumumkan mobilisasi umum atau mengerahkan kekuatan rakyat jika Iran diserang oleh negara mana pun.

“Seluruh rakyat Irak tidak akan melupakan pendirian Republik Islam Iran ketika kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (IS/ISIS/ISIL/DAES) berada di sekitar Baghdad. Iran menyokong kami dengan senjata dan para penasihat militer untuk mengandaskan bahaya eksistensial yang mengancam Irak manakala negara-negara lain enggan menyokong kami,” tegas al-Mamouri dalam pernyataan persnya, sebagaimana dikutip al-Alam, Kamis (9/5/2019).

Dia melanjutkan, “Persatuan Ulama Muslimin akan mengumumkan mobilisasi umum jika Teheran diserang oleh penyerang dari pihak mana pun. Kami akan mengirim anak-anak muda kami untuk membantu membelanya.”

Dia bagian akhir dia menegaskan, “Timur Tengah hari demi hari mendekati tsunami berbahaya yang diproyeksikan oleh Rezim Zionis.”

Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (AS), Pentagon, Selasa lalu (7/5/2019) menyatakan negara ini akan mengirim beberapa pesawat pembom B-52 ke Teluk Persia untuk mencegah serangan yang diklaimnya bermungkinan sedang dipersiapkan oleh Iran.

Penasihat keamanan nasional John Bolton hari Minggu lalu juga mengumumkan pengerahan kapal induk serta satuan-satuan angkatan udara dan angkatan lautnya di wilayah Teluk Persia. (alalam)

Unjuk Rasa Di Deir Ezzor Direpresi Oleh SDF, 6 Orang Tewas

Sedikitnya enam warga sipil tewas dalam peristiwa bentrokan massa demonstran dengan milisi Kurdi Pasukan Demokrasi Suriah (SDF) di distrik al-Shuhail di pinggiran timur laut provinsi Deir Ezzor, Suriah timur. Demikian dikatakan sumber-sumber lokal, seperti dikutip al-Alam, Kamis (9/5/2019).

Dilaporkan bahwa dalam peristiwa itu SDF yang didukung helikopter pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat telah merepresi ratusan massa yang berunjuk rasa memrotes kesewenang-wenangan SDF yang dibeking oleh pasukan koalisi.

Koresponden kantor berita resmi Suriah, SANA, melaporkan bahwa dalam bentrokan antara kedua pihak itu milisi SDF tak segan-segan memuntahkan peluru tajam ke arah para pengunjuk rasa hingga jatuh enam korban tewas.

Di bagian lain, di tengah ramainya pemberitaan bahwa Pasukan Arab Suriah (SAA) memulai operasi militer di provinsi Idlib, pasukan pemerintah Suriah ini terus bergerak maju menuju pedesaan Hama utara, dan mengumumkan pembebasan dan pemulihan kendalinya atas sejumlah desa dan area pertanian.

Sebagai persiapan “operasi militer Idlib”, unit-unit tentara Suriah telah membersihkan kota Kfar Nabudah di barat laut Hama dari keberadaan kelompok teroris Jabhat al-Nusra dan sekutunya, beberapa jam setelah dimulainya serangan fajar pada hari Rabu lalu.

Kontrol atas Kfar Nabudah memungkinkan tentara Suriah membuat posisi-posisi baru guna menindaklanjuti operasi militer menuju al-Hubait di timur, dan Benteng al-Madiq di barat, serta memungkinkannya untuk menghubungkan dua sisi utara dan barat provinsi Hama, dan dengan demikian akan dapat merebut lagi kendali atas kawasan Hama yang masih dikuasai kawanan bersenjata. (alalam/sana)

Iran Dan Rusia Desak Eropa Patuhi Perjanjian Nuklir JCPOA

Teheran dan Moskow mendesak Eropa agar mematuhi perjanjian nuklir Iran tahun 2015 demi kebertahanan perjanjian yang dinamai Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) ini.

Dalam jumpa pers bersama Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov di Moskow, Rabu (8/5/2019), Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan bahwa JCPOA dapat dipertahankan jika pihak Eropa dalam perjanjian ini bersedia memenuhi kewajibannya.

Zarif mengatakan bahwa Rusia dan Cina telah memenuhi kewajiban masing-masing, “tetapi negara-negara lain, khususnya pihak Eropa dalam JCPOA,  gagal menghorgai komitmen mereka.”

Dia menambahkan, “Sekarang ada jendela waktu singkat ketika penandatangan lain perjanjian ini, terutama negara-negara Eropa … dapat menghormati kewajiban itu. Jika komitmen ini dihormati maka kami dapat menjamin kebertahanan JCPOA.”

Zarif juga membela keputusan Teheran bekalangan ini untuk mengurangi komitmennya kepada JCPOA.

Dia juga menjelaskan bahwa meskipun dalam satu tahun terakhir ini Amerika Serikat (AS) telah melakukan berbagai tindakan dekstruktif, namun Iran tetap konsisten pada JCPO, sedangkan keputusan yang diambil Iran sekarang justru demi  implementasi JCPOA dan sesuai haknya yang dijamin dalam pasal 26 dan 36 perjanjian ini.

Di pihak lain, Uni Eropa (UE), Kamis (9/5/2019), balik mendesak Iran agar terus menerapkan kewajibannya. UE juga memperingatkan Teheran ihwal keputusan Iran akan mengurangi komitmennya kepada JCPOA dan memberikannya jeda 60 hari untuk bernegosiasi dengan Iran.

UE menyatakan, “Kami tetap berkomitmen penuh untuk mempertahankan dan mengimplementasikan perjanjian ini secara penuh … Kami sangat mendesak Iran untuk terus menerapkan sepenuhnya kewajiban dalam perjanjian itu sebagaimana telah dilakukan sejauh ini dan untuk menahan diri dari apa pun.” (presstv/raialyoum)