Rangkuman Berita Utama Timteng Jumat 10 Juli 2020

militer MesirJakarta, ICMES. Militer Mesir segera menunjukkan reaksi tegas sehari setelah pasukan Turki mengumumkan manuver militernya di dekat Libya.

Satu komandan militer pemerintahan presiden pelarian Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi yang didukung pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi tewas terkena serangan drone kelompok pejuang Ansarullah (Houthi).

Pemerintah Irak mengumumkan hak negara ini untuk menanggapi operasi militer Turki jika terus berlanjut di wilayah Irak.

Pelapor Khusus PBB tentang eksekusi di luar pengadilan, Agnes Callamard, mengecam keras tindakan Amerika Serikat (AS) membunuh Jenderal Iran Qassem Soleimani.

Berita selengkapnya:

Makin Panas, Turki dan Mesir Sama-Sama Gelar Latihan Perang Dekat Libya

Militer Mesir segera menunjukkan reaksi tegas sehari setelah pasukan Turki mengumumkan manuver militernya di dekat Libya.

Menteri Pertahanan Mesir Letjen Mohamed Zaki, Kamis (9/7/2020), menyerukan kepada angkatan bersenjata negara ini agar mempertahankan status siaga tertingginya untuk menghadapi segala kemungkinan ancaman.

Media Mesir mengabarkan bahwa militer negeri piramida ini sedang bersiap menggelar manuver militer di dekat perbatasan Libya dengan sandi  “Decisive 2020”, yang merupakan tanggapan terhadap pengumuman Turki tentang latihan perang angkatan lautnya di Mediterania.

Para pengamat menilai sandi yang dipakai untuk latihan perang pasukan Mesir itu sebagai pertanda memanasnya situasi.

Saluran Mesir Al-Qahira wa Al-Nas dalam sebuah posting di Twitter menyebutkan bahwa Angkatan Bersenjata Mesir, dengan semua cabang utamanya, menggelar manuver Decisive 2020 di perbatasan barat dekat Libya, dan ini terjadi setelah Angkatan Laut Turki mengumumkan akan mengadakan manuver besar di lepas pantai Libya.

Media Turki mengutip pernyataan Angkatan Laut Turki bahwa manuvernya akan menggunakan sandi “Naftex”, dan akan berlangsung di lepas pantai Libya di tiga wilayah berbeda, dan masing-masing akan memakai nama khusus, yaitu “Barbaros”, “Targot Rais” dan “Teluk Chaka”.

Media Turki menyebutkan bahwa manuver-manuver ini akan berlangsung segera, dan bahwa mereka sedang berlatih untuk mengantisipasi perang di Mediterania timur, di samping apa yang disebutnya sebagai eskalasi ketegangan di Libya belakangan ini.

Seperti diketahui, Turki terlibat langsung dalam perang saudara di Libya dengan menyokong operasi militer kubu Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) terhadap kubu Tentara Nasional Libya (LNA) yang didukung Mesir.

Beberapa waktu lalu, Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi memperingatkan bahwa Sirte merupakan “garis merah” bagi keamanan nasional Mesir.

Seorang pejabat senior anonim Turki lantas mengatakan kepada Reuters bahwa pernyataan el-Sisi itu tak dapat membendung dukungan Turki kepada sekutunya di Libya. Selain itu, Wakil Presiden Turki Yasin Aktay balik memperingatkan bahwa “campurtangan Mesir secara langsung akan membuat Mesir berhadapan dengan Turki yang merupakan anggota NATO”.

Pengamat militer Mesir Mohamad al-Kanani menyatakan bahwa manuver militer baru Mesir menegaskan kesiapan negara ini untuk menghadapi segala skenario terkait dengan Libya.

Sekjen PBB Antonio Guterres mengaku sangat cemas atas pergerakan yang sedang berlangsung terkait dengan kota Sirte yang dikuasai LNA dan akan diserang oleh GNA.  (raialyoum/amn)

Komandan Pasukan Pro-Saudi di Yaman Tewas Diserang Drone Ansarullah

Satu komandan militer pemerintahan presiden pelarian Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi yang didukung pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi tewas terkena serangan drone kelompok pejuang Ansarullah (Houthi) di provinsi Jawf, Yaman utara.

Sumber militer anonim kubu Hadi mengatakan bahwa komandan operasi Brigade 7 Penjaga Perbatasan Kol. Sultan Khalid Kharsan tewas bersama sejumlah orang yang menyertainya akibat serangan tersebut di kawasan al-Hamdhah, Jawf, yang berbatasan darat dengan Saudi.

Sumber itu tidak menyebutkan keterangan lebih lanjut, sementara pihak Ansarullah juga belum berkomentar.

Perang Yaman sudah memasuki tahun keenam, dan sejak beberapa pekan lalu provinsi Jawf dilanda pertempurangan sengit antara kubu Hadi dan Ansarullah.

Ansarullah mencetak kemajuan besar di provinsi itu sejak awal Maret lalu ketika berhasil menguasai kota al-Hazm, sementara kubu Ansarullah pada awal Juni lalu mengaku sudah bergerak maju lagi hingga hampir dapat mengepung kota itu.

Sementara itu, kubu Hadi dinilai akan kehilangan satu-satunya ibukota administratif yang sepenuhnya berada di bawah kendali mereka, karena Ansarullah terus merebut daerah-daerah Provinsi Marib yang strategis.

Ahab Abdel-Qader, anggota Komisi Internasional untuk Penyelesaian Perselisihan Politik dan Diplomatik, menyataan pasukan Ansarallah sedang bersiap merebut ladang minyak imperatif Marib, yang akan menjadi kerugian besar bagi kubu Hadi.

“Houthi  akan dapat memperluas pengaruh militernya atas seluruh Yaman dalam kepemimpinan yang bersatu dengan loyalitas suku, militer, dan ideologis di bawah pasukan militer yang setia,” ujarnya. (raialyoum/sputnik)

Irak Umumkan Haknya Merespon Operasi Militer Turki di Perbatasan

Kementerian Luar Negeri Irak menyatakan tak ada koordinasi antara Baghdad dan Ankara mengenai operasi militer Turki terhadap Partai Pekerja Kurdistan (PKK) di Irak, dan karena itu Irak mengumumkan opsinya untuk menanggapi operasi militer Turki jika terus berlanjut.

“Kami mengutuk dan menolak keras serangan militerunilateral dan provokatif Turki. Kami menekankan kurangnya koordinasi dengan pemerintah Irak,” ungkap juru bicara resmi Kementerian Luar Negeri Irak Ahmed Al-Sahaf, dalam sebuah pernyataan persnya, Kamis (9/7/2020).

Sahaf menambahkan, “Tindakan itu akan berkontribusi pada peningkatan laju eskalasi di jalur perbatasan antara kedua negara, yang tidak akan baik untuk upaya-upaya anti-terorisme di kawasan, tapi akan mencerminkan keamanan regional. Jadi kami menyerukan kepada komunitas internasional untuk mengambil perannya dalam mendukung hak Irak  mempertahankan kedaulatan dan integritas teritorialnya.”

Di pihak lain, Kementerian Luar Negeri Turki menyatakan, “Ankara bertekad untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan dalam kerangka prinsip bela diri yang berasal dari hukum internasional, terhadap kegiatan destruktif yang datang dari wilayah Irak serta mengancam perbatasan, keamanan, dan stabilitasnya.” (amn)

PBB Kecam Pembunuhan Jenderal Soleimani

Pelapor Khusus PBB tentang eksekusi di luar pengadilan, Agnes Callamard, mengecam keras tindakan Amerika Serikat (AS) membunuh Jenderal Iran Qassem Soleimani.

Dalam laporan Dewan Hak Asasi Manusia PBB yang dirilis di Jenewa, Kamis (9/7/2020), Callamard mengatakan dunia tidak bisa membiarkan masalah ini menjadi preseden berbahaya.

“Pembunuhan yang menyasar Jenderal Soleimani pada Januari 2020 adalah insiden pertama yang diketahui di mana suatu negara menggunakan dalih bela diri sebagai pembenaran atas serangan terhadap perwakilan suatu negara di wilayah negara lain, yang berarti terlibat dalam (pelanggaran) larangan penggunaan kekuatan militer yang termaktub dalam Pasal 2 (4) Piagam PBB,” ungkapnya.

Dia menambahkan bahwa tindakan AS itu dapat ditiru oleh negara-negara lain dalam pergaulan internasional.

Menurut laporan Callamard, sebanyak 102 negara lain memiliki drone, yang 40 di antaranya entah sudah memilikinya ataupun sedang dalam proses pembelian, dan beberapa negara termasuk Israel, Irak, Iran, Inggris, Amerika Serikat dan Turki telah menggunakan drone yang terkadang untuk melakukan pembunuhan. (raialyoum)