Rangkuman Berita Utama Timteng Jumat 10 Januari 2020

IRGCJakarta, ICMES. Korps Garda Revolusi Islam Iran memastikan puluhan tentara AS tewas terkena gempuran rudal IRGC ke pangkalan-pangkalan militer AS di Irak.

Pakar Timteng dari Iran menyatakan bahwa  informasi intelijen yang dihimpun oleh orang-orang Irak dari Pangkalan Ain Assad yang ditempati oleh pasukan AS di Irak mencatat sedikitnya 100 orang tewas dan 300 lainnya terluka akibat gempuran tersebut.

Seorang pejabat militer AS mengungkapkan bahwa Pentagon dewasa ini sedang mempelajari kemungkinan penyesuaian pada postur pertahanannya di Timur Tengah setelah Iran melancarkan serangan rudal terhadap sasaran AS di Irak.

Ketua Organisasi Penerbangan Iran menyebut spekulasi dan anggapan yang dilontarkan oleh sebagian orang bahwa pesawat Ukraine International AIrlines (UIA) jatuh pada Rabu lalu karena ditabrak oleh rudal tak masuk akal.

Berita selengkapnya:

IRGC Pastikan Gempurannya Tewaskan Puluhan Tentara AS, Meskipun Bisa Menghabisi 500 Tentara

Komandan Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Brigjen Amir Ali Hajizadeh dalam jumpa pers, Kamis (9/1/2020), memastikan puluhan tentara AS tewas terkena gempuran rudal IRGC ke pangkalan-pangkalan militer AS di Irak pada dini hari Rabu (8/1/2020).

“Dalam operasi ini kami tidak berniat membunuh orang, meskipun tentu ada puluhan orang yang tewas dan terluka sehingga dievakuasi dengan pesawat C-130. Seandaiknya kami berniat membunuh orang maka kami bisa saja menyusun operasi-operasi militer yang di tahap awalnya saja 500 orang akan terbunuh. Dan seandainya mereka membalas maka karena situasi sudah berubah dan kami tidak lagi berkewajiban menjaga jiwa tentara AS maka pada tahap kedua dan ketiga dalam jangka waktu 48 jam sebanyak 4000-5000 orang akan terbunuh,” papar Hajizadeh.

Menyinggung kesiapan tentara AS terhadap serangan ini, dia mengatakan, “AS sendiri sudah mengumumkan bersiaga penuh dalam beberapa hari, dan sebelum operasi serangan itu ada 12 unit pesawat mereka, termasuk 7 unit pesawat (nirawak) pemantau MQ-9 melakukan pemantauan dan misi militer, dan sebanyak 6-7 pesawat berawak mereka serta mereka sendiri menanti dengan cemas. Semula kami mengira skuadron itu akan melancarkan serangan, tapi kemudian kami melihat mereka sedang menuggu tamparan, dan setelah mendapat tamparan merekapun merasa sedikit lega.”

Dia menambahkan, “Kami telah melepaskan 13 rudal ke pangkalan-pangkalan AS, tapi kami juga siap melesatkan beberapa rudal (lain) pada jam-jam pertama itu. Dan karena kami berpikir bahwa jika dalam konfrontasi ini kedua pihak tidak bersabar maka akan berlanjut tiga hari sampai seminggu dalam skala terbatas. Untuk kondisi demikian kami telah menyiapkan ribuan unit rudal.”

Brigjen Hajizadeh menegaskan bahwa semua rudal yang ditembakkan IRGC tepat menimpa targetnya, dan tak satupun rudal AS ditembakkan ke rudal-rudal itu meskipun saat itu ada banyak pesawat AS yang diterbangkan.

“(Karena) mereka memang tak sanggup menghadapinya,” ujarnya. (fars)

Pakar Iran: Sedikitnya 100 Orang Tewas dan 300 Terluka Akibat Gempuran Rudal IRGC

Pakar Timteng dari Iran Mohammad Ali Mohtadi menyatakan bahwa  informasi intelijen yang dihimpun oleh orang-orang Irak dari Pangkalan Ain Assad, Provinsi Anbar, Irak Barat, yang ditempati oleh pasukan AS mencatat sedikitnya 100 orang tewas dan 300 lainnya terluka akibat gempuran rudal Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Dia memastikan Presiden AS Donald Trump melakukan kebohongan publik ketika mengatakan tak ada tentaranya yang tewas akibat serangan itu.

“Trump adalah sosok pendusta, berdasarkan informasi yang saya miliki, ada banyak korban dan kerugikan yang menimpa AS di Pangkalan Ain Assad,” ujar Ali Mohtadi dalam wawancara dengan Fars, Kamis (9/1/2020).

Dia menambahkan, “Ada beberapa pesawat militer, helikopter Apache, dan drone AS hancur dan terbakar terkena serangan rudal Pasukan Dirgantara IRGC. Trump tidak mungkin mengakui adanya kerugian sedemikian besar yang ditimpakan oleh serangan rudal Iran ke pangkalan-pangkalan AS.”

Ali Mohtadi menilai Trump enggan menerima resiko mendapat kecaman keras dari publik jika berterus terang menyebutkan jumlah korban dan kerugian yang sebenarnya, apalagi masalah ini juga dapat meruntuhkan popularitas Trump yang justru sedang menyongsong pilpres pada tahun ini. (mm/fars)

AS Merombak Kondisi Pertahanannya di Timteng untuk Mengantisipasi Serangan Iran Selanjutnya

Seorang pejabat militer AS mengungkapkan bahwa Pentagon dewasa ini sedang mempelajari kemungkinan penyesuaian pada postur pertahanannya di Timur Tengah setelah Iran melancarkan serangan rudal terhadap sasaran AS di Irak.

Dalam wawancara dengan Reuters pada Kamis malam (9/1/2020), pejabat anonim itu mengatakan bahwa AS memperkirakan Iran masih akan melancarkan serangan untuk membalas terbunuhnya mantan komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Jenderal Qassem Soleimani, tapi di negara lain, bukan di Irak lagi.

Reuters Ahad lalu melaporkan bahwa AS telah mendeteksi bahwa pasukan rudal Iran di seluruh penjuru nagara ini telah ditempatkan dalam keadaan siaga tinggi. Tapi, menurut pejabat itu, Iran dinilai lebih berkemungkinan menyerang posisi AS di negara-negara selain Irak di mana Iran memiliki beberapa sekutu berpengaruh.

Seperti diketahui, IRGC pada dini hari lalu membombardir pangkalan-pangkalan militer AS di Irak sebagai pembalasan atas darah Soleimani.

Komandan Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Brigjen Amir Ali Hajizadeh dalam jumpa pers, Kamis, memastikan lagi bahwa puluhan tentara AS tewas terkena gempuran rudal Iran.

Dia juga menyebutkan nama negara Yordania dan Kuwait saat menjelaskan pangkalan-pangkalan udara yang dipakai oleh AS di kawasan sekitar dalam melancarkan serangan “teror” yang menewaskan Soleimani.

AS menyangkal ada tentaranya yang tewas. Ketika mengumumkan bahwa Iran telah meluncurkan 16 rudal dari 3 lokasi, Pentagon menyebutkan bahwa sistem peringatan dini memungkinkan untuk menghindari korban.  (reuters/rt/fars)

Iran Sebut Spekulasi Pesawat Ukraina Jatuh karena Rudal Tak Masuk Akal

Ketua Organisasi Penerbangan Iran, Ali Abedzadeh, menyebut spekulasi dan anggapan yang dilontarkan oleh sebagian orang bahwa pesawat Ukraine International AIrlines (UIA) jatuh pada Rabu lalu karena ditabrak oleh rudal tidak ilmiah dan tak masuk akal.

Dia juga mengatakan bahwa negara-negara yang bersangkutan menyatakan kesediaan mereka untuk hadir di komisi penyelidikan atas insiden itu.

Sembari menyampaikan belasungkawa atas insiden itu, Abedzadeh menjelaskan bahwa ada banyak penerbangan domestik dan asing di wilayah udara Iran ketika pesawat nahas itu terbang pada ketinggian yang sama, dan ada koordinasi penuh antara sektor militer dan sipil di Iran.

Dia menilai dugaan mengenai tertembaknya pesawat itu sama sekali tidak benar, dan menyoal, “Mana mungkin ada penerbangan sebanyak ini di sebuah negara yang membutuhkan keamanan?”

Abedzadeh menganggap serangan rudal ke pesawat Ukraina itu mustahil secara ilmiah, dan rumor demikian tidak memiliki dimensi logis.

Presiden AS Donald Trump yang memusuhi Iran mengaku curiga curiga pesawat itu jatuh akibat salah tembak militer Iran.

Perdana Menteri Kanada, negara sekutu AS, Justin Trudeau, mengklaim negaranya memiliki data dari berbagai sumber intelejen yang menunjukkan bahwa pesawat itu jatuh di  Teheran karena tertembak rudal Iran.

Pesawat jenis Boeing 737-800 itu jatuh pada dini hari Rabu lalu hingga 176 orang yang ada di dalamnya tewas, dan hingga kini belum diketahui penyebabnya. Pada dini hari itu pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam Iran membombardir pangkalan-pangkalan militer AS di Irak.  (alalam/afp/cnn)