Jakarta, ICMES. Sayap militer faksi Jihad Islam Palestina, Brigade Al-Quds, mengaku bertanggung jawab atas penembakan yang melukai seorang perwira Israel dan tiga pemukim Zionis Yahudi di Tepi Barat.

Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, Mayjen Hossein Salami, menyatakan bahwa Rezim Zionis Israel yang berdulu berkhayal wilayahnya akan membentang dari “Sungai Nil (Mesir) hingga Sungai Efrat (Irak)†kini malah “terkurung dalam tembok beton besarâ€.
Sumber medis menyatakan bahwa sedikitnya delapan pengunjuk rasa tewas tertembak di Sudan dalam peristiwa pawai unjuk rasa besar sehingga mengundang keprihatinan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Dinas Rahasia AS (CIA) dilaporkan sedang bekerja untuk merekrut para anggota kelompok teroris ISIS yang mendekam di penjara dan kamp Pasukan Demokrasi Suriah (SDF) di Suriah utara.
Berita Selengkapnya:
Brigade Quds Nyatakan Bertanggungjawab atas Penembakan Pasukan Israel di Tepi Barat
Sayap militer faksi Jihad Islam Palestina, Brigade Al-Quds, mengaku bertanggung jawab atas penembakan yang melukai seorang perwira Israel dan tiga pemukim Zionis Yahudi di Tepi Barat, Kamis (30/6).
Menurut sumber Palestina dan Israel, bentrokan bersenjata terjadi pada dini hari ketika kelompok pemukim, di bawah perlindungan tentara Israel, berkunjung ke Makam Yusuf, yang disucikan oleh orang Yahudi, di Nablus, Tepi Barat.
“Brigade Nablus” yang berafiliasi dengan Brigade Al-Quds dalam sebuah pernyataannya menegaskan bahwa para aktivisnya telah menyerang pasukan Israel dengan tembakan berat, dan menekankan kelanjutan kesiagaan mereka melawan serangan Israel ke kota-kota Palestina.
Sebelumnya, juru bicara militer Israel mengumumkan bahwa seorang komandan tentara Israel dan tiga pemukim di bagian utara Tepi Barat mengalami luka ringan akibat serangan orang-orang bersenjata Palestina di sekitar Makam Yusuf.
Sementara itu, Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina mengumumkan bahwa 64 warga Palestina menderita luka sedang hingga ringan akibat bentrokan dengan tentara Israel di area Makam Yusuf.
Pemukim Zionis Yahudi sering menyerbu Makam Yusuf di bawah penjagaan tentara Israel untuk melakukan ritual keagamaan, karena mereka mengklaim makam itu adalah makam Nabi Yusuf as.
Di pihak lain, orang-orang Palestina menepis klaim itu dengan menyatakan bahwa makam tersebut berusia tidak lebih dari 200 tahun, dan merupakan makam seorang pria Muslim bernama Youssef Dweikat yang mendiami daerah itu di masa silam.
Faksi Hamas dalam siaran persnya memuji penembakan terhadap kaum Zionis tersebut, dan menegaskan; “Peluru kubu resistensi yang meninggi di Tepi Barat jelas menunjukkan intifada bangsa kami, yang telah lama berjuang demi kebebasan dan kemuliaannya dan akan terus demikian sampai rezim pendudukan terhalau dari tanah dan kesucian kami.â€
Hamas juga menegaskan, “Rezim pendudukan harus menunggu peluru kubu resistensi di semua tempat. Kami meneguhkan tangan-tangan para mujahidin dan pelaku intifada di Jenin dan Nablus.†(raialyoum)
Panglima IRGC: Israel yang Dulu Berkhayal “Nil hingga Eufrat†Sekarang Terkurung Dinding Besar
Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, Mayjen Hossein Salami, menyatakan bahwa Rezim Zionis Israel yang berdulu berkhayal wilayahnya akan membentang dari “Sungai Nil (Mesir) hingga Sungai Efrat (Irak)†kini malah “terkurung dalam tembok beton besarâ€.
Dalam pidatonya pada hari Kamis (30/6), Salami mengatakan, “Musuh sudah tak berdaya merampungkan proyek pembangunan negaranya. Rezim Zionis dulu berkhayal strategi dari Nil hingga Eufrat, tapi sekarang malah terpenjara dalam tembok beton besar yang mengelilinginya. Ini berarti bahwa perimbangan kekuatan telah berbalik menguntung Islam dan revolusi Islam.â€
Salami menyebutkan bahwa mengandaskan keinginan dan rencana musuh dengan menggagalkan embargo ekonomi, isolasi politik, perang keamanan dan psikologis, teror militer dan isu-isu lainnya adalah bagian dari peran yang dimainkan IRGC bersama elemen-elemen lain.
Dia menekankan bahwa tolok ukur kekuatan bukanlah besarannya, melainkan proporsi, intensitas dan pengaruh geografis sehingga hal ini berubah menjadi realitas yang harus diterima oleh dunia.
Panglima IRGC menyatakan bahwa beberapa kebanggaan yang telah dicapai oleh IRGC antara lain ialah mengandaskan kemauan dan kekuatan musuh dengan menyita kapal Inggris Stena Impero, menjatuhkan drone pengintai AS, menangkap marinir AS dan serangan rudal ke pasukan AS di Pangkalan Udara Ain Al-Assad, Irak. (tasnim)
Sedikitnya 8 Orang Tewas dalam Demo Protes di Sudan, PBB Prihatin
Sumber medis menyatakan bahwa sedikitnya delapan pengunjuk rasa tewas tertembak di Sudan dalam peristiwa pawai unjuk rasa besar yang digelar pada hari Kamis (30/6), sehingga mengundang keprihatinan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Saksi mata mengatakan bahwa pasukan keamanan di Khartoum tengah menembakkan gas air mata dan meriam air untuk mencegah membengkaknya jumlah pengunjuk rasa yang berbaris menuju istana presiden.
Jumlah massa di Khartoum dan kota kembarnya Omdurman dan Bahri diperkirakan mencapai setidaknya puluhan ribu, jumlah terbesar dalam beberapa bulan terakhir.
Tujuh orang dilaporkan tewas ketika massa turun ke jalan-jalan di Sudan meski penguasa telah memblokir sarana komunikasi yang digunakan para aktivis untuk menyerukan aksi penentangan terhadap pihak militer yang telah merebut kekuasaan delapan bulan lalu.
Komite Dokter Sudan di Twitter menyatakan bahwa lima orang ditembak mati ketika polisi menembakkan peluru tajam ke pengunjuk rasa di Omdurman.
Di seberang Sungai Nil di Khartoum, satu orang lain tewas akibat luka tembak di kepala dan seorang anak juga tewas tertembak di dada, menurut komite tersebut, yang melacak korban kekerasan dalam aksi protes.
Para pengunjuk rasa memblokir beberapa jalan raya utama ibu kota dengan batu dan ban yang terbakar.
Rekaman video yang diposting di media sosial memperlihatkan ribuan orang mengibarkan bendera Sudan dan berlarian di bawah gumpalan asap gas air mata.
Juru bicara PBB Stephane Dujarric di New York menyesalkan kekerasan tersebut dengan mengatakan, “Kami sangat, sangat prihatin atas berlanjutnya penggunaan kekuatan berlebihan oleh pasukan keamanan pemerintah di Sudan saat mereka menanggapi protes dan terutama apa yang telah kita lihat hari ini.â€
Dia menambahkan, “Sangat penting bahwa orang diizinkan untuk mengekspresikan diri mereka secara bebas dan damai, dan pasukan keamanan di negara mana pun harus ada di sana untuk melindungi hak orang untuk melakukan itu, bukan untuk menghalanginya.†(reuters)
CIA di Suriah Gerakkan Anasir ISIS untuk Perangi Rusia di Ukraina
Dinas Rahasia AS (CIA) dilaporkan sedang bekerja untuk merekrut para anggota kelompok teroris ISIS yang mendekam di penjara dan kamp Pasukan Demokrasi Suriah (SDF) di Suriah utara, menurut pernyataan sebuah sumber informasi kepada kantor berita Novosti milik Rusia.
“Menurut informasi yang masuk, CIA secara aktif bekerja untuk merekrut para anggota ISIS yang berada di penjara dan kamp yang dikuasai Kurdi di timur laut Suriah. Amerika sedang mengangkut teroris ke fasilitas mereka dengan dalih melakukan penyelidikan tambahan dengan kemungkinan pengiriman mereka selanjutnya ke Eropa,†ungkap sumber tersebut.
Dia menjelaskan, “Sejauh ini, Kurdi telah menyerahkan ke pihak Amerika beberapa pemimpin tinggi dan sekitar 90 elemen ISIS, yang sebagian besarnya adalah warga negara-negara Uni Eropa dan Irak, serta orang-orang dari Republik Chechnya dan wilayah Uyghur China. Mereka dijadwalkan akan dipindahkan ke wilayah pangkalan militer AS Al-Tanf, Suriah selatan.”
Sumber itu juga mengatakan, “Washington bermaksud di masa mendatang mengirim militan ini ke Ukraina untuk berpartisipasi dalam perang melawan angkatan bersenjata Rusia.” (alalam)







