Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 22 Agustus 2022

Jakarta, ICMES. Panglima Korps Garda Revolusi (IRGC) Iran, Mayjen Hossein Salami, menyatakan bahwa para pejuang Palestina di wilayah pendudukan Tepi Barat sedang mempersenjatai diri.

Kepala Organisasi Energi Atom Iran (AEOI), Mohammad Eslami, menyatakan isu bom atom sengaja dihembuskan oleh beberapa negara Barat semata demi melucuti hak Iran mengakses teknologi nuklir.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memberi sinyalemen baru mengenai kemungkinan perbaikan hubungan Turki-Suriah dengan menyatakan pihaknya tidak mengesampingkan kemungkinan dialog dan diplomasi dengan pemerintah Suriah.

Berita Selengkapnya:

Panglima IRGC: Seperti di Gaza, Orang Palestina di Tepi Barat Mulai Mempersenjatai Diri

Panglima Korps Garda Revolusi (IRGC) Iran, Mayjen Hossein Salami, menyatakan bahwa para pejuang Palestina di wilayah pendudukan Tepi Barat sedang mempersenjatai diri.

“Sebagaimana Gaza, Tepi Barat juga dapat mempersenjatai diri, dan proses ini sedang terjadi,” ungkap Salami dalam wawancara dengan situs www.khamenei.ir , Sabtu (20/8).

Berbicara mengenai konfrontasi kubu resistensi Palestina dengan pasukan Zionis di Tepi Barat dan meluasnya front dari Gaza ke beberapa bagian wilayah pendudukan, Salami mengatakan, “Lihatlah di dalam wilayah pendudukan, Jenin misalnya, resistensi sangatlah aktif. Resistensi sekarang  berkobar dan aktif di Tepi Barat. Orang Palestina yang membangun kekuatan di Gaza adalah orang yang juga membangunnya di Tepi Barat, maka tak ada bedanya antara dua kawasan ini.”

Dia menambahkan, “Mengakses senjata sekarang jauh lebih mudah dari sebelumnya, teknologi bukanlah sesuatu yang siapa pun dapat menghentikan transfer dan pertumbuhannya. Di dunia saat ini, senjata sangat mudah dibuat dan diangkut, dan orang Israel biasanya terlambat mengetahuinya.”

Sehari sebelumnya,  Jenderal Salami memastikan tak ada tempat yang aman bagi rezim Zionis  Israel dalam konfrontasi dengan para pejuang Palestina.

Pada 6 Agustus lalu, Salami menegaskan “Israel akan menanggung biaya besar sebagai akibat dari kejahatan terbarunya di Gaza.”

Dalam pertemuan dengan Sekretaris Jenderal Jihad Islam Ziyad al-Nakhala, Salami mengatakan, “Kekuatan kubu resistensi Palestina telah berkembang, dan hari ini memiliki kemampuan berlipat yang memungkinkannya mengelola perang besar.”

Sementara itu, ketua parlemen Iran  Majelis Permusyawaratan Islam, Mohammad Baqer Qalibaf, Ahad (21/8), menegaskan tidak ada kekuatan yang dapat mencegah penguatan kemampuan pertahanan Iran.

Dia menyatakan industri pertahanan “akan menjadi pelengkap penting bagi perekonomian negara dengan membuka pintu ekspor pertahanan dalam waktu dekat.”

“Tidak ada kekuatan yang dapat mencegah pertumbuhan berkelanjutan dari kekuatan pencegah Iran dan penguatan kemampuan pertahanan negara,” katanya.

Dia juga menganggap perkembangan industri pertahanan sebagai “simbol kegagalan kebijakan sanksi yang dilakukan oleh musuh-musuh Iran.” (fna/raialyoum)

Teheran: Isu Bom Atom Dihembuskan Demi Melucuti Hak Iran Memiliki Teknologi Nuklir

Kepala Organisasi Energi Atom Iran (AEOI), Mohammad Eslami, menyatakan isu bom atom sengaja dihembuskan oleh beberapa negara Barat semata demi melucuti hak Iran mengakses teknologi nuklir.

“Rantai produksi bahan bakar nuklir menciptakan kekuatan bagi negara,” ujarnya dalam pertemuan dengan para direktur dan kepala sektor pendidikan, Ahad (21/8).

Dia menambahkan, “Energi nuklir tidak ada hubungannya dengan bom atom. Mereka (Barat) mengangkat masalah bom untuk mencegah kita memperoleh teknologi ini. Sebelum kemenangan revolusi pun, mereka mencegah Iran memperoleh kemajuan teknologi.”

Eslami menjelaskan,  “Iran memiliki kurang dari 2% dari kapasitas produksi energi nuklir di dunia, tapi 25% dari inspeksi di dunia dilakukan di Iran. Mereka memulai (penerapkan perjanjian nuklir) Rencana Aksi Komprehensif Bersana (JCPOA) dengan menghancurkan infrastruktut nuklir (Iran) dan mempertanyakan kelayakannya.”

Dia juga menerangkan, “Menurut rencana aksi strategis kami, kami harus mendidik 20.000 ahli dalam teknologi nuklir dalam kurunwaktu 20 tahun. Kami ingin masyarakat merasakan pengaruh teknologi nuklir dalam kehidupan sehari-hari mereka.”

Dia lantas mengatakan, “Kekuatan global bekerja untuk menghalangi masuknya Iran ke bidang teknologi modern, karena dengan demikian akan masuk ke puncak piramida kekuatan dan meningkatkan kemampuannya. Transformasi mendasar harus dilakukan di sektor pendidikan demi membina generasi baru.” (raialyoum)

Erdogan Inginkan Perbaikan Hubungan Turki dengan Suriah, Ini Persyaratan Damaskus

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memberi sinyalemen baru mengenai kemungkinan perbaikan hubungan Turki-Suriah dengan menyatakan pihaknya tidak mengesampingkan kemungkinan dialog dan diplomasi dengan pemerintah Suriah.

“Ada kebutuhan untuk mengambil langkah lebih lanjut dengan Suriah,” kata Erdogan kepada wartawan, seperti dikutip Al Jazeera, Sabtu (20/8).

Dia juga menyebut diplomasi antarnegara “tidak akan pernah bisa sepenuhnya terputus”.

Pernyataan tersebut memperlihatkan melunaknya sikap Erdogan yang sebelumnya cenderung kasar terhadap Suriah.

Erdogan Jumat lalu menyatakan negaranya tak bermaksud merebut wilayah Suriah, meskipun terjadi peningkatan pertempuran dengan pasukan Kurdi di utara.

“Kami tidak mengincar wilayah Suriah karena rakyat Suriah adalah saudara kami. Rezim (Damaskus) harus menyadari hal ini,” katanya.

Syarat Damaskus

Mantan duta besar Suriah untuk Turki, Nidal Qabalan, menyatakan bahwa tuntutan utama yang dapat diajukan Damaskus untuk pemulihan hubungan dengan Turki adalah penghentian dukungan Turki kepada kelompok-kelompok ekstremis bersenjata di Suriah, dan bantuan Turki pada proses pemulihan kendali Damaskus  atas provinsi Idlib.

“Transformasi dalam hubungan Turki-Suriah terjadi setelah KTT Sochi dan Teheran, dan setelah pejabat dan rezim Turki mencapai keyakinan bahwa tidak mungkin membawa perubahan di Suriah dengan kekuatan militer, dan karena itu tidak ada alternatif selain solusi politik,” kata Qabalan dalam wawancara dengan Sputnik, Ahad (21/8).

Mengenai tuntutan utama Damaskus untuk pemulihan hubungan, Qabalan mengatakan, “Turki (harus) berhenti mendukung organisasi teroris dan membantu pengembalian Idlib sepenuhnya, termasuk pintu perbatasan Bab al-Hawa dan dan lain-lain di beberapa provinsi, kepada kendali pemerintah Suriah, serta Jalur M4, yang menghubungkan Latakia ke Aleppo serta utara dan timur laut.”

Nidal Qabalan juga mengatakan,”Damaskus juga ingin Ankara menarik pasukannya dari wilayah Suriah dan membubarkan milisinya di sana, dan untuk membantu, melalui hubungannya dengan negara-negara Barat dan status sebagai anggota NATO, mencabut sanksi terhadap banyak lembaga pemerintah dan individu Suriah.”

Seperti diketahui, pemerintahan Erdogan mendukung kelompok-kelompok pemberontak dan ekstremis di Suriah serta melakukan campur tangan militer. Turki saat ini bahkan menduduki beberapa daerah di Suriah utara.

Awal tahun ini, Erdogan berjanji akan melakukan operasi militer lintas perbatasan, namun mendapat penentangan keras dari Rusia dan Iran, dua sekutu Suriah.

Operasi militer Turki sebagian besar menyasar milisi Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG), yang dianggap sebagai Partai Pekerja Kurdistan (PKK) cabang Suriah. Namun, YPG tetap solid antara lain karena merupakan kekuatan yang dominan dalam Pasukan Demokrat Suriah (SDF), milisi yang dijadikan oleh Amerika Serikat sebagai sekutunya dengan dalih demi perang melawan kelompok teroris ISIS di Suriah. (aljazeera/alalam)