Jakarta, ICMES. Jet tempur Israel telah melancarkan sedikitnya 20 serangan udara di kota pelabuhan Hodeidah di bagian barat Yaman.

Negosiasi tidak langsung antara Israel dan Hamas Palestina dimulai pada Minggu malam (6/7) di Doha, ibu kota Qatar, terkait perjanjian gencatan senjata dan pembebasan sandera di Gaza, menjelang pertemuan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan Presiden AS Donald Trump di Washington.
Sekjen Hizbullah Syeikh Naim Qassem menegaskan pihaknya akan terus berjuang melawan Israel dengan risiko apapun.
Berita selengkapnya:
Israel Lancarkan 20 Serangan Udara di Hodeidah Yaman
Jet tempur Israel telah melancarkan sedikitnya 20 serangan udara di kota pelabuhan Hodeidah di bagian barat Yaman.
Angkatan Bersenjata Yaman dalam sebuah pernyataan pada hari Minggu (6/7) menyatakan bahwa Angkatan Udara sedang menghadapi agresi Israel di Yaman. Hal ini terjadi setelah tentara Israel mengeluarkan ancaman bahwa mereka akan segera melakukan serangan.
Radio Militer Israel melaporkan, “Beberapa menit setelah militer mengeluarkan peringatan untuk pengosongan sejumlah pelabuhan di Yaman, Angkatan Udara melancarkan serangan udara di pelabuhan Hodeidah di Yaman.”
TV Al-Masirah, yang berafiliasi dengan kelompok Ansar Allah Yaman, di platform X melaporkan bahwa jet tempur Israel melancarkan serangkaian serangan udara di Hodeidah dan menyasar pelabuhan Hodeidah, Ras Isa, dan Salif, dan pembangkit listrik pusat Ras al-Kathib.
Daerah itu sebelumnya juga pernah menjadi sasaran beberapa serangan udara Israel, yang terbaru di antaranya terjadi kurang dari sebulan yang lalu.
Juru bicara IDF Avichay Adraee di platform X mengatakan, “Peringatan mendesak bagi mereka yang berada di pelabuhan Hodeidah, Ras Issa, dan Salif, dan di dalam pembangkit listrik Hodeidah-Ras al-Khatib, yang berada di bawah kendali rezim Houthi.”
Dia menambahkan bahwa tentara Israel “akan segera melancarkan serangan di daerah-daerah tersebut karena adanya aktivitas militer yang terjadi di sana.”
Dia juga mengatakan, “Kami mendesak semua yang berada di daerah yang ditunjuk, serta kapal-kapal yang berlabuh di dekatnya, untuk segera mengungsi.”
Israel telah berulang kali melancarkan serangan udara di berbagai lokasi di Yaman hingga menjatuhkan korban jiwa dan korban luka warga sipil, serta kerusakan yang meluas.
Menanggapi perang genosida Israel terhadap Jalur Gaza, Angkatan Bersenjata Yaman kubu Ansarullah mengumumkan pada hari Minggu sebelumnya bahwa mereka telah “berhasil” menyerang Bandara Ben Gurion di Israel tengah dengan rudal balistik hipersonik.
Juru bicara militer Yaman, Yahya Saree, dalam sebuah pernyataan yang disiarkan televisi menyatakan bahwa operasi itu “menyebabkan jutaan Zionis melarikan diri ke tempat perlindungan dan menghentikan operasi bandara.”
Dia menegaskan, “Operasi dukungan akan terus berlanjut hingga agresi di Gaza berhenti dan blokade dicabut.”
Tentara Israel mengumumkan bahwa pertahanan udaranya mencegat rudal yang ditembakkan dari Yaman, dan sirene serangan udara diaktifkan di beberapa wilayah di Israel. (raialyoum)
Perundingan Gencatan Senjata Gaza Dimulai di Qatar
Negosiasi tidak langsung antara Israel dan Hamas Palestina dimulai pada Minggu malam (6/7) di Doha, ibu kota Qatar, terkait perjanjian gencatan senjata dan pembebasan sandera di Gaza, menjelang pertemuan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan Presiden AS Donald Trump di Washington.
Seorang sumber Palestina yang mengetahui hal ini mengatakan kepada AFP bahwa “negosiasi tersebut berkisar pada mekanisme implementasi” dari kesepakatan potensial dan “pertukaran tahanan.” Dia menjelaskan bahwa negosiasi tersebut dimulai pada pukul 18.30 GMT, di mana “pendirian dan tanggapan akan dipertukarkan melalui mediator.”
Sebelum berangkat ke Washington, Netanyahu kepada wartawan di luar pesawatnya di Bandara Ben Gurion mengatakan, “Saya yakin bahwa pembicaraan dengan Presiden Trump tentu dapat berkontribusi untuk memajukan tujuan yang kita semua inginkan ini.”
Pertemuan itu akan menjadi yang ketiga antara Netanyahu dan Trump dalam waktu kurang dari enam bulan terakhir, karena Trump mendesak pengadaan gencatan senjata di Jalur Gaza, yang terkoyak oleh perang selama 21 bulan.
Netanyahu menegaskan, “Saya telah mengirim tim negosiasi dengan instruksi yang jelas… untuk mencapai kesepakatan yang dibahas, sesuai dengan ketentuan yang telah kita sepakati.”
Pada hari Sabtu dia mengatakan, “Perubahan yang ingin diperkenalkan Hamas pada usulan awal tidak dapat diterima.”
Sumber-sumber Palestina mengatakan kepada AFP bahwa usulan baru tersebut “mencakup gencatan senjata selama 60 hari dan pembebasan Hamas atas separuh tawanan Israel yang tersisa sebagai imbalan atas pembebasan sejumlah tahanan dan tahanan Palestina oleh Israel.”
Perubahan yang dituntut Hamas, menurut sumber-sumber tersebut, terkait dengan ketentuan penarikan pasukan Israel dari Gaza, jaminan yang dimintanya untuk penghentian permusuhan setelah 60 hari, dan dimulainya kembali tanggung jawab distribusi bantuan kemanusiaan oleh PBB dan organisasi-organisasi internasional yang diakui.
Presiden Israel Isaac Herzog usai bertemu dengan Netanyahu pada hari Minggu mengatakan bahwa Netanyahu memiliki “misi penting” di Washington, yaitu “untuk mencapai kesepakatan pemulangan semua sandera (tawanan) kami.”
Dari 251 tawanan yang diculik dalam serangan Hamas tahun 2023, sebanyak 49 orang masih berada di Gaza, 27 orang dinyatakan tewas oleh Israel. Gencatan senjata pertama yang berlangsung selama seminggu pada bulan November 2023 dan gencatan senjata kedua yang berlangsung sekitar dua bulan pada awal tahun 2025, yang ditengahi oleh Qatar, AS, dan Mesir, telah memungkinkan pembebasan sejumlah tawanan yang ditahan di Jalur Gaza dengan imbalan pembebasan warga Palestina dari penjara Israel.
Tanpa kesepakatan yang dicapai untuk tahap berikutnya setelah gencatan senjata, Israel melanjutkan serangannya di Jalur Gaza pada pertengahan Maret dan mengintensifkan operasi militernya pada tanggal 17 Mei, sembari menyatakan bahwa tujuannya adalah untuk menumpas Hamas, yang berkuasa di kawasan tersebut sejak tahun 2007. (raialyoum)
Sekjen Hizbullah Tegaskan Pihaknya Terus Berjuang Melawan Israel
Sekjen Hizbullah Syeikh Naim Qassem menegaskan pihaknya akan terus berjuang melawan Israel dengan risiko apapun.
“Pembelaan (negara) akan terus berlanjut karena kami percaya bahwa pembebasan adalah kewajiban, bahkan jika itu membutuhkan waktu yang lama dan pengorbanan yang banyak. Israel terus menyerang dan menduduki lima titik, dan kami tidak dapat menyerah pada agresi ini,” tegasnya dalam pidato pada akhir prosesi peringatan Hari Asyura di pinggiran selatan Beirut, Ahad (6/7).
Sembari menyinggung besarnya partisipasi masyarakat dalam prosesi tersebut, dia menambahkan, “Api perlawanan akan tetap menyala dan tidak akan dirampas dari generasi mendatang. Kami akan melindungi apa yang telah dikorbankan semua orang. Perlawanan ini adalah perlawanan Imam Sayyid Musa al-Sadr dan perlawanan Sayyid Hassan Nasrallah, guru para syuhada bangsa. Kami setia pada janji, dan kami terus berjuang.”
Dia juga menegaskan, ” Kami tidak akan menjadi bagian dari legitimasi pendudukan di Lebanon, dan kami tidak akan menerima normalisasi yang memalukan. Pilihan kami adalah pilihan Husaini, dan orang-orang yang bergemuruh ini tidak menerima kehinaan dan penyerahan diri.” (alalam)







