Jakarta, ICMES. Sanaa, Ibu kota Yaman, diterjang serangkaian serangan udara brutal Israel yang menyasar rumah warga sipil, fasilitas vital dan fasilitas publik pada hari Minggu (24/8).

Pemimpin Besar Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, menyatakan musuh Iran berusaha menciptakan perpecahan setelah gagal mengalahkan negara republik Islam ini melalui perang, dan karena itu dia menekankan keharusan menjaga persatuan nasional dan mendukung para pejabat.
Para menteri luar negeri negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) akan membahas perang genosida Israel di Gaza pada hari Senin (25/8) dalam pertemuan darurat yang dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, yang saat ini menjabat sebagai ketua majelis.
Berita selengkapnya:
Gelombang Serangan Udara Israel Terjang Ibu Kota Yaman, Sedikitnya 4 Orang Gugur
Sanaa, Ibu kota Yaman, diterjang serangkaian serangan udara brutal Israel yang menyasar rumah warga sipil, fasilitas vital dan fasilitas publik pada hari Minggu (24/8).
TV Al-Masirah melaporkan data awal dari Kementerian Kesehatan bahwa pengeboman Israel terhadap stasiun Perusahaan Minyak Sanaa mengakibatkan empat orang gugur dan 67 orang luka-luka, sementara tim pertahanan sipil dan penyelamat mencari korban dan berupaya memadamkan api yang disebabkan oleh serangan udara tersebut.
Sumber-sumber melaporkan bahwa serangan tersebut menghantam stasiun Perusahaan Minyak di Jalan ke-60, pembangkit listrik Haziz di selatan ibu kota, dan sebuah gudang derivatif minyak bumi di bagian barat daya kota, hingga menyebabkan sejumlah kepulan asap tebal.
Wilayah Asr, sebelah barat Sana’a, juga menjadi sasaran serangan udara Israel.
Sumber militer Yaman menyatakan bahwa pertahanan udara Yaman telah menghalau sebagian besar pesawat tempur Israel dari wilayah udara Yaman, dan bahwa pertahanan udara Yaman berhasil menetralisir satu skuadron pesawat Israel, mencegah serangan udara di beberapa provinsi, dan terjadi kepanikan pada skuadron pesawat Israel setelah pertahanan udara Yaman merespon.
Dalam sebuah pernyataan menyusul serangan Israel terhadap beberapa depot bahan bakar di Sanaa, Perusahaan Minyak Yaman mengaku sejak semula sudah mengambil langkah-langkah antisipastif untuk setiap keadaan darurat, sehingga situasi pasokan di zona bebas sepenuhnya stabil.
Wakil Kepala Kantor Media Ansarullah, Nasrsuddin Amir, menyebutkan bahwa pertahanan udara Yaman mampu menggagalkan sebagian besar agresi Zionis dan menghadapi sejumlah formasi tempurnya, memaksa mereka mundur, dengan menggunakan sistem pertahanan udara buatan dalam negeri.
“Operasi dukungan militer Yaman kepada Gaza akan terus berlanjut, insya Allah, hingga agresi berhenti dan blokade terhadap rakyat Palestina dicabut,” ujarnya.
Menurutnya, penargetan sebuah pom bensin sipil di jalan utama mencerminkan kebrutalan dan kebangkrutan entitas Zionis, namun tidak akan berdampak pada operasi militer Yaman. Dia memastikan hal ini justru akan menambah eskalasi terhadap musuh, dan rakyat Yaman pun tetap teguh pada pendirian mereka, yang berbasis pada iman dan kemanusiaan dalam mendukung Gaza.
Gelombang serangan Zionis itu terjadi di tengah kontinyuitas dukungan Yaman kepada Gaza dan perlawanannya, sementara Angkatan Bersenjata Yaman menegaskan kesiapan mereka untuk menghadapi segala ancaman dan melindungi warga sipil serta properti negara. (alalam/raialyoum)
Ayatullah Khamenei: Musuh Berusaha Menciptakan Perpecahan di Iran
Pemimpin Besar Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, menyatakan musuh Iran berusaha menciptakan perpecahan setelah gagal mengalahkan negara republik Islam ini melalui perang, dan karena itu dia menekankan keharusan menjaga persatuan nasional dan mendukung para pejabat.
Dalam pidatonya pada majelis duka cita peringatan kesyahidan Imam Ali Ridhadi Teheran pada hari Minggu (24/8, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei di depan ribuan hadirin dari berbagai lapisan masyarakatmengatakan, “Perisai solidaritas yang tak terkalahkan antara rakyat, pejabat, dan Angkatan Bersenjata tidak boleh dirusak.”
Dia menilai bangsa Iran selama ini teguh melawan sepak terjang keji Amerika Serikat (AS), pantang tunduk, dan akan terus melawan dengan sepenuh kekuatan.
Menurutnya, setelah gagal di jalur militer, musuh menyadari Iran tidak dapat dipaksa tunduk melalui perang, dan karena itu mereka lantas berusaha merongrong Iran dengan perselisihan.
Seperti diketahui, agresi militer Israel-AS menerjang Iran selama 12 hari pada Juni lalu di mana serangan balik Iran terhadap Israel berhasil melumpuhkan sistem pertahanan Israel sehingga kemudian AS mengumumkan gencatan senjata secara sepihak.
Menurut Ayatollah Khamenei, seluruh rakyat Iran, termasuk kaum intelektual dan tokoh media, perlu menjaga persatuan yang telah dicapai pascaperang dan mendukung para pelayan publik, khususnya “presiden yang pekerja keras dan tak kenal lelah”.
Menanggapi pertanyaan tentang faktor permusuhan AS terhadap Iran, Ayatullah Khamenei mengatakan bahwa masalah ini melampaui penjelasan sederhana dan telah berlangsung selama lebih dari empat dekade di bawah pemerintahan yang silih berganti di AS.
Dia menjelaskan bahwa Washington selama ini berusaha menutupi permusuhannya dengan menggunakan kedok semisal isu terorisme, HAM, isu-isu perempuan, atau demokrasi, namun presiden AS saat ini, Donald Trump, telah secara terbuka mengungkapkan alasan sebenarnya.
“Dia (Trump) mengatakan, ‘konfrontasi kami dengan Iran adalah karena kami ingin Iran patuh kepada Amerika’” ujar Pemimpin Besar Iran, sembari menyebut keinginan Trump ini merupakan penghinaan bagi bangsa Iran dengan sejarah, kehormatan, dan pencapaiannya yang panjang.
“Amerika ingin Iran berada di bawah kendalinya, dan bangsa Iran sangat tersinggung oleh desakan itu dan akan terus menentang keras mereka yang menginginkannya,” imbuhnya.
Dia juga mengkritik mereka yang mengatakan bahwa negosiasi langsung dengan Washington dapat menyelesaikan masalah negara, dan mengatakan bahwa pandangan demikian itu dangkal.
Mengenai Israel secara khusus, Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa kecaman lisan oleh pemerintah Barat terhadap rezim Zionis itu tidaklah cukup, sehingga dia mendesak Barat menempuh langkah-langkah konkret untuk menghentikan segala bentuk dukungan kepada Israel.
Dia memuji tindakan Yaman terhadap Israel, menyebutnya sebagai respon yang “tepat”, dan menegaskan kembali kesiapan Iran mengambil segala langkah yang memungkinkan guna mendukung perjuangan melawan Israel yang didukung AS dan Barat. (presstv)
Sidang Darurat OKI di Jeddah Bahas Perang Genosida Israel di Gaza
Para menteri luar negeri negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) akan membahas perang genosida Israel di Gaza pada hari Senin (25/8) dalam pertemuan darurat yang dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, yang saat ini menjabat sebagai ketua majelis.
Sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri Turki pada hari Minggu (24/8) menyebutkan bahwa pertemuan itu akan membahas “genosida Israel yang sedang berlangsung terhadap rakyat Palestina dan keputusan Israel untuk memperluas operasinya di Gaza.”
Pada hari Kamis, OKI mengumumkan niatnya menggelar pertemuan darurat tingkat menteri pada hari Senin guna mengoordinasikan pendirian dan upaya bersama untuk menghadapi keputusan dan rencana Zionis untuk memperkuat pendudukan dan kendali penuh Israel atas Jalur Gaza.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengabaikan penantian para mediator atas tanggapan Tel Aviv kepada usulan gencatan senjata di Jalur Gaza. Pada Rabu lalu dia mengumumkan telah memerintahkan percepatan rencana pendudukan Kota Gaza (yang disetujui pada 8 Agustus), di tengah peringatan internasional bahwa hal ini akan menyebabkan kehancuran total Jalur Gaza dan meningkatkan penderitaan serta pengungsian warga Palestina.
Dengan dukungan Amerika Serikat, Israel telah melakukan kejahatan genosida di Gaza sejak 7 Oktober 2023, termasuk pembunuhan, pelaparan, penghancuran, dan pengungsian paksa, sembari mengabaikan semua seruan internasional dan perintah dari Mahkamah Internasional untuk penghentian operasi tersebut.
Genosida tersebut menggugurkan 62.622 warga Palestina dan melukai 157.673 orang. Para korban sebagian besar adalah anak-anak dan perempuan. Selain itu, lebih dari 9.000 orang hilang, ratusan ribu orang mengungsi, dan bencana kelaparan menewaskan 281 warga Palestina, termasuk 114 anak-anak, hingga Sabtu.
Selama beberapa dekade, Israel telah menduduki Palestina dan wilayah-wilayah di Suriah dan Lebanon, dan menolak pendirian negara Palestina merdeka dengan Al-Quds (Yerusalem) Timur sebagai ibu kotanya, berdasarkan perbatasan sebelum tahun 1967. (raialyoum)







