Jakarta, ICMES. Upacara dan prosesi pemakaman dua mantan pemimpin Hizbullah Sayid Hassan Narallah dan Sayid Hashem Safieddine telah berlangsung di Beirut, Libanon, dan diikuti oleh lautan pelayat dari dalam dan luar negeri, termasuk alim ulama Syiah dan Sunni.

Sekjen Hizbullah Syeikh Naim Qassem dalam kata sambutannya pada upacara pemakaman dua pendahulunya, Sayid Hassan Nasrallah dan Sayid Safieddine di Beirut, menegaskan bahwa Hizbullah pantang menerima hegemoni Amerika Serikat (AS) atas Lebanon, dan bahwa para pejuang perlawanan siap melawan Israel meskipun ada kesepakatan gencatan senjata.
Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam sebuah pesan yang dibacakan pada upacara pemakaman dua mantan sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah dan Sayid Hashem Safieddine di Beirut, Lebanon, memperingatkan bahwa perlawanan terhadap kubu arogan dan penindas akan terus berlanjut hingga tujuannya tercapai.
Berita selengkapnya:
Beberapa Fakta Seputar Upacara Fenomenal Pemakaman Sayid Nasrallah dan Sayid Safieddine
Upacara dan prosesi pemakaman dua mantan pemimpin Hizbullah Sayid Hassan Narallah dan Sayid Hashem Safieddine telah berlangsung di Beirut, Libanon, Ahad 23 Februari 2025, dan diikuti oleh lautan pelayat dari dalam dan luar negeri, termasuk alim ulama Syiah dan Sunni.
Berikut ini beberapa catatan seputar hari bersejarah tersebut;
- Para pelayat mengalir dari dalam dan luar negeri, bergabung di Stadion Olahraga Camille Chamoun dan sekitarnya hingga membentuk lautan umat meskipun sebelumnya telah ada upaya sabotase, termasuk dengan menakuti-nakuti masyarakat dengan serangan dan peledakan bom.
- Upacara dan prosesi pemakaman itu menjadi pemandangan fenomenal dan monumental yang diabadikan oleh berbagai media massa sehingga disaksikan oleh khalayak dunia, termasuk Rezim Zionis Israel, yang tak berani menyerangnya meski telah menerbangkan sejumlah jet tempurnya pada ketinggian rendah di atas lokasi upacara pemakaman.
- Penerbangan jet tempur Israel tersebut membuat salah seorang pembicara dalam upacara pemakaman berteriak lantang, “Gemuruh jet tempur kalian (Israel) tak membuat kami takut.” Massa pelayat kemudian menimpali ucapan itu dengan memekikkan yel-yel “mampus Israel.”
- Sekjen Hizbullah Syeikh Naim Qassem dalam kata sambutannya pada upacara itu menceritakan bahwa Sayid Hassan Nasrallah bersikukuh bertahan di ruang komando operasi bersama para pejang, dan gugur syahid di barisan pertama pejuang akibat serangan udara Israel.
- Upacara pemakaman dimulai dengan pembacaan beberapa ayat suci Al-Quran yang menggetarkan hati, dan kemudian dilanjutkan dengan pelantunan lagu nasional Lebanon dan mars Hizbullah.
- Beberapa tokoh dan budayawan dalam dan luar negeri telah menyampaikan kata sambutan dan pelantunan syair-syair epik, dan kemudian masuk datang peti jenazah yang ditempatkan di mobil dan dibalut dengan bendera kuning Hizbullah. Kedatangan dua peti ini dibarengi latar belakang suara rekaman orasi Sayid Nasrallah dan Sayid Safieddine tentang keagungan kesyahidan. Mobil pembawa peti bergerak membelah lautan pelayat.
- Begitu peti jenazah datang, para pelayat di sekitarnya segera berebut melemparkan kain dan serban agar para pengawal peti berkenan mengusapkannya pada peti penazah untuk tabarruk atau mendapatkan berkah. Kain-kain itu kemudian dilemparkan kembali ke arah pemiliknya.
- Jenazah Sayid Syahid Nasrallah dikebumikan di Beirut di sebidang tanah yang terletak di antara dua jalur yang mengarah ke bandara Beirut.
- Di media sosial sempat terjadi upaya sabotase melalui penyebaran video hoax yang diklaim sebagai insiden banyaknya pelayat yang pingsan menjelang upacara pemakaman itu. Namun, video itu diketahui terkait dengan peristiwa lama berupa unjuk rasa di jalur bandara.
- Yel-yel mendukung kelanjutan perlawanan Hizbullah terhadap Rezim Zionis Israel berkumandang. Yel-yel itu antara lain berbunyi, “Lanjutkan perlawanan, meski Nasrallah telah tiada. Kami pantang hina.”
- Bendera berbagai negara, termasuk Yordania, Irak, Turki, Aljazair, Yaman dan Iran dikibarkan oleh para pelayat untuk menunjukkan negara asal mereka dan sekaligus sebagai ekspresi dukungan berbagai negara dan bangsa Muslim atas kelanjutan perlawanan dan perjuangan melawan Israel. Bendera Suriah juga berkibar, namun dengan versi gambar bintang era pemerintahan Bashar al-Assad.
- Menteri perang Israel Israel Katz berkomentar, “Penerbangan jet-jet tempur kami di atas lokasi upacara pemakaman Nasrallah membawa pesan yang jelas bahwa siapa mengancam dan menyerang Israel maka inilah risiko akhirnya.”
- Jalur dari lokasi konsentrasi pelayat menuju pusat kota Beirut dinama Jalan Hafez Assad, sedangkan jalur yang sempat diwarnai ketegangan beberapa hari sebelumnya terkait dengan larangan mendarat pesawat Iran dinamai Jalan Imam Khomaini, dan jalur yang mengarah Makam Sayid Nasrallah dinamai Jalan Qasem Soleimani. Semua wilayah itu terafiliasi dengan Hizbullah.
- Penduduk kota Al-Quds (Baitul Maqdis/Yerussalem) mengirim sekeping tanah Masjid al-Aqsa kepada ketua panitia prosesi pemakaman agar tanah itu ditempatkan di liang kubur Sayid Hassan Nasrallah.
- Pasukan keamanan Palestina yang berafiliasi dengan otoritas Mahmoud Abbas membubarkan konsentrasi massa di pusat kota Ramallah yang membawa poster Sayid Nasrallah bersamaan dengan berlangsungnya upacara dan prosesi pemakaman mantan sekjen Hizbullah tersebut di Beirut.
Sayid Nasrallah gugur syahid akibat pengeboman Israel di Beirut selatan pada 27 September 2024. Dengan menggunakan 85 ton bahan peledak, jet Israel dalam peristiwa itu telah menghancurkan enam bangunan tempat tinggal di Dahiyeh, setelah pengeboman selama seminggu yang menghantam banyak wilayah dari Lebanon selatan hingga Beirut.
Sedangkan Sayid Safieddine dibunuh dalam serangan Israel pada 3 Oktober 2024.
Hizbullah menunda upacara pemakaman kedua pemimpin karena khawatir akan serangan Israel terhadap upacara tersebut. (raialyoum)
Sekjen Hizbullah: Perlawanan terhadap AS dan Israel Berlanjut
Sekjen Hizbullah Syeikh Naim Qassem dalam kata sambutannya pada upacara pemakaman dua pendahulunya, Sayid Hassan Nasrallah dan Sayid Safieddine di Beirut, Ahad (23/2), menegaskan bahwa Hizbullah pantang menerima hegemoni Amerika Serikat (AS) atas Lebanon, dan bahwa para pejuang perlawanan siap melawan Israel meskipun ada kesepakatan gencatan senjata.
“Kami di Lebanon tidak akan menerima thaghut Amerika memegang kendali di negara kami,” tegasnya dalam pidato yang ditayangkan di layar monitor raksasa dengan lautan pelayat.
“Kalian (AS) di ranah politik tidak akan pernah mendapatkan apa yang tidak kalian raih dalam perang…. Perlawanan tidak berakhir, melainkan berlanjut dengan eksistensi dan kesiapannya melawan Israel,” sambungnya.
Syeikh Qassem menjelaskan, “Perlawanan adalah prinsip dan merupakan pilihan iman dan politik kami selagi rezim pendudukan masih ada, dan kami memraktikkan hak kami dalam perlawanan sesuai perhitungan kami untuk kemasalahatan dan kondisi. Kami selanjutnya akan mendiskusikan hak kami menggunakan sebagian tentara Lebanon ketika kami mendiskusikan strategi pertahanan.”
Sekjen Hizbullah juga mengatakan, “Kami konsisten, sementara Israel tidak konsisten pada kesabaran kami, dan kami tidak membalas. Sesudah berakhirnya jeda penarikan (pasukan Israel) kami menjadi berhadapan dengan pasukan pendudukan dan agresi yang bernama satu titik atau lima titik. Pendudukan dan pemboman ini ke wilayah Lebanon ini bernama agresi, dan Israel tidak bisa melanjutkan pendudukan dan agresinya.”
Kepada AS dia menegaskan, “Kami katakan kepada Amerika, kalian dalam poliik tidak akan mencapai apa yang tidak kalian capai dalam perang. Jika kalian bergerak bebas sekarang dan menekan para pejabat di Lebanon, kalian tidak akan mencapai tujuan kalian karena para pejabat di Lebanon mengetahui keseimbangan kekuasaan. Karena itu, saya menyarankan kepada kalian untuk menghentikan konspirasi. Jangan menafsirkan kebijaksanaan kami sebagai kelemahan, karena jalannya panjang dan kami tidak akan menyerah.”
Mengenai Palestina, Syeikh Naim Qassem menandaskan, “Palestina adalah kompas kami, kami menyerukan pembebasannya, dan kami akan melawan proyek relokasi (penduduk Gaza) oleh Presiden Amerika Donald Trump. Kami akan meawannya dengan segenap kekuatan di kawasan. 160,000 syahid dan korban luka di Gaza adalah harga hakiki demi melanjutkan komitmen kami kepada janji.” (raialyoum)
Ayatullah Khamenei: Resistensi terhadap Kaum Arogan Berlanjut
Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam sebuah pesan yang dibacakan pada upacara pemakaman dua mantan sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah dan Sayid Hashem Safieddine di Beirut, Lebanon, Ahad (23/2), memperingatkan bahwa perlawanan terhadap kubu arogan dan penindas akan terus berlanjut hingga tujuannya tercapai.
“Hendaknya musuh menyadari bahwa perlawanan terhadap perampasan, penindasan, dan kesombongan tidak akan pernah berakhir dan akan terus berlanjut hingga tujuan akhir tercapai, dengan izin Allah SWT,” tegasnya dalam pesan itu.
Ayatullah Khamenei menyebutkan Sayid Nasrallah sebagai komandan utama perlawanan di kawasan Timteng, dan menyatakan bahwa dia sekarang berada dipuncak kehormatan di mana semangat dan jalannya akan cemerlang menerangi jalan bagi para pengikutnya.
Pemimpin Besar Iran juga menyanjung Sayid Safieddine dan menyebutnya sahabat dekat dan bagian tak terpisahkan dari kepemimpinan perlawanan di Lebanon, serta merupakan “bintang yang bersinar dalam sejarah kawasan.” (presstv)







