Rangkuman Berita Utama Senin 21 Juli 2025

Jakarta, ICMES. Sumber-sumber di rumah sakit Gaza melaporkan sedikitnya 115 warga Palestina, termasuk 92 pencari bantuan, gugur di serang pasukan Zionis Israel sejak dini hari Minggu.

Axios mengutip pernyataan seorang pejabat AS bahwa pemerintahan Trump semakin menyangsikan perangai Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dan menyebutkan bahwa AS dipusingkan oleh tingkah Netanyahu yang selalu mengandalkan senjata.

Iran dan Troika Eropa  (Prancis, Jerman, dan Inggris /E 3) dilaporkan telah sepakat untuk melanjutkan perundingan nuklir minggu depan.

Berita selengkapnya:

115 Orang Palestina, Sebagian Besar Pencari Bantuan, Gugur Diserang Pasukan Zionis di Gaza

Sumber-sumber di rumah sakit Gaza melaporkan sedikitnya 115 warga Palestina, termasuk 92 pencari bantuan, gugur di serang pasukan Zionis Israel sejak dini hari Minggu (20/7).

Dengan semakin parahnya kelaparan di Gaza, Kementerian Kesehatan mengumumkan telah mencatat 18 kematian di Jalur Gaza akibat kelaparan dalam 24 jam.

Sebuah sumber di Rumah Sakit Baptis di Gaza mengatakan bahwa seorang warga Palestina berkebutuhan khusus meninggal dunia karena kekurangan gizi.

Sebuah sumber medis di Kompleks Medis Nasser di Khan Yunis melaporkan lima warga Palestina gugur dan beberapa lainnya terluka akibat tembakan pasukan pendudukan Israel di dekat pusat distribusi bantuan di utara Rafah, Jalur Gaza selatan.

Ambulan dan sumber darurat melaporkan kematian seorang anak dan beberapa cedera lainnya akibat serangan Israel terhadap sebuah apartemen di Gaza barat.

Kementerian Kesehatan di Gaza mengonfirmasi kematian lebih dari 900 warga Palestina, termasuk 71 anak-anak, akibat kelaparan dan malnutrisi, di samping 6.000 orang terluka di antara warga yang mencari bantuan sejak dimulainya perang genosida Israel di Jalur Gaza.

Sejak 7 Oktober 2023, Israel telah melancarkan perang genosida di Jalur Gaza, yang menjatuhkan korban gugur dan luka lebih dari 198.000 warga Palestina, sebagian besar anak-anak dan perempuan, serta menyebabkan lebih dari 11.000 orang hilang.

Organisasi-organisasi Palestina dan internasional telah memperingatkan bahwa Jalur Gaza sedang mengalami tahap kelaparan terburuk akibat blokade Israel. 

Hamas menegaskan bahwa pembantaian yang dilakukan oleh tentara pendudukan Israel terhadap warga sipil yang kelaparan di dekat wilayah Zikim di Jalur Gaza utara merupakan eskalasi dari perang genosida, yang menggunakan bantuan dan pelaparan untuk menjebak, membantai, dan menyiksa orang-orang yang tak berdosa.

Hamas dalam sebuah pernyataan pada hari Minggu menekankan bahwa apa yang terjadi di Jalur Gaza merupakan kejahatan besar di mana pembunuhan, pelaparan, dan perampasan air digunakan sebagai alat untuk pembersihan etnis dan genosida. Hal ini menuntut tindakan internasional segera untuk mengakhiri tragedi kemanusiaan ini, yang sengaja diperburuk oleh rezim pendudukan pimpinan penjahat perang Netanyahu.

Hamas menyoal, “Bagaimana mungkin dunia tetap bungkam menyaksikan kematian lebih dari 70 anak akibat kekurangan gizi, sementara mayoritas penduduk Jalur Gaza menghadapi kematian massal akibat pengepungan dan kebijakan pelaparan yang diberlakukan oleh pendudukan di Jalur Gaza selama 140 hari?”

Hamas  menambahkan, “Bagaimana mungkin dunia, dan siapa pun yang memiliki hati nurani, menerima bahwa ribuan ton bantuan masih menumpuk di balik perlintasan Rafah, sementara orang-orang di Gaza meninggal karena kelaparan, kehausan, dan penyakit?” (aljazeera/alalam)

Soal Suriah, AS Dipusingkan oleh Mengganasnya Netanyahu

Axios mengutip pernyataan seorang pejabat AS bahwa pemerintahan Trump semakin menyangsikan perangai Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dan menyebutkan bahwa AS dipusingkan oleh tingkah Netanyahu yang selalu mengandalkan senjata.

Pejabat anonim AS tersebut menambahkan bahwa Netanyahu terkadang berperilaku seperti anak kecil yang bandel, dan bahwa terdapat kekhawatiran yang semakin besar di Gedung Putih mengenai kebijakan regionalnya meskipun ada gencatan senjata di Suriah.

Menurutnya, pengeboman Israel di Suriah mengejutkan Presiden Trump karena dia tidak suka melihat penjatuhan bom d di negara yang dia harapkan untuk perdamaian dan telah mengeluarkan deklarasi mengenai rekonstruksi negara tersebut.

Pejabat itu menambahkan bahwa Israel seharusnya tidak memutuskan apakah pemerintah Suriah mampu menjalankan kedaulatannya, dan menekankan bahwa Trump sebelumnya telah mendorong Netanyahu untuk mempertahankan sebagian wilayah Suriah dan tidak takut akan intervensi Israel.

Seorang pejabat Israel juga mengatakan kepada Axios bahwa kebijakan Israel saat ini akan menyebabkan instabilitas di Suriah di mana baik komunitas Druze maupun Israel akan rugi.

Utusan Khusus AS untuk Suriah, Tom Barak, menegaskan bahwa konflik di Sweida hanya bisa diredakan melalui kesepakatan penghentian kekerasan, perlidungan warga sipil, dan pengiriman bantuan. Dia menyebutkan bahwa semua pihak telah sepakat untuk gencatan senjata paling lambat pukul 17.00 waktu Damaskus.

Barak menekankan bahwa gencatan senjata permanen didasarkan pada pertukaran sandera dan tahanan secara penuh, yang menurutnya sedang diupayakan.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan bahwa negaranya telah berkomunikasi secara intensif selama tiga hari terakhir dengan Israel, Yordania, dan pihak berwenang di Damaskus terkait perkembangan di Suriah selatan. (aljazeera/alalam)

Iran dan Troika Eropa Sepakat Memulai lagi Perundingan Nuklir Pekan Depan

Iran dan Troika Eropa  (Prancis, Jerman, dan Inggris /E 3) dilaporkan telah sepakat untuk melanjutkan perundingan nuklir minggu depan.

Sebuah sumber yang mengetahui hal ini mengatakan kepada kantor berita Tasnim pada hari Minggu (20/7) bahwa kedua belah pihak telah sepakat demikian namun waktu dan tempat perundingan belum diputuskan.

“Prinsip perundingan telah disepakati, tapi konsultasi masih berlanjut mengenai waktu dan tempat perundingan. Negara tempat perundingan akan diadakan belum diputuskan,” kata sumber itu.

Menurutnya, perundingan akan diadakan di tingkat menteri luar negeri.

Dalam perundingan dengan rekan-rekannya dari Jerman, Prancis, dan Inggris serta kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, pada hari Kamis, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa Uni Eropa dan E 3 perlu meninggalkan “kebijakan usang” mereka yang berisi ancaman dan tekanan jika ingin berperan dalam putaran baru perundingan nuklir antara Iran dan AS.

 “Jika UE/E3 ingin berperan, mereka harus bertindak secara bertanggung jawab, dan mengesampingkan kebijakan ancaman dan tekanan yang sudah usang, termasuk ‘snapback’ yang sama sekali tidak memiliki dasar moral dan hukum,” tegas Araghchi.

Snapback akan memberlakukan enam resolusi Dewan Keamanan terkait Iran sebelumnya yang diadopsi antara tahun 2006 dan 2010. Resolusi ini akan memulihkan embargo senjata PBB yang melarang pemasokan senjata, penjualan, atau transfer sebagian besar peralatan militer ke Iran dan melarang Teheran mengekspor senjata apa pun.

Snapback juga akan memberlakukan kontrol ekspor, larangan perjalanan, pembekuan aset, dan pembatasan lainnya terhadap individu, entitas, dan bank.

Iran dan AS mengadakan lima putaran perundingan tidak langsung mengenai program nuklir damai Teheran sebelum 13 Juni, ketika Israel melancarkan agresi terhadap Iran hingga menggugurkan sejumlah perwira tinggi militer dan ilmuwan nuklir serta banyak warga sipil.

Dimediasi oleh Oman, putaran perundingan ke-6 direncanakan akan diadakan di ibu kota Oman, Muscat, pada 15 Juni, tapi dibatalkan akibat serangan terhadap Iran.

Pada 22 Juni, AS secara resmi bergabung dalam perang terhadap Iran dengan melancarkan serangan terhadap tiga fasilitas nuklir sehingga melanggar Piagam PBB dan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir. (alalam/presstv)