Jakarta, ICMES. Sumber medis Palestina melaporkan bahwa 56 orang, termasuk anak-anak dan wanita, gugur dan puluhan lainnya terluka akibat serangan udara Israel di beberapa wilayah di Jalur Gaza.

12 orang gugur dan 30 lainnya terluka pada Minggu malam (20/4) akibat serangan udara terhadap ibu kota Yaman, Sanaa, menurut media yang berafiliasi dengan gerakan Ansarullah, yang mengaitkan serangan tersebut dengan pasukan AS.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Israel tidak akan pernah mampu melancarkan serangan terhadap Iran.
Berita selengkapnya:
Serangan Israel di Gaza Sejak Dini Hari Sabtu Gugurkan 56 Orang
Sumber medis Palestina melaporkan bahwa 56 orang, termasuk anak-anak dan wanita, gugur dan puluhan lainnya terluka akibat serangan udara Israel di beberapa wilayah di Jalur Gaza dini hari Sabtu (19/4).
Kantor Berita Palestina melaporkan bahwa jenazah seorang syahid ditemukan, dan empat anak-anak serta orang tua lainnya terluka, menyusul serangan artileri yang menyasar tenda yang menampung orang-orang terlantar di daerah Al-Mawasi, sebelah barat Khan Yunis, di Jalur Gaza selatan.
Di Jalur Gaza tengah, warga Palestina Ismail Darwish gugur karena luka kritis yang dideritanya akibat pemboman terhadap rumah keluarganya di kamp pengungsi Nuseirat.
Sembilan warga Palestina gugur akibat serangan pesawat tempur Israel terhadap rumah keluarga Darwish di dekat pemakaman Al-Sawarha di kamp pengungsi Nuseirat.
Artileri pasukan pendudukan juga menyerang lingkungan al-Tuffah di sebelah timur Kota Gaza, bersamaan dengan tembakan le bagian timur kamp al-Maghazi di Jalur Gaza tengah dan tembakan gencar dari kendaraan pasukan pendudukan.
Di Rafah, di Jalur Gaza selatan, kapal perang Israel menembakkan senapan mesin berat ke arah pantai kota Gaza.
Pasukan pendudukan Israel terus melancarkan agresi di Jalur Gaza, baik melalui darat, laut, maupun udara, sejak 7 Oktober 2023. Agresi ini telah mengakibatkan 51.157 warga sipil, yang sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak, gugur syahid, dan 116.724 lainnya luka-luka, menurut data sementara.
Ribuan korban masih terkubur di bawah reruntuhan dan di jalan, tidak dapat dijangkau oleh ambulan dan tim penyelamat.
Rezim pendudukan Israel melanjutkan agresi brutalnya terhadap Gaza setelah menyatakan runtuhnya perjanjian gencatan senjata, yang hanya berlangsung dua bulan.
Rezim Zionis itu melanggar gencatan senjata beberapa kali, memblokir pengiriman bantuan, menghentikan tahap kedua perjanjian, membekukan negosiasi, dan menangguhkan pertukaran tahanan. (alalam)
Serangan AS di Ibu Kota Yaman Gugurkan 12 Orang dan Lukai Puluhan Lainnya
12 orang gugur dan 30 lainnya terluka pada Minggu malam (20/4) akibat serangan udara terhadap ibu kota Yaman, Sanaa, menurut media yang berafiliasi dengan gerakan Ansarullah, yang mengaitkan serangan tersebut dengan pasukan AS.
Peristiwa ini terjadi sehari setelah dua orang gugur dalam serangan udara serupa di Sanaa.
Pada hari Jumat, kelompok Ansarullah mengumumkan 80 orang gugur dan 150 lainnya terluka akibat serangan udara AS pada malam hari terhadap pelabuhan minyak Ras Issa di Provinsi Hudaydah di pantai Laut Merah.
Kantor berita Yaman Saba, yang berafiliasi dengan Ansarullah, mengutip pernyataan Kementerian Kesehatan bahwa “12 warga gugur dan 30 lainnya terluka, akibat serangan udara AS terhadap sebuah pasar di lingkungan Farwa di distrik Shu’ub, dalam jumlah korban sementara.”
Laporan tersebut menyusul pengumuman jumlah korban awal yang disiarkan oleh saluran Al Masirah yang berafiliasi dengan Ansarullah, bahwa bahwa tiga orang gugur dan 12 lainnya terluka.
Selain serangan di Sanaa, yang telah berada di bawah kendali Ansarullah sejak 2014, serangan udara lainnya tercatat pada Minggu malam di provinsi Ma’rib (tengah), Al Hudaydah (barat), dan Saada, benteng Houthi (utara), menurut sumber yang sama.
Serangan pada Kamis malam adalah yang paling mematikan dalam kampanye udara intensif yang dilancarkan oleh AS sebulan lalu.
Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB mengatakan pada hari Sabtu bahwa Antonio Guterres “sangat prihatin” dengan serangan udara ini.
Wilayah Ansarullah di Yaman telah menjadi sasaran serangan udara hampir setiap hari sejak AS pada tanggal 15 Maret mengumumkan peluncuran operasi militer terhadap mereka untuk menghentikan serangan mereka terhadap kapal-kapal yang terkait dengan Israel di Laut Merah dan Teluk Aden.
Sejak pecahnya perang antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza menyusul serangan gerakan itu di wilayah selatan Palestina yang diduduki pada 7 Oktober 2023, pasukan Yaman kubu Ansarullah telah melancarkan puluhan serangan rudal terhadap Israel dan kapal-kapal yang terkait dengan Israel di Laut Merah.
Washington meluncurkan serangan udaranya pada Januari 2024. Serangan itu meningkat secara dramatis di bawah Presiden Donald Trump saat ini, dimulai dengan serangan yang menggugurkan 53 orang pada tanggal 15 Maret.
Serangan pasukan Yaman telah melumpuhkan lalu lintas pelayaran melalui Terusan Suez, jalur perairan vital yang biasanya dilalui sekitar 12% lalu lintas pelayaran global, sehingga memaksa banyak perusahaan untuk menggunakan rute alternatif yang mahal di sekitar Tanjung Harapan di Afrika Selatan. (raialyoum)
Tanggapi Ancaman Zionis, Araghchi: Israel Tidak akan Pernah Mampu Menyerang Iran
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Israel tidak akan pernah mampu melancarkan serangan terhadap Iran.
Dalam wawancara dengan jaringan televisi RT milik Rusia yang dipublikasikan pada hari Sabtu (19/4), Araghchi menyebutkan bahwa bahkan dengan dukungan dan bantuan AS, rezim pendudukan Zionis itu tidak akan mampu melakukan tindakan militer terhadap Iran.
“Seperti yang saya katakan, kami dapat mempertahankan diri bahkan terhadap AS, dan AS tahu seberapa kemampuan kami. Rezim Israel juga tahu apa kemampuan pertahanan kami dan apa tanggapan kami terhadap serangan apa pun,” terangnya.
Dia juga menekankan bahwa Iran telah memperkuat hubungannya dengan Rusia dan China dalam beberapa tahun terakhir, dan bahwa ketiga negara ini “serius” dalam mengambil “langkah-langkah efektif menuju perdamaian internasional.”
Araghchi memuji hubungan bilateral antara Iran dan Rusia, yang sama-sama dikenai sanksi ilegal Barat.
Menurutnya, hubungan Teheran-Moskow “tidak pernah sedekat dan sekuat ini”.
Pada bulan Januari, kedua negara menandatangani perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif untuk kerja sama jangka panjang di bidang politik, pertahanan, ekonomi, keamanan, perdagangan, investasi, energi, infrastruktur, dan berbagai bidang lainnya.
Araghchi mengatakan kesepakatan itu “menaikkan level hubungan kita ke level strategis. Proyek-proyek ekonomi besar sedang berlangsung di antara kita. Volume perdagangan di antara kita telah meningkat pesat.”
Menurutnya, meskipun ada pembatasan keras dari Barat, Iran dan Rusia memperluas hubungan mereka, “tidak menunggu sanksi dicabut”, dan “memiliki pendirian yang sama dan dekat dalam banyak isu internasional”.
“Saya tidak ingin mengatakan bahwa tidak ada perbedaan pendapat di antara kita. Terkadang ada juga perbedaan pendapat, tetapi dalam kebanyakan kasus kita memiliki posisi yang dekat satu sama lain dan, yang terpenting, kita terus-menerus bertukar pandangan,” paparnya. (presstv)







