Jakarta, ICMES. Di balik peristiwa konfrontasi antara Iran dan Israel, berbagai fakta yang mencekam bagi entitas Zionis, yang selama ini hendak disembunyikan, semakin terungkap dar hari kehari: serangan tepat sasaran, kerusakan besar, dan kerugian yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Angkatan Bersenjata Yaman mengumumkan serangannya dengan empat pesawat nirawak terhadap Bandara Ramon di kota Eilat, Israel, dan sebuah target militer di Negev.
Pasca serangan Israel terhadap markas Hamas di Doha, Qatar, setiap kunjungan ke platform media sosial Yordania membuat pengamat berhenti sejenak menyorot pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para pakar militer, termasuk Nidal Abu Zeid, Muhammad Abu Nawar, dan lainnya.
Berita selengkapnya:
Institut Weizmann Israel: Kerusakan Akibat Serangan Iran Sangat Fatal dan Tak Tergantikan
Di balik peristiwa konfrontasi antara Iran dan Israel, berbagai fakta yang mencekam bagi entitas Zionis, yang selama ini hendak disembunyikan, semakin terungkap dar hari kehari: serangan tepat sasaran, kerusakan besar, dan kerugian yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dikutip saluran al-Alam, Minggu (14/9), Kepala Dewan Sains di Institut Weizmann Israel, Nir Davidson, mengungkapkan kehancuran ekstensif yang menimpa institut tersebut akibat diterjang dua rudal Iran. 50 laboratorium hancur total, dan berbagai hasil penelitian ilmiah penting selama bertahun-tahun lenyap untuk selamanya, di tengah kerugian finansial dan material yang sangat besar.
Lembaga tersebut, yang dikenal karena dukungannya kepada militer Israel dalam proyek-proyek kecerdasan buatan dan riset militer, juga menjadi sasaran boikot yang semakin meningkat dari berbagai universitas internasional, sehingga mengancam kelangsungan penelitian ilmiah dan industri terkait.
Menurut kepala di Institut Weizmann, sekira 60% peneliti internasional meninggalkan lembaga ini pasca serangan tersebut, sementara bangunan-bangunan penelitian dan layanan rusak, termasuk laboratorium untuk penelitian kanker dan teknologi nuklir. Kehancuran juga meluas ke pusat-pusat pra-klinis yang menampung lebih dari 100.000 sampel eksperimen biologis, sehingga membahayakan masa depan penelitian saintifik di Israel.
Adapun di berbagai institusi Israel lainnya, kerugian finansial langsung mencapai sekitar $3 miliar, sementara Kementerian Keuangan memperkirakan total biaya sekitar $12 miliar.
Akibat serangan Iran, banyak fasilitas vital di Haifa, Tel Aviv, dan Ashdod rusak, sementara Otoritas Pajak menerima lebih dari 30.000 klaim kompensasi atas kerusakan bangunan, kendaraan, dan harta benda pribadi.
Kerugian manusia juga mencakup 28 kematian dan lebih dari 3.400 luka-luka. Ribuan pemukim terpaksa mengungsi dari rumah mereka, di tengah gangguan infrastruktur dan layanan publik yang hampir total.
Demikianlah Iran menunjukkan betapa negara ini bukan sekadar lawan militer, melainkan juga kekuatan strategis yang mampu memberikan pukulan yang menghancurkan bagi lembaga-lembaga vital dan mengganggu rencana ekonomi dan militer Israel. Iran telah mengirimkan pesan yang tegas kepada siapa pun yang meremehkan tekad negara Republik Islam ini. (alalam)
Tentara Yaman Bandara Ramon dan Target Militer Israel di Negev
Angkatan Bersenjata Yaman mengumumkan serangannya dengan empat pesawat nirawak terhadap Bandara Ramon di kota Eilat, Israel, dan sebuah target militer di Negev.
Angkatan Bersenjata Yaman dalam sebuah pernyataan pada hari Minggu malam (14/9) menyatakan bahwa Angkatan Udara Yaman telah melancarkan operasi militer kualitatif dengan empat pesawat nirawak, tiga di antaranya membidik Bandara Ramon di wilayah Umm al-Rashrash (Eilat), sementara yang keempat menargetkan sebuah target militer di wilayah Negev di Palestina pendudukan.
Pernyataan tersebut menambahkan bahwa operasi itu mencapai tujuannya, dan bahwa agresi Israel terhadap rakyat Yaman tidak akan melemahkan tekad kuat mereka, yang telah disaksikan oleh seluruh dunia sejak awal Badai Al-Aqsa pada 7 Oktober 2023 hingga saat ini.
Pernyataan itu juga menegaskan bahwa Yaman konsisten menjalankan kewajiban agama, moral, dan kemanusiaannya, dan akan dengan gagah berani mempertahankan perjuangannya, yang berbasis keyakinan dalam solidaritas dengan rakyat Palestina dan dukungan kepada para pejuang perlawanan mereka yang teguh.
“Semua upaya untuk melemahkan sikap ini akan gagal, sebagaimana upaya-upaya sebelumnya,” tegas tentara Yaman, melalui jubirnya, Brigjen Yahya Saree.
Angkatan Bersenjata Yaman menegaskan kembali bahwa pihak tidak akan ragu untuk membela negara ini, dan juga tidak akan mengabaikan kewajiban mereka di depan bangsa Palestina hingga agresi dan blokade terhadap Gaza dihentikan.
Sirene serangan udara membahana di langit Eilat akibat melesatnya pesawat nirawak Yaman. Rekaman yang mendokumentasikan suara sirene serangan udara menyebar ke seluruh bagian selatan Palestina pendudukan, memperingatkan adanya pesawat nirawak Yaman yang melintas.
Sirene serangan udara juga berbunyi pada Minggu sore di Eilat, diikuti dengan penutupan zona udara di Bandara Ramon karena khawatir akan masuknya pesawat nirawak Yaman.
Surat kabar Israel Hayom melaporkan bahwa beberapa bagian rudal pencegat ditemukan di dekat Bandara Ramon setelah peluncuran pesawat nirawak dari Yaman menuju bandara tersebut.
Sejak awal September, militer Yaman telah meluncurkan tujuh rudal, termasuk dua rudal kluster, yang menghantam target-target sensitif di wilayah Jaffa (Tel Aviv). Selain itu, rudal kluster lainnya menghantam wilayah sekitar kita Al-Quds (Yerusalem).
Dua rudal hipersonik “Palestine 2” juga diluncurkan ke satu target di wilayah Negev dan satu target lagi di sebelah barat Al-Quds. Dua rudal balistik Dzulfiqar juga diluncurkan ke dua target di Jaffa, dan sebanyak 22 drone diluncurkan ke Bandara Ramon di Negev, gedung Staf Umum di entitas Zionis, Bandara Lod, pembangkit listrik Hadera, Ashkelon, Ashdod, Dimona, dan bahkan hingga Haifa. (alalam)
Pasca Serangan Israel terhadap Markas Hamas, Publik Yordania Kritisi Pangkalan Al-Udeid di Qatar
Pasca serangan Israel terhadap markas Hamas di Doha, Qatar, setiap kunjungan ke platform media sosial Yordania membuat pengamat berhenti sejenak menyorot pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para pakar militer, termasuk Nidal Abu Zeid, Muhammad Abu Nawar, dan lainnya.
Di grup WhatsApp, Khaled Al-Omari menyoal apa yang diharapkan oleh orang-orang Arab terkait pangkalan militer AS di wilayah mereka, dan peran mereka dalam pengeboman negara lain.
“Mengapa Pangkalan Al-Udeid, yang mengendalikan cuaca dan radar, tidak turun tangan untuk mencegah agresi brutal terhadap negara yang bersekutu dan bersahabat dengan Amerika Serikat (AS)? Apakah pangkalan itu tiba-tiba mati?” tulisnya.
Analis militer dan intelijen strategis, Nidal Abu Zeid, di Roya TV menyatakan bahwa operasi serangan tersebut telah gagal, seperti halnya semua operasi militer Israel lainnya di Gaza.
Menurutnya, Netanyahu adalah pihak yang kini akan dipermalukan dan menanggung akibatnya atas operasi ini, dan bahwa netralitas pasukan militer AS kini juga dipertanyakan di tengah keberpihakannya yang mutlak kepada Israel.
Banyak netizen Yordania di Facebook, termasuk Ali al-Munasira, yang menyorot potensi peran pangkalan Al-Udeid dalam kolusi dengan pangkalan militer AS di Yordania di kemudian hari, jika kubu sayap kanan Israel memutuskan untuk “mendisiplinkan” rakyat Yordania atau menyerang kerajaan.
Al-Munasira menyinggung salah satu komentar yang paling banyak beredar di platform Yordania pasca serangan Israel terhadap Qatar, berkaitan dengan keberadaan pangkalan AS dan peran mereka di masa mendatang dalam konsensus rakyat Yordania.
Dr. Thabet Al-Amro di Facebook juga berkomentar dengan menyatakan bahwa pertanyaan tersebut menjadi pertanyaan moral dan hukum bagi pemerintah Yordania.
Tayseer Al-Jabri dalam diskusi di media sosial menyebutkan bahwa pernyataan Kementerian Luar Negeri Yordania lebih kuat daripada Qatar dalam hal kecaman. Alia Al-Bourini juga bergabung dengan para pencela dan pengkritik Arab. (raialyoum)







