Rangkuman Berita Utama  Selasa 29 April 2025

Jakarta, ICMES. Angkatan Laut AS mengumumkan bahwa jet tempur F-18 jatuh dari kapal induk USS Harry Truman dalam operasi di Laut Merah, dan seorang pelaut terluka dalam peristiwa ini.

Pasukan Israel mengonfirmasi penggunaan roket baru bernama “Bar” untuk pertama kalinya di Gaza, sehingga menandai eskalasi signifikan dan membawa kebiadabannya ke tingkat baru dalam perang genosida yang sedang berlangsung di Gaza.

Sekjen Hizbullah Syeikh Naim Qassem menyebut serangan udara Israel di pinggiran selatan Beirut sebagai “serangan politik” tanpa “alasan”. Dia menyeru pemerintah Lebanon agar  memberikan lebih banyak “tekanan” untuk menghentikan serangan tersebut.

Berita selengkapnya:

Jet Tempur F-18 Tercebur dari Kapal Induk setelah Yaman Umumkan Serangan terhadapnya

Angkatan Laut AS mengumumkan pada hari Senin (28/4) bahwa jet tempur F-18 jatuh dari kapal induk USS Harry Truman dalam operasi di Laut Merah, dan seorang pelaut terluka dalam peristiwa ini.

Insiden ini terjadi beberapa jam setelah Yahya Saree, juru bicara militer Yaman kubu Ansarullah, mengumumkan bahwa kapal induk AS USS Harry Truman telah menjadi sasaran serangan Yaman di Laut Merah, sebagai bagian dari “respon terhadap pembantaian yang dilakukan Amerika terhadap warga sipil di Yaman.”

Dalam sebuah pernyataan, Angkatan Laut AS mengatakan, “Seorang pelaut mengalami cedera ringan ketika sebuah F-18 jatuh dari kapal induk selama operasi di Laut Merah.”

Mereka juga menyatakan bahwa “semua anggota kru yang tersisa baik-baik saja, dan keadaan kecelakaan saat ini sedang diselidiki.”

Mereka  menjelaskan bahwa kapal induk  tersebut kehilangan “sebuah pesawat F/A-18E Super Hornet dari Skuadron Tempur ke-136 (VFA), selain sebuah kapal tunda, dalam operasinya di Laut Merah.”

Jet tempur tersebut sedang ditarik ketika awak transportasi kehilangan kendali, menyebabkannya jatuh ke laut, menurut pernyataan yang sama.

“Para pelaut yang sedang menarik pesawat tersebut segera mengambil tindakan untuk menjauh darinya sebelum pesawat tersebut jatuh ke laut,” terang mereka, sembari memastikan bahwa kelompok kapal induk USS Harry Truman dan sayap udaranya “tetap sepenuhnya siap menjalankan misi.”

CNN mengutip seorang pejabat anonim yang mengatakan, “Pesawat itu tenggelam, dan jet tempur F-18 berharga lebih dari $60 juta (lebih dari Rp. 1 triliun).”

Pada tanggal 15 Maret, AS melanjutkan serangannya terhadap Yaman sesuai instruksi Presiden Donald Trump kepada militer AS untuk melancarkan “serangan besar” terhadap Ansarullah, sebelum mengancam untuk “menumpasnya secara total”.

Namun Ansarullah mengabaikan ancaman Trump dan melanjutkan pengeboman berbagai target Israel dan kapal-kapal yang menuju ke negara itu di Laut Merah, sebagai tanggapan atas dimulainya kembali perang genosida rezim Zionis tersebut terhadap warga Palestina di Jalur Gaza sejak 18 Maret. (raialyoum)

Pertama Kali, Israel Gunakan Roket Bar di Gaza, Korban

Pasukan Israel mengonfirmasi penggunaan roket baru bernama “Bar” untuk pertama kalinya di Gaza, sehingga menandai eskalasi signifikan dan membawa kebiadabannya ke tingkat baru dalam perang genosida yang sedang berlangsung di Gaza.

Roket Bar, yang dirancang untuk akurasi tinggi dan penyebaran cepat, dilaporkan digunakan untuk menyebabkan kerusakan besar di daerah padat penduduk di Gaza selatan.

Menurut pernyataan militer Israel, roket berpemandu presisi itu dikerahkan oleh Resimen Artileri ke-282 untuk menyerang apa yang disebutnya sebagai posisi Hamas dan kelompok perlawanan Palestina lainnya.

Pernyataan itu juga  mengklaim bahwa serangan yang dikembangkan oleh kontraktor Israel Elbit Systems diduga ditujukan untuk meminimalkan korban sipil di wilayah Palestina yang terkepung.

Kontras dengan klaim militer Israel, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan jatuhnya belasan korban gugur warga sipil dan 37 korban luka di daerah terdampak, dan terkait dengan serangan Israel terbaru di daerah tersebut.

Tentara pendudukan Israel belakangan ini juga mengintensifkan penggunaan pesawat nirawak kamikaze terhadap tenda dan rumah pengungsi.

Foto dan video sisa-sisa pesawat nirawak ditinjau dan diidentifikasi oleh Trevor Ball, seorang peneliti amunisi dan mantan spesialis penjinak bahan peledak pasukan AS.

“Pesawat nirawak serang satu arah pada dasarnya adalah rudal, dan menurut sebagian besar definisi teknis, pesawat nirawak tersebut dianggap sebagai rudal,” kata Ball.

“Dari segi efek, ini cukup mirip dengan bom dan rudal yang mereka gunakan untuk menyerang tenda dan sekolah sebelumnya. Perbedaan terbesarnya adalah ini adalah amunisi yang dapat berputar-putar, di mana mereka dapat mengitari target selama beberapa waktu sebelum menyerang,”terangnya.

Militer Israel telah menggunakan teknologi pengawasan, kecerdasan buatan (AI), dan alat digital lainnya untuk menyebabkan kerusakan besar-besaran di daerah permukiman di wilayah Palestina yang terblokade tersebut.

Israel mengembangkan alat kecerdasan buatan baru untuk mendukung kampanye militer brutal di Gaza dan di tempat lain di seluruh wilayah tersebut.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan hampir 40 orang telah kehilangan nyawa di Jalur Gaza pada hari Senin.

Sejak awal agresi, militer Israel juga telah menggunakan pengangkut personel lapis baja (APC) tua yang diisi dengan berton-ton bahan peledak untuk melakukan tindakan pencegahan di apa yang disebut zona pertempuran sebelum pasukan masuk.

Komite Internasional Palang Merah mengatakan serangan udara Israel yang baru telah memicu kobaran api baru di Jalur Gaza. Direktur Jenderal Palang Merah, Pierre Krahenbuhl, menyoroti trauma keluarga tahanan Palestina dan lebih dari 1.400 responden pertama yang tewas dalam kekejaman Israel di Gaza.

Pernyataannya mengemuka ketika belasan warga sipil Palestina gugur dan beberapa lainnya terluka hanya dalam satu serangan udara Israel di utara Jalur Gaza.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sedikitnya 72 orang gugur di seluruh wilayah Jalur Gaza dalam 24 jam. Kematian terbaru ini telah meningkatkan jumlah korban gugur perang genosida sejak Oktober 2023 menjadi lebih dari 52.310, dan hampir 117.800 lainnya terluka. (presstv)

Israel Serang Beirut Selatan, Sekjen Hizbullah: Kami Tak Sudi Menjadi Lemah

Sekjen Hizbullah Syeikh Naim Qassem menyebut serangan udara Israel di pinggiran selatan Beirut sebagai “serangan politik” tanpa “alasan”. Dia menyeru pemerintah Lebanon agar  memberikan lebih banyak “tekanan” untuk menghentikan serangan tersebut.

Syekh Qassem menyatakan demikian pada hari Senin (28/4), sehari setelah serangan udara Israel menghantam daerah pinggiran selatan Beirut.

Serangan itu tercatat sebagai yang ketiga di daerah tersebut sejak gencatan senjata mulai berlaku. Lebanon kemudian mendesak kedua negara penjamin perjanjian tersebut, AS dan Prancis, “memaksa” Rezim Zionis agar menghentikan serangannya.

Israel mengklaim bahwa lokasi yang menjadi sasarannya pada hari Minggu adalah depot senjata Hizbullah yang berisi “rudal presisi.”

Syeikh Qassem mengatakan, “Kemarin, sebuah serangan terjadi di pinggiran selatan Beirut, dan serangan ini tidak memiliki alasan apa pun, meski sekedar ilusi sekalipun.”

Dia menambahkan, “Ini adalah serangan politik. Ini adalah serangan untuk mengubah aturan main. Ini adalah serangan untuk menetapkan aturan tertentu, yang menurut mereka dapat menekan Lebanon dan kubu perlawanannya serta mencapai tujuan yang mereka inginkan.”

Sekjen Hizbullah menilai serangan itu dilakukan justru “dengan izin Amerika, karena Israel mengatakan telah memberi tahu Amerika.”

Perjanjian gencatan senjata mulai berlaku pada tanggal 27 November, setelah baku tembak antara Israel dan Hizbullah berlangsung selama sekitar satu tahun dan meningkat menjadi konfrontasi terbuka pada bulan September 2024. Namun, Israel terus melancarkan serangan di Lebanon dan mempertahankan kehadiran militer di daerah perbatasan.

Syeikh Qassem mengingatkan bahwa “pemerintah bertanggung jawab untuk terus menekan kedua negara sponsor, AS dan Prancis, serta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Dewan Keamanan, dan pasukan darurat internasional” untuk menghentikan serangan Israel di Lebanon.

Dia juga menegaskan, “Lebanon harus kuat dan akan tetap kuat melalui perlawanannya, rakyatnya, dan tentaranya. Kami tidak akan sudi menjadi lemah seperti yang kami alami lebih dari 40 tahun lalu.” (raialyoum/alalam)