Rangkuman Berita Utama Selasa 21 Januari 2025

Jakarta, ICMES. Pasukan Yaman kubu Ansarullah menyatakan akan membatasi serangan mereka terhadap kapal-kapal komersial hanya pada kapal-kapal yang terkait dengan Israel, asalkan gencatan senjata di Gaza dilaksanakan sepenuhnya.

Kelompok pejuang Hizbullah Lebanon menyatakan bahwa tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Hamas dan Israel di Jalur Gaza “dengan memberlakukan syarat-syarat kubu perlawanan dan tanpa mengorbankan hak-hak rakyat Palestina, merupakan kemenangan politik yang ditambahkan pada pencapaian militer.”

Warga Palestina menemukan puluhan jenazah di bawah reruntuhan di Gaza, dan masih mencari ribuan jenazah lainnya saat gencatan senjata antara Israel dan Hamas memasuki hari kedua.

Berita selengkapnya:

Yaman Nyatakan Hanya akan Menyerang Kapal yang Terkait dengan Israel

Pasukan Yaman kubu Ansarullah menyatakan akan membatasi serangan mereka terhadap kapal-kapal komersial hanya pada kapal-kapal yang terkait dengan Israel, asalkan gencatan senjata di Gaza dilaksanakan sepenuhnya.

Pusat Koordinasi Operasi Kemanusiaan (HOCC) yang berpusat di Sanaa, yang menjadi penghubung antara pasukan Yaman dan operator pengiriman komersial, menyatakan bahwa mereka menghentikan “sanksi” terhadap kapal-kapal yang dimiliki oleh entitas Amerika Serikat (AS) dan Inggris, serta kapal-kapal yang berlayar di bawah bendera kedua negara.

“Kami menegaskan bahwa, jika terjadi agresi terhadap Republik Yaman oleh AS, Inggris, atau entitas Israel yang merampas kekuasaan, sanksi akan diberlakukan kembali terhadap penyerang,” katanya dalam email yang dikirim kepada pejabat industri pelayaran pada hari Minggu (20/1).

HOCC mengatakan bahwa Yaman hanya akan berhenti menyerang  kapal-kapal yang terkait dengan Israel “setelah semua fase perjanjian diterapkan sepenuhnya”.

Seorang juru bicara pasukan Yaman mengatakan bahwa mereka akan menghentikan operasi militernya terhadap Israel serta kapal-kapal komersial di Laut Merah jika gencatan senjata mulai berlaku pada hari Minggu.

Gencatan senjata yang disepakati oleh Israel dan kelompok Palestina Hamas untuk menghentikan perang selama 15 bulan di Gaza mulai berlaku pada hari Minggu dan akan berlangsung dalam tiga tahap selama beberapa minggu.

Menanggapi perang genosida Israel di Gaza, pasukan Yaman yang didukung Iran melakukan lebih dari 100 serangan terhadap kapal sejak November 2023, menenggelamkan dua kapal dan menewaskan sedikitnya empat pelaut.

Mereka menyerang di Laut Merah selatan dan Teluk Aden, yang dihubungkan oleh Selat Bab al-Mandeb yang sempit, titik sempit antara Tanduk Afrika dan Timur Tengah.

Banyak perusahaan pelayaran terbesar di dunia menangguhkan perjalanan melalui Laut Merah tahun lalu dan mengalihkan kapal mereka di sekitar ujung selatan Afrika untuk menghindari serangan.

Pasukan Yaman juga telah melancarkan serangan langsung ke Israel.

Sebagai tanggapan, Inggris dan AS melancarkan sejumlah serangan ke sejumlah target di Yaman. Washington juga telah menjatuhkan sanksi kepada Ansarullah. Selain itu, Israel juga telah mengebom sejumlah pembangkit listrik dan pelabuhan Yaman, termasuk pelabuhan Hodeidah. (aljazeera)

Hizbullah Puji Pejuang Palestina Terkait dengan Gencatan Senjata di Gaza

Kelompok pejuang Hizbullah Lebanon menyatakan bahwa tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Hamas dan Israel di Jalur Gaza “dengan memberlakukan syarat-syarat kubu perlawanan dan tanpa mengorbankan hak-hak rakyat Palestina, merupakan kemenangan politik yang ditambahkan pada pencapaian militer.”

Gencatan senjata antara Israel dan Hamas mulai berlaku pada Minggu pagi, setelah genosida yang dilakukan oleh Israel, dengan dukungan AS, di Gaza selama sekitar 16 bulan.

“Perjanjian Gaza menunjukkan bahwa rezim pendudukan tidak dapat mencapai tujuannya dengan kekerasan atau mematahkan tekad dan keteguhan rakyat Palestina,” ungkap Hizbullah dalam sebuah pernyataannya pada hari Senin (20/1), sembari menyampaikan ucapan selamat kepada bangsa Palestina dan kepada semua elemen perlawanan yang telah mendukung Gaza, serta kepada seluruh umat Islam dan kaum merdeka dunia atas kemenangan Palestina ini.

Hizbullah menilai kemenangan ini hasil dari  keteguhan bangsa Palestina selama lebih dari 16 bulan sejak dimulainya Badai Al-Aqsa, yang merupakan contoh yang harus diikuti dalam menghadapi agresi Zionis-AS.

Hizbullah menyatakan, “Kemenangan bersejarah ini kembali menegaskan bahwa perlawanan merupakan satu-satunya pilihan yang mampu menghalangi rezim pendudukan dan menggagalkan rencana agresifnya, dan merupakan kekalahan strategis baru bagi Zionis dan para pendukungnya.”

Hizbullah menambahkan, “Era pemaksaan perintah sudah berakhir, dan kehendak  rakyat tidak dapat dipatahkan, karena lebih kuat daripada semua mesin perang dan terorisme Zionis dan Amerika… Perlawanan Palestina selama pertempuran ini membuktikan bahwa mereka kuat dan mampu mematahkan arogansi dan tirani  Zionis, terlepas dari semua kejahatan dan agresi brutalnya.”

Menurut Hizbullah, perlawanan Palestina juga membuktikan bahwa “entitas sementara ini (Israel) adalah entitas rapuh yang tidak memiliki kemampuan untuk bertahan dan terus berlanjut, dan tidak akan menikmati keamanan atau stabilitas selama mereka terus melakukan “agresi terhadap bangsa, tanah, dan kesucian kita”.

Hizbullah juga menegaskan, “AS adalah mitra penuh dalam kejahatan dan genosida Israel terhadap rakyat Palestina.”

Mengenai peran Hizbullah sendiri dalam membela Palestina, kelompok pejuang Lebanon ini menyatakan pihaknya telah mempersembahkan “miliknya yang termahal”, yaitu jiwa-jiwa sekjennya, Sayyid Hassan Nasrallah, wasekjennya, Sayyid Hashem Safiyuddin, dan beberapa petinggi serta banyak pejuang Hizbullah lainnya.

Sejak 27 November 2024, gencatan senjata antara Hizbullah dan Israel diberlakukan sehingga mengakhiri kontak senjata antara keduanya. Kontak senjata dengan skala terbatas pecah sejak 8 Oktober 2023, tapi kemudian berubah menjadi perang skala besar pada 23 September 2024 hingga mengakibatkan 4.068 gugur dan 16.670 terluka, yang sebagian besarnya adalah anak-anak dan kaum wanita, serta menyebabkan pengungsian sekitar 1,4 juta orang.

Dalam kurun waktu sejak 7 Oktober 2023 hingga  19 Januari 2025, genosida Israel di Gaza telah menjatuhkan korban gugur dan luka sebanyak lebih dari 157.000 warga Palestina, yang sebagian besarnya juga anak-anak dan kaum wanita, dan menyebabkan lebih dari 11.000 orang hilang. (raialyoum)

Puluhan Jenazah Ditemukan di Bawah Reruntuhan di Gaza di Tengah Gencatan Senjata

Warga Palestina menemukan puluhan jenazah di bawah reruntuhan di Gaza, dan masih mencari ribuan jenazah lainnya saat gencatan senjata antara Israel dan Hamas memasuki hari kedua.

Sumber medis pada hari Senin (20/1) menyatakan bahwa sebanyak jenazah 97 warga Palestina telah ditemukan di kota Rafah yang hancur di Gaza selatan sejak gencatan senjata mulai berlaku sehari sebelumnya dengan pembebasan tiga tawanan Israel oleh Hamas dan 90 tahanan Palestina oleh Israel.

Serangan Israel di Gaza telah menggugurkan lebih dari 47.000 warga Palestina, yang sebagian besarnya kaum wanita dan anak-anak, serta melukai lebih dari 111.000 orang, menurut otoritas kesehatan setempat.

Namun, Badan Pertahanan Sipil Palestina mengatakan bahwa diperkirakan ada 10.000 mayat di bawah bangunan yang hancur di seluruh wilayah Jalur Gaza.

Setidaknya 2.840 mayat telah hancur tanpa bekas, kata Mahmoud Basal, juru bicara Layanan Darurat Sipil Palestina di Gaza.

Sementara itu, banyak penduduk yang mengungsi dan kembali ke lingkungan mereka merasa asing setelah melihat kehancuran akibat perang selama lebih dari 15 bulan.

“[Tingkat kehancuran] merupakan guncangan besar, dan jumlah [orang] yang merasa terkejut tidak terhitung banyaknya karena apa yang terjadi pada rumah mereka. Itu adalah kehancuran, kehancuran total,” kata Mohamed Gomaa, yang kehilangan saudara laki-laki dan keponakannya dalam perang tersebut, kepada Reuters.

Dia juga mengatakan, “Ini tidak seperti gempa bumi atau banjir, tidak, tidak. Yang terjadi adalah perang pemusnahan.” (aljazeera)