Rangkuman Berita Utama Selasa 19 Agustus 2025

Jakarta, ICMES. Dua petinggi Iran, Mayjen Yahya Rahim Safavi, Penasihat Pemimpin Besar Iran  Ayatullah Sayyid Ali Khameneni yang Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Iran, dan Wapres Mohammad Reza Aref menyatakan tidak tertutup kemungkinan berkobar perang lagi antara Iran dan Israel.

Gerakan Perlawanan Islam Palestina, Hamas, dan faksi-faksi pejuang Palestina lainnya mengkonfirmasi persetujuan mereka atas proposal yang diajukan oleh mediator dari Mesir dan Qatar.

Militer Israel mengumumkan bahwa seorang perwira dan seorang prajurit terluka di Jalur Gaza utara, yang dilanda perang genosida yang dilancarkan oleh Tel Aviv sejak 22 bulan silam.

Berita selengkapnya:

Dua Petinggi Iran: Perang Melawan Israel Bisa Berkobar lagi Sewaktu-Waktu

Dua petinggi Iran, Mayjen Yahya Rahim Safavi, Penasihat Pemimpin Besar Iran  Ayatullah Sayyid Ali Khameneni yang Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Iran, dan Wapres Mohammad Reza Aref menyatakan tidak tertutup kemungkinan berkobar perang lagi antara Iran dan Israel.

Dalam pernyataannya pada hari Minggu (17/8) Safavi menyebutkan Iran tidak sedang dalam gencatan senjata, melainkan dalam “fase perang,” dan bahwa jeda tempur pun dapat berakhir kapan saja, dan jika ini terjadi maka mungkin tidak ada perang lagi setelahnya.

“Tidak ada protokol atau kesepakatan tertulis antara kami dan Israel, maupun antara kami dan Amerika,” ungkapnya.

Menurut Safavi, Washington dan Tel Aviv percaya bahwa perdamaian dibuat dengan kekuatan, dan ini mengharuskan Iran kuat secara regional dan global.

“Gencatan senjata hanya berarti penghentian sementara permusuhan, yang dapat berlanjut kapan saja,” sambungnya.

Dia juga mengatakan, “Kami, militer, mengembangkan skenario berdasarkan skenario terburuk dan menyiapkan rencana untuk menghadapi skenario terburuk tersebut.”

Dia menekankan urgensi penguatan sistem defensif dan strategi ofensif secara bersamaan, dan ini mencakup kemampuan diplomatik, media, siber, rudal, dan drone. Dia lantas mengatakan bahwa “cara pertahanan terbaik adalah menyerang,” dan bahwa mempersiapkan perang adalah cara terbaik untuk menjamin tegaknya perdamaian.

Senada dengan ini, Wapres Iran Mohammad Reza Aref,  pada hari Senin (18/8) memperingatkan bahwa perang dengan Israel dapat berlanjut “kapan saja,” karena gencatan senjata yang telah berlaku sejak akhir Juni mungkin tidak akan berlangsung lama.

“Kita harus siap menghadapi konfrontasi kapan saja,” katanya dalam sebuah pertemuan dengan para akademisi di Teheran.

Pada 13 Juni, Israel mengobarkan perang yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Iran, dengan menyerang target nuklir dan militer, serta lokasi sipil, hingga menewaskan lebih dari 1.000 orang, termasuk ilmuwan nuklir dan komandan militer.

Iran merespon dengan serangan rudal dan pesawat nirawak yang diklam oleh Israel hanya menewaskan puluhan orang di Israel.

Amerika Serikat (AS) mengumumkan gencatan senjata pada 24 Juni, dua hari setelah berpartisipasi dalam serangan bersama Israel dan pengeboman fasilitas nuklir Iran. Namun, kedua belah pihak belum mencapai kesepakatan gencatan senjata resmi.

Negara-negara Barat dan Israel menuding Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir, tuduhan yang telah dibantah Teheran selama bertahun-tahun.

AS dan Israel telah mengancam akan melanjutkan serangan jika Iran melanjutkan pengayaan uraniumnya. Teheran bersikeras pada haknya memperkaya uranium, sementara pemerintah AS menganggapnya sebagai “garis merah”.

Menurut Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), Iran adalah satu-satunya negara non-nuklir di dunia yang memperkaya uranium hingga 60 persen. Tingkat ini jauh melampaui batas 3,67 persen yang ditetapkan dalam perjanjian internasional tahun 2015 dengan negara-negara besar, yang kemudian AS secara sepihak menarik diri darinya pada tahun 2018.

Penggunaan uranium untuk militer membutuhkan pengayaan hingga 90 persen.

Prancis, Jerman, dan Inggris, negara-negara pihak dalam perjanjian 2015, mengancam akan menerapkan kembali sanksi internasional terhadap Iran, sementara Teheran mengancam akan memberikan sanksi balasan, mengisyaratkan kemungkinan penarikan diri dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT). (alalam/raialyoum)

Hamas Setujui Proposol Gencatan Senjata yang Diajukan Mediator Arab, Ini Isinya

Gerakan Perlawanan Islam Palestina, Hamas, dan faksi-faksi pejuang Palestina lainnya mengkonfirmasi persetujuan mereka atas proposal yang diajukan oleh mediator dari Mesir dan Qatar.

Sebelumnya, sebuah sumber terkemuka Palestina melaporkan bahwa Hamas dan faksi-faksi itu telah menyetujui proposal dari mediator Mesir dan Qatar.

Sumber utama tersebut mengatakan kepada Al-Mayadeen, “Proposal tersebut menetapkan penarikan pasukan hingga kedalaman 1.000 meter di wilayah utara dan timur Jalur Gaza, kecuali Shuja’iyya dan Beit Lahia di Jalur Gaza utara.”

Sumber tersebut menjelaskan bahwa sebagai imbalan atas pembebasan 10 tawanan Israel yang masih hidup, 140 tahanan Palestina yang menjalani hukuman seumur hidup, 60 tahanan yang menjalani hukuman lebih dari 15 tahun, dan 1.500 tahanan dari Jalur Gaza akan dibebaskan.

Sumber itu juga menyebutkan bahwa proposal itu menetapkan amandemen peta penempatan kembali ke utara dan timur, dan bahwa segera setelah perjanjian berlaku, bantuan akan dikirim ke Jalur Gaza dalam jumlah besar dan terkoordinasi, sesuai dengan perjanjian 19 Januari 2025.

Dia menjelaskan bahwa bantuan kemanusiaan tersebut mencakup bahan bakar, air, listrik, rehabilitasi rumah sakit dan toko roti, serta peralatan pembersihan puing, dan bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan berbagai perwakilannya, Bulan Sabit Merah, dan organisasi-organisasi internasional yang beroperasi di Gaza akan menerima dan mendistribusikan bantuan tersebut.

Sumber tersebut juga menambahkan bahwa proposal itu menetapkan pembukaan perlintasan Rafah di Jalur Gaza selatan di kedua arah, sesuai dengan perjanjian sebelumnya, dan bahwa “sebagai imbalan untuk setiap jenazah warga Israel yang tewas, 10 jenazah warga Palestina akan dibebaskan,” dan semua anak-anak dan perempuan akan dibebaskan.

Reuters mengutip pernyataan seorang pejabat anonim Mesir bahwa proposal gencatan senjata terbaru di Gaza mencakup penangguhan sementara operasi militer selama 60 hari, serta pertukaran tahanan Palestina dengan pembebasan separuh tawanan Israel.

Menurut sumber tersebut, proposal tersebut mencakup jalan menuju tercapainya kesepakatan komprehensif untuk mengakhiri perang, dan bahwa Hamas telah menyetujui proposal yang diajukan oleh mediator Mesir dan Qatar. (almayadeen)

Perwira dan Serdadu Israel Terluka dalam Pertempuran di Gaza Utara

Militer Israel mengumumkan bahwa seorang perwira dan seorang prajurit terluka di Jalur Gaza utara, yang dilanda perang genosida yang dilancarkan oleh Tel Aviv sejak 22 bulan silam.

Militer Israel dalam sebuah pernyataan pada hari Senin (18/8) menyebutkan, Seorang perwira tempur terluka sedang, dan seorang prajurit lainnya terluka ringan, dalam bentrokan yang terjadi di Gaza utara.”

Sejak awal perang genosida di Gaza, 898 tentara Israel tewas dan 6.196 lainnya terluka, menurut data militer yang dipublikasikan di situs webnya.

Dengan adanya sensor media yang ketat oleh militer Israel, militer di dalam negeri dianggap menyembunyikan jumlah korban jiwa dan materi yang lebih besar demi menjaga mental tentara dan publik

Sementara itu, 36 warga Palestina gugur dan puluhan lainnya terluka dalam serangan Israel di berbagai wilayah Jalur Gaza sejak Senin dini hari.

Menurut sumber medis dan saksi mata, serangan tersebut menyasar rumah-rumah, perkumpulan warga sipil Palestina, kamp-kamp pengungsian, petugas bantuan, dan nelayan. (raialyoum)