Rangkuman Berita Utama Selasa 14 Oktober 2025

Jakarta, ICMES. Mahmoud Taha, pejabat hubungan media Hamas, menegaskan bahwa “baik Trump, maupun pemerintah AS, maupun pihak mana pun di dunia, tidak bisa melucuti senjata kubu perlawanan,” dan bahwa Hamas akan tetap mempertahankan senjatanya hingga pembebasan seluruh wilayah Palestina.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menjelaskan alasan mengapa pihaknya tidak menghadiri pertemuan puncak atau Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) di kota Sharm el-Sheikh, Mesir.

Presiden AS Donald Trump, bersama beberapa pemimpin Timur Tengah dan sekitarnya, menandatangani dokumen tentang kesepakatan gencatan senjata Gaza dalam pertemuan puncak di kota Sharm el-Sheikh, Mesir.

Berita selengkapnya:

Hamas Berterima Kasih kepada Iran dan Pastikan Tetap Bersenjata

Mahmoud Taha, pejabat hubungan media Hamas, menegaskan bahwa “baik Trump, maupun pemerintah AS, maupun pihak mana pun di dunia, tidak bisa melucuti senjata kubu perlawanan,” dan bahwa Hamas akan tetap mempertahankan senjatanya hingga pembebasan seluruh wilayah Palestina.

Berikut ini adalah petikan pernyataan Mahmoud Taha dalam wawancara dengan al-Alam yang berbasis di Teheran, ibu kota Iran, Senin (13/10);

Ini merupakan hari bersejarah bagi bangsa Palestina, yang telah mampu bertahan solid dan resisten di Jalur Gaza. Maka kami mengucapkan selamat kepada para pejuang perlawanan dan rakyat Palestina yang teguh bertahan di negerinya.

Kaum Zionis tak mencapai tujuannya meskipun sudah berjalan dua tahun pembantaian, genosida dan penghancuran skala masif di Gaza  yang dilakukan oleh buronan dan penjahat perang Netanyahu dan pemerintahan fasisnya. Rakyat dan kubu perlawanan meraih keberhasilan besar ini. Tanpa ketahanan rakyat dan keteguhan kubu perlawanan, kita tidak akan mencapai momen historis ini.

Kami juga berterima kasih kepada segenap pihak yang mendukung kami dalam melawan agresi yang berkelanjutan terhadap bangsa kami itu; mulai dari dukungan Republik Islam Iran hingga Yaman nan tangguh dan kubu perlawanan di Lebanon, tepatnya Hizbullah, serta semua pihak yang menyokong kami dalam peperangan melawan agresi.

Kami di gerakan Hamas dan berbagai faksi perlawanan Palestina lainnya telah berulang kali menegaskan, dan kami tegaskan lagi sekarang bahwa pihak yang berkuasa di Gaza adalah orang Palestina sendiri. Pihak yang mengelola Gaza adalah orang Palestina sendiri. Temanya adalah Palestina, dan karena itu, kami tentu menolak campur tangan (eksternal) terhadap urusan Palestina. Kami lebih mengetahui urusan kami sendiri dan sanggup mengelola Jalur Gaza.

Tak masalah bagi kami jika  terbentuk pemerintahan demokratis yang tak melibatkan Hamas, ataupun ada suatu komisi pengelola Gaza, tapi pihak yang mengelola Jalur Gaza secara total adalah orang Palestina sendiri. Kami menolak intervensi pihak asing manapun untuk pengelolaan Jalur Gaza pada fase ini, dan ini merupakan perkara yang bisa dicapai bagi kami.

Trump, pemerintah AS, dan pihak manapun di dunia tak dapat memreteli senjata kubu perlawanan, termasuk Hamas. Selama dua tahun agresi yang dilakukan secara kontinyu oleh pemerintah AS, Zionis, beberapa negara Barat, dan sejumlah negara Arab, mereka semua tak dapat melucuti senjata kubu perlawanan. Kami menegaskan bahwa senjata tetap ada di tangan kami sampai Palestina terbebas sepenuhnya dari cengkraman Zionis. (alalam)

Enggan Berinteraksi dengan AS,  Iran Absen dari KTT di Mesir

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menjelaskan alasan mengapa pihaknya tidak menghadiri pertemuan puncak atau Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) di kota Sharm el-Sheikh, Mesir.

“Kami tidak dapat berinteraksi dengan mereka (AS) yang telah melancarkan agresi terhadap rakyat Iran dan masih terus mengancam, serta menjatuhkan sanksi kepada kami,” ungkap Araghchi dalam sebuah postingan blog di X, Senin (13/10).

Dia juga menyebutkan: “Iran menyampaikan rasa terima kasihnya atas undangan Presiden el-Sisi kepada Iran untuk menghadiri Pertemuan Puncak Sharm el-Sheikh. Meskipun kami menginginkan dialog diplomatik, baik saya maupun Presiden Pezeshkian tidak dapat berinteraksi dengan mereka yang menyerang rakyat Iran dan terus mengancam serta menjatuhkan sanksi kepada kami.”

Dia menambahkan, “Namun, Iran menyambut baik inisiatif apa pun yang mengakhiri genosida Israel di Gaza dan mengarah pada penarikan pasukan pendudukan.”

Araghchi menekankan, “Bangsa Palestina memiliki hak penuh atas hak fundamental mereka untuk menentukan nasib sendiri, dan semua negara, lebih dari sebelumnya, memiliki kewajiban untuk membantu mereka mendukung tuntutan yang legal dan sah ini.”

Menteri Luar Negeri Iran juga menegaskan,”Iran selalu, dan akan tetap, menjadi kekuatan kunci bagi perdamaian di kawasan. Tidak seperti entitas Israel yang melakukan genosida, Iran tidak menginginkan perang tanpa akhir, terutama dengan mengorbankan apa yang disebut sekutunya, melainkan menginginkan perdamaian yang permanen, kemakmuran, dan kerja sama.”

Para kepala negara dan pejabat senior dari beberapa negara tiba di kota Sharm el-Sheikh, Mesir, di Laut Merah pada hari Senin untuk berpartisipasi dalam KTT perdamaian internasional mengenai Gaza.

Menurut Al-Qahera News Channel yang dikelola pemerintah Mesir, Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi menyambut Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, Raja Yordania Abdullah II, Raja Bahrain Hamad bin Isa Al Khalifa, dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas menjelang pembukaan KTT.

Turut hadir pula Presiden Prancis Emmanuel Macron, Presiden Indonesia Prabowo Subianto, Kanselir Jerman Friedrich Merz, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, Perdana Menteri Pakistan Mohammad Shehbaz Sharif, dan Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Faisal bin Farhan.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Perdana Menteri Kanada Mark Carney, Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, dan Sekretaris Jenderal Liga Arab Ahmed Aboul Gheit juga tiba di tempat pertemuan puncak.

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez, Menteri Luar Negeri Oman Badr Al Busaidi, Perdana Menteri Irak Mohammed Shia al-Sudani, mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair, dan Presiden Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) Gianni Infantino juga tiba di Sharm el-Sheikh untuk menghadiri KTT perdamaian tersebut.

Delegasi dari Paraguay dan Belanda juga tiba di kota Mesir tersebut, lapor saluran tersebut, tanpa menyebutkan tingkat partisipasi.

Lebih dari 20 pemimpin dunia dijadwalkan menghadiri KTT Sharm el-Sheikh, yang akan diketuai bersama oleh Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi dan mitranya dari Amerika, Donald Trump.

Mesir mengatakan KTT tersebut bertujuan “untuk mengakhiri perang di Jalur Gaza, meningkatkan upaya untuk membawa perdamaian dan stabilitas ke Timur Tengah, dan mengawali fase baru keamanan dan stabilitas regional.”

Fase pertama perjanjian gencatan senjata Gaza mulai berlaku pada hari Jumat di bawah rencana Trump untuk mengakhiri perang Israel selama dua tahun di wilayah kantong tersebut.

Sejak Oktober 2023, serangan Israel telah menewaskan lebih dari 67.800 warga Palestina di Gaza, kebanyakan dari mereka wanita dan anak-anak, membuat sebagian besar kawasan itu tidak dapat dihuni. (alalam/aa)

Trump dan Para Pemimpin Regional Teken Kesepakatan Gencatan Senjata Gaza

Presiden AS Donald Trump, bersama beberapa pemimpin Timur Tengah dan sekitarnya, menandatangani dokumen tentang kesepakatan gencatan senjata Gaza dalam pertemuan puncak di kota Sharm el-Sheikh, Mesir, Senin (13/10).

Trump dalam kata sambutannya pada pertemuan itu memuji pembebasan tawanan Israel, sementara Hamas mengutuk “bentuk-bentuk sadisme dan fasisme paling kejam” yang dialami oleh orang-orang Palestina yang baru dibebaskan dari penjara-penjara Israel.

Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi, Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan juga menandatangani dokumen tersebut .

“Butuh 3.000 tahun untuk mencapai titik ini. Percayakah Anda? Dan ini akan bertahan. Ini akan bertahan,” kata Trump di tengah penandatanganan dokumen.

“Ini adalah hari yang telah dinantikan, diperjuangkan, diharapkan, dan didoakan oleh orang-orang di seluruh kawasan dan dunia. Tak seorang pun mengira ini bisa terjadi,” lanjutnya, sembari menyebut perjanjian gencatan senjata Gaza sebagai “bersejarah.”

Trump melanjutkan pidatonya dengan mengatakan “Setelah bertahun-tahun penderitaan dan pertumpahan darah, perang di Gaza telah berakhir. Bantuan kemanusiaan kini mengalir deras, termasuk ratusan truk berisi makanan, peralatan medis, dan pasokan lainnya, sebagian besar dibayar oleh orang-orang di ruangan ini.”

Trump juga menyampaikan “rasa terima kasihnya yang luar biasa kepada negara-negara Arab dan Muslim yang telah membantu mewujudkan terobosan luar biasa ini.”

Presiden Mesir berterima kasih kepada Trump, serta para pemimpin Qatar dan Turki. Dia juga menegaskan kembali dukungannya terhadap rencana Gaza dengan harapan dapat menciptakan cakrawala politik bagi implementasi apa yang disebut solusi dua negara dalam konflik Israel-Palestina.

Upacara penandatanganan dilakukan setelah Hamas memulangkan 20 tawanan Israel yang masih hidup di Gaza berdasarkan fase pertama kesepakatan yang ditengahi AS. Hamas juga menyerahkan empat peti mati berisi jenazah para tawanan. Israel juga membebaskan 250 tahanan Palestina dan lebih dari 1.700 tahanan dari Gaza, yang sebelumnya ditahan tanpa dakwaan.

Dalam sebuah pernyataan pada hari Senin, Hamas mengatakan, “Pembebasan para tahanan merupakan pencapaian nasional dan tonggak gemilang dalam perjuangan kami.”

Hamas menambahkan, “Para tahanan kami yang dibebaskan mengungkapkan bentuk-bentuk penyiksaan psikologis dan fisik paling mengerikan yang telah mereka alami selama dua tahun dalam sebuah adegan yang merupakan perwujudan bentuk-bentuk sadisme dan fasisme paling kejam di era modern.”

Kelompok perlawanan Palestina mendesak organisasi-organisasi hak asasi manusia dan kemanusiaan untuk mengambil tindakan terkait “kejahatan sistematis Israel terhadap tahanan.”

Trump pada 8 Oktober mengumumkan bahwa Israel dan Hamas telah menyetujui tahap pertama rencananya untuk gencatan senjata dan pertukaran tahanan.

Kesepakatan ini diumumkan menyusul perundingan tidak langsung selama empat hari antara kedua belah pihak di Sharm el-Sheikh, dengan delegasi dari Turki, Mesir, dan Qatar, di bawah pengawasan AS.

Tahap kedua perjanjian ini mencanangkan kerangka pemerintahan baru di Gaza, pasukan keamanan yang terdiri dari warga Palestina dan pasukan dari negara-negara Arab dan Muslim, serta rekonstruksi yang didanai asing yang dipimpin oleh negara-negara Arab. (alalam)

.