Rangkuman Berita Utama Sabtu 4 Oktober 2025

Jakarta, ICMES. Klub Tawanan Palestina menyatakan bahwa otoritas pendudukan Israel menahan para aktivis kemanusiaan Global Sumud Flotillah (GSF) di penjara gurun Negev, yang dianggap sebagai salah satu penjara terburuk di Israel dan lokasi pelanggaran berat terhadap tawanan Palestina.

Rumah sakit di Jalur Gaza mengumumkan 63 orang, termasuk 38 orang di Kota Gaza, gugur akibat tembakan tentara Israel.

Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) mengumumkan pihaknya telah menyerahkan kepada para mediator tanggapannya terhadap usulan Presiden AS Donald Trump terkait Jalur Gaza.

Berita selengkapnya:

Israel Tahan Para Aktivis GSF di Salah Satu Penjara Terburuknya

Klub Tawanan Palestina menyatakan bahwa otoritas pendudukan Israel menahan para aktivis kemanusiaan Global Sumud Flotillah (GSF) di penjara gurun Negev, yang dianggap sebagai salah satu penjara terburuk di Israel dan lokasi pelanggaran berat terhadap tawanan Palestina.

Klub tersebut dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat (3/10) menjelaskan bahwa penjara Negev adalah salah satu penjara paling terkemuka di mana ratusan kejahatan dan pelanggaran terhadap tawanan Palestina terdokumentasi. Penjara ini menampung ribuan tawanan, termasuk dari Jalur Gaza.

Disebutkan pula bahwa sejumlah tawanan Palestina meninggal di penjara itu akibat penyiksaan dan pemukulan parah yang dilakukan oleh unit-unit represif Israel.

Dalam 48 jam terakhir, otoritas Israel menyita 42 unit kapal GSF saat berlayar di perairan internasional menuju Gaza, menangkap ratusan aktivis internasional di dalamnya, dan mengumumkan akan mendeportasi mereka ke Eropa.

Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, pada hari Kamis tiba di tempat penahanan para aktivis di kota pesisir Ashdod, di mana rekaman video menunjukkan mereka dipaksa duduk di tanah sambil menunggu pemindahan ke pusat-pusat penahanan.

Klub Tahanan Palestina menambahkan bahwa “klip video yang diunggah oleh Ben Gvir bukanlah yang pertama. Ia sebelumnya telah muncul dalam adegan serupa di dalam Penjara Negev dan di tempat lain, mengancam para tawanan Palestina dan menunjukkan metode penyiksaan dan penghinaan terhadap mereka.”

Menurut klub tersebut, pelanggaran yang dilakukan oleh sistem penjara Israel “melanggar semua hukum dan norma internasional, dan telah mengubahnya menjadi ajang genosida sistematis, terutama selama dua tahun terakhir,” dan apa yang terjadi pada para aktivis merupakan perpanjangan dari kebijakan ini.

Rabu lalu, GSF melalui platform  X  mengumumkan pihaknya diserang oleh sekitar 10 kapal Israel di perairan internasional, mengeluarkan panggilan darurat, dan menganggap kejadian tersebut sebagai “kejahatan perang.”

Sementara itu, massa besar turun ke jalan di kota-kota Arab dan berbagai negara dunia pada hari Jumat untuk menuntut diakhirinya perang Israel di Gaza dan menolak rencana perdamaian yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump. (aljazeera)

63 Orang Palestina Gugur Akibat Serangan Israel di Gaza

Rumah sakit di Jalur Gaza mengumumkan 63 orang, termasuk 38 orang di Kota Gaza, gugur akibat tembakan tentara Israel sejak dini hari Jumat (3/10).

Hal ini terjadi ketika Pemerintah Kota Gaza mengimbau masyarakat internasional dan organisasi kemanusiaan untuk segera melakukan intervensi.

Wilayah barat laut Kota Gaza, khususnya di sepanjang jalan al-Shifa dan al-Nasr, dilanda serangan pasukan Israel sejak Kamis malam.

Pasukan Israel meledakkan tiga bom mobil di daerah tersebut sebelum mundur ke utara, di tengah rentetan tembakan.

Pada saat yang sama, tentara pendudukan itu terus melancarkan penembakan artileri di permukiman-permukiman tersebut, sementara pesawat-pesawat tempur Israel melancarkan serangan di jalan-jalan Al-Nasr dan Al-Jalaa di kota tersebut.

Pertahanan Sipil di Gaza melaporkan bahwa lima warga Palestina gugur, serta beberapa lainnya terluka dan hilang setelah serangan udara Israel terhadap sebuah rumah di sebelah barat kota.

Di Jalur Gaza bagian tengah, sebuah sumber di Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa melaporkan bahwa enam warga Palestina gugur dan 20 lainnya terluka akibat serangan pesawat nirawak Israel di kamp pengungsi Maghazi.

Pemerintah Kota Gaza mengimbau masyarakat internasional dan organisasi kemanusiaan untuk segera melakukan intervensi guna menyelamatkan hampir 500.000 warga sipil yang hidup dalam kondisi kemanusiaan yang memprihatinkan di kota tersebut.

Pemerintah menjelaskan bahwa sebagian besar warga sipil ini adalah anak-anak, perempuan, dan lansia, dan menderita kekurangan makanan dan air yang parah serta kurangnya layanan kesehatan dasar, di tengah pemboman dan penghancuran sistematis Israel yang terus berlanjut.

Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stéphane Dujarric, mengatakan bahwa ratusan ribu warga sipil yang putus asa terjebak di Gaza utara, banyak di antaranya kekurangan dukungan kemanusiaan.

Dujarric menekankan bahwa Israel, sebagai pasukan pendudukan, harus memenuhi kebutuhan warga sipil.

Juru bicara Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF), James Elder, mengatakan gagasan zona aman di Jalur Gaza selatan tampak absurd dan tempat di mana bom dapat jatuh secara tak terduga.

Dalam konferensi pers di Nuseirat, Gaza tengah, Elder menekankan  bahwa apa yang terjadi sekarang adalah serangan tanpa pandang bulu yang terus-menerus di wilayah sipil yang padat penduduk. (aljazeera)

Hamas Serahkan Tanggapannya terhadap Usulan Trump Mengenai Gaza

Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) pada Jumat malam (3/10) mengumumkan pihaknya telah menyerahkan kepada para mediator tanggapannya terhadap usulan Presiden AS Donald Trump terkait Jalur Gaza.

Hamas mengumumkan kesepakatannya untuk pembebasan semua tawanan Israel, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal, sesuai dengan formula pertukaran yang tercantum dalam usulan Trump, dengan syarat kondisi yang diperlukan di lapangan untuk pertukaran tersebut terpenuhi.

Hamas menegaskan kesiapannya untuk segera berunding, melalui para mediator, guna membahas detail pertukaran tersebut.

Hamas juga memperbarui kesepakatannya untuk menyerahkan administrasi Jalur Gaza kepada badan teknokrat independen Palestina, berdasarkan konsensus nasional Palestina dan dukungan Dunia Arab dan Islam.

Mengenai isu-isu lain yang termuat dalam usulan Trump mengenai masa depan Jalur Gaza dan hak-hak asasi rakyat Palestina, Hamas menegaskan bahwa semua itu “terkait dengan pendirian nasional yang komprehensif dan berdasarkan hukum serta resolusi internasional yang relevan.”

Hamas menekankan bahwa isu-isu ini “sedang dibahas dalam kerangka kerja nasional Palestina yang komprehensif, di mana Hamas akan menjadi bagiannya dan akan berkontribusi secara bertanggung jawab.”

Dalam pernyataannya, Hamas menegaskan bahwa keputusannya telah diambil setelah kajian yang mendalam, dan menyatakan apresiasinya atas upaya-upaya Arab, Islam, dan internasional, serta upaya Trump yang menyerukan diakhirinya perang di Jalur Gaza, pertukaran tawanan, penyaluran bantuan segera, serta penolakan terhadap pendudukan Jalur Gaza dan pengusiran rakyat Palestina darinya.

Hamas juga menekankan bahwa pendiriannya adalah dalam rangka memuluskan semua upaya ini, dan dengan cara yang mencapai gencatan senjata dan penarikan penuh pasukan Israel dari Jalur Gaza.

Hamas  menambahkan bahwa pihaknya telah melakukan konsultasi mendalam dengan lembaga-lembaga kepemimpinannya, dan konsultasi luas dengan semua elemen dan faksi pejuang Palestina, mediator, dan sekutu, untuk mencapai posisi yang bertanggung jawab dalam menyikapi usulan Trump.

Demo di Yaman

Di Yaman, lautan massa menggelar aksi pada hari Jumat menentang usulan dan rencana Trump mengenai Jalur Gaza.

Demonstrasi tersebut diadakan di Lapangan Al-Sabeen di ibu kota, Sanaa, dengan tajuk “Menolak Konspirasi Zionis-Amerika… dan Berdiri Bersama Gaza Hingga Kemenangan.”

Para demonstran Yaman meneriakkan slogan-slogan kemarahan seperti “Rencana itu adalah penipuan terbesar… Rencana itu mengakhiri Yerusalem dengan Jalur Gaza,” dan “Hidup Global Sumud Flotilla.”

Para demonstran menyatakan komitmen mereka yang berkelanjutan untuk mendukung Palestina dengan segala risikonya.

Sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh demonstrasi tersebut mengatakan, “Amerika adalah wajah lain dari Zionis, dan Trump serta Netanyahu tidak berbeda dalam kriminalitas dan penindasan mereka.” (alalam/aljazeera)