Jakarta, ICMES. 45 orang Palestina gugur akibat serangan udara Israel di berbagai wilayah Jalur Gaza sejak dini hari Jumat (2/5), sementara media Israel melaporkan bahwa pemerintah dan tentara Zionis Israel memutuskan untuk memperluas operasi di Jalur Gaza.

Pasukan Yaman telah melancarkan dua serangan rudal ke wilayah pendudukan Palestina.
Iran menegaskan tidak akan pernah menerima pendekatan yang didasarkan pada ancaman dan tekanan dalam pembicaraan tidak langsung dengan Amerika Serikat.
Berita selengkapnya:
45 Orang Palestina Gugur di Gaza, Israel akan Perluas Operasi Militer
45 orang Palestina gugur akibat serangan udara Israel di berbagai wilayah Jalur Gaza sejak dini hari Jumat (2/5), sementara media Israel melaporkan bahwa pemerintah dan tentara Zionis Israel memutuskan untuk memperluas operasi di Jalur Gaza.
Dilaporkan Al-Jazeera bahwa delapan orang gugur akibat pemboman Israel terhadap sebuah rumah di kamp pengungsi Al-Bureij di Jalur Gaza tengah.
Di Jalur Gaza utara, tujuh warga Palestina gugur akibat serangan pesawat nirawak Israel terhadap rumah duka di kota Beit Lahia, sementara pasukan pendudukan melakukan pemboman terhadap bangunan tempat tinggal di Beit Lahia, utara Jalur Gaza.
Dilaporkan pula bahwa delapan warga Palestina gugur dan beberapa lainnya terluka akibat serangan udara Israel terhadap rumah penduduk di Jabalia al-Balad, utara Jalur Gaza, dan bahwa enam warga Palestina gugur dan beberapa lainnya terluka akibat serangan pesawat nirawak Israel terhadap pusat amal dekat Jalan Al-Jalaa di Kota Gaza.
Beberapa sumber jmengabarkan bahwa sejumlah polisi Palestina terbunuh ketika pasukan pendudukan menargetkan mereka saat mereka mengejar “geng-geng yang berusaha merebut gudang makanan di pusat Kota Gaza.”
Media pemerintah di Gaza melaporkan bahwa tentara pendudukan telah menyerang 29 pusat distribusi makanan dan 37 pusat distribusi bantuan sejak dimulainya perang di Jalur Gaza.
Dalam perkembangan lain, pesawat nirawak Israel mengebom wilayah Mawasi, yang dipenuhi pengungsi lokal, di sebelah barat Rafah di Jalur Gaza selatan. Serangan ini menyusul serangan sebelumnya yang terhadap wilayah yang sama hingga yang menjatuhkan sejumlah korban gugur dan luka.
Operasi perlawanan
Brigade Al-Quds, sayap militer gerakan Jihad Islam, pada hari Jumat menyatakan para pejuangnya meledakkan buldoser militer Israel dalam serangannya di sebelah timur lingkungan Tuffah di Kota Gaza.
Para pejuang Brigade Al-Quds meledakkan “sebuah bom yang ditinggalkan oleh pendudukan Zionis Sabtu lalu, dan yang semula dipersiapkan untuk menyerang konvoi kendaraan pendudukan di lingkungan Tuffah di sebelah timur Kota Gaza.”
Brigade Al-Quds juga menyiarkan rekaman para pejuangnya yang mengambil alih kendali pesawat nirawak Israel di langit Khan Yunis, selatan Jalur Gaza.
Mereka menyebutkan bahwa pesawat nirawak Israel itu bertipe Matris 350 RTK, dan mengatakan bahwa operasi pengendalian terjadi saat pesawat itu sedang melaksanakan misi intelijen.
Jumlah Wartawan yang Terbunuh
Menjelang Hari Kebebasan Pers Sedunia, kantor media di Gaza melaporkan bahwa pasukan pendudukan Israel telah membunuh 212 jurnalis, melukai 409 lainnya, dan menangkap 48 orang sejak dimulainya agresi di Gaza pada Oktober 2023.
Serangan itu juga menyasar 143 lembaga media, termasuk 12 surat kabar cetak, 23 surat kabar daring, 11 stasiun radio, dan 4 saluran satelit, serta menghancurkan kantor pusat 12 saluran satelit Arab dan internasional.
Israel telah menghancurkan 44 rumah jurnalis dan membunuh 21 aktivis media sosial yang berpengaruh selama pembantaian yang sedang berlangsung. (aljazeera)
Yaman Lancarkan Dua Serangan Rudal ke Israel
Pasukan Yaman telah melancarkan dua serangan rudal ke wilayah pendudukan Palestina.
Dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat (2/5), Juru Bicara Angkatan Bersenjata Yaman Brigjen Yahya Saree mengumumkan, “Unit rudal Angkatan Bersenjata Yaman melakukan operasi militer terhadap target vital musuh Israel di wilayah pendudukan Haifa, menggunakan rudal balistik hipersonik” untuk mendukung rakyat Palestina di Gaza.
Dia menyebutkan bahwa rudal itu adalah “yang kedua dalam beberapa jam,” dan “sukses” menimpa targetnya hingga membuat para pemukim Israel berlarian ke tempat perlindungan.
Angkatan Bersenjata Yaman mendesak negara-negara Arab dan Muslim untuk “memenuhi tugas agama, moral, dan kemanusiaan mereka terhadap rakyat tertindas Palestina, dan untuk mengambil tindakan mendesak di semua negara demi menghentikan perang genosida dan blokade Israel terhadap Jalur Gaza.”
Saree kembali menegaskan bahwa Yaman akan terus melakukan operasi mendukung Gaza dan mencegah kapal-kapal Israel berlayar di Laut Merah dan Laut Arab hingga berakhirnya perang dan blokade, dan bahwa agresi AS telah “gagal” mencabut larangan Yaman.
Sebelumnya di hari yang sama, Saree menyatakan pasukan Yaman “melaksanakan operasi militer terhadap Pangkalan Udara Ramat David milik musuh Israel”, di dekat Haifa menggunakan rudal balistik hipersonik Palestine-2.
“Segala puji bagi Allah, rudal tersebut berhasil mencapai targetnya, dan sistem pencegat gagal mencegatnya,” ungkapnya.
Serangan Yaman tersebut dilakukan beberapa jam setelah AS melancarkan serangan terhadap Yaman dengan tujuan menghentikan operasi militer Yaman membela Gaza. Serangan itu mengakibatkan tiga orang terluka.
Sejak dimulainya perang genosida Israel di Gaza, pasukan Yaman telah berulang kali melancarkan operasi militer untuk mendukung warga Gaza. Mereka menyerang target-target di berbagai wilayah pendudukan Palestina. Selain itu, mereka juga menyerang kapal-kapal Israel atau kapal-kapal yang terkait dengannya.
Untuk mendukung Israel, AS mengumumkan pembentukan satuan tugas maritim di Laut Merah pada Desember 2023 guna melindungi jalur kapal yang menuju wilayah pendudukan Israel.
Pasukan Yaman menanggapi dengan meningkatkan serangan terhadap target strategis dan sensitif Israel dan AS, termasuk kapal perang dan kapal induk AS yang dikerahkan di lepas pantai Yaman. (presstv/raialyoum)
Iran Tegaskan Pantang Menerima Tekanan dalam Pembicaraan dengan AS
Iran menegaskan tidak akan pernah menerima pendekatan yang didasarkan pada ancaman dan tekanan dalam pembicaraan tidak langsung dengan Amerika Serikat (AS).
Dalam sebuah pernyataan tentang itu pada hari Jumat (2/5), Kementerian Luar Negeri Iran kembali menegaskan komitmen Iran terhadap jalur diplomasi dan kesiapannya untuk melanjutkan negosiasi dengan Amerika Serikat.
“Republik Islam Iran tidak akan pernah menoleransi, dalam keadaan apa pun, pendekatan yang didasarkan pada ancaman dan tekanan, yang semuanya melanggar prinsip-prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan hukum internasional,” katanya.
Dia menyebutkan bahwa pendekatan demikian sengaja dirancang untuk merugikan kepentingan nasional Iran dan melanggar hak asasi manusia rakyat Iran.
Iran menyatakan demikian setelah Kementerian Luar Negeri AS menjatuhkan sanksi kepada tujuh entitas di Uni Emirat Arab, Turki, dan Iran karena memperdagangkan produk minyak dan petrokimia Iran.
Sanksi tersebut merupakan putaran terbaru yang dijatuhkan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap Iran sejak Februari, ketika dia memberlakukan kembali apa yang disebut kampanye tekanan maksimumnya terhadap Teheran.
Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa kelanjutan dari perilaku ilegal tersebut tidak akan mengubah pendirian yang didasarkan pada hukum internasional.
“Tidak diragukan lagi, menguji ulang metode dan taktik yang tidak berhasil tidak akan menghasilkan apa-apa selain pengulangan kegagalan yang sama,” tegasnya. (presstv)







