Rangkuman Berita Utama Sabtu 22 Februari 2025

Jakarta, ICMES. Para pelayat dari berbagai negara berdatangan ke Lebanon untuk berpartisipasi dalam prosesi besar-besaran pemakaman dua mantan Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sayid Hassan Nasrallah, dan Sayyed Hashem Safieddine, pada hari Minggu (23/2).

Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Fox News bahwa rencananya untuk Gaza bagus namun dia mengaku tidak akan memaksakannya, melainkan hanya sebatas merekomendasikannya.

Penasihat militer Pemimpin Besar Iran, Brigjen Ibrahim Jabari, menegaskan bahwa Operasi True Promisi (Janji Nyata) 3 akan dilaksanakan pada waktu dan dalam skala yang tepat.

Berita selengkapnya:

Para Pelayat Berdatangan ke Lebanon untuk Mengikuti Proses Pemakaman Syahid Nasrallah

Para pelayat dari berbagai negara berdatangan ke Lebanon untuk berpartisipasi dalam prosesi besar-besaran pemakaman dua mantan Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sayid Hassan Nasrallah, dan Sayyed Hashem Safieddine, pada hari Minggu (23/2).

Sebuah rekaman video mendokumentasikan kedatangan orang-orang dari berbagai negara, termasuk Suriah, Irak, Brasil, Tunisia, Irlandia, dan berbagai negara lain, untuk berpartisipasi dalam upacara pemakaman.

Komite Protokol dan Media Hizbullah menyelenggarakan tur untuk utusan media Arab dan asing. Tur tersebut meliputi pemakaman Martir Sayyed Hashem Safi al-Din di kampung halamannya di Deir Qanoun al-Nahr. Para pelayat juga mengunjungi kota perbatasan Houla, tempat yang pernah menjadi ajang pertempuran sengit antara Hizbullah dan pasukan Zionis Israel.

Disebutkan Mohammad Mahdi, putra Syahid Nasrallah, muncul dalam sebuah rekaman video saat dia menghampiri para pelayat. Dia menyebut mereka sebagai loyalis, dan menyatakan bahwa hari Minggu 23 Februaria sebagai hari pernyataan sikap. Menurutnya, pihak musuh berusaha dengan segala cara untuk menggagalkan pelaksanaa prosesi pemakaman tersebut.

Seorang pejabat Iran menyembut proses pemakaman yang akan dilangsungkan itu sebagai “kebangkitan perlawanan”.

“Prosesi pemakaman mujahid besar, Syahid Sayid Hassan Nasrallah, dan Syahid Sayid Hashim Safieddine di Beirut akan berubah menjadi kebangkitan perlawanan,” tulis Vahid Jalalzadeh, Deputi Urusan Konsuler, Parlemen, dan Warga Negara Iran di Luar Negeri di Kementerian Luar Negeri Iran dalam sebuah unggahan di media sosial.

Beirut akan menjadi tuan rumah pemakaman besar-besaran pada hari Minggu dengan delegasi dari 78 negara yang diharapkan akan menghadiri acara tersebut.

“Saya menuju Lebanon bersama delegasi dari Parlemen dan Kementerian Luar Negeri untuk memfasilitasi kehadiran delegasi tingkat tinggi dari Republik Islam Iran pada upacara tersebut, di mana masyarakat akan memperbarui janji mereka kepada para pemimpin perlawanan dalam kondisi sebaik mungkin,” tambahnya.

Panitia yang mengawasi prosesi tersebut mengumumkan pada hari Jumat bahwa acara pemakaman resmi akan dimulai pada pukul 1:00 siang waktu setempat pada hari Minggu, dan akan terdiri dari tujuh bagian.

Panitia menyatakan bahwa mereka siap menyambut pertemuan besar-besaran dan mengadakan upacara pemakaman akbar bagi kedua pemimpin Hizbullah tersebut.

Sheikh Ali Daher, kepala panitia, mengatakan, “Sejumlah besar pejabat, termasuk Presiden dan Ketua Parlemen Lebanon, akan menghadiri pemakaman tersebut.”

Dia juga mengatakan bahwa pejabat “tingkat tinggi” Iran akan berpartisipasi dalam acara tersebut, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Sheikh Naim Qassem, Sekretaris Jenderal Hizbullah, akan menyampaikan pidato dalam upacara tersebut. (alalam/presstv)

Trump Urung Paksakan Gagasannya untuk Mengusir Penduduk Gaza

Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Fox News bahwa rencananya untuk Gaza bagus namun dia mengaku tidak akan memaksakannya, melainkan hanya sebatas merekomendasikannya.

Trump mengklaim bahwa Gaza hancur total sehingga “jika diberi kebebasan memilih, penduduknya akan pergi.”

Presiden AS menilai Gaza memiliki lokasi yang indah dan pengabaian Israel sebelumnya terhadap wilayah tersebut patut dipertanyakan.

Penghuni Gedung Putih ini beberapa hari lalu mengumumkan dirinya berkomitmen untuk membeli dan memiliki Gaza, sembari mengisyaratkan bahwa dia mungkin akan memberikan bagian dari jalur pantai itu kepada negara lain di Timur Tengah untuk membantu upaya rekonstruksi, tanpa menyebutkan negara mana.

Namun, dia kemudian segera membatalkan pembelian tersebut, dan mempertahankan gagasan untuk mengosongkan Jalur Gaza.

Menurutnya, hal itu akan mengubah Gaza menjadi lokasi yang baik untuk pembangunan di masa depan.

Hanya saja, gagasan mendadak itu menuai kritik dari dunia Arab dan internasional. Semua negara Arab menegaskan komitmen mereka kepada hak pengungsi Gaza pulang ke kampung halaman, dan menolak penggusuran. Negara-negara Barat dan sekutu Washington, juga menolak penggusuran, dan menegaskan komitmen mereka terhadap solusi dua negara.

Mereka menentang gagasan Trump itu karena penggusuran penduduk Gaza jelas-jelas merupakan pelanggaran hukum humaniter dan internasional, dan pelanggaran mencolok terhadap resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Palestina.

Trump hanya  didukung oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang menyebut ide Trump itu bagus, belum pernah terjadi sebelumnya, dan bahkan menawarkan solusi yang masuk akal.

Pada hari Kamis, utusan AS untuk Timur Tengah Steven Witkoff mencoba memperbaiki situasi, dengan mengatakan bahwa rencana Presiden Donald Trump untuk Gaza tidak bertujuan menggusur warga Palestina, dan bahwa pembicaraan tentang masa depan Gaza beralih ke bagaimana menciptakan masa depan yang lebih baik bagi warga Palestina.

Pada tanggal 4 Februari, Trump mengusulkan agar AS mengambil alih Jalur Gaza dan merelokasi warga Palestina ke negara-negara lain, termasuk Mesir dan Yordania. Usulan ini tak pelak memicu penolakan internasional.

Selain itu, Penasihat Keamanan Nasional AS Michael Waltz dalam partisipasinya pada Konferensi Aksi Politik Konservatif (CPAC), Jumat (21/2), mengatakan bahwa Hamas tidak akan diizinkan untuk memerintah Jalur Gaza lagi.

“Hamas tidak boleh dibiarkan eksis dengan cara apa pun di masa mendatang,” kata Waltz seperti dikutip situs web i24 Israel, sembari menyebutkan bahwa Hamas menolak solusi dua negara dan mencegah tercapainya tujuan ini. (raialyoum)

Penasehat Militer Ayatullah Khamenei: Operasi True Promise 3 akan Terlaksana

Penasihat militer Pemimpin Besar Iran, Brigjen Ibrahim Jabari, menegaskan bahwa Operasi True Promisi (Janji Nyata) 3 akan dilaksanakan pada waktu dan dalam skala yang tepat.

Dalam pidato pada penyelenggaraan latihan militer bersandi “Nabi Besar (saw)” di hadapan pasukan Basij di kota Birjand, Iran timur, Jabari mengatakan, “Kedua syuhada, Haji Qassem Soleimani dan Sayid Hassan Nasrallah, melalui peran pendidikan mereka, mampu membina pemimpin yang berani dan kuat, yang semua melawan kubu arogan dan pemberani.”

Jabari memaparkan berbagai peristiwa sejarah Islam dan Iran, yang menjadi hikmah dan pelajaran bagi setiap orang. Dia menegaskan bahwa Iran Islam adalah  pemenang dalam tiga dekade perjuangan melawan AS.

Mengenai rencana serangan balasan ketiga kalinya terhadap Israel, Jabari menegaskan, “Operasi True Promise 3 akan dilaksanakan pada waktu yang tepat dan pada tingkat yang tepat, dan akan berskala menghancurkan Israel dan menghancurkan Tel Aviv dan Haifa.” (alalam)