Jakarta, ICMES. Hamas, Jihad Islam, dan Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina (PFLP) pada hari Jumat (10/10) merilis pernyataan bersama yang menandai pengumuman fase pertama perjanjian gencatan senjata di Jalur Gaza. Mereka “menyambut baik keteguhan rakyat Palestina, terutama di Gaza, dalam menghadapi kejahatan Zionis.”

Petinggi Hamas, Musa Abu Marzouk, pada hari Jumat (10/10) mengatakan bahwa pertukaran tahanan dengan Israel mungkin akan dimulai Senin depan, sebagai bagian dari fase pertama perjanjian gencatan senjata yang mulai berlaku sore ini.
Masyarakat di Teheran dan berbagai kota dan daerah lain di Iran menggelar unjuk rasa akbar peduli Palestina untuk menandai solidaritas mereka dengan Gaza dan menuntut pengiriman segera bantuan kemanusiaan ke wilayah yang terblokade tersebut.
Berita selengkapnya:
Faksi-Faksi Pejuang Palestina Rilis Pernyataan Bersama, Ini Isinya
Hamas, Jihad Islam, dan Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina (PFLP) pada hari Jumat (10/10) merilis pernyataan bersama yang menandai pengumuman fase pertama perjanjian gencatan senjata di Jalur Gaza. Mereka “menyambut baik keteguhan rakyat Palestina, terutama di Gaza, dalam menghadapi kejahatan Zionis.”
Hamas dan faksi-faksi Palestina memuji “kepahlawanan kubu perlawanan, yang telah menimbulkan kerugian besar bagi musuh,” dan menekankan bahwa “kemauan rakyat dan perlawanan lebih kuat daripada segala upaya penaklukan.” Mereka juga memberi penghormatan kepada “front-front pendukung di Yaman, Lebanon, Iran, dan Irak atas dukungan mereka terhadap perjuangan Palestina.”
Mereka berterima kasih kepada para mediator dari Mesir, Qatar, dan Turki, serta semua pihak yang berkontribusi dalam mendukung proses negosiasi, dan menyerukan kepada Washington dan para mediator untuk “terus mematuhi ketentuan-ketentuan perjanjian dan mencegah penyimpangan darinya.”
Hamas dan faksi-faksi Palestina memuji solidaritas global dengan Palestina dan Gaza, menganggapnya “mencerminkan sikap politik dan kemanusiaan internasional serta meningkatkan isolasi terhadap rezim pendudukan.”
Mereka menekankan bahwa “apa yang telah dicapai merupakan kegagalan politik dan keamanan dari rencana rezim pendudukan untuk melakukan penggusuran dan pemindahan penduduk, dan merupakan langkah pertama untuk mengakhiri agresi, mencabut blokade, dan membebaskan ratusan tahanan.”
Mereka berterima kasih kepada para mediator dari Mesir, Qatar, dan Turki, serta semua pihak yang berkontribusi dalam mendukung proses negosiasi, dan menyerukan kepada Washington dan para mediator untuk “terus mematuhi ketentuan-ketentuan perjanjian dan mencegah penyimpangan darinya.”
Hamas dan faksi-faksi Palestina memuji solidaritas global dengan Palestina dan Gaza, menganggapnya “mencerminkan sikap politik dan kemanusiaan internasional serta meningkatkan isolasi pendudukan.”
Mereka menekankan bahwa “apa yang telah dicapai merupakan kegagalan politik dan keamanan dari rencana rezim pendudukan untuk melakukan penggusuran dan pemindahan penduduk, dan merupakan langkah pertama untuk mengakhiri agresi, mencabut blokade, dan membebaskan ratusan tahanan.”
Hamas dan faksi-faksi Palestina menekankan “pemantauan ketat dan kewaspadaan nasional yang berkelanjutan untuk memastikan implementasi perjanjian dan penghentian perang genosida.” Mereka juga menegaskan “komitmen penuh mereka untuk membebaskan semua tahanan dan menempatkannya di prioritas utama nasional mereka.”
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump pada hari Kamis mengumumkan bahwa Israel dan Hamas telah menandatangani tahap pertama rencana perdamaiannya.
“Ini berarti semua sandera akan segera dibebaskan, dan Israel akan menarik pasukannya ke garis yang disepakati, langkah pertama menuju tercapainya perdamaian yang kuat, langgeng, dan abadi. Semua pihak akan diperlakukan secara adil,” kata Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social.
Hamas sendiri telah mengumumkan perjanjian gencatan senjata di Jalur Gaza, termasuk mengenai masuknya bantuan dan pertukaran tahanan. Hamas mendesak Presiden AS Donald Trump, negara-negara penjamin perjanjian tersebut, serta negara-negara Arab, Islam, dan internasional, untuk memaksa Israel sepenuhnya melaksanakan persyaratan perjanjian tersebut. (alalam)
Petinggi Hamas: Garis Penarikan Tentara Israel di Gaza Tidak Tepat
Petinggi Hamas, Musa Abu Marzouk, pada hari Jumat (10/10) mengatakan bahwa pertukaran tahanan dengan Israel mungkin akan dimulai Senin depan, sebagai bagian dari fase pertama perjanjian gencatan senjata yang mulai berlaku sore ini.
“Pertukaran tahanan mungkin akan dimulai Senin depan,” katanya dalam sebuah wawancara televisi, sembari memastikan Hamas tidak bermaksud melakukan selebrasi resmi atas pertukaran tahanan tersebut atau memiliterisasinya.
Perjanjian gencatan senjata antara Hamas dan Israel mulai berlaku pada hari Jumat pukul 12.00 siang, waktu Al-Quds (09.00 GMT), setelah pemerintah Israel menyetujui perjanjian tersebut pada dini hari.
Dokumen perjanjian, yang diterbitkan oleh Lembaga Penyiaran Israel (IBCC), menetapkan bahwa Hamas akan membebaskan tawanan Israel yang masih hidup dalam waktu 72 jam setelah Israel meratifikasi perjanjian tersebut.
Menurut dokumen tersebut, Hamas akan menyerahkan semua informasi yang dimilikinya mengenai tahanan Israel yang tewas kepada mekanisme bersama yang akan dibentuk dengan partisipasi Qatar, Mesir, Turki, dan Komite Palang Merah Internasional.
Tel Aviv memperkirakan terdapat 48 tahanan Israel di Gaza, 20 di antaranya masih hidup, sementara lebih dari 11.100 warga Palestina mendekam di penjara-penjaranya, terdera penyiksaan, kelaparan, dan pengabaian medis, banyak di antaranya telah terbunuh, menurut laporan media dan kelompok-kelompok peduli HAM Palestina dan Israel.
Di sisi lain, Abu Marzouk menekankan bahwa Hamas memiliki banyak kartu negosiasi, dengan menyatakan bahwa “masalah tawanan merupakan salah satu dalih yang digunakan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk membenarkan berlanjutnya perang di Gaza.”
Dia mengatakan bahwa Hamas bekerja sama dengan para mediator “untuk menyingkirkan hambatan dan membebaskan para pemimpin Palestina yang ditahan di penjara-penjara pendudukan”, dan bahwa “tentara Israel telah mundur ke garis kuning, namun masih menguasai 53 persen Jalur Gaza.”
“Garis penarikan yang dibuat oleh rezim pendudukan tidaklah tepat, dan dibuat secara acak. Di masa mendatang, kami tidak akan membiarkan pasukan pendudukan tetap berada di posisi yang dikuasainya saat ini,” katanya.
Di sisi lain, dia menyebutkan bahwa AS telah mengirimkan tentara untuk memantau gencatan senjata, namun dia juga menegaskan bahwa mereka “tidak akan ditempatkan di Gaza, melainkan di Israel”, dan bahwa “tahap selanjutnya menyangkut proyek nasional dan studi keberadaan pasukan penjaga perdamaian di Jalur Gaza dan Tepi Barat.” (raialyoum)
Demonstrasi Akbar di Iran Desak Israel Patuh pada Gencatan Senjata Gaza
Masyarakat di Teheran dan berbagai kota dan daerah lain di Iran menggelar unjuk rasa akbar peduli Palestina untuk menandai solidaritas mereka dengan Gaza dan menuntut pengiriman segera bantuan kemanusiaan ke wilayah yang terblokade tersebut.
Lautan massa di Teheran berpartisipasi dalam pawai Basharat-e Nasr (kabar kemenangan) usai salat Jumat (10/10). Mereka bergerak dari Universitas Teheran ke Lapangan Azadi sembari membawa bendera Iran dan Palestina, serta poster para syuhada komandan perlawanan.
Para demonstran terdiri atas berbagai elemen masyarakat, termasuk ulama, mahasiswa, keluarga korban perang, dan anak-anak. Banyak yang membawa plakat bertuliskan “Tidak untuk kompromi, ya untuk perlawanan” dan “Bangsa-bangsa telah bangun.”
Yel-yel seperti “Palestina akan menang” dan “Gaza tidak sendirian” membahana di sepanjang Jalan Enghelab. Aksi unjuk rasa serupa dilaporkan di kota-kota lain, termasuk Tabriz, Ahvaz, Shiraz, Bandar Abbas, Isfahan, dan Gorgan.
Penyelenggara menyebut acara itu sebagai wujud persatuan dengan rakyat Palestina dan pejuang perlawanan terhadap kekuatan global yang telah mendukung rezim Israel selama perang genosida di Gaza.
Kelompok-kelompok budaya dan mahasiswa menampilkan lagu-lagu revolusioner di sepanjang rute dan membagikan pernyataan yang menyerukan diakhirinya perang di Gaza. Perempuan dan anak-anak tampak hadir, banyak yang mengenakan syal Palestina dan membawa spanduk.
Komunike yang dikeluarkan selama demonstrasi di Teheran tersebut menekankan hak-hak Palestina berdasarkan perjanjian gencatan senjata yang ditandatangani di Mesir dan mulai berlaku pada hari yang sama.
“Kami, para peserta gerakan nasional dan populer ini, seraya menekankan hak-hak sah rakyat Palestina, percaya bahwa perjanjian Sharm el-Sheikh harus disertai dengan penarikan segera dan menyeluruh pasukan pendudukan dari daerah berpenduduk dan seluruh Jalur Gaza, fasilitasi dan segerakan pengiriman bantuan kemanusiaan, dan dimulainya pembangunan kembali rumah sakit, rumah, dan infrastruktur yang hancur,” bunyi komunike tersebut.
Bagian lain dari pernyataan tersebut menegaskan bahwa mendukung perjuangan Palestina melawan pendudukan dan apartheid merupakan kewajiban universal, dan bahwa keputusan tentang masa depan Palestina harus sepenuhnya berada di tangan rakyat dan kelompok-kelompok perlawanannya. (presstv)







