Rangkuman Berita Utama Rabu 15 Oktober 2025

Jakarta, ICMES. Platform Gray Zone dalam analisis investigasi mengungkapkan keberadaan bunker militer rahasia Israel di bawah sebuah menara hunian di Tel Aviv, yang diyakini merupakan salah satu target yang terkena rudal Iran dalam serangan pada 13 Juni.

Saluran TV Al-Aqsa milik Hamas menayangkan video eksekusi lapangan terhadap delapan pria di Kota Gaza, yang mereka sebut  sebagai “antek dan penjahat,” setelah tentara Israel mundur sebagai bagian dari perjanjian gencatan senjata.

Pertahanan Sipil di Gaza mengumumkan enam warga Palestina gugur akibat tembakan tentara Israel di Jalur Gaza, sementara tentara Israel menyatakan pihaknya melepaskan tembakan terhadap para korban karena mereka mendekati posisi militer Israel.

Berita selengkapnya:

Bunker Rahasia di Bawah Menara Hunian di Tel Aviv Diserang Iran dalam Perang 12 Hari

Platform Gray Zone dalam analisis investigasi mengungkapkan keberadaan bunker militer rahasia Israel di bawah sebuah menara hunian di Tel Aviv, yang diyakini merupakan salah satu target yang terkena rudal Iran dalam serangan pada 13 Juni.

Menurut investigasi, platform tersebut mengidentifikasi fasilitas bawah tanah yang dikenal sebagai “Situs 81”, sebuah pusat komando dan kendali intelijen militer gabungan AS-Israel yang terletak di bawah kompleks hunian Da Vinci di lingkungan padat penduduk di pusat kota Tel Aviv.

Gray Zone menambahkan bahwa otoritas pendudukan Israel memberlakukan blokade keamanan segera setelah rudal Iran jatuh pada 13 Juni 2025, saat negara republik Islam itu mengebom beberapa lokasi sensitif di Tel Aviv. Pihak berwenang segera menutup area tersebut dan melarang wartawan merekam, sehingga antara lain terjadi pengusiran terhadap seorang koresponden Fox News dari area itu.

Kemungkinan besar “Situs 81” terhubung langsung dengan pusat komando lama yang dikenal sebagai “The Pit,” yang kemudian berkembang menjadi fasilitas bawah tanah yang dikenal sebagai “Benteng Zion.”

Pengungkapan ini muncul di tengah tuduhan berulang kali bahwa Israel menggunakan fasilitas militer di wilayah sipil sehingga melanggar hukum humaniter internasional, sementara Israel malah menuduh lawan-lawannya menggunakan “perisai manusia.”

Menurut penyelidikan, menara hunian Da Vinci yang terkena rudal Iran terletak tepat di atas pusat militer rahasia ini, dan dekat dengan dua menara Kanaret Angkatan Udara Israel. Dokumen dan surel yang bocor mengungkapkan bahwa lokasi tersebut menampung fasilitas intelijen berbenteng magnetik yang dioperasikan atas kerja sama antara militer AS dan Israel.

Penyelidikan menunjukkan bahwa Israel secara ketat menyensor informasi terkait pangkalan militernya di wilayah sipil, sembari menuduh musuh-musuhnya, terutama Palestina, mempraktikkan apa yang disebutnya “perisai manusia”, perilaku yang dilarang oleh hukum internasional.

Penyelidikan menambahkan bahwa proyek perluasan Situs 81 menjadi seluas 6.000 meter persegi telah terungkap dalam dokumen pemerintah AS pada tahun 2013, namun lokasi pastinya belum diketahui hingga saat ini.

Tim Gray Zone berhasil menemukan lokasi geografis dari citra tahun 2013 yang diambil oleh Korps Zeni Angkatan Darat AS, yang menunjukkan pekerjaan uji coba di ruang bawah tanah beton dan struktur baja di lokasi tersebut, dan ternyata citra tersebut berasal dari lokasi yang saat ini ditempati oleh Menara Da Vinci.

Citra tersebut cocok dengan citra Google Maps, meskipun Google terus menyensor citra jalan dan satelit di area tersebut, sebuah kelanjutan dari apa yang digambarkan dalam laporan tersebut sebagai penyensoran digital atas nama Israel. Bahkan Yandex Maps Rusia telah sepenuhnya menyensor citra menara dan metadatanya. (alalam)

Para Pejuang Gaza Eksekusi Para Anggota Geng-Geng Antek Israel

Saluran TV Al-Aqsa milik Hamas menayangkan video eksekusi lapangan terhadap delapan pria di Kota Gaza, yang mereka sebut  sebagai “antek dan penjahat,” setelah tentara Israel mundur sebagai bagian dari perjanjian gencatan senjata.

Video tersebut diunggah di laman Telegram Al-Aqsa TV pada Senin malam (13/10), namun kantor berita AFP menyatakan tidak dapat memverifikasi keaslian video, tanggal, atau lokasi pengambilan gambarnya.

Sumber-sumber media Palestina pada hari Senin melaporkan bahwa faksi-faksi perlawanan di Gaza melakukan operasi keamanan ekstensif, termasuk eksekusi lapangan terhadap “antek pasukan pendudukan Israel” dan penjahat, sebagai bagian dari kampanye berkelanjutan untuk memperkuat keamanan internal setelah penghentian perang.

Beberapa laporan menyebutkan bahwa pasukan Rada’,yang berafiliasi dengan pasukan keamanan kubu perlawanan, melancarkan kampanye keamanan komprehensif di seluruh wilayah Jalur Gaza, hingga berujung penangkapan sejumlah besar orang yang dituduh bekerja sama dengan Israel atau melakukan pelanggaran keamanan dan kejahatan terhadap warga sipil.

Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan di platform Palestina, pasukan tersebut mengonfirmasi bahwa mereka telah menguasai lokasi-lokasi milik kawanan bersenjata di dalam Kota Gaza dan melaksanakan operasi lapangan yang mencakup penyisiran permukiman dan penangkapan orang-orang yang dituduh terlibat dalam pembunuhan pengungsi dan serangan terhadap anggota faksi pejuang perlawanan dan warga sipil.

Rada’ menjelaskan bahwa sejumlah orang yang ditangkap terlibat dalam penembakan terhadap pejuang perlawanan dan anggota dinas keamanan. Mereka telah dirujuk ke otoritas kehakiman yang berwenang untuk menyelesaikan proses hukum terhadap mereka, dan kasus-kasus ini ditangani “sesuai hukum dan untuk menjamin penegakan keadilan.”

Dalam perkembangan terkait, laporan lokal menyebutkan bahwa bentrokan sengit sempat pecah antara pasukan keamanan kubu perlawanan dan  komplotan bersenjata yang disebut sebagai “geng pelanggar hukum” di kota Deir al-Balah, Jalur Gaza tengah. Laporan itu juga menyebutkan dua antek pasukan pendudukan Israel tewas dan seorang lainnya ditangkap dalam penyergapan terencana di timur permukiman Shuja’iyya di Kota Gaza.

Menurut sumber keamanan, pasukan keamanan berhasil menguasai penuh milisi bersenjata yang beroperasi di Kota Gaza dan menangkap sekitar 60 anggota yang kemudian dipindahkan ke lokasi aman untuk diselidiki atas kejahatan terkait eksekusi pengungsi dan kerja sama dengan pasukan pendudukan Israel.

Kementerian Dalam Negeri dan Keamanan Nasional di Gaza pada hari Minggu lalu mengumumkan dimulainya penerapan langkah-langkah pemulihan keamanan dan stabilitas sosial di Jalur Gaza, bertepatan dengan keputusan gencatan senjata. Kementerian tersebut menjelaskan bahwa mereka telah membuka pintu bagi “pertobatan dan amnesti umum” bagi semua orang yang bergabung dengan geng dan yang tangannya tidak ternoda oleh aksi pembunuhan.

Kementerian Dalam Negeri meminta mereka yang terlibat, yang tidak didakwa dengan pembunuhan, untuk menyerahkan diri dalam batas waktu yang berakhir pada Minggu malam, 19 Oktober 2025, untuk menyelesaikan status hukum mereka dan menutup berkas mereka secara permanen. (raialyoum)

Tentara Zionis Langgar Kesepakatan, Sejumlah Orang Palestina Gugur

Pertahanan Sipil di Gaza mengumumkan enam warga Palestina gugur akibat tembakan tentara Israel di Jalur Gaza, sementara tentara Israel menyatakan pihaknya melepaskan tembakan terhadap para korban karena mereka mendekati posisi militer Israel.

Juru bicara Pertahanan Sipil, Mahmoud Basal, kepada AFP mengatakan,  “Lima orang gugur akibat tembakan drone Israel terhadap warga yang sedang memeriksa rumah mereka di lingkungan Shujaiya di timur Kota Gaza.”

Tentara Israel, dalam pernyataan persnya, mengklaim, “Sejumlah terduga terlihat melintasi Garis Kuning dan mendekati pasukan IDF di Jalur Gaza utara, sehingga melanggar perjanjian” dan bahwa “beberapa upaya telah dilakukan untuk menghalau para terduga, yang menolak seruan dan terus mendekat, namun akhirnya ditembak untuk mengusir ancaman tersebut.”

Satu orang lainnya gugur akibat tembakan pesawat nirawak Israel terhadap sekelompok warga di tenggara Khan Yunis, di Jalur Gaza selatan, menurut Pertahanan Sipil.

Menanggapi hal tersebut, tentara Israel mengklaim, “Para terduga berusaha maju ke area keberadaan depot senjata Hamas, yang sebelumnya telah dibongkar.. Pasukan melepaskan tembakan untuk mengusir ancaman tersebut, sesuai dengan perjanjian.”

Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, dalam sebuah pernyataan menegaskan bahwa insiden tersebut merupakan “pelanggaran perjanjian gencatan senjata”

“Kami menyerukan kepada berbagai pihak untuk memantau perilaku pasukan pendudukan dan tidak membiarkannya menghindari kewajibannya,” ungkap Qassem.

Kedua insiden tersebut terjadi pada hari kelima perjanjian gencatan senjata di Jalur Gaza, yang dimediasi oleh Presiden AS Donald Trump dan para mediator lainnya.

Media Israel melaporkan bahwa tentara Israel melanjutkan serangan di Gaza pada hari Selasa, tiga hari setelah pemberlakuan gencatan senjata.

Mengenai peristiwa ini, media Palestina mengonfirmasi gugurnya tiga warga Palestina akibat serangan pesawat nirawak Israel di permukiman Shuja’iyya, sebelah timur Kota Gaza.

Koresponden Al-Mayadeen di Jalur Gaza melaporkan bahwa dua warga Palestina terluka akibat serangan Israel di kamp pengungsi Halawa di Jabalia al-Balad, sebelah utara Jalur Gaza.

Dia mengonfirmasi gugurnya seorang warga Palestina dan terlukanya seorang lainnya akibat serangan pesawat nirawak Israel di kota al-Fakhari, sebelah timur Khan Yunis, sebelah selatan Jalur Gaza.

Pesawat nirawak Israel menjatuhkan bom di sekitar Klinik Abasan dan di Jalan Abu Salah di kota Abasan al-Kabira, sebelah timur Khan Yunis. (railayoum/almayadeen)