Jakarta, ICMES. Tahanan dan tokoh Palestina yang dibebaskan, Mahmoud Issa, menyampaikan pesan yang mengharukan kepada rakyat Palestina di Gaza dengan menegaskan bahwa penderitaan mereka akan berakhir, sebagaimana hari-hari terberat telah berlalu, dan bahwa Gaza akan bangkit dari reruntuhan.

Pakistan dan Afghanistan menyepakati gencatan senjata di tengah eskalasi permusuhan antara kedua bekas sekutu tersebut setelah kontak senjata mematikan meletus di perbatasan, menurut pejabat Pakistan dan Afghanistan.
Berita selengkapnya:
Tahanan Palestina: Gaza akan Bangkit lagi dari Reruntuhan
Tahanan dan tokoh Palestina yang dibebaskan, Mahmoud Issa, menyampaikan pesan yang mengharukan kepada rakyat Palestina di Gaza dengan menegaskan bahwa penderitaan mereka akan berakhir, sebagaimana hari-hari terberat telah berlalu, dan bahwa Gaza akan bangkit dari reruntuhan.
Mahmoud Issa, yang telah menghabiskan lebih dari 33 tahun di penjara Israel, menyatakan demikian dalam wawancara dengan Al-Alam, Rabu (15/10). Berikut ini pernyataan lengkap Issa;
Saya adalah saudara Anda, Mahmoud Issa. Saya mendekam dalam penjara rezim pendudukan sekira 33 tahun, 14 di antaranya di sel isolasi. Telah berlalu waktu yang sedikit manisnya, dan banyak pahitnya. Banyak hari-hari berat, yang ketika bermula, kami katakan: Janganlah berakhir.
Namun, telah berlalu dari kami hal-hal berat, dan setelah hari-hari itu berlalu semua itu seolah tak pernah terjadi. Telah berlalu dari kami suatu masa yang sedemikian berat sehingga ada seseorang yang bergumam: Alangkah baiknya seandainya aku mati sebelum ini dan terlupakan begitu saja.
Tapi pengalaman mengajarkan kepada kami bahwa yang pahit akan berlalu, dan bahwa akhiran yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa. Apa yang terjadi di Gaza, dan peperangan yang terlewati ini dengan segala kekerasannya serta keagungannya bagi jiwa penduduk Gaza, bagi jiwa kami, dan bagi jiwa para simpatisan penduduk Gaza memang akan berlalu dan berkesudahan.
Saya yakin bahwa Gaza nan tangguh akan bangkit lagi dari bawah reruntuhan, akan bangkit dengan membusungkan dada, bangkit tinggi-tinggi laksana gunung, untuk kembali membangun. Pertama adalah membangun diri yang jujur dan beriman kepada Tuhannya, kepada keteguhan akan jatidirinya dan pada kebenaran.
Gaza nan luhur tidak akan pernah hancur. Rumah-rumah memang hancur, sebagian orang telah mati, dan darah pun telah tumpah, tapi Gaza tetap pantang menyerah. Gaza akan tetap mulia, dan akan bangkit lagi menuntut satu hal: kemerdekaan. Gaza telah membawa kebebasan bagi kami, dan insya Allah, kami akan menjadi bagian dari orang-orang yang membawa kemerdekaan bagi Gaza.
(alalam)
Pakistan dan Afghanistan Umumkan Gencatan Senjata Setelah Terlibat Konfrontasi Mematikan
Pakistan dan Afghanistan menyepakati gencatan senjata di tengah eskalasi permusuhan antara kedua bekas sekutu tersebut setelah kontak senjata mematikan meletus di perbatasan, menurut pejabat Pakistan dan Afghanistan.
Kementerian Luar Negeri Pakistan mengatakan pada hari Rabu (15/10) bahwa gencatan senjata diberlakukan mulai pukul 18.00 waktu setempat (13.00 GMT) dan berlangsung selama 48 jam.
“Kedua negara akan melakukan upaya tulus melalui dialog untuk menemukan solusi atas kebuntuan tersebut, yang rumit namun dapat diselesaikan,” ungkap kementerian tersebut dalam sebuah pernyataan.
Juru bicara utama pemerintah Taliban, Zabihullah Mujahid, dalam sebuah unggahan di media sosial menuliskan bahwa gencatan senjata tersebut merupakan “desakan” dari pihak Pakistan, tanpa menyebutkan jangka waktu 48 jam.
Pengumuman gencatan senjata tersebut muncul setelah pertempuran baru menewaskan dan melukai puluhan orang di daerah perbatasan terpencil yang membentang di distrik Spin Boldak di Afghanistan tenggara dan distrik Chaman di Pakistan pada Selasa malam.
Kedua belah pihak saling menuduh sebagai pemicu bentrokan.
Di tengah ketegangan di perbatasan, setidaknya lima orang tewas dan 35 lainnya luka-luka akibat ledakan di Kabul, ungkap sebuah LSM Italia, EMERGENCY, yang mengelola sebuah rumah sakit di ibu kota Afghanistan, sebelum gencatan senjata dengan Pakistan mulai berlaku.
“Kami mulai menerima ambulan yang penuh dengan korban luka, dan kami mengetahui bahwa telah terjadi ledakan beberapa kilometer dari rumah sakit kami,” ujar Dejan Panic, direktur EMERGENCY di Afghanistan, dalam sebuah pernyataan.
“Sejauh ini, 40 orang telah tiba, termasuk perempuan dan anak-anak,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa “sayangnya, lima orang sudah meninggal saat tiba.”
Bentrokan Perbatasan
Mujahid menuduh pasukan Pakistan memulai pertempuran di perbatasan dengan menembakkan “senjata ringan dan berat” ke Afghanistan, hingga menewaskan 12 warga sipil dan melukai lebih dari 100 orang.
Ali Mohammad Haqmal, juru bicara pers di distrik Spin Boldak, menyebutkan jumlah korban tewas warga sipil mencapai 15 orang. Kantor berita AFP mengutip seorang pejabat rumah sakit distrik yang mengatakan bahwa korban luka antara lain 80 perempuan dan anak-anak.
Mujahid mengklaim pasukan Afghanistan membalas tembakan hingga menewaskan “sejumlah besar” tentara Pakistan, menyita senjata dan tank Pakistan, serta menghancurkan instalasi militer Pakistan.
Otoritas Pakistan menyalahkan Taliban Afghanistan atas penembakan pertama di sebuah pos militer Pakistan dan daerah lain di dekat perbatasan, yang menyebabkan bentrokan yang juga melukai empat warga sipilnya sendiri. Kantor berita Reuters mengutip pernyataan pejabat keamanan anonim bahwa enam tentara Pakistan tewas dalam kekerasan tersebut, yang menurut seorang pejabat lain berlangsung sekitar lima jam.
Najibullah Khan, seorang penduduk distrik Chaman di Pakistan, mengatakan bentrokan tersebut memaksa beberapa orang yang tinggal di dekat perbatasan untuk mengungsi. “Masyarakat berada dalam situasi yang sangat sulit. Peluru berjatuhan di rumah-rumah warga,” ujarnya.
Tentara Pakistan
Dalam sebuah pernyataan, tentara Pakistan mengatakan pasukannya telah “secara efektif menangkis” serangan Taliban Afghanistan, menewaskan 15 hingga 20 anggota mereka dan melukai yang lainnya. Mereka juga mengaku telah menangkis serangan terpisah Taliban Afghanistan pada malam sebelumnya di Distrik Kurram, lebih jauh ke utara.
“Tuduhan bahwa serangan itu diprakarsai oleh Pakistan adalah kebohongan yang keterlaluan dan terang-terangan, sama seperti klaim perebutan pos atau peralatan Pakistan. Angkatan Bersenjata berdiri teguh dan sepenuhnya siap untuk mempertahankan kedaulatan dan integritas wilayah Pakistan,” bunyi pernyataan militer tersebut.
Meskipun bentrokan terhenti pada hari Minggu setelah permohonan dari Arab Saudi dan Qatar, sebagian besar penyeberangan perbatasan antara Pakistan dan Afghanistan tetap ditutup.
Selama akhir pekan, Kabul mengatakan bahwa sebagai balasan atas apa yang disebutnya pelanggaran berulang terhadap wilayah dan wilayah udara Afghanistan, mereka menyerang beberapa pos militer Pakistan dan menewaskan 58 tentara Pakistan.
Militer Pakistan melaporkan angka yang lebih rendah, dengan mengatakan kehilangan 23 tentara dan menewaskan lebih dari 200 “Taliban dan teroris afiliasinya” dalam tembakan balasan di sepanjang perbatasan.
Pakistan menuduh Kabul menyembunyikan militan Taliban Pakistan (TTP), yang bersekutu dengan Taliban dan telah melakukan berbagai serangan mematikan di Pakistan.
Kabul membantah tuduhan tersebut, dengan mengatakan pihaknya tidak mengizinkan wilayahnya digunakan untuk melawan negara lain.
Ketegangan antara kedua negara juga meningkat akibat kunjungan Menteri Luar Negeri Afghanistan Amir Khan Muttaqi baru-baru ini ke India, rival Pakistan.
Muttaqi membahas hubungan Pakistan-Afghanistan dalam konferensi pers di India, dengan mengatakan bahwa meskipun kedua negara menginginkan hubungan yang positif, “ada kelompok-kelompok tertentu di Pakistan yang mencoba memicu kerusuhan.” (aljazeera)







