Jakarta, ICMES. Iran memamerkan drone bernama Hadid 110, yaitu pesawat nirawak (UAV) kamikaze bermesin jet, yang menjadi salah satu prestasi terbaru Kementerian Pertahanan Iran

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan pernah tunduk pada ancaman apa pun dan tidak akan mundur dalam menghadapi tekanan.
Sebanyak lebih dari 90 organisasi Amerika Serikat dan internasional bersatu menandatangani petisi yang mengutuk seruan Presiden AS Donald Trump untuk relokasi atau pengusiran warga Palestina dari Jalur Gaza untuk kemudian pengambilan alihan wilayah ini oleh AS.
Berita selengkapnya:
Iran Pamerkan Drone Kamikaze “Hadid 110” Bermesin Jet dan Kapal Selam Mini Peluncur Drone
Iran memamerkan drone bernama Hadid 110, yaitu pesawat nirawak (UAV) kamikaze bermesin jet, yang menjadi salah satu prestasi terbaru Kementerian Pertahanan Iran, Rabu (12/2).
Senjata baru itu diperlihatkan dalam kunjungan Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei ke pameran pencapaian industri pertahanan negara, yang mencakup pencapaian dan kemampuan terkini industri pertahanan negara di bidang pertahanan udara, rudal balistik, rudal jelajah, amunisi pintar, luar angkasa, pesawat nirawak, pesawat terbang, kapal angkatan laut, dan energi.
Drone Hadid 110 merupakan salah satu pencapaian terbaru Kementerian Pertahanan Iran yang diresmikan pada pameran ini. Drone ini memiliki desain segitiga, dilengkapi dengan mesin jet, dan dirancang untuk melakukan operasi kamikaze.
Belum ada rincian lebih jauh mengenai pesawat yang dirilis itu.
Pameran tersebut juga menampilkan kapal selam nirawak kecil yang meluncurkan pesawat nirawak untuk menghancurkan target musuh. Kapal selam muncul itu di permukaan air dalam waktu singkat dan meluncurkan pesawat nirawak ke arah target.
Dalam kata sambutannya pada kunjungan tersebut Ayatullah Ali Khamenei memuji bangsa Iran karena telah menyampaikan “pesan persatuan” kepada masyarakat internasional pada peringatan 46 tahun Revolusi Islam 1979.
Dia menekankan bahwa perayaan pada peringatan tahun ini bukan sekadar peringatan, melainkan juga merupakan aksi perlawanan dan persatuan nasional yang kuat.
“Ini merupakan pesan persatuan dari rakyat Iran. Meskipun ada ancaman bodoh yang terus-menerus terhadap kita, rakyat Iran menunjukkan kepada dunia identitas mereka, kekuatan mereka, dan tekad mereka yang tak tergoyahkan,”ucapnya.
“Tanggal 22 Februari tahun ini merupakan salah satu perayaan Revolusi yang paling luar biasa,” sambungnya.
Ayatullah Khamenei juga mengatakan, “Itu merupakan kebangkitan rakyat, gerakan nasional yang agung. Orang-orang turun ke jalan, menyuarakan pendapat mereka, dan menyampaikan pandangan mereka melalui media, di seluruh negeri. Ini adalah kebangkitan sejati rakyat, gerakan nasional yang besar.”
Dia menjelaskan, “Meskipun media terus-menerus membombardir, perang psikologis, dan ancaman tak berdasar dari musuh terhadap perkembangan bersejarah tersebut, rakyat Iran tetap teguh pada komitmen mereka terhadap nilai-nilai revolusi dengan menunjukkan dukungan kuat mereka kepada acara tersebut selama pawai akbar tahun ini.”
Ayatullah Khamenei juga menyorot partisipasi dan antusiasme kaum muda dalam perayaan tersebut, yang terlihat di berbagai kota di negara tersebut, tidak hanya di Teheran dan pusat-pusat kota besar, melainkan juga di kota-kota dan desa-desa terpencil.
“Bahkan di kota-kota yang cuacanya buruk dan kondisinya tidak mendukung, jutaan warga Iran berpartisipasi, menunjukkan keinginan kolektif mereka,” pungkasnya. (alalam/presstv)
Presiden Iran: Kami Pantang Mundur di Depan Gertakan
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan pernah tunduk pada ancaman apa pun dan tidak akan mundur dalam menghadapi tekanan.
Hal itu dia sampaikan saat berkunjung ke provinsi Bushehr, di mana ia bertatap muka dengan warga setempat serta memuji pengorbanan para syuhada, khususnya para syuhada provinsi ini, bertepatan dengan peringatan 46 tahun kemenangan Revolusi Islam.
Pezeshkian menyebutkan bahwa sejak kemenangan revolusi, musuh telah mencoba melenyapkan Iran melalui berbagai konspirasi.
“Sejak hari pertama revolusi, kita telah menghadapi ancaman, perang, dan pembunuhan. Hari ini, presiden AS menuduh kitamelakukan terorisme, tapi siapa teroris sebenarnya? Apakah kita yang membunuh 18.000 pejabat dan ilmuwan Iran, atau mereka?” ujar Pezeshkian.
Dia menambahkan, “Negara-negara yang mengaku membela HAM adalah negara yang sama, yang melakukan terorisme. Entitas Zionis yang didukung oleh AS melakukan kejahatan genosida terhadap Palestina. Amerika mendukung entitas Zionis dengan senjata dan bom, dan pada saat yang sama mengaku menginginkan keamanan di kawasan, padahal kenyataannya merekalah yang mengacaukannya.”
Mengenai ketegangan belakangan ini, Presiden Iran mengatakan: “Sejak hari pertama masa jabatan saya sebagai presiden, mereka telah membunuh Ismail Haniyeh. Jika Anda percaya pada negosiasi, mengapa Anda menjatuhkan sanksi dan berkomplot melawan Iran? Anda sebenarnya tidak menginginkan dialog, melainkan berusaha menghancurkan keinginan Iran.”
Dia melanjutkan, “Trump mengatakan bahwa entitas Zionis harus mengebom kita seperti yang dilakukannya di Gaza, lalu menuntut kita untuk diam. Dia berbicara tentang negosiasi, tapi juga menjatuhkan sanksi pada Iran dan menekan dunia untuk mencegah bertransaksi dengan kita.”
Presiden Pezeshkian juga mengkritik hipokritas Barat dalam isu HAM.
“Mereka membunuh lebih dari 50.000 orang tak berdosa di Gaza dan kemudian berbicara tentang HAM dan menuduh Iran melakukan terorisme,” ujarnya.
Di bagian akhir, dia menegaskan, “Musuh ingin menyeret Iran ke dalam konflik dengan negara-negara tetangganya, tapi itu tidak akan terjadi, dan kami akan mengatasi badai dan tantangan ini dengan kekuatan dan keteguhan.” (alalam)
90 Organisasi AS dan Internasional Kecam Gagasan Trump untuk Relokasi Penduduk Gaza
Sebanyak lebih dari 90 organisasi Amerika Serikat dan internasional bersatu menandatangani petisi yang mengutuk seruan Presiden AS Donald Trump untuk relokasi atau pengusiran warga Palestina dari Jalur Gaza untuk kemudian pengambilan alihan wilayah ini oleh AS.
Puluhan organisasi penandatangan itu, termasuk Council on American-Islamic Relations (CAIR), Physicians Against Genocide, Alliance of Progressive Democrats, Jews for Peace, Churches for Peace, Physicians Against Genocide, 9/11 Families for a Peaceful Tomorrow, dan Rights Forum, menyebut seruan Trump itu sebagai ajakan eksplisit untuk pembersihan etnis, yang notabene pelanggaran hukum internasional.
Mereka menjelaskan bahwa pernyataan Trump itu melangkahi Konvensi Jenewa Keempat, yang dalam Pasal 49-nya disebutkan;”Pemindahan paksa secara individu atau massal, serta deportasi orang-orang yang dilindungi dari wilayah pendudukan ke wilayah pasukan pendudukan atau ke wilayah negara lain mana pun, baik yang diduduki atau tidak, dilarang, apa pun motifnya.”
Mereka menyebutkan bahwa penerapan seruan Trump merupakan pembersihan etnis, dan karena itu mereka menegaskan penolakan mereka terhadap pemindahan paksa warga Palestina.
Mereka mengemukakan bahwa Jalur Gaza, yang dihuni oleh jutaan warga Palestina, sedang menghadapi kondisi kemanusiaan yang sangat buruk sebagai akibat dari pengeboman dan pengepungan yang terus-menerus dilakukan selama bertahun-tahun. Mereka menyerukan kepada masyarakat internasional untuk mengambil sikap tegas terhadap segala upaya untuk menggambar ulang peta demografi wilayah tersebut dengan kekerasan.
“Kami, organisasi-organisasi yang bertanda tangan di bawah ini, mengecam dan menentang segala upaya atau inisiatif, dan segala seruan, untuk pemindahan paksa warga Palestina dari Gaza, dan mendukung pernyataan yang dikeluarkan oleh Mesir, Yordania, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Otoritas Palestina, dan Liga Arab, yang dengan tegas menolak langkah-langkah ini,” bunyi petisi itu.
Mereka mengingatkan bahwa AS tidak berhak untuk memaksakan keputusannya terhadap rakyat Palestina di Gaza dan memaksa negara-negara lain berpartisipasi dalam pemindahan mereka.
“Pemindahan sementara dapat digunakan oleh rezim pendudukan Israel untuk memaksakan pengasingan permanen,” ungkap mereka.
Puluhan organisasi juga menyatakan, “Meskipun kami sepakat bahwa kebutuhan kemanusiaan mendesak rakyat Gaza mungkin sulit dipenuhi karena kehancuran total yang disebabkan oleh Israel, kami menekankan bahwa jika layanan penting tidak dapat disediakan di Gaza, penduduknya harus dapat mengaksesnya di dalam batas-batas historis Palestina, dan hak mereka untuk kembali harus dijamin.”
Mereka lantas menegaskan, “Palestina adalah tanah bangsa Palestina, dan berpartisipasi dalam, memfasilitasi, atau mendukung pemindahan mereka merupakan pelanggaran terhadap semua prinsip hukum internasional, merusak sistem internasional yang berdasarkan pada aturan, menghancurkan reputasi AS secara global, dan merupakan tindakan amoral.”
Pernyataan ini mengemuka di tengah gelombang kritik tajam internasional terhadap gagasan Trump tersebut. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), negara-negara Arab, Tiongkok, negara-negara Eropa, dan organisasi-organisasi HAM menyatakan penolakan mereka terhadap seruan tersebut, dan memperingatkan konsekuensi bencana dari setiap langkah praktis ke arah ini. (alalam)







