Rangkuman Berita Utama Kamis 10 Juli 2025

Jakarta, ICMES. Angkatan Bersenjata Yaman kubu Ansarullah pada hari Rabu (9/7) merilis rekaman video penenggelaman kapal Eternity C setelah menjadi sasaran di Laut Merah oleh sebuah kapal nirawak dan rudal balistik saat sedang berlayar menuju pelabuhan Eilat di selatan Israel.

Jurnalis ternama Israel, Raviv Drucker, di Channel 13 mengomentari tajam keputusan sensor militer Israel untuk mencegah media mempublikasikan kehancuran yang menimpa Israel setelah perang 12 hari dengan Iran.

Otoritas Penyiaran Israel mengklaim bahwa rezim Zionis telah menunjukkan “fleksibilitas tinggi” dalam beberapa jam terakhir dalam negosiasi yang sedang berlangsung di Doha terkait penarikan diri dari poros Morag di Jalur Gaza selatan.

Berita selengkapnya:

Pasukan Yaman Rilis Video Penenggelaman Kapal Eternity C

Angkatan Bersenjata Yaman kubu Ansarullah pada hari Rabu (9/7) merilis rekaman video penenggelaman kapal Eternity C setelah menjadi sasaran di Laut Merah oleh sebuah kapal nirawak dan rudal balistik saat sedang berlayar menuju pelabuhan Eilat di selatan Israel.

Juru bicara militer Yaman tersebut, Brigjen Yahya Saree, dalam sebuah pernyataan video mengatakan bahwa pasukan Yaman “menyerang Eternity C yang sedang dalam pelayaran menuju pelabuhan Umm al-Rashrash (Eilat) di Palestina pendudukan (Israel) dengan sebuah kapal nirawak dan enam rudal jelajah dan balistik.”

Dia menambahkan bahwa operasi tersebut mengakibatkan “tenggelamnya kapal itu sepenuhnya”, dan bahwa operasi tersebut “didokumentasikan dengan audio dan video.”

Pasukan Yaman kemudian merilis  video itu, dan dipublikasi pula oleh akun “War Media” yang berafiliasi dengan gerakan Ansarullah Yaman di platform “X”.

Rekaman tersebut mencakup momen peluncuran rudal balistik dan rudal jelajah, momen ketika rudal tersebut menghantam Eternity C, dan momen ketika kapal itu tenggelam sepenuhnya.

Menurut pernyataan yang menyertai video tersebut, Eternity C menjadi sasaran “karena pemiliknya (yang tidak disebutkan namanya) melanggar keputusan Angkatan Bersenjata Yaman (pasukan Houthi) yang melarang kapal memasuki pelabuhan Palestina yang diduduki (merujuk pada Israel).”

“Sejumlah awak kapal yang menjadi sasaran telah diselamatkan, diberikan perawatan medis, dan diangkut ke lokasi yang aman,”ungkap Saree.

Dia menjelaskan bahwa kapal tersebut menjadi sasaran setelah pemiliknya dan kapal tersebut kembali beroperasi di pelabuhan Eilat sehingga jelas-jelas melanggar larangan Yaman.

Tanpa menyebutkan jumlah orang di dalam kapal maupun apakah ada korban jiwa, dia memastikan kapal Eternity C ditindak sedemikian tegas setelah menolak panggilan dan peringatan dari angkatan laut Yaman.

Saree tidak memberikan informasi mengenai pemilik atau operator kapal tersebut, sedangkan Associated Press (AP) melaporkan bahwa kapal tersebut terdaftar dengan bendera Liberia.

AP mengutip pernyataan Angkatan Laut Eropa di Timur Tengah yang menyatakan bahwa hingga Rabu malam, enam dari 25 orang di kapal saat serangan terjadi telah diselamatkan, tanpa menjelaskan nasib awak lainnya.

Misi Aspidis Uni Eropa menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa kapal tersebut memiliki 22 pelaut, termasuk 21 warga negara Filipina dan satu warga negara Rusia, beserta tim keamanan beranggotakan tiga orang (kewarganegaraan mereka tidak disebutkan).

Pada hari Selasa, AS mengumumkan adanya korban tewas dan luka-luka di antara awak kapal komersial yang diserang oleh kelompok tersebut di Laut Merah.

Seperti diketahui, sebagai bentuk protes terhadap perang Israel  yang terus berlanjut di Jalur Gaza, pasukan Yaman menyerang kapal-kapal Israel dan kapal-kapal yang terkait dengan rezim Zionis tersebut.

Sejak 7 Oktober 2023, Israel mengobarkan perang genosida di Gaza, termasuk dengan pembantaian, pelaparan, penghancuran, dan pemindahan paksa, sembari mengabaikan semua seruan internasional dan perintah dari Mahkamah Internasional untuk menghentikan perang.

Genosida tersebut telah menjatuhkan korban jiwa dan luka sebanyak lebih dari 195.000 warga Palestina, yang sebagian besarnya adalah anak-anak dan perempuan, serta menyebabkan lebih dari 10.000 orang hilang dan ratusan ribu orang mengungsi. (raialyoum)

Jurnalis Ternama Israel Bongkar Faktor Perahasiaan Dampak Serangan Iran

Jurnalis ternama Israel, Raviv Drucker, di Channel 13 mengomentari tajam keputusan sensor militer Israel untuk mencegah media mempublikasikan kehancuran yang menimpa Israel setelah perang 12 hari dengan Iran.

Dia mengatakan bahwa sensor berita dampak serangan Iran bukan demi keamanan negara, melainkan untuk mempertahankan asumsi menang atas Iran, dan bukan pula untuk mencegah Iran mengetahuinya, karena mereka tahu persis di mana mereka menyerang, melainkan untuk mencegah publik Israel mengetahui seberapa besar kerusakan yang kita derita.”

Dia menjelaskan, “Apa yang dipublikasikan oleh surat kabar Inggris, The Telegraph, diketahui oleh jurnalis Israel, tetapi sensor tersebut mencegah publikasi.”

Menurutnya, para jurnalis israel tidak memprotes keputusan ini, melainkan bersikap pengecut untuk memperkuat narasi resmi bahwa Israel telah mengalahkan Iran.

“Sensor di sini tidak melindungi nyawa manusia, melainkan melindungi narasi. Dalam hal ini, muncul pertanyaan sulit: Haruskah jurnalis patuh? Apakah kita masih menjadi penjaga gerbang atau telah menjadi kaki tangan diam-diam?”

Sementara itu, direktur Institut Sains Weizmann mengatakan kerugian yang dialami institut ini akibat ledakan rudal Iran  berkisar antara $300 hingga $500 juta. Dia mengungkapkan bahwa pusat tersebut dibagi menjadi dua bagian: bagian pertama digunakan sebagai tempat tinggal bagi staf yang bekerja di sana, dan bagian kedua untuk penelitian.

Ketika ditanya tentang penolakan otoritas sensor militer Israel untuk mengizinkan media merekam kerusakan besar di lokasi tersebut, dalam sebuah wawancara televisi di Channel 13 dia menjawab, “Saya yakin keputusan sensor militer tersebut berakar dari penolakan mutlak kami untuk memberikan informasi kepada musuh tentang kerusakan yang kami derita.”

Drucker selaku pembawa acara kemudian menanggapi klaim direktur tersebut dengan mengatakan, “Sensor militer melarang publikasi tidak hanya di Institut Weizmann, melainkan juga di lokasi militer dan strategis yang terkena rudal Iran.”

Institut Sains Weizmann adalah universitas riset negeri yang berlokasi di Rehovot, dan didirikan pada tahun 1934, atau 14 tahun sebelum berdirinya Negara Israel. Institut ini tergolong unik di antara universitas-universitas Israel lainnya karena hanya menawarkan gelar pascasarjana (magister dan doktoral) di bidang ilmu pengetahuan alam dan eksakta.

Institut ini merupakan pusat penelitian multidisiplin dengan sekitar 3.800 staf, termasuk ilmuwan, peneliti pascadoktoral, mahasiswa doktoral dan magister, serta staf teknis dan administrasi. Hingga tahun 2019, Institut Sains Weizmann telah berafiliasi dengan enam pemenang Hadiah Nobel dan tiga pemenang Penghargaan Turing. (raialyoum)

Israel Dilaporkan Banyak Melunak dalam Perundingan di Qatar

Otoritas Penyiaran Israel mengklaim bahwa rezim Zionis telah menunjukkan “fleksibilitas tinggi” dalam beberapa jam terakhir dalam negosiasi yang sedang berlangsung di Doha terkait penarikan diri dari poros Morag di Jalur Gaza selatan.

Pada Rabu malam, mengutip seorang sumber anonim yang mengetahui detail negosiasi tersebut, otoritas tersebut melaporkan, “Israel telah menunjukkan fleksibilitas tinggi dalam beberapa jam terakhir, termasuk terkait poros Morag, yang ingin dipertahankan kendalinya selama gencatan senjata.”

Otoritas tersebut juga mengutip keterangan sumber “asing” lain yang tidak disebutkan namanya bahwa “ada sedikit kemajuan dalam masalah ini.”

Otoritas tersebut menyatakan: “Apa yang terjadi saat ini di Doha adalah upaya negosiasi antara kedua pihak (Israel dan Hamas) terkait masalah poros Morag, tetapi belum dapat dipastikan apakah hal ini akan membawa kita pada terobosan menuju kesepakatan.” (raialyoum)