Rangkuman Berita Utama Jumat 3 Oktober 2025

Jakarta, ICMES. Kementerian Luar Negeri mengutuk agresi rezim Israel terhadap Global Sumud Flotilla (GSF), armada internasional yang berupaya menerobos blokade Israel terhadap Jalur Gaza. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memuji Angkatan Laut Israel atas keberhasilan mereka mencegat GSF, yang para aktivisnya kini sedang dipersiapkan Israel untuk dideportasi ke Eropa.

Kementerian Luar Negeri Rusia mengumumkan dalam sebuah pernyataan bahwa Perjanjian Kemitraan Strategis antara Rusia dan Iran mulai berlaku  pada hari Kamis (2/10), dan menekankan bahwa kedua negara, dalam kerangka perjanjian tersebut, menghadapi tantangan dan ancaman bersama.

Pemimpin gerakan Ansarullah di Yaman, Sayyid Abdul Malik Badruddin al-Houthi, menyatakan bahwa Israel bergantung pada kemitraan dan dukungan AS, sementara rezim-rezim Arab dan Islam “menelantarkan Palestina secara mengerikan”.

Berita selengkapnya:

Iran Kutuk Agresi Israel terhadap Armada Global Sumud (GSF)

Kementerian Luar Negeri mengutuk agresi rezim Israel terhadap Global Sumud Flotilla (GSF), armada internasional yang berupaya menerobos blokade Israel terhadap Jalur Gaza.

Dalam sebuah pernyataan pada hari Kamis (2/10), Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baghaei menyebut agresi itu sebagai “pelanggaran terbuka terhadap hukum internasional dan tindakan terorisme.”

Dia memuji upaya kemanusiaan para aktivis GSF dan kelompok akar rumput yang berasal dari berbagai negara, dengan mengatakan bahwa mereka telah “berdiri dalam solidaritas dengan rakyat Palestina dan berusaha untuk mematahkan blokade yang kejam.”

Sebelumnya, beberapa kapal GSF dicegat oleh Angkatan Laut Israel saat mereka mendekati pesisir Jalur Gaza.

Sejumlah aktivis yang tidak diketahui jumlahnya ditangkap dan komunikasi kapal-kapal tersebut dengan dunia luar diblokir sebagai upaya untuk mencegah para peserta penyiaran langsung kekejaman tersebut.

Agresi Israel terjadi di tengah genosida rezim Zionis Israel di Gaza yang berlangsung sejak Oktober 2023 hingga sekarang, dan memanfaatkan blokade sebagai cara untuk memaksimalkan penderitaan dan korban jiwa.

Baghaei menyatakan bahwa pembersihan etnis dan pembantaian warga sipil tak berdosa yang sedang berlangsung di Gaza menyoroti tanggung jawab hukum, moral, dan kemanusiaan semua pemerintah untuk menghentikan genosida dan menuntut pertanggungjawaban para pelaku.

Hamas Puji GSF

Tokoh Hamas, Izzat al-Rishq, memuji keberanian para peserta GSF, dan menganggap mereka telah membawa pesan rakyat bebas dunia dan kemanusiaan ke Gaza.

Rishq mengutuk apa yang ia sebut sebagai “pembajakan, penindasan, dan penangkapan aktivis oleh musuh,” dan menekankan bahwa praktik demikian  tidak akan mematahkan semangat mereka yang bersolidaritas dengan rakyat Palestina.

Dia juga memuji solidaritas internasional yang semakin kuat dengan para aktivis, dan menganggapnya sebagai perwujudan “hadirnya hati nurani yang hidup dan dukungan dunia bebas bagi rakyat kami yang terblokade.”

Netanyahu Puji Pencegatan

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memuji Angkatan Laut Israel atas keberhasilan mereka mencegat GSF, yang para aktivisnya kini sedang dipersiapkan Israel untuk dideportasi ke Eropa.

“Saya memuji para prajurit dan perwira Angkatan Laut yang menjalankan misi mereka selama Yom Kippur dengan tingkat profesionalisme dan efisiensi tertinggi,” ujar Netanyahu dalam sebuah pernyataan.

“Upaya penting mereka telah mencegah puluhan kapal memasuki zona pertempuran dan menggagalkan upaya untuk mendelegitimasi Israel,” tambahnya.

Dalam operasi yang berlangsung sekitar 12 jam, lebih dari 400 aktivis di atas 41 kapal armada tersebut ditahan, menurut seorang pejabat Israel.

Di akhir operasi, “lebih dari 400 peserta dipindahkan dengan selamat ke pelabuhan Ashdod, tempat mereka diinterogasi oleh polisi Israel,” ungkap sumber Israel tersebut.

GSF berlayar pada awal September dari Spanyol dengan sekitar 45 kapal yang membawa ratusan aktivis pro-Palestina dari lebih dari 40 negara, membawa susu formula bayi, makanan, dan bantuan medis. Para penanggung jawab armada tersebut menekankan bahwa mereka sedang menjalankan “misi damai dan tanpa kekerasan.” (alalam/ry)

Rusia: Perjanjian Strategis dengan Iran Mulai Berlaku

Kementerian Luar Negeri Rusia mengumumkan dalam sebuah pernyataan bahwa Perjanjian Kemitraan Strategis antara Rusia dan Iran mulai berlaku  pada hari Kamis (2/10), dan menekankan bahwa kedua negara, dalam kerangka perjanjian tersebut, menghadapi tantangan dan ancaman bersama.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif antara Federasi Rusia dan Republik Islam Iran, yang ditandatangani pada 17 Januari 2025 oleh Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di Moskow, resmi berlaku pada 2 Oktober 2025.

Kementerian Luar Negeri Rusia menekankan bahwa peristiwa ini menandai titik balik penting dalam sejarah hubungan antara Rusia dan Iran, yang telah mencapai tingkat baru kemitraan strategis yang komprehensif.

Kementerian itu menambahkan bahwa dokumen ini menetapkan pedoman utama bagi semua sektor prioritas kerja sama bilateral jangka panjang.

Kementerian itu juga menyatakan bahwa perjanjian tersebut membuka jalan bagi penguatan kerja sama di tingkat internasional dalam kerangka tatanan dunia multipolar, termasuk koordinasi yang erat dalam organisasi multilateral progresif dan upaya bersama untuk meningkatkan stabilitas dan keamanan di kawasan serta menghadapi tantangan dan ancaman bersama. (alalam)

Pemimpin Ansarullah: Negara-Negara Arab Tekan Bangsa Palestina agar Terapkan Rencana Trump

Pemimpin gerakan Ansarullah di Yaman, Sayyid Abdul Malik Badruddin al-Houthi, dalam pidato mingguannya pada hari Kamis (2/10) mengenai perkembangan terbaru agresi Israel di Jalur Gaza menyatakan bahwa Israel bergantung pada kemitraan dan dukungan AS, sementara rezim-rezim Arab dan Islam “menelantarkan Palestina secara mengerikan”.

Dia mengatakan bahwa AS ingin merampas semua hak rakyat Palestina di Gaza dan segala cara yang dapat mereka gunakan untuk mempertahankan hak-hak mereka, dan bahwa AS berusaha melibatkan rezim Arab dalam perekrutan pasukan keamanan untuk melayani Israel.

Menurut Al-Houthi, Trump secara eksplisit menyatakan bahwa rezim-rezim Arab harus memimpin proses perlucutan senjata sayap militer Hamas, Brigade Qassam, dan faksi-faksi pejuang Palestina Palestina. Trump ingin bangsa Arab memikul peran dalam melucuti senjata rakyat Palestina, sebuah misi yang sangat kotor dalam membidik rakyat Palestina.

Dia menyebutkan bahwa gagasan Trump diumumkan demi mengubah Timur Tengah, dengan Israel sebagai agennya.

“Ketika mereka (AS) berbicara tentang perubahan Timur Tengah maka maksudnya ialah mengubah realitas kawasan demi keuntungan musuh Israel, dengan mengorbankan kebebasan, kemerdekaan, martabat, agama, dan hak-hak masyarakat Arab dan Islam ini. Dalam pernyataan lain, Trump menekankan bahwa ia berupaya untuk menegakkan kembali hegemoni Amerika atas dunia,” ujarnya.

Sayyid al-Houthi menjelaskan bahwa ASdan Israel bergerak bersama untuk mengendalikan bangsa dan negara lain.

Dia menambahkan, “Tapi yang paling dirugikan oleh hal ini adalah umat Islam kita, dan banyak negara berada dalam posisi rival dan kompetitor. Ada Tiongkok, Rusia, dan negara-negara lain yang telah memaksakan kebebasan mereka pada diri mereka sendiri, seperti di Kuba, Korea Utara, dan Venezuela.”

Dia juga mengatakan, “Orang-orang Arab tidak boleh menjadi alat tekanan di tangan Amerika dan Israel terhadap rakyat Palestina, perlawanan mereka, dan para pejuang mereka. Rezim Arab dan Islam tidak boleh bergerak untuk menekan dan memenuhi rencana Trump dalam bentuknya yang merampas hak-hak Palestina dan bertujuan untuk mengkonsolidasikan kendali Israel.”

Pemimpin Ansarullah menegaskan, “Tekanan Arab dan Islam terhadap kubu perlawanan Palestina adalah pengkhianatan, pelayanan kepada Israel, dan perekrutan untuk kepentingannya. Rakyat Palestina adalah bangsa yang bebas, dan semua faksi mujahidinnya membuat keputusan berdasarkan prinsip  dan hak yang sah dan tidak dapat dicabut dari rakyat Palestina. Upaya Amerika dan Israel bertujuan untuk memberi rakyat Palestina, kubu perlawanan mereka, dan mujahidin mereka, beserta faksi-faksi mereka, pilihan antara melanjutkan genosida dan pendudukan, atau menyerah.” (alalam)