Rangkuman Berita Utama Jumat 17 Oktober 2025

Jakarta, ICMES. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan negara-negara anggota Gerakan Non-Blok (GNB) mendukung Iran dalam menentang upaya Eropa menerapkan kembali sanksi PBB terhadap Iran.

Wakil Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Brigjen Ali Fadavi mengatakan bahwa berkat keyakinan, pengalaman, dan teknologi dalam negeri, Iran berhasil mengalahkan kekuatan global dalam Perang 12 Hari meskipun mereka memiliki senjata baru.

Pasukan Zionis Israel melancarkan serangkaian serangan di Lebanon pada hari Kamis (16/10). Serangan ini menjadi kelanjutan dari pelanggaran Israel terhadap deklarasi gencatan senjata yang berlaku sejak 27 November 2024.

Berita selengkapnya:

GNB Dukung Iran Melawan Sanksi Snapback Eropa

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan negara-negara anggota Gerakan Non-Blok (GNB) mendukung Iran dalam menentang upaya Eropa menerapkan kembali sanksi PBB terhadap Iran.

Abbas Araghchi menyatakan demikian dalam sebuah wawancara dengan kantor berita IRIB di Kampala, Uganda, di mana Pertemuan Tingkat Menteri Paruh Waktu ke-19 Biro Koordinasi GNB berlangsung di ibu kota Uganda, Kampala, pada 15-16 Oktober.

Pernyataan itu mengemuka kurang dari sebulan setelah berakhirnya proses snapback yang diprakarsai oleh Inggris, Jerman, dan Prancis (E3) dengan tujuan memulihkan semua sanksi Dewan Keamanan PBB terhadap Iran yang sebelumnya telah dicabut berdasarkan kesepakatan nuklir 2015 yang dibatalkan secara sepihak oleh AS.

Berdasarkan Resolusi 2231, yang mengesahkan perjanjian tersebut, semua pembatasan terkait nuklir terhadap Iran akan berakhir secara permanen pada 18 Oktober 2025.

Araghchi mengatakan bahwa pernyataan akhir KTT GNB mencakup sebuah klausul yang “sangat penting berupa deklarasi dukungan bagi Republik Islam Iran terkait isu snapback di Dewan Keamanan.”

“Dari perspektif GNB, dinyatakan bahwa resolusi 2231 masih berlaku dan ketentuan serta tenggat waktunya harus dihormati. Sesuai paragraf 8, resolusi tersebut harus dihentikan pada tanggal yang dijadwalkan, 18 Oktober,” tambahnya.

Dia juga menyebutkan bahwa Iran, Rusia, Tiongkok, dan beberapa negara lain di Dewan Keamanan memiliki sikap yang sama dalam hal ini dan menentang klaim AS dan Eropa ihwal aktivasi snapback.

“Ini sungguh merupakan pencapaian besar bagi Republik Islam Iran, karena hampir semua anggota GNB (lebih dari 100 negara) mendukung posisi ini,” ungkapnya.

Pada 28 Agustus, E3 menerapkan proses snapback 30 hari. Teheran menolak tindakan tersebut dan menilainya tidak sah, dengan alasan bahwa AS secara sepihak telah menarik diri dari Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) pada tahun 2018 dan keputusan E3 untuk bersekutu dengan sanksi ilegal anti-Iran. Pada tanggal 28 September, AS dan Eropa mengklaim bahwa resolusi PBB anti-Iran dan sanksi terkait diberlakukan kembali, dan mendesak semua negara anggota PBB untuk menerapkan pembatasan.

Araghchi juga mengatakan bahwa GNB mengutuk agresi Israel-AS pada bulan Juni terhadap Iran dan menilainya “keji” dan “tidak dapat diterima” serta menyatakan solidaritas dengan Iran dalam menghadapi serangan ilegal tersebut.  (presstv)

Komandan IRGC: Senjata Canggih Baru Kekuatan Global Tak Sanggup Kalahkan Iran

Wakil Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Brigjen Ali Fadavi mengatakan bahwa berkat keyakinan, pengalaman, dan teknologi dalam negeri, Iran berhasil mengalahkan kekuatan global dalam Perang 12 Hari meskipun mereka memiliki senjata baru.

Dia menyebutkan bahwa kekuatan global mengerahkan teknologi militer baru yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Iran dalam perang tersebut, tapi Iran muncul sebagai pemenang.

“Dalam perang ini, seluruh kemampuan material dan ilmiah dunia dikerahkan; banyak teknologi dan peralatan yang digunakan belum pernah diuji sebelumnya dalam perang apa pun. Meskipun demikian, kemampuan kami tinggi,  IRGC dan pasukan sukarelawan Basij turun ke lapangan, dan Allah Swt memberikan hasil terbaik,” ungkapnya, Kamis (16/10)

Pada 13 Juni, Israel melancarkan agresi militer secara terbuka dan tanpa alasan terhadap Iran, sehingga  memicu Perang 12 Hari yang menggugurkan sedikitnya 1.064 orang di Iran, termasuk sejumlah komandan militer, ilmuwan nuklir, dan warga sipil.

AS melibatkan diri dalam perang tersebut dengan mengebom tiga situs nuklir Iran, sebuah pelanggaran berat terhadap hukum internasional.

Pasukan Iran lantas melancarkan serangan balik yang menyasar situs-situs strategis di wilayah pendudukan serta pangkalan udara al-Udeid di Qatar, pangkalan militer terbesar AS di Timur Tengah.

Jenderal Fadavi menambahkan bahwa sekitar 60 persen martir perang adalah anggota IRGC, dan bahwa pengorbanan diri mereka membuka jalan bagi kekalahan telak koalisi musuh.

“Kemenangan dalam perang 12 hari menunjukkan bahwa Revolusi Islam telah mencapai titik tidak hanya di bidang iman dan perlawanan, melainkan juga di bidang sains dan teknologi di mana ia dapat menggagalkan semua kekuatan dunia. Ini merupakan pemenuhan janji Allah bahwa kemenangan umat beriman adalah  suatu kepastian,” tegasnya.

Pada tanggal 24 Juni, dengan serangan baliknya terhadap Israel dan AS, Iran berhasil menghentikan serangan teroris.

Situs web berita independen terkemuka Amerika, Grayzone, pada hari Senin mengungkapkan bahwa selama perang 12 hari di bulan Juni, Iran merudal menara hunian Da Vinci di pusat kota Tel Aviv di atas bunker rahasia intelijen Israel-AS yang dikenal sebagai Situs 81.

Serangan tersebut sangat presisi, menghantam beberapa lokasi militer dan intelijen strategis, termasuk universitas yang terkait dengan militer, seperti Institut Weizmann, yang mengalami kerusakan dengan kerugian senilai $570 juta.

Sensor ketat Israel mencegah pelaporan terperinci tentang dampak serangan-serangan Iran. Outlet media ditekan dan jurnalis dipaksa menjauh dari lokasi dampak. Serangan tersebut menunjukkan akurasi rudal Iran dan menyebabkan kerusakan fatal pada infrastruktur sensitif militer Israel. (presstv)

Israel Lancarkan Serangkaian Serangan Sengit di Lebanon Selatan

Pasukan Zionis Israel melancarkan serangkaian serangan di Lebanon pada hari Kamis (16/10). Serangan ini menjadi kelanjutan dari pelanggaran Israel terhadap deklarasi gencatan senjata yang berlaku sejak 27 November 2024.

Pasukan pendudukan itu melancarkan serangan pesawat nirawak di Hutan Dabsheh di pinggiran kota Kfar Tibnit, serangan pesawat nirawak lainnya di jalan raya Kawthriyat al-Siyad-Sharqiya, dan serangkaian serangan yang menyasar pinggiran kota Ansar di Lebanon selatan.

Pesawat tempur Israel juga menyerang kota Bnaafoul di distrik Sidon di selatan, melukai satu orang. Sebuah pesawat Israel menjatuhkan bom kejut tiga kali pada interval yang berbeda di lepas pantai Ras al-Naqoura.

Sebuah helikopter Israel menjatuhkan bom di pinggiran kota Blida, dan pasukan Israel juga melepaskan tembakan senapan mesin ke arah pinggiran Aitaroun di selatan manakala penduduk sedang bergegas menuju ladang zaitun mereka.

Di Lembah Bekaa, Lebanon timur, pasukan pendudukan Israel melancarkan serangan udara terhadap pinggiran kota Shamstar. (almayadeen)