Rangkuman Berita Utama Jumat 17 Januari 2025

Jakarta, ICMES. Situs media kantor Pemimpin Besar Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei menerbitkan sebuah postingan di platform  X , yang menyatakan bahwa sejarah tidak akan melupakan pihak yang membunuh ribuan anak-anak dan kaum wanita di Gaza.

Pemimpin gerakan Ansarullah Yaman, Sayid Abdul Malik al-Houthi, dalam pidato mingguannya yang disiarkan di saluran al-Masirah  menyatakan gencatan senjata menunjukkan kegagalan Rezim Zionis Israel di Jalur Gaza.

Puluhan warga Palestina gugur akibat serangan terbaru Israel di Jalur Gaza meskipun sudah dicapai kesepakatan gencatan senjata antara Rezim Zionis Israel dan gerakan perlawanan Hamas.

Berita selengkapnya:

Ayatullah Khamenei: Kesabaran dan Keteguhan Gaza Memaksa Israel Mundur

Situs media kantor Pemimpin Besar Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei, pada hari Kamis (16/1) menerbitkan sebuah postingan di platform  X , yang menyatakan bahwa sejarah tidak akan melupakan pihak yang membunuh ribuan anak-anak dan kaum wanita di Gaza.

“Akan tertulis di buku-buku (sejarah) bahwa pada suatu masa ada sekelompok orang membunuh ribuan anak-anak dan wanita di Gaza, dan semua orang akan mengerti bahwa kesabaran rakyat dan keteguhan perlawanan Palestina serta front perlawanan telah memaksa entitas Zionis mundur.”

Seperti diketahui, gencatan senjata antara Israel dan Hamas telah dicapai, dan akan mulai berlaku pada hari Minggu, 19 Januari, setelah kesepakatan diumumkan pada hari Rabu untuk mengakhiri serangan Israel selama 15 bulan di Jalur Gaza.

Kesepakatan itu terdiri atas tiga tahap, yang mencakup gencatan senjata sementara, pembebasan tawanan Israel dan tahanan Palestina, dan pemulangan pengungsi Palestina, meskipun banyak rumah di Gaza telah hancur.

Sejak 7 Oktober 2023, serangan Israel telah menggugurkan sedikitnya 46.707 warga Palestina dan melukai 110.265 orang – rata-rata 100 warga Palestina gugur setiap hari selama 467 hari terakhir.

Gaza diperkirakan berpenduduk sekitar 2,3 juta orang, setengahnya adalah anak-anak. Terjadi penurunan enam persen dari jumlah penduduk tersebut sejak perang dimulai.

Selama 15 bulan terakhir, serangan Israel telah menggugurkan dua dari setiap 100 orang di Gaza dan melukai lima dari setiap 100 orang. Sekitar 11.160 orang hilang, yang berarti satu dari setiap 200 warga Palestina di Gaza tidak diketahui keberadaannya, dan banyak yang terkubur di bawah lebih dari 42 juta ton puing. Sebanyak 100.000 warga Palestina telah meninggalkan Gaza.

Hamas Berterima Kasih kepada Iran dan Sekutunya

Anggota Biro Politik Hamas Khalil al-Hayya saat mengumumkan tercapainya gencatan senjata tersebut pada hari Rabu mengapresiasi semua pihak yang telah mendukung dan membela Gaza, terutama Iran dan para sekutunya, yaitu Hizbullah Lebanon, Ansarullah Yaman, dan kelompok-kelompok pejuang resistensi Islam di Irak.

“Kami berterima kasih kepada semua pihak yang mendukung kami, bangsa dan perlawanan kami di masa-masa sulit, khususnya saudara-saudara kami di front-front pendukung; di Lebanon, saudara kami Hizbullah, yang telah mempersembahkan ratusan syuhada dari kalangan pemimpin dan pejuang di jalan menuju Al-Quds, terutama Sekjennya, Sayyid Hassan Nasrallah,  dan para rekannya di jajaran pimpinan,” ungkapnya.

Dia juga mengatakan, “Demikian pula saudara-saudara di Jamaah Islamiyyah serta apa yang telah diberikan oleh bangsa Lebanon berupa perlawanan dan pengorbanan besar serta kesabaran yang besar demi membela dan mendukung bangsa Palestina. Mereka telah menjalani ujian yang baik, dan telah mengubah mengubah kehidupan rezim pendudukan menjadi neraka dan keterluntaan dalam suatu panorama solidaritas dan pembelaan sejati, yang memanifestasikan persaudaraan Islam dan pan-Arabisme.”

Al-Hayya menambahkan, “Kami juga perlu menyebutkan saudara-saudara sejati kami di Yaman, Ansarullah,  yang telah melampaui dimensi geografis, dan mengubah perimbangan perang dan kawasan. Mereka telah melesatkan rudal dan drone ke jantung entitas Zionis serta memblokirnya di Laut Merah. Kami juga patut menyebutkan saudara-saudara kami di Republik Islam Iran, yang mendukung perlawanan dan bangsa kami, dan terlibat dalam pertempuran serta mengguncang jantung entitas Zionis dalam operasi militer Janji Nyata I dan II.”

Dia kemudian menyinggung Irak dengan mengatakan, “Juga para pejuang perlawanan Irak, yang telah menerjang semua kendala agar dapat andil membela Palestina dan perlawanannya, sehingga serangan rudal dan pesawat nirawaknya mencapai wilayah kami yang diduduki Israel.” (alalam/aljazeera/sahara)

Pemimpin Ansarullah Yaman: Gencatan Senjata di Gaza Tunjukkan Kegagalan Israel

Pemimpin gerakan Ansarullah Yaman, Sayid Abdul Malik al-Houthi, dalam pidato mingguannya yang disiarkan di saluran al-Masirah pada hari Kamis (16/1) menyatakan gencatan senjata menunjukkan kegagalan Rezim Zionis Israel di Jalur Gaza.

Pernyataan itu dia nyatakan menyusul pengumuman tercapainya gencatan senjata antara Israel dan Hamas dan para pejuang Palestina lainnya di Gaza, yang akan mulai diterapkan pada hari Ahad (19/1).

 “Israel gagal di Gaza meskipun ada blokade terhadap kubu perlawanan Palestina dan ada sarana yang diberikan oleh AS. Israel bersama dengan AS terpaksa mencapai kesepakatan di Gaza setelah berbulan-bulan melakukan kejahatan yang mengerikan,” tutur Sayid Abdul-Malik Al-Houthi.

Pemimpin Ansarullah mengancam bahwa pasukan Yaman, yang didukung Iran, akan terus melancarkan serangan terhadap Israel jika rezim pendudukan Israel tidak mematuhi perjanjian gencatan senjata.

Dia  mengatakan, “Kami akan terus mengikuti tahapan-tahapan pelaksanaan perjanjian ini, dan jika Israel berbalik, atau terjadi pembantaian, atau blokade, kami akan segera siap memberikan dukungan militer kepada bangsa Palestina.”

Sementara itu, media Israel mengomentari perjanjian gencatan senjata dan pertukaran tahanan di Jalur Gaza, dengan menyebutkan bahwa tujuan utama Hamas dalam kesepakatan tersebut adalah untuk “bertahan dan mempertahankan kendali dan tidak memberikan Israel pijakan di Jalur Gaza,” dan bahwa Hamas “berhasil dalam hal ini, ” sedangkan Israel “gagal”.

Analis Israel urusan Arab Zvi Yehezkeli di situs i24NEWS menyatakan bahwa kesulitan kesepakatan “bukan pada pembebasan tawanan, melainkan pada bagaimana bergerak maju pada hari berikutnya,” karena “Hamas bergerak maju dalam mengelola Jalur Gaza ,” yang berarti bahwa “Israel tidak mencapai tujuan perang, juga tidak mengubah realitas di kawasan tersebut.”

“Hamas menginginkan satu hal, dan konsisten dengan tujuannya, ingin menguasai Jalur Gaza,” kata Yehezkeli.

Senada dengan ini, Micha Kobi, mantan pejabat di Badan Keamanan Umum Israel (Shin Bet), mengatakan, “Kesepakatan yang disepakati bukanlah kesepakatan ideal bagi Israel, melainkan salah satu kesepakatan terburuk yang pernah dibuat sepanjang sejarahnya.” (raialyoum/alalam)

Israel Masih Tebar Kejahatan, Puluhan Orang Palestina Terbunuh di Gaza

Puluhan warga Palestina gugur akibat serangan terbaru Israel di Jalur Gaza pada hari Kamis (16/1) meskipun sudah dicapai kesepakatan gencatan senjata antara Rezim Zionis Israel dan gerakan perlawanan Hamas.

Jumlah korban gugur itu bahkan tercatat tertinggi di Gaza dalam lebih dari seminggu saat Israel mengintensifkan serangannya di Gaza utara menyusul pengumuman kesepakatan gencatan senjata pada Rabu malam.

Laporan media mengonfirmasi bahwa Israel telah menggempur beberapa wilayah Jalur Gaza sejak pengumuman kesepakatan tersebut, hingga menggugurkan lebih dari 80 orang.

Kementerian kesehatan Gaza mengatakan sedikitnya 81 orang gugur dalam 24 jam terakhir dan sekira 188 lainnya terluka.

Jet tempur Israel melakukan beberapa serangan di Kota Gaza, sementara itu, artileri menembaki blok perumahan di kamp pengungsi Nuseirat di Gaza tengah.

Puluhan orang gugur dalam dua serangan, dan beberapa warga Palestina juga gugur di kota selatan Khan Yunis.

Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa mereka telah membatalkan rapat kabinet keamanan Israel yang direncanakan untuk menyetujui kesepakatan itu.

Kantor Netanyahu mengatakan bahwa kabinet Israel “tidak akan bersidang sampai para mediator memberi tahu Israel bahwa Hamas telah menerima semua elemen perjanjian itu.”

Israel menuduh Hamas menarik kembali beberapa bagian dari gencatan senjata yang rapuh.

Anggota biro politik Hamas Sami Abu Zuhri mengatakan tuduhan Israel itu “tak berdasar”. (presstv)