Jakarta, ICMES. Pertahanan Sipil di Jalur Gaza mengumumkan 120 orang Palestina gugur akibat serangkaian serangan udara Israel pada hari Kamis, sementara sebuah organisasi non-pemerintah yang didukung AS mengumumkan bahwa distribusi bantuan kemanusiaan akan dimulai pada akhir bulan Mei.

Juru bicara Angkatan Bersenjata Yaman kubu Ansarullah, Brigjen Yahya Saree, dalam sebuah pernyataan yang disiarkan di televisi dan diunggah di Telegram mengumumkan pihaknya telah “melaksanakan operasi militer khusus yang menargetkan Bandara Lod, yang dikenal di Israel sebagai Bandara Ben-Gurion, di wilayah pendudukan Jaffa (Tel Aviv) dengan rudal balistik hipersonik.”
Presiden AS Donald Trump mengaku meminta perusahaan di negaranya untuk memproduksi pesawat nirawak yang mirip dengan pesawat nirawak Iran.
Berita selengkapnya:
Lagi, Israel Bunuh 120 Orang di Jalur Gaza
Pertahanan Sipil di Jalur Gaza mengumumkan 120 orang Palestina gugur akibat serangkaian serangan udara Israel pada hari Kamis (15/5), sementara sebuah organisasi non-pemerintah yang didukung AS mengumumkan bahwa distribusi bantuan kemanusiaan akan dimulai pada akhir bulan Mei.
Seorang pejabat senior Hamas menegaskan bahwa mengizinkan bantuan masuk ke Gaza adalah persyaratan “minimum” untuk negosiasi dengan Israel, yang telah memberlakukan blokade ketat di Jalur Gaza sejak awal Maret.
Anggota Biro Politik Hamas, Bassem Naim, mengatakan, “Minimal untuk menciptakan lingkungan negosiasi yang konstruktif dan berguna adalah dengan mewajibkan pemerintah (Perdana Menteri Israel Benjamin) Netanyahu membuka titik perlintasan dan mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan, makanan, dan medis.”
Dia menekankan bahwa “akses terhadap makanan, air, dan obat-obatan merupakan hak asasi manusia yang mendasar dan bukan subyek yang dapat dinegosiasikan.”
Sejak 2 Maret, Israel telah mencegah masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza, yang berpenduduk 2,4 juta jiwa. Pada tanggal 18 Maret, operasi militer dilanjutkan setelah gencatan senjata selama dua bulan.
Organisasi non-pemerintah, termasuk Doctors of the World, Doctors Without Borders, dan Oxfam, pada hari Rabu memperingatkan ihwal “kelaparan massal” di Gaza jika Israel terus memblokir bantuan memasuki Jalur Gaza.
Juru bicara Pertahanan Sipil di Gaza Mahmoud Basal mengatakan jumlah korban gugur akibat serangan Israel sejak dini hari Kamis tercatat 120 orang.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada hari Kamis menyatakan bahwa rumah sakit terakhir di Gaza yang menyediakan perawatan medis untuk pasien jantung dan kanker telah menghentikan operasinya menyusul serangan Israel pada hari Selasa.
Pelapor Khusus PBB mengenai situasi di wilayah pendudukan Palestina, Francesca Albanese, menyebut Israel “membunuh umat manusia yang tersisa.”
Rekaman TV AFP menunjukkan kehancuran yang disebabkan oleh serangan di Deir al-Balah di Gaza tengah, di mana bangunan-bangunan rata dengan tanah.
Amir Salha, 43 tahun, dari daerah Tel al-Zaatar di Jalur Gaza utara, menceritakan apa yang disebutnya serangan hebat Israel sepanjang malam.
Dia mengatakan, “Kami merasa tenda kami akan terbang dari tempatnya. Tembakan tank menghantam sepanjang waktu, dan daerah itu dipenuhi orang dan tenda.”
Hamas mendesak masyarakat internasional untuk meminta pertanggungjawaban Israel atas apa yang disebutnya sebagai “eskalasi biadab”.
Yayasan Kemanusiaan Gaza, sebuah organisasi non-pemerintah yang didukung AS pada hari Rabu mengumumkan bahwa mereka akan mulai mendistribusikan bantuan kemanusiaan di Gaza bulan ini, dan bahwa mereka telah meminta Israel untuk memastikan keamanan titik-titik distribusi bantuan di Jalur Gaza utara.
Namun, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada hari Kamis mengumumkan pihaknya tidak akan berpartisipasi dalam penyaluran bantuan melalui organisasi ini, karena mekanismenya tidak menganut prinsip netralitas dan independensi.
“Saya telah menegaskan bahwa kami terlibat dalam operasi bantuan yang konsisten dengan prinsip-prinsip inti kami. Kami telah berulang kali mengatakan bahwa rencana penyaluran bantuan ini tidak konsisten dengan prinsip-prinsip inti kami, termasuk prinsip imparsialitas, netralitas, dan independensi, dan kami tidak akan terlibat di dalamnya,” kata juru bicara Sekjen PBB, Farhan Haq. (raialyoum)
Pasukan Yaman Umumkan “Serangan Sukses”-nya terhadap Bandara Ben-Gurion Israel
Juru bicara Angkatan Bersenjata Yaman kubu Ansarullah, Brigjen Yahya Saree, dalam sebuah pernyataan yang disiarkan di televisi dan diunggah di Telegram mengumumkan pihaknya telah “melaksanakan operasi militer khusus yang menargetkan Bandara Lod, yang dikenal di Israel sebagai Bandara Ben-Gurion, di wilayah pendudukan Jaffa (Tel Aviv) dengan rudal balistik hipersonik.”
Dia menambahkan, “Rudal itu berhasil mencapai sasarannya, berkat pertolongan Allah, dan menyebabkan jutaan penduduk Zionis melarikan diri ke tempat perlindungan, dan aktivitas bandara terhenti selama hampir satu jam.”
Saree menambahkan, “Angkatan Bersenjata akan berupaya memperkuat dan memperluas aksi militer mereka dengan tujuan menghentikan agresi dan blokade Israel di Jalur Gaza.”
Pasukan Yaman membombardir Israel “untuk mendukung warga Palestina di Gaza,” dan akan terus menyerang selagi Tel Aviv melanjutkan perang genosidanya, yang didukung AS.
Di pihak lain, layanan ambulan Israel pada hari Kamis mengumumkan bahwa sejumlah orang terluka saat jutaan orang bergegas ke tempat perlindungan setelah peluncuran rudal dari Yaman. Serangan itu mengganggu lalu lintas udara di Bandara Ben Gurion dekat Tel Aviv.
Militer Israel menyatakan bahwa angkatan udaranya telah “mencegat rudal yang diluncurkan dari Yaman.”
Layanan ambulan Magen David Adom melaporkan sejumlah orang menderita luka saat mereka melarikan diri ke tempat perlindungan setelah peluncuran rudal dari Yaman, dan bahwa “terjadi kepanikan akibat bunyi sirene serangan udara di sejumlah wilayah di Israel tengah.” (raialyoum)
Trump Kecewa Setelah Minta Perusahaan AS Bikin Pesawat Nirawak Mirip Buatan Iran
Presiden AS Donald Trump mengaku meminta perusahaan di negaranya untuk memproduksi pesawat nirawak yang mirip dengan pesawat nirawak Iran.
“Saya berkata kepada salah satu perusahaan pertahanan, ‘Saya butuh banyak pesawat nirawak, dan Anda tahu, Iran membuat pesawat nirawak yang bagus, dan mereka membuatnya seharga $35.000 hingga $40.000,’” kata Trump di Qatar pada hari Kamis (15/5), sebelum terbang ke Uni Emirat Arab untuk perjalanan ketiga dan terakhir dari lawatan yang dimulai di Arab Saudi.
“Jadi saya berkata kepada perusahaan itu, ‘Saya ingin melihat sesuatu seperti itu.’ Dua minggu kemudian, mereka datang kepada saya dengan pesawat nirawak seharga $41 juta! Saya berkata, ‘Bukan itu yang saya bicarakan. 41 juta?! Saya berbicara tentang sesuatu yang harganya $35.000 hingga $40.000, sehingga Anda dapat menerbangkannya dalam jumlah ribuan.’”
Trump juga mengatakan bahwa kesepakatan nuklir dengan Iran sudah dekat, dan akan mencegah apa yang disebutnya sebagai aksi militer terhadap Iran.
“Saya pikir kita hampir mencapai kesepakatan tanpa harus melakukan ini,” katanya, mengacu pada aksi militer.
“Anda mungkin membaca berita tentang Iran hari ini. Iran telah menyetujui persyaratannya,” kata Trump, tanpa menyebutkan persyaratan yang dimaksudnya.
Selama kunjungannya ke Arab Saudi pada hari Selasa, Trump menyebut Iran sebagai “kekuatan paling merusak” di Timur Tengah. Dia menuduh Iran memicu instabilitas regional dan menyatakan AS tidak akan mengizinkan negara itu mengembangkan “senjata nuklir”.
Menanggapi Trump, Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada hari Kamis mengatakan Teheran tidak akan pernah tunduk pada ancaman dan tekanan. Dia mengecam AS yang disebutnya menjalankan kebijakan standar ganda terhadap Iran.
“Trump berpikir bahwa dia dapat memberi sanksi kepada kami, mengancam kami, dan kemudian duduk diam dan berbicara tentang hak asasi manusia. Semua kejahatan di kawasan ini terjadi karena kebijakan dan individu-individu ini,” katanya.
Dia menambahkan, “Kami mencari perdamaian, bukan perang. Kami selalu berusaha untuk hidup dalam damai dan (berlandaskan) rasa saling menghormati, baik dalam masalah internal maupun dalam hubungan dengan tetangga kami.” (presstv)







