Rangkuman Berita Utama Jumat 15 Agustus 2025

Jakarta, ICMES. Jutaan peziarah dari pelbagai penjuru dunia berkumpul di kota Karbala, Irak, untuk memperingati Arbain, hari ke-40 kesyahidan Imam Husein (as), cucunda Nabi Muhammad saw, yang gugur di Karbala pada 10 Muharram 61 H.

Pemimpin gerakan Ansar Allah, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, menyebut pernyataan Perdana Menteri Rezim Zionis Israel Benjamin Netanyahu mengenai proyek “Israel Raya” sebagai penghinaan dan serangan langsung terhadap bangsa-bangsa Arab.

Berbagai negara Arab mengecam pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengenai apa yang disebut visi “Israel Raya”.

Berita selengkapnya:

Jutaan Orang Peringati Arbain al-Husain di Karbala, Maukib Palestina Turut Mewarnai Suasana

Jutaan peziarah dari pelbagai penjuru dunia berkumpul di kota Karbala, Irak, untuk memperingati Arbain, hari ke-40 kesyahidan Imam Husein (as), cucunda Nabi Muhammad saw, yang gugur di Karbala pada 10 Muharram 61 H.

Mereka berjalan kaki atau melakukan pawai sejauh puluhan hingga ratusan kilometer dari berbagai arah sejak beberapa hari lalu menuju makam Imam Husein as di Karbala, dan berkumpul di kota ini pada puncak peringatan Arbain pada hari Kamis (14/8).

Di sepanjang rute jalan kaki, telah didirikan ribuan maukib atau semacam posko layanan yang dibuka oleh relawan dari berbagai negara, dan menyediakan berbagai layanan secara gratis, termasuk makanan, minuman, tempat istirahat dan perawatan medis, kepada jutaan peziarah.

Pawai Arbain adalah salah satu perkumpulan keagamaan tahunan terbesar di dunia, di mana para peziarah mengenai perjuangan dan pengorbanan Imam Husain as, yang merupakan ikon sepanjang masa dalam perlawanan terhadap penindasan, despotisme dan ketidakadila.

Imam Hussein as dan 72 sahabatnya gugur syahid dalam pertempuran tak seimbang melawan pasukan Yazid, penguasa dari Bani Umayyah yang lalim di Karbala di Irak selatan pada tahun 680 M.

Di jalur pawai peziarah antara Najaf dan Karbala juga membahana suara solidaritas dengan Palestina dari Maukib Nida’ Al-Aqsa (Panggilan al-Aqsa), yang mempertemukan para agamawan dan tokoh tertemuka dari berbagai negara Arab dan Islam serta asing dalam sebuah panorama yang memanifestasikan kesatuan sikap Islam dan kekuatan risalah al-Husain.

Para pemuka agama dan pemikir dari Palestina hadir di sini demi menjadikan maukib ini sebagai platform global  untuk menegaskan kesatuan isu umat Islam dan merajut kebangkitan abadi Imam Husain as dengan perlawanan  terhadap kezaliman, agresi dan okupasi di mana pun dan kapanpun.

Syeikh Abd Salim, anggota Himpunan Ulama Muslimin Palestina mengatakan, “Dalam panggilan al-Aqsa di jalur Karbala terjadi pertemuan antara keteraniyaan al-Husain dan keteraniayaan penduduk Gaza, demikian pula pertemuan kaum merdeka dunia di Karbala dengan kaum merdeka Gaza. Madrasah al-Husain bukan lagi satu-satunya di dunia, sebab telah muncul madrasah baru bernama “Madrasah Gaza”.

Abdul Malik Sakriya, Sekretaris Kampanye Global Pemulangan Pengungsi Palestina mengatakan,Maukib Nida’ al-Aqsa adalah Palestina di jalur longmarch agar jutaan peziarah Imam Husain as dapat menyaksikan  bendera-bendera Palestina dan mengetahui keadaan Palestina. Ikatan antara Karbala Imam Husain as dan Karbala modern di Palestina adalah faktor yang mendekatkan antarbangsa dan menyatukan umat.”

Maukib Palestina, yang memberikan layanan dan dukungan mental bagi para peziarah, berubah menjadi pusat pertukaran  visi  dan pengalaman antarbangsa dunia yang beraneka ragam namun satu tujuan dalam suatu panorama kemanusia dan spiritual  yang mengemas risalah ziarah Arbain untuk membela kaum tertindas dan melawan aksi bejat dan genosida yang dilakukan oleh kaum Zionis.

Syeikh Hossein Sharif, anggota Dewan Ulama Palestina, mengatakan, “Kami sebagai alim ulama Palestina dari dalam maupun luar Palestina  datang kemari untuk berada di sini, Karbala al-Husain as, demi menegaskan bahwa spiritualitas darah-darah suci (Palestina) ini sungguh telah mendapat pancaran dari darah al-Husain as, dan bahwa darah syuhada nan agung ini telah dipengaruhi oleh darah al-Husain as.” (alalam)

Pemimpin Ansarullah Yaman Sebut Pemerintah Lebanon Tunduk pada Israel

Pemimpin gerakan Ansar Allah, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, menyebut pernyataan Perdana Menteri Rezim Zionis Israel Benjamin Netanyahu mengenai proyek “Israel Raya” sebagai penghinaan dan serangan langsung terhadap bangsa-bangsa Arab.

Dia memperingatkan bahaya pelaksanaan proyek ini di hadapan “bangsa Arab yang terpecah belah dan tunduk,” dan bahwa beberapa negara bekerja sama secara ekonomi dengan rezim pendudukan, padahal yang lain memboikotnya.

Selain berbicara mengenai perkembangan situasi di Palestina, pemimpin Ansarullah juga menyorot perkembangan situasi politik dan militer di Lebanon di mana Hizbullah dan berbagai kelompok pejuang lainnya di negara ini mendapat tekanan agar meletakkan senjata dan menyerahkannya kepada pemerintah.

Dia menilai ketundukan beberapa pemerintah Arab kepada AS dan Israel mencerminkan kelemahan dan bahaya bagi rakyat mereka. Dia mengecam pengumuman pemerintah Lebanon tentang adopsi rencana AS, dan menyebutnya sebagai pengkhianatan dan pengabaian terhadap kedaulatan Lebanon.

Sayyid al-Houthi menekankan bahwa tujuan upaya AS melucuti senjata kubu perlawanan berbagai negara adalah untuk melayani rencana Zionis. Karena itu, dia memperingatkan agar tidak terjerumus ke dalam skema ini.

Dia juga menyebutkan bahwa serangan Israel terhadap Suriah terus berlanjut meskipun kelompok-kelompok pengendali berkomitmen untuk menyudahi seluruh kehadiran militer di Suriah selatan. Dia menjelaskan bahwa musuh sedang melakukan patroli militer, memasang blokade jalan, serta melakukan penggeledahan dan penggerebekan terhadap penduduk dan rumah mereka.

Sayyid al-Houthi mengumumkan bahwa Angkatan Bersenjata Yaman telah melancarkan beberapa operasi militer minggu ini ke berbagai lokasi Israel di Jaffa, Haifa, Ashkelon, Beersheba, dan Umm al-Rashrash, selain menyerang  sebuah kapal di ujung utara Laut Merah karena itu kapal itu dinilai melanggar embargo yang diterapkan Yaman terhadap Israel.

Dia menegaskan bahwa operasi dukungan militer Yaman kepada Palestina, termasuk di jalur maritim terus berlanjut, karena dipastikan efektif dalam menanggapi agresi Israel dan mendukung perjuangan Palestina. (raialyoum)

Dunia Arab Ramai-Ramai Kecam Pernyataan Netanyahu tentang “Israel Raya”

Berbagai negara Arab mengecam pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengenai apa yang disebut visi “Israel Raya”.

Dalam pernyataan yang dirilis pada hari Kamis (14/8), Kementerian Luar Negeri Irak menyebut pernyataan itu “provokasi terang-terangan terhadap kedaulatan, pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).”

Pernyataan Netanyahu, menurut  kementerian itu, mengungkapkan “ambisi ekspansionis entitas ini dan menegaskan upayanya untuk mengganggu stabilitas” perdamaian dan keamanan di kawasan Asia Barat (Timur Tengah).

Irak menyerukan sikap yang jelas dan tegas dari umat Muslim, Arab, dan internasional untuk menghadapi “agenda ekspansionis” Israel.

Kementerian tersebut memperingatkan bahwa wacana politik Zionis yang didasarkan pada “ekspansionisme dan aneksasi memerlukan tindakan efektif untuk mengakhiri pelanggaran dan menghentikan kebijakan impunitas.”

Sebelumnya, kepada media Israel Netanyahu mengaku merasa memiliki keterikatan yang mendalam dengan “visi” “Israel Raya”, yang merujuk pada wilayah Palestina yang diduduki Israel serta sebagian Mesir, Yordania, Suriah, dan Lebanon. Dia juga menyebutnya “misi historis dan spiritual.”

Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyatakan pihaknya menolak “gagasan dan proyek permukiman dan ekspansionis” yang diadopsi oleh otoritas Israel.

“Kerajaan (Saudi) memperingatkan masyarakat internasional terhadap pendudukan Israel yang terus-menerus melakukan pelanggaran mencolok yang merusak fondasi legitimasi internasional, secara terang-terangan melanggar kedaulatan negara, dan mengancam keamanan serta perdamaian regional dan global,” ungkapnya.

Sekjen Dewan Kerja Sama Teluk Persia (GCC) Jasem Albudaiwi menilai pernyataan Netanyahu sebagai serangan terang-terangan terhadap kedaulatan dan persatuan negara-negara Arab.

Dia memperingatkan bahwa pernyataan itu merupakan ancaman langsung terhadap stabilitas regional dan global. Dia menegaskan kembali penolakan tegas GCC terhadap segala upaya yang merusak integritas teritorial negara-negara Arab.

Albudaiwi mendesak masyarakat internasional untuk mengambil sikap tegas terhadap provokasi dan melindungi kawasan dari langkah-langkah yang dapat memicu ketegangan dan membahayakan prospek perdamaian yang adil dan komprehensif.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Yordania, Sufian Qudah, memperingatkan bahwa “klaim dan ilusi” ini memicu “spiral kekerasan dan konflik” yang sedang berlangsung.

Qudah mendesak masyarakat internasional untuk segera mengambil tindakan guna “menghentikan semua tindakan dan pernyataan provokatif Israel yang mengancam stabilitas kawasan serta perdamaian dan keamanan internasional.”

Sekjen Liga Arab mengecam keras pernyataan Netanyahu dan segala upaya Israel untuk merebut sebagian wilayah negara-negara Arab yang berdaulat demi menciptakan apa yang disebut “Israel Raya”.

Dia memperingatkan bahwa pernyataan itu menimbulkan ancaman serius bagi keamanan nasional kolektif Arab dan merupakan tantangan nyata terhadap hukum internasional dan prinsip-prinsip legitimasi internasional.

Menurut Sekjen Liga Arab, pernyataan Netanyahu mengungkap niat ekspansionis dan agresif rezim yang “tak tertahankan”.

Dalam beberapa bulan terakhir, Israel melancarkan serangkaian perang besar-besaran di Gaza, Lebanon selatan, dan Suriah selatan. Israel juga mengancam akan menduduki sebagian wilayah Mesir, Yordania, dan beberapa negara Arab lainnya.

Namun, Israel menderita kekalahan telak setelah melancarkan agresi yang terang-terangan dan tanpa alasan terhadap Iran pada 13 Juni.

Pernyataan Netanyahu mengemuka di tengah agresi brutal Israel terhadap Gaza sejak 7 Oktober 2023, yang sejauh ini telah menewaskan hampir 61.722 warga Palestina dan melukai 154.525 lainnya. (presstv)