Rangkuman Berita Utama Jumat 14 Februari 2025

Jakarta, ICMES. Media Israel pada hari Kamis (13/2) menyorot rencana Israel melancarkan serangan militer untuk menghancurkan program nuklir Iran. Laporan itu mengacu pada laporan surat kabar AS Washington Post (WP) untuk menghindari sensor militer di Tel Aviv.

Pemimpin Ansarullah Yaman Sayid Abdul Malik al-Houthi dalam pidato televisi pada hari Kamis (13/2) memastikan pasukan negaranya akan segera melancarkan aksi militer jika AS dan Israel menyerang Jalur Gaza.

Berita selengkapnya:

Israel Dilaporkan akan Serang Situs Nuklir Iran, Pakar: Tragedi Besar Mengintai

Media Israel pada hari Kamis (13/2) menyorot rencana Israel melancarkan serangan militer untuk menghancurkan program nuklir Iran. Laporan itu mengacu pada laporan surat kabar AS Washington Post (WP) untuk menghindari sensor militer di Tel Aviv.

WP mengutip beberapa keterangan intelijen bahwa badan intelijen AS telah memperingatkan kemungkinan Israel akan melancarkan serangan terhadap program nuklir Iran pada pertengahan tahun ini.

Menurut WP , serangan demikian dinilai dapat mengganggu program nuklir Iran selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan, meningkatkan ketegangan di kawasan dan menimbulkan risiko konflik yang lebih luas, menurut beberapa laporan intelijen yang dikeluarkan pada akhir pemerintahan Joe Biden dan awal pemerintahan Donald Trump.

Disebutkan bahwa pemerintah Israel, Badan Intelijen Pusat (CIA), Badan Intelijen Pertahanan, dan Kantor Direktur Intelijen Nasional menolak berkomentar.

Juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih Brian Hughes mengatakan kepada WP bahwa Trump “tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir.”

WP menyebutkan bahwa laporan intelijen paling komprehensif dikeluarkan pada awal Januari dan disiapkan oleh Direktorat Intelijen Kepala Staf Gabungan dan Badan Intelijen Pertahanan, dan bahwa Israel kemungkinan akan mencoba melancarkan serangan terhadap fasilitas nuklir Fordo dan Natanz di Iran.

WP mengutip pernyataan sejumlah pejabat anonim AS, baik pejabat yang aktif maupun mantan pejabat yang mengetahui informasi intelijen tersebut, bahwa Israel menilai pembomannya terhadap Iran pada bulan Oktober menyebabkan memburuknya pertahanan udara Iran dan membuat negara itu rentan terhadap risiko serangan lainnya.

Surat kabar itu mengatakan bahwa laporan intelijen menggambarkan dua kemungkinan opsi untuk serangan itu, dan semuanya melibatkan AS yang akan menyediakan dukungan pengisian bahan bakar udara-ke-udara dan informasi intelijen.

Sementara itu, Saluran 12 televisi Israel mengutip keterangan sumber-sumber politik dan keamanan Israel yang disebut sangat terinformasi bahwa serangan militer Israel terhadap Iran akan sangat parah, dan bahwa para pembuat keputusan di Tel Aviv akan melaksanakannya meskipun ada risiko gedung-gedung tinggi di Israel hancur lebur.

Menteri Keamanan Israel mengatakan, “Angkatan Udara, yang dilengkapi dengan informasi intelijen yang akurat, akan memberikan pukulan telak bagi Iran, karena kawasan Timur Tengah telah teryakinkan bahwa siapa pun yang berani menyerang Israel akan membayar harga yang mahal.”

Mengomentari hal ini, sejarawan militer Israel, Profesor Avner Cohen, dalam sebuah artikel yang dimuat di surat kabar Israel Haaretz, mengatakan “Dalam skenario terbaik, Israel dapat menyerang ‘jalan buntu’ yang sensitif dari proyek nuklir Iran, namun bahkan dalam kasus ini, kita tidak boleh menipu diri sendiri. Kemungkinan besar, Israel dapat memperoleh waktu dengan satu serangan, dan menurut para ahli militer, serangan ini diperkirakan akan menunda proyek tersebut selama satu tahun, atau setengah tahun, tidak lebih.”

Cohen menyoal,”Harga yang harus dibayar untuk perolehan waktu ini akan tinggi; perang yang melelahkan antara Israel dan Iran, yang berlangsung selama berminggu-minggu, dan mungkin berbulan-bulan. Apakah Israel menginginkan, atau mampukah ia terlibat dalam perang demikian?”

Dia menambahkan, “Banyak yang percaya bahwa Iran berada di jarak yang dekat dengan bom nuklir, karena belum menyelesaikan semua pekerjaan yang dibutuhkan untuk memproduksinya. Siapa pun yang melihat perkara ini dengan cara demikian tidaklah memahami dinamika industri nuklir di Iran.”

Cohen menjelaskan, “Keliru orang yang percaya bahwa Iran belum menyelesaikan produksi bom karena mereka belum menyelesaikan pekerjaan teknisnya, dan bahwa Iran masih ragu-ragu, baik karena alasan politik maupun agama, mengenai produksi bom dan transformasi menjadi negara nuklir dalam arti yang sesungguhnya. Kalau mau dan memutuskan menjadi negara nuklir, mereka pasti bisa mencapai tujuannya dalam waktu singkat, tapi lebih memilih menjadi negara yang sudah di ambang nuklir.”

Dia melanjutkan, “Menurut perkiraan saya, Iran sudah hampir mencapai ambang batas, tidak hanya dalam hal jumlah bahan fisil yang dibutuhkan untuk bom, melainkan juga hampir menyelesaikan semua pekerjaan perakitan senjata, dan menurut perkiraan saya, Iran saat ini sudah sangat dekat dengan bom, hanya dalam hitungan minggu, atau hanya beberapa hari saja.”

Cohen mengatakan, “Di sinilah muncul argumen kedua dan paling penting yang menentang serangan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran. Serangan demikian tidak akan banyak menghambat proyek nuklir Iran, juga tidak akan menghancurkan atau membongkarnya. Sebaliknya, itu bisa menjadi pesan terakhir sebelum Iran membuat keputusan politik untuk menjadi negara nuklir dalam segala arti kata. Di masa lalu, Iran mengumumkan bahwa jika Israel menyerang mereka, mereka akan meninggalkan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir dan menjadi negara nuklir. Saya sarankan agar Anda tidak menganggap enteng pernyataan ini.”

Di bagian akhir, dia menyebutkan, “Ironisnya, apa yang mendorong Israel untuk menyerang, yaitu keinginan untuk mencegah Iran menjadi negara nuklir, adalah apa yang justru akan memastikan bahwa Iran melewati ambang batas, melakukan percobaan, dan menjadi negara nuklir. Israel tentu akan menanggapi dengan langkah serupa, dan konflik antara Israel dan poros Iran akan berubah menjadi nuklir, dan skenario ini akan tragis.” (raialyoum)

Pemimpin Ansarullah: Militer Yaman Segera Beraksi Jika AS dan Israel Serang Gaza

Pemimpin Ansarullah Yaman Sayid Abdul Malik al-Houthi dalam pidato televisi pada hari Kamis (13/2) memastikan pasukan negaranya akan segera melancarkan aksi militer jika AS dan Israel menyerang Jalur Gaza.

Pernyataan dari Yaman itu terkait dengan ancaman Presiden AS Donald Trump bahwa pihaknya akan membatalkan gencatan senjata Gaza dan membiarkan semua kekacauan terjadi jika Hamas tidak membebaskan semua sandera Israel paling lambat Sabtu siang.

Sayid al-Houthi menilai Washington memotivasi Tel Aviv untuk menunda-nunda dan melanggar kewajibannya berdasarkan perjanjian gencatan senjata di Jalur Gaza, terutama kewajiban kemanusiaan, termasuk pendatangan tenda dan karavan untuk menampung warga Palestina.

Dia mengancam bahwa Yaman akan melakukan intervensi dengan serangan rudal, pesawat nirawak, operasi maritim, dan cara lain jika AS dan Israel bergerak untuk melaksanakan rencana pengusiran paksa warga Palestina.

“Amerika mendorong Israel untuk melanggar kewajibannya dan tidak sepenuhnya memenuhinya, meskipun kewajiban tersebut terkait dengan aspek kemanusiaan… Pendatangan tenda dan karavan ke Gaza merupakan isu penting karena sebagian besar rumah dan tempat tinggal di Jalur Gaza hancur total,” ungkapnya.

Menurutnya, jumlah bantuan tenda yang sudah masuk terbatas dan hanya memenuhi sekira 8 persen dari total kebutuhan warga Palestina di Gaza.

Sayid al-Houthi menegaskan, “Ada komitmen dan loyalitas dari Hamas dan sayap militernya, Brigade Al-Qassam, dan faksi-faksi perlawanan lainnya mengenai persyaratan tahap pertama perjanjian Gaza, sementara musuh, Israel, belum memenuhi semua persyaratan.”

Dia  juga menyinggung masalah pemindahan korban luka Palestina yang berkenan meninggalkan Gaza untuk menjalani perawatan melalui perbatasan Rafah dengan Mesir.

 “Israel juga membandel dalam hal ini,” ujarnya.

Mengenai rencana pengusiran warga Palestina dari Gaza, Al-Houthi menegaskan, “Kami akan melakukan intervensi dengan serangan rudal, pesawat nirawak, operasi angkatan laut, dan cara lain jika Amerika t dan Israel bergerak untuk melaksanakan rencana ini dengan paksa.”

Dia juga menegaskan, “Dalam hal ini, kami akan bergerak untuk melaksanakan tanggung jawab jihad kami melawan musuh, Amerika dan Israel, serta mendukung bangsa Palestina, sebagaimana yang kami lakukan dalam menghadapi kejahatan abad ini (perang genosida Israel yang berlangsung sekitar 16 bulan terhadap warga Palestina di Jalur Gaza).” (raialyoum)