Jakarta, ICMES. Ketua parlemen Iran M. Bagher Ghalibafdalam sebuah wawancara televisi menyinggung berbagai aspek perang yang dipaksakan Rezim Zionis Israel terhadap Iran serta menceritakan peran Panglima Tertinggi Ayatullah Khamenei dan kekompakan 90 juta rakyat Iran dalam membela negara.

Seorang pengamat dari Amerika Serikat telah menyusun daftar nama basis militer yang terkena serangan Iran, dan daftar ini dia cantumkan dalam sebuah artikel yang menilai Iran sebagai pemenang perang atas Israel dalam pertempuran 12 hari, yang berakhir dengan gencatan senjata pada 24 Juni 2025.
Berita selengkapnya:
Ghalibaf: Ayatullah Khamenei Kendalikan Komando Perang True Promise III Secara Langsung
Ketua parlemen Iran M. Bagher Ghalibafdalam sebuah wawancara televisi pada hari Kamis (10/7) menyinggung berbagai aspek perang yang dipaksakan Rezim Zionis Israel terhadap Iran serta menceritakan peran Panglima Tertinggi Ayatullah Khamenei dan kekompakan 90 juta rakyat Iran dalam membela negara.
Dalam wawancara ini dia juga menyebutkan keberhasilan rudal Iran menguasai udara dan darat tanah pendudukan Palestina serta kesuksesan 90% rudal menghantam target pada paruh kedua perang.
“Pusat riset keamanan Rezim Zionis mengumumkan bahwa 3.520 orang Israel terluka, dan angka ini (dalam permodelan saintifik) menunjukkan korban tewas mencapai lebih dari 500 orang Zionis,” ungkapnya.
Dia juga memastikan bahwa dalam peristiwa perang tersebut berbagai rancangan operasional Iran selalu diupdate, dan perang ini menjadi suatu pengujian faktual untuk mengevaluasi secara rinci rudal-rudal Iran, dan bahwa dalam operasi ini selain basis-basis militer Israel hancur, sistem-sistem pertahanan udara Rezim Zionis juga mengalami disfungsi.
Mengenai peran Ayatullah Khamenei dia mengatakan, “Panglima Tertinggi, Sang Pemimpin Besar, adalah sosok paling istimewa yang dengan menempatkan pasukan bersenjata dalam skala prioritas tertinggi berhasil membebaskan mereka dari kondisi dilematis. Yakni, dengan secara langsung mengangkat sejumlah orang (sebagai pengganti para komandan yang gugur), semua orang ini tepat pada 3-4 jam pertama sudah ternobatkan.”
Ghalibaf menambahkan, “Jangan kira bahwa pengangkatan ini merupakan instruksi yang dibacakan hanya melalui radio, yang sekedar sebagai informasi bagi masyarakat. Panglima Tertinggi, persis seperti pada tahun 1980 di mana beliau berada di pusat komando pada era Pertahanan Suci di Ahwaz, kali inipun kami kembali melihatnya mengendalikan komando, memberi instruksi dan memberikan pengarahan kepada mereka secara tatap muka dan di lapangan.”
Ketua parlemen Iran juga mengatakan, “Meski kita terkena pukulan di sektor radar (selaku organ mata) dan sejumlah komandan senior pun selaku organ otak perencanaan pun gugur, ternyata di lapangan muncul para komandan baru yang berkompeten dari generasi, edukasi dan rekam jejak yang sama, dan saya pun mengenal mereka. Selanjutnya, dalam tempo 17-18 jam kemudian, yakni pada Jumat malam, sebanyak hampir 150 rudal dan 350 drone dilesatkan ke arah musuh. Inilah kekuatan militer dan pergerakan kita, yang berhasil kita lakukan.” (irib)
Ini Dia, Daftar Target Vital di Israel yang Terkena Serangan Iran, Menurut Pengamat AS
Seorang pengamat dari Amerika Serikat (AS) telah menyusun daftar nama basis militer yang terkena serangan Iran, dan daftar ini dia cantumkan dalam sebuah artikel yang menilai Iran sebagai pemenang perang atas Israel dalam pertempuran 12 hari, yang berakhir dengan gencatan senjata pada 24 Juni 2025.
Mike Whitney, seorang analis politik yang berbasis di Washington, membahas alasan yang tidak diungkapkan di balik kemenangan Iran tersebut.
Whitney dalam analisisnya di Global Reseach Publication miliknya menuliskan: “Mengapa Israel tiba-tiba menyetujui gencatan senjata dengan Iran? Ini adalah pertanyaan yang tidak dijawab oleh media Barat, dan masyarakat Amerika tetap tidak tahu apa-apa. Saya mungkin pernah mendengar bahwa pertahanan udara Israel berada di ambang kehancuran, yang membuat mereka rentan terhadap serangan Iran, tapi ini bukan sisi cerita saya. Kenyataannya ialah Israel sendirian di bawah rentetan rudal Iran yang terus-menerus, dan mereka tidak punya pilihan selain menghentikan penghancuran.”
Dia menambahkan: “Setidaknya dua minggu setelah dimulainya konflik, Israel menyerah. Iran menghancurkan target-target utama Israel satu per satu dengan presisi dan kekuatan, tanpa menunjukkan niat untuk mundur. Karena itu, Israel tidak punya pilihan selain mengakui kekalahan.”
Whitney memastikan berita ini tidak dapat ditemukan di media Barat, dan bahwa Barat jelas tidak membicarakan kehancuran yang disebabkan oleh rudal balistik Iran. Berita-berita demikian telah dihapus sepenuhnya dari reportasi. Faktor inilah yang membuat Israel mendesak Presiden AS Donald Trump agar mencarikan solusi diplomatik atas dilema ini, karena kerugian terus membengkak, dan Iran tidak menyerah.
Dia menyebutkan: “Mungkin aneh bagi Anda, tapi di Israel dilarang mempublikasikan foto atau video bangunan dan struktur yang menjadi sasaran rudal Iran. Saya akan dipenjara jika berani mempublikasikan foto monumen yang terbakar atau pangkalan militer yang hancur. Ini adalah tipu muslihat pemerintah Israel untuk mengendalikan narasi perang. Mereka ingin publik percaya bahwa mereka menang dalam perang di mana mereka sebenarnya kalah. Tetapi mari kita dengarkan seorang reporter Israel yang mengungkap penyensoran ini.”
Reporter yang dimaksud adalah Rafif Drucker, koresponden Saluran 13 Israel, yang mengatakan; “Harus kita akui bahwa laporan kita tentang serangan rudal di negara kita tampaknya bercorak keiranan. Saya tidak mengacu pada Institut Intelijen; banyak rudal menghantam pangkalan militer dan titik-titik strategis kita, namun kita tidak mengatakan sepatah kata pun tentang hal itu. Alasannya jelas, dan semua orang di dalam negeri memahami alasannya. Tempat yang berbeda. Kita tidak tahu kecuali tentang lembaga itu dan waktunya, sementara ada banyak tempat lain yang tidak kita ketahui.”
Whitney menjelaskan bahwa respon Iran menimbulkan kehebohan besar dengan meluncurkan setidaknya 22 gelombang rudal balistik canggih, banyak di antaranya baru pertama kali terungkap.
“Serangan rudal ini menghantam apa yang dianggap oleh orang Israel sebagai pangkalan militer paling aman di dunia, namun ternyata hancur seperti kertas oleh rudal-rudal Iran. Salah seorang pakar senjata bahkan mengatakan bahwa rudal-rudal itu yang tercegat hanyalah 5 persen!” ungkapnya.
Whitney kemudian menyebutkan daftar lokasi vital menjadi target serangan Iran sebagai berikut;
– Komplek Kirya, yang dikenal sebagai “Pentagon Israel”
– Institut Sains Weizmann, yang terlibat dalam program nuklir rahasia Israel.
– Markas Besar Intelijen Aman, yang mengawasi unit-unit elit spionase.
– Kantor-kantor Kementerian Dalam Negeri, yang bertanggung jawab atas koordinasi militer.
– Markas Besar operasi Mossad.
– Pangkalan Udara Navatim dan Tel Nof
– Bandara Ben Gurion, Ramat David, Palmachim, dan ODA.
– Pusat komando IDF dan Mossad di Tel Aviv dan Haifa.
– Kilang Bazan di Haifa, pusat pasokan bahan bakar Israel
– Pembangkit listrik Ashdod, yang meledak dan menyebabkan pemadaman listrik.
– Komplek Rafael, produsen peralatan militer.
– Kawasan Industri Kiryat Gat, pusat industri berteknologi tinggi.
– Komplek Teknologi Gav Yam Negev, yang aktif di bidang perang siber dan kecerdasan buatan.
(mm/alalam)







