Rangkuman Berita Utama Jumat 10 Oktober 2025

Jakarta, ICMES. Gerakan Perlawanan Islam Palestina, Hamas, telah mengumumkan kesepakatan diakhirinya perang Israel terhadap Gaza, penarikan pasukan pendudukan, masuknya bantuan, dan pertukaran tawanan, namun juga memperingatkan upaya-upaya potensial seperti biasa dilakukan rezim pendudukan Israel untuk merancukan kesepakatan dengan cara mempermainkan tanggal, daftar, dan prosedur pelaksanaan.

Pemimpin Hamas, Khalil al-Hayya, mengumumkan dimulainya gencatan senjata permanen di Gaza, sembari menekankan bahwa para mediator, termasuk pemerintah AS, memastikan perang telah berakhir secara definitif.

Kementerian Luar Negeri Iran memperingatkan masyarakat internasional untuk tetap waspada terhadap “tipu daya dan pelanggaran komitmen” Israel, menyusul pengumuman perjanjian gencatan senjata di Gaza.

Berita selengkapnya:

Gencatan Senjata, Penarikan Pasukan Israel dan Kewaspadaan Gaza

Gerakan Perlawanan Islam Palestina, Hamas, telah mengumumkan kesepakatan diakhirinya perang Israel terhadap Gaza, penarikan pasukan pendudukan, masuknya bantuan, dan pertukaran tawanan, namun juga memperingatkan upaya-upaya potensial seperti biasa dilakukan rezim pendudukan Israel untuk merancukan kesepakatan dengan cara mempermainkan tanggal, daftar, dan prosedur pelaksanaan.

Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, pada hari Kamis (9/10), menegaskan bahwa kesepakatan tersebut dicapai di bawah sponsor dan jaminan internasional yang jelas. Dia juga menyebutkan peran mediator dalam mewajibkan pendudukan untuk memenuhi semua yang disepakati dan mencegahnya membuang-buang waktu atau mengocok kartu.

Hamas menjelaskan bahwa fase pertama kesepakatan tersebut mencakup pertukaran tawanan, yang hidup maupun yang telah meninggal,  dalam waktu 72 jam setelah deklarasi gencatan senjata, sesuai kondisi lapangan.

Di pihak lain, Israel mengumumkan bahwa semua pihak terkait dalam pertemuan mereka di Sharm el-Sheikh, Mesir, telah menandatangani draf akhir perjanjian dan tahap pertama rencana Trump untuk mengakhiri perang di Jalur Gaza.

Juru bicara pemerintah Israel, Shosh Bedrosian, menjelaskan bahwa pasukan pendudukan Israel akan dikerahkan kembali di sepanjang Garis Kuning, yang berarti mereka akan menguasai sekitar 53 persen wilayah Gaza. Dia menyatakan bahwa pada tahap ini, Marwan Barghouti akan menjadi bagian dari proses pembebasan.

Menurut media Israel, jika semuanya berjalan sesuai rencana, pembebasan tawanan Israel dari Jalur Gaza akan dimulai pada hari Senin (13/10). Sebelum itu, dalam 24 jam ke depan, Israel akan melakukan penarikan pasukan besar-besaran, termasuk ratusan tentara dan kendaraan dari Khan Yunis, Kota Gaza, dan sebagian besar wilayah poros Morag dan Magen Oz. Namun, menurut media Israel, pasukan pendudukan akan tetap menguasai poros Salah al-Din-Philadelphi, Rafah, dan Beit Hanoun.

Fase pertama perjanjian ini mencakup pembebasan 20 tawanan Israel yang masih hidup dengan imbalan sekitar 2.000 tahanan Palestina, termasuk 250 tahanan yang menjalani hukuman seumur hidup. Hal ini akan diikuti oleh fase-fase berikutnya, termasuk penarikan bertahap tentara pendudukan Israel dari wilayah-wilayah tertentu di Jalur Gaza dan jaminan internasional untuk gencatan senjata permanen. (alalam)

Pemimpin Hamas: AS dan Para Mediator Jamin Diakhirinya Perang di Gaza

Pemimpin Hamas, Khalil al-Hayya, mengumumkan dimulainya gencatan senjata permanen di Gaza, sembari menekankan bahwa para mediator, termasuk pemerintah AS, memastikan perang telah berakhir secara definitif.

Dalam pidato yang disiarkan televisi pada Kamis malam (9/10) yang merinci perjanjian gencatan senjata, al-Hayya menyampaikan rasa terima kasih kepada rakyat Gaza atas ketabahan mereka dalam menghadapi perang genosida Israel.

“Kami telah menerima jaminan dari saudara-saudara kami, para mediator, dan pemerintah AS, yang semuanya menegaskan bahwa perang telah berakhir sepenuhnya,” ujar al-Hayya.

Dia mengatakan bahwa rakyat Gaza terlibat dalam perang yang tiada taranya dalam skala global.

Al-Hayya menambahkan bahwa rakyat Gaza telah menghadapi penindasan dan kekejaman rezim Israel, dan memukau dunia dengan keberanian dan ketangguhan mereka.

“Warga Gaza bertempur dalam perang yang belum pernah terjadi sebelumnya di dunia dan menghadapi tirani, aksi militer, dan pembantaian musuh,” ujarnya, sembari mendesak pengadaan koordinasi berkelanjutan dengan faksi-faksi nasional dan Islam untuk memastikan keberhasilan pelaksanaan langkah-langkah yang tersisa dalam perjanjian.

Pemimpin Hamas itu juga menyampaikan apresiasinya kepada sekutu di Iran, Yaman, Lebanon, dan Irak atas dukungan mereka kepada Gaza.

Dia memberikan penghormatan kepada para pemimpin yang gugur; Yahya Sinwar, Mohammed Deif, Saleh al-Arouri, dan Ismail Haniyeh, dan menyebut mereka sebagai syuhada bangsa Palestina.

Perjanjian tersebut mencanangkan serangkaian tindakan segera; Penarikan pasukan Israel dari Gaza, pembukaan kembali penyeberangan Rafah, dan pengiriman bantuan kemanusiaan ke wilayah tersebut.

Aspek penting dari gencatan senjata ini adalah pertukaran tawanan, yang melibatkan pembebasan 250 warga Palestina yang menjalani hukuman seumur hidup dan 1.700 lainnya yang ditahan setelah dimulainya perang pada 7 Oktober 2023.

Pengumuman Al-Hayya ini menyusul rencana gencatan senjata 20 poin yang diusulkan oleh Presiden AS Donald Trump, yang mencakup pembebasan semua tawanan Israel dengan imbalan tawanan Palestina dan pembentukan badan pemerintahan baru di Gaza yang mengecualikan Hamas.

Rencana ini juga mencanangkan pasukan keamanan yang terdiri dari warga Palestina dan pasukan dari negara-negara Arab dan Islam, yang menekankan perlunya rekonstruksi dan stabilitas di Jalur Gaza.

“Kami menangani rencana presiden AS dengan tanggung jawab yang tinggi, dan memberikan respon yang melayani rakyat kami dan mencegah pertumpahan darah lebih lanjut,” ujar al-Hayya.

Hamas menuntut pembebasan pemimpin Fatah yang telah lama dipenjara, Marwan Barghouti, dan tahanan penting lainnya, termasuk Sekjen Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina (PFLP), Ahmad Saadat, dan kepala insinyur sekaligus pemimpin Brigade Qassam, Abdullah Barghouti.

Pemimpin senior Hamas, Abbas al-Sayed, juga ada dalam daftar. Selain itu, Hamas juga menuntut pengembalian jenazah pemimpin Hamas yang dibunuh, Yahya Sinwar, dan adiknya, Mohammad.

Sementara itu, pasukan Israel akan memulai penarikan bertahap dari Jalur Gaza. Namun, masih belum jelas apa garis penarikan yang akan ditetapkan selama fase awal. (presstv)

Iran Waspadai Potensi Tipu Daya dan Pelanggaran Israel terhadap Gencatan Senjata

Kementerian Luar Negeri Iran memperingatkan masyarakat internasional untuk tetap waspada terhadap “tipu daya dan pelanggaran komitmen” Israel, menyusul pengumuman perjanjian gencatan senjata di Gaza.

Dalam pernyataan yang dirilis pada hari Kamis (9/10), kementerian tersebut menegaskan kembali dukungan Iran kepada segala inisiatif yang bertujuan untuk mengakhiri perang genosida di Gaza, memastikan penarikan pasukan pendudukan, memfasilitasi masuknya bantuan kemanusiaan, membebaskan tawanan Palestina, dan memulihkan hak-hak dasar rakyat Palestina.

Kementerian Luar Negeri Iran menyinggung upaya diplomatik Iran selama dua tahun terakhir melalui jalur regional, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menekan Israel dan para pendukungnya agar menghentikan genosida dan menarik pasukan pendudukan dari Gaza.

Kementerian itu menekankan tanggung jawab masyarakat internasional untuk mencegah rezim pendudukan melanggar komitmennya dan menyerukan semua pihak untuk tetap waspada dan berhati-hati terhadap tipu daya dan itikad buruk rezim Zionis.

“Mengakhiri kejahatan dan genosida di Gaza tidak membebaskan negara dan badan-badan internasional yang kompeten dari tanggung jawab hukum, kemanusiaan, dan etika bersama mereka untuk menegakkan keadilan dengan mengidentifikasi dan mengadili para komandan dan pelaku kejahatan perang, genosida, dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Jalur Gaza, dengan tujuan mengakhiri impunitas rezim Zionis selama puluhan tahun,” ungkap Kementerian Luar Negeri Iran.

Sementara itu, Ali Akbar Velayati, penasihat Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, berkomentar bahwa perkembangan tersebut dapat menandakan implikasi regional yang lebih luas.

“Awal gencatan senjata di Gaza mungkin berada di balik layar berakhirnya gencatan senjata di tempat lain,” tulisnya di X sembari menggunakan tagar #Irak, #Yaman, dan #Lebanon. (presstv)