Rangkuman Berita Utama Jumat 10 Januari 2025

Jakarta, ICMES. Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan negara ini memiliki rencana-rencana tertentu untuk menghadapi jet tempur mutakhir musuh jenis F-22 dan F-35.

Pemimpin gerakan Ansarullah Yaman, Sayid Abdul Malik Badruddin al-Houthi, memuji serangan militer Yaman terhadap Israel, dan memastikan Israel tidak mampu mencegat dan menembak jatuh rudal hipersonik Yaman.

Berita selengkapnya:

IRGC: Kami Siap Meladeni Serangan Jet Tempur F-22 dan F-35

Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan negara ini memiliki rencana-rencana tertentu untuk menghadapi jet tempur mutakhir musuh jenis F-22 dan F-35.

Dalam sebuah pernyataan kepada televisi Iran pada Kamis malam, Komandan Pertahanan udara Angkatan Udara IRGC, Brigjen Sheikhian, mengatakan, “Setelah sistem 9 Dey sukses kinerjanya dalam manuver gabungan badan-badan pertahanan udara Iran, sejumlah besar sistem ini akan dipasang pada pasukan pertahanan udara negara ini.”

Dia menjelaskan bahwa keberhasilan kinerja sistem ini bersama beberapa sistem lain seperti Dezful dan Som-e Khordad dalam manuver gabungan tersebut menunjukkan kedustaan klaim Israel telah menghancurkan pertahanan udara Iran.

“Kami memiliki rencana-rencana untuk melawan jet-jet tempur siluman musuh F-22 dan F-35, dan kami akan segera melihat penambahan sistem rudal antibalistik pada pertahanan udara negara ini,” tegasnya.

Sementara itu, Angkatan Darat IRGC baru selesai menggelar tahap akhir latihan perang bersandi Payambar-e-A’azam (Nabi Besar) ke-19 di Iran bagian barat.

Skenario operasi tanggap cepat dilakukan pada hari Kamis, dengan pemindahan pasukan dan peralatan secara cepat ke area latihan.

Unit-unit yang berpartisipasi, dilengkapi dengan semua perlengkapan yang diperlukan dan didampingi oleh helikopter Divisi Lintas Udara Angkatan Darat IRGC, dengan cepat dimobilisasi dan dikerahkan ke area latihan dalam waktu sesingkat mungkin.

Latihan helikopter dan Patroli Khusus Penyisipan/Ekstraksi (SPIE) oleh Pasukan Khusus Saberin dari Angkatan Darat IRGC juga dilakukan di area umum latihan perang tersebut.

Pasukan itu dikerahkan ke wilayah yang telah ditentukan sebelumnya untuk berlatih merebut dataran tinggi dan rute pasokan musuh guna memutus jalur dukungan.

Di bagian lain latihan, helikopter Cobra dari Divisi Lintas Udara Angkatan Darat IRGC berlatih menghancurkan target-target yang telah ditentukan sebelumnya.

Helikopter tersebut menggunakan roket Hydra 70 mm dan artileri 20 mm untuk menghancurkan target yang telah ditentukan.

Panglima IRGC Mayjen Hossein Salami mengatakan bahwa angkatan bersenjata Iran lebih siap dari sebelumnya untuk mempertahankan integritas dan kemerdekaan teritorial negara tersebut.

Dia juga mengatakan bahwa kekuatan arogan yang dipelopori oleh Amerika Serikat, sekutu regionalnya, dan rezim Zionis tidak mendatangkan apa pun bagi umat Islam selain hasutan perang, perpecahan, kehancuran, dan keterbelakangan.

“Mimpi itu mengambang di benak, pikiran dan keinginan musuh-musuh kita. Untuk bertahan hidup dan hidup aman, mereka merasa harus membakar nasib, keamanan, dan rumah-rumah umat Islam. Dalam hal ini, mereka segan-segan mengambil tindakan apa pun, dan bahkan menyerang negara-negara yang tidak ada hubungannya dengan mereka,” tegasnya.

Mengenai serangan Israel di Suriah belakangan ini, Salami mengecam serangan yang menyasar pabrik-pabrik, industri-industri, infrastruktur, dan fasilitas-fasilitas pertahanan tersebut.

“Anda telah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa jika suatu negara dibiarkan tidak berdaya, para penjahat sejarah ini tidak akan memberi mereka penangguhan hukuman,” katanya.

Panglima IRGC menyatakan bahwa tidak ada logika, keadilan, atau kewajaran dalam ideologi kekuatan-kekuatan arogan.

“Jika mereka merasa bahwa suatu negara lemah, mereka akan menyerang dan menghancurkannya, mengubur rakyatnya di bawah reruntuhan, dan tidak menunjukkan belas kasih bahkan kepada bayi-bayinya,” pungkasnya. (alalam/presstv)

Pemimpin Ansarullah: Israel Tak Mampu Melacak dan Merontokkan Rudal Hipersonik Yaman

Pemimpin gerakan Ansarullah Yaman, Sayid Abdul Malik Badruddin al-Houthi, memuji serangan militer Yaman terhadap Israel, dan memastikan Israel tidak mampu mencegat dan menembak jatuh rudal hipersonik Yaman.

Dalam pidato yang disiarkan di televisi pada Kamis malam (9/1), dia menekankan bahwa kegagalan tersebut menunjukkan kesenjangan yang besar dan signifikan dalam kemampuan pertahanan rezim Tel Aviv.

Dia mengatakan pasukan Yaman telah berulang kali berhasil membidik posisi militer Israel jauh di dalam wilayah pendudukan, menggunakan rudal hipersonik dan pesawat nirawak (UAV/drone).

Operasi Yaman, yang dilakukan sebagai balasan atas kampanye genosida Israel terhadap warga Palestina di Gaza, menimbulkan kerugian ekonomi yang besar bagi Rezim Zionis, tambahnya.

“Operasi tersebut berdampak sangat besar, menimbulkan ketakutan, kecemasan, dan kepanikan pada musuh Zionis, yang gagal mencegat rudal Yaman. Industri penerbangan Israel sangat terdampak, karena penerbangan masuk dan keluar Bandara Ben Gurion dihentikan selama operasi kami,” ungkap Sayid Abdul Malik al-Houthi.

Dia mengecam pemerintahan Presiden AS Joe Biden, yang akan segera lengser, karena memberikan paket bantuan senilai $8 miliar kepada  Israel, yang mencakup amunisi untuk jet tempur dan helikopter serang di samping peluru artileri

“Entitas Zionis akan menggunakan amunisi itu untuk membunuh wanita dan anak-anak,” ujarnya.

Dia juga mengecam “semua pemerintah yang acuh tak acuh, pengecut, kikir dan hanya menonton kelaparan warga Palestina di Gaza.”  

“Minggu ini, tentara Israel mulai menjarah bantuan yang telah sampai di Gaza. Apa yang dilakukan Israel terhadap Rumah Sakit Kamal Adwan (di Gaza utara) adalah agresi terang-terangan, dan salah satu kejahatan paling mengerikan yang pernah dilakukan di Jalur Gaza,” tegasnya.

Pemimpin Ansarullah itu juga menyatakan bahwa masjid merupakan salah satu target utama serangan Israel.

“Musuh, Israel, terus melakukan kejahatan, serangan udara, pembunuhan, dan penghancuran di Tepi Barat dan al-Quds. Rezim Zionis terus berupaya membawa lebih banyak orang Yahudi ekstremis ke wilayah pendudukan untuk mengejar rencana ekspansif,” sambungnya.

Mengenai agresivitas Israel terhadap Lebanon, dia mengatakan, “Apa pun yang dilakukan Israel di Lebanon selatan dan  agresinya yang berulang-ulang semuanya berakhir dengan kegagalan. Israel  gagal mencapai tujuan yang diumumkannya, yaitu menumpas Hizbullah, karena gerakan perlawanan ini tetap eksis prima di kancah Lebanon.”

Mengenai serangan Israel terhadap infrastruktur dan pabrik penting di Suriah, Sayid al-Houthi mengatakan bahwa serangan itu cukup terkait dengan kepentingan rezim Tel Aviv, yang berkisar pada pendudukan dan penjarahan.

Dia juga mengecam AS dan Israel terkait dengan upaya mereka merekrut agen mata-mata dan mendirikan sel-sel sabotase yang bertujuan memicu pertikaian dan memecah belah rakyat Suriah. Karena itu, dia menyerukan kepada rakyat Suriah agar  bersatu dan melindungi tanah air mereka dari konspirasi AS dan Israel. (presstv)