Rangkuman Berita Timteng Senin 10 Desember 2018

pasukan hizbullahJakarta, ICMES: Wakil Sekjen Hizbullah Syeikh Naim Qassem mengingkatkan kepada Israel bahwa semua tempat di Israel  terjangkau oleh rudal-rudal Hizbullah.

Surat kabar Times of Israel, Ahad (9/12/2018), menilai dukungan Menteri Luar Negeri (Menlu) Bahrain Khalid bin Ahmed al-Khalifah kepada operasi militer Israel bersandi “Perisai Utara” untuk memberantas terowongan Hizbullah sebagai statemen yang mengejutkan.

Arab Saudi mengakui lima tentaranya tewas diserangan tentara dan para pejuang Ansarullah di beberapa front di kawasan perbatasan kedua negara.

Kelompok Ansarullah Yaman menyatakan pihaknya siap berpartisipasi dalam perundingan babak selanjutnya jika perundingan sekarang yang disponsori PBB di Rimbo, Swedia, mengalami kemajuan.

Berita selengkapnya:

Hizbullah Tegaskan Rudalnya Menjangkau Semua Wilayah Israel

Wakil Sekjen Hizbullah Syeikh Naim Qassem menegaskan bahwa semua tempat di Israel (Palestina pendudukan 1948) terjangkau oleh rudal-rudal Hizbullah.

Dalam wawancara dengan surat kabar al-Vefagh milik Iran yang dimuat di laman internetnya pada Sabtu malam lalu (8/12/2018), Qassem mengatakan, “Aturan pelibatan yang telah diciptakan oleh Hizbullah di Lebanon serta aturan penangkalan yang ia letakkan di hadapan Israel telah sangat menyulitkan doktrin perang dasar Israel terhadap Lebanon… Sekarang front internal Israel, bahkan Tel Aviv, terjangkau, dan semua titik lokasi di entitas Zionis ini terjangkau oleh rudal-rudal Hizbullah.”

Seperti diketahui, Israel, belakangan ini melancarkan operasi militer bersandi “Perisai Utara” dengan misi penghancuran terowongan bawah tanah kelompok pejuang Hizbullah di wilayah perbatasan utara Israel. Rezim Zionis penjajah Palestina ini mengklaim telah menemukan dua terowongan yang digali Hizbullah dari wilayah Lebanon hingga wilayah Israel.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam pidato televisi Selasa pekan lalu mengklaim bahwa terowongan itu digali oleh Hizbullah dengan dana dari Iran. (raialyoum)

Bahrain Dukung Operasi Pencarian Terowongan Hizbullah Oleh Israel

Surat kabar Times of Israel, Ahad (9/12/2018), menilai pernyataan Menteri Luar Negeri (Menlu) Bahrain Khalid bin Ahmed al-Khalifah di halaman Twitter-nya mengenai operasi militer Israel bersandi “Perisai Utara” untuk memberantas terowongan Hizbullah sebagai statemen yang mengejutkan.

Dalam cuitan itu Khalid menyatakan, “Negara jiran Lebanon berhak membasmi ancaman yang dihadapinya.” Negara jiran yang dia maksud tak lain adalah Israel.

Times of Israel mencatat Bahrain dalam daftar negara-negara yang menyokong operasi Perisai Utara, yaitu; Amerika Serikat (AS), Uni Eropa, Jerman, Austria, Kanada dan sejumlah negara lain.

Bahrain tidak menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Namun, menurut Times of Israel, rezim Bahrain menjalin hubungan erat secara rahasia dengan Israel, dan pada tahun 2016 Bahrain mencantumkan nama Hizbullah dalam daftar teroris.

Belum lama ini Menlu Bahrain dalam pernyataannya kepada surat kabar Asharq al-Awsat membantah adanya rencana kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Manama, ibu kota Bahrain.

“Kalau ini terjadi maka kami tak akan ragu untuk mengumumkannya,” ujar Khalid bin Ahmed al-Khalifah.

Dia kemudian menyebutkan bahwa tak ada kendala apapun bagi pemerintah Bahrain untuk kunjungan para pejabat Israel.

“Jika ada tujuan tertentu dan ada sesuatu hendak diwujudkan dan padanya terdapat dimensi yang besar dan strategis maka kami tidak memiliki kendala apapun dalam hal ini,” ujarnya.

Pernyataan ini dia lontarkan beberapa hari setelah sejumlah laman pemberitaan Israel melaporkan adanya data-data bahwa Israel melakukan normalisasi hubungan dengan Bahrain. (alalam)

Saudi Akui 5 Tentaranya Tewas Diserang Pasukan Yaman Di Perbatasan

Arab Saudi mengakui lima tentaranya tewas diserangan tentara dan para pejuang Ansarullah di beberapa front di kawasan perbatasan kedua negara.

Media Saudi mencatat lima tentara yang tewas itu adalah Ibrahim Zahir Ali al-Huquqi, Hasan Hadi al-Asiri. Ahmad Abdullah Matir al-Uqaili al-Atawi, Mohammad Awaz Ali Musa al-Shahri, dan Ali bin Hadi al-Asiri.

Sebelumnya, media Saudi menyatakan satu tentara Saudi tewas dan 77 lainnya terluka diserang pasukan Yaman pada November lalu.

Sementara itu, juru bicara resmi militer Yaman Brigjen Yahya Sarie bahwa pasukan koalisi pimpinan Saudi dan pasukan bayarannya sedang mengupayakan eskalasi yang sama sekali tidak relevan dengan perundingan damai yang berlangsung beberapa hari di Rimbo, Swedia.

Sarie juga mencatat bahwa pada Ahad kemarin Saudi telah melancarkan 15 serangan udara ke kawasan Nahom dan kawasan pesisir barat Yaman serta Sa’da, dan serangan ini terjadi bersamaan dengan serangan roket dan penguatan pasukan bayarannya di sejumlah front pertempuran.

Dia menambahkan bahwa tentara dan milisi Ansarullah melakukan perlawanan sengit atas serangan itu  hingga sebannyak puluhan personil bayaran Saudi dan sejumlah pasukan koalisi pimpinan Saudi ini tewas.  (alalam)

Perundingan Damai Yaman, Pelabuhan Hudaydah Jadi Masalah Terpelik

Kelompok Ansarullah Yaman menyatakan pihaknya siap berpartisipasi dalam perundingan babak selanjutnya jika perundingan sekarang yang disponsori PBB di Rimbo, Swedia, mengalami kemajuan, sementara sumber PBB menyatakan bahwa masalah terpelik dalam perundingan ini terkait dengan pelabuhan Hudaydah.

“Jika kami keluar dari perundingan ini dengan menghasilkan langkah-langkah maju untuk membangunan kepercayaan, maka kita dapat mengadakan perundingan babak selanjutnya,” ujar Mohammad Abdul Salam, anggota delegasi Ansarullah dalam perundingan damai di Swedia, Ahad (9/12/2018).

Dia kemudian menyerukan pembukaan kembali bandara internasional di Sanaa, ibu kota Yaman, agar delegasi Ansarullah dapat leluasa bepergian ke luar negeri.

Delegasi Ansarullah dan delegasi mantan presiden Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi hingga kini masih terlibat perundingan di Swedia demi mengupayakan penyelesaian atas perang Yaman yang telah menewaskan lebih 10 ribu orang dan menyebabkan 14 juta orang terancam kelaparan. Perundingan ini dimulai pada Kamis pekan lalu dan diperkirakan akan berlangsung sampai satu minggu.

Sementara itu, sumber PBB menyatakan bahwa status kota Hudaydah beserta pelabuhannya di Laut Merah merupakan persoalan yang paling pelik dalam perundingan damai di Swedia.

Kota ini dikuasai oleh Ansarullah, sementara pelabuhannya merupakan pintu masuk utama bagi 90% bantuan bahan makanan untuk para korban perang Yaman.

Ansarullah menguasai kota ini bersamaan dengan keberhasilannya menguasai berbagai wilayah negara ini pada tahun 2014, namun pasukan koalisi pimpinan Saudi memblokirnya dan mengontrol secara ketat bantuan kemanusiaan yang masuk ke Yaman melalui pelabuhan ini.

Pihak Mansour Hadi menuntut Ansarullah keluar secara total dari Hudaydah, namun Ansarullah bersikukuh untuk tetap bertahan di sana dan terus melawan pasukan loyalis Hadi yang dibantu pasukan koalisi. (raialyoum)