Rangkuman Berita Timteng Selasa 20 November 2018

pm israel netanyahuJakarta, ICMES: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan negaranya “berada di puncak pertempuran yang masih belum selesai.”

Raja Salman bin Abdulaziz dari Arab Saudi menyatakan negaranya mendukung penyelesaian melalui jalur politik bagi krisis Yaman dan Suriah, dan bahwa masalah Palestina tetap prioritas di mata Riyadh.

Kantor kepresidenan Irak membantah pihaknya memediasi antara Iran dan Arab Saudi.

Berita selengkapnya:

PM Israel Mengaku Berada Di Puncak Pertempuran

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan negaranya “berada di puncak pertempuran yang masih belum selesai.”

Dalam sidang Komisi Luar Negeri parlemen Israel, Knesset, Senin (19/11/2018), dia mengaku telah menjalankan fungsi menteri pertahanan dan menemui para petinggi militer.

“Kami siap menghadapi segala tantangan,” tegasnya tanpa menyebutkan dari mana tantangan itu datang di antara Gaza, Lebanon, Suriah, dan Iran.

Dia menambahkan, “Sebagaimana telah saya katakan kemarin, kita berada di puncak pertempuran yang masih belum selesai, dan dalam situasi yang keamanan yang krusial ini upaya menjatuhkan pemerintah merupakan tindakan yang tak bertanggungjawab.”

Dia mengaku percaya penuh kepada militer Israel, badan keamanan, dan warga Israel.

“Kita dapat bersama-sama menghadapi segala bentuk ancaman, dan kita akan menjamin keamanan Israel,” ujarnya.

Gencatan senjata antara Israel dan para pejuang Palestina di Gaza belakangan ini telah menimbulkan krisis pada pemerintahan Netanyahu. Avigdor Lieberman, ketua partai Yisrael Beiteinu, mengundurkan diri dari jabatannya sebagai menteri pertahanan sembari menyebut gencatan senjata itu tak ubahnya dengan “menyerah kepada teroris.”  Dia juga mengatakan semua anggota partainya akan keluar dari koalisi.

Pemimpin Partai Rumah Yahudi Naftali Bennet sempat mengancam akan mundur dari jabatan menteri pendidikan, tapi kemudian menarik ancaman itu sehingga mengecilkan kemungkinan pengadaan pemilu sebelum waktunya. (raialyoum)

SAA Basmi ISIS Di Suriah Selatan

 Pasukan Arab Suriah (SAA) menyatakan telah berhasil membasmi kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) ISIS dari benteng terakhir mereka di Suriah selatan setelah kawanan ekstremis itu sempat bertahan di sana selama berbulan-bulan.

Pasukan pemerintah Suriah Senin (19/11/2018) mengaku mereka telah mengendalikan secara penuh wilayah pegunungan Tulul al-Safa yang terletak di antara provinsi  Damaskus dan provinsi Suwayda.

SAA mengatakan sejumlah besar persenjataan ringan dan sedang telah ditemukan menyusul kemenangan atas kelompok teroris berfaham Wahhabi tersebut.

“Menyusul serangkaian operasi militer yang akurat dan terfokus, pasukan bersenjata kami yang gagah berani telah mengendalikan sepenuhnya wilayah Tulul al-Safa dengan kondisi alam vulkaniknya yang kompleks, melenyapkan para teroris DAESH (ISIS) yang ditempatkan di sana, dan menyita sejumlah besar senjata ringan dan menengah,” ungkap SAA.

SAA menyebut pembebasan ini sebagai pencapaian yang sangat penting mengingat bahwa area seluas 380 kilometer persegi di selatan negara itu telah dibersihkan dari terorisme.

Kantor berita resmi Suriah SANA menegaskan sehari sebelumnya bahwa satuan-satuan militer telah menghasilkan “kemajuan signifikan terhadap gudang-gudang amunisi teroris Daesh di Tulul al-Safa” dan menewaskan banyak ekstremis selama operasi kontra-terorisme.

Tentara Suriah memerangi ISIS di Suwayda sejak Juli lalu setelah teroris takfiri itu melancarkan serangan mematikan terhadap warga minoritas Druze di provinsi itu. (presstv)

Raja Saudi Mengaku Mendukung Solusi Politik Di Yaman Dan Suriah

Raja Salman bin Abdulaziz dari Arab Saudi menyatakan negaranya mendukung penyelesaian melalui jalur politik bagi krisis Yaman dan Suriah, dan bahwa masalah Palestina tetap prioritas di mata Riyadh.

Hal ini dinyatakan oleh Salman dalam pidato singkat peresmian masa kerja tiga tahun Majelis Permusyawaratan Saudi periode ke-7 di Riyadh, Senin (19/11/2018).

Mengenai kasus pembunuhan jurnalis Saudi Kamal Khashoggi di konsulat Saudi di Istanbul, Turki, pada bulan lalu, Salman menyebutkan adanya pengarahan baru kepada putranya yang juga merupakan Putra Mahkota Saudi, Mohamed bin Salman, dan selesainya negara ini dalam menjalankan rencana-rencana penyelamatan sistem dan penanganan berbagai kekeliruan sembari menghormati kewenangan badan pengadilan.

Dia menyebutkan bahwa Saudi akan terus berusaha mengatasi berbagai krisis regional dan tetap “memrioritaskan krisis Palestina sampai bangsa Palestina mendapatkan semua haknya yang sah.”

Mengenai perang Yaman dia mengklaim, “Keberpihakan kami kepada Yaman bukanlah pilihan, melainkan kewajiban yang menghasilkan kemenangan rakyat Yaman melawan agresi milisi kudeta yang didukung oleh Iran.”

Raja Salman kemudian menegaskan dukungan negaranya “kepada pencapaian solusi politik sesuai resolusi 2216 Dewan Keamanan, prakarsa Teluk, dan hasil dialog komprehensif nasional Yaman.”

Tentang Suriah dia menyerukan “solusi politik yang mengeluarkan Suriah dari krisisnya, menjauhkan organisasi-organisasi teroris, dan memperkenankan kepulangan para pengungsi Suriah.”

Mengenai kemelut hubungan Saudi dengan Iran, Salman mengatakan, “Masyarakat internasional hendaknya membatasi program nuklir Iran dan menghentikan aktivitasnya yang mengancam keamanan dan stabilitas.”

Dia melontarkan tuduhan yang sudah sering dilontarkan Riyadh dan juga berulangkali ditepis oleh Teheran.

“Iran mencampuri urusan negara-negara lain, mensponspori terorisme, dan membangkitkan kekacauan dan kerusakan di sejumlah negara kawasan,” tudingnya. (raialyoum)

Irak Bantah Lakukan Mediasi Antara Iran Dan Saudi

Kantor kepresidenan Irak membantah pihaknya memediasi antara Iran dan Arab Saudi.

Dalam statemen yang dirilis di laman internetnya, kepresidenan Irak mambantah kabar yang dilansir oleh media Teluk bahwa Iran menawarkan perundingan kepada Saudi, dan bahwa Presiden Irak Barham Salih telah mengusulkan perannya sebagai mediator dan membawakan surat Iran untuk Saudi.

Dia menyerukan “keharusan mendapatkan informasi secara cermat dari sumber-sumbernya yang terpercaya.”

Ahad lalu Raja Saudi Salman bin Abdulaziz menyambut kunjungan Presiden Irak Barham Salih, dan keduanya kemudian merundingkan upaya peningkatan kerjasama bilateral.

Salih bertolak ke Saudi dari Teheran, ibu kota Iran, pada akhir safarinya ke sejumlah negara regional, yaitu Yordania, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Iran.

Dalam kunjungan ke Saudi ini Salih juga telah mengadakan pembicaraan dengan Putra Mahkota Saudi Mohamed bin Salman mengenai perkembangan situasi regional serta mekanisme pengembangan hubungan bilateral.

Irak berusaha mendapat dukungan luar negeri untuk merehabilitasi banyak kerusakan yang diakibatkan oleh perang Irak melawan kelompok teroris ISIS selama tiga tahun (2014-2017). (raialyoum)