Rangkuman Berita Timteng Selasa 13 November 2018

serangan israel ke gazaJakarta, ICMES: Rusia menilai Rezim Zionis Israel bertanggungjawab atas eskalasi terbaru di Jalur Gaza setelah Israel melancarkan operasi militer di wilayah ini pada Ahad malam.

Iran mengaku sudah mencium adanya rencana Arab Saudi untuk membunuh pejabat senior Iran.

Ketika operasi penumpasan teroris di Suriah sudah mendekati babak final, kawanan teroris yang terkepung di provinsi Idlib menjalankan strategi pemasaran baru dengan mengubah bendera mereka.

Kelompok pejuang Hizbullah yang berbasis di Lebanon mengutuk serangan udara Israel terhadap stasiun TV Al-Aqsa milik kelompok pejuang Hamas.

Berita selengkapnya:

Rusia Sebut Israel Bertanggungjawab Atas Eskalasi Di Gaza

Rusia menilai Rezim Zionis Israel bertanggungjawab atas eskalasi terbaru di Jalur Gaza setelah Israel melancarkan operasi militer di wilayah ini pada Ahad malam (11/11/2018).

Kemlu Rusia dalam statemennya yang dirilis Senin (12/11/2018) menyebut operasi militer Israel di Gaza sebagai provokasi, dan Rusia “sangat prihatin” atas eskalasi ketegangan antara Jalur Gaza dan Israel serta menyerukan kepada kedua pihak agar segera menerapkan gencatan senjata.

“Kami menyerukan kepada Palestina dan Israel segera kembali kepada gencatan senjata permanen, menahan diri, dan menempuh langkah-langkah untuk menghindari akibat-akibat yang tak terprediksi,” imbau Kemlu Rusia.

“Sebagaimana dilaporkan media, pada tanggal 11 November sedikitnya 7 orang Palestina terbunuh serta satu perwira Israel dan satu lainnya terluka dalam kontak senjata antara orang Palestina dan orang Israel akibat serbuan pasukan khusus Israel ke wilayah Palestina, dan selanjutnya terjadi penembakan 17 misil ke Israel, dan hampir 40 sasaran di Gaza terkena serangan udara Israel,” lanjutnya.

Kemlu Rusia menambahkan bahwa pasukan Israel mengerahkan pasukan tambahan ke perbatasan Jalur Gaza, dan Moskow mengingatkan bahwa kondisi ini dapat menjurus pada konflik militer berskala luas dan runtuhnya kondisi kemanusiaan di Gaza.

Sementara itu, Presiden Palestina Mahmoud Abbas, Senin, menghubungi berbagai negara regional dan dunia dan meminta mereka turun tangan menghentikan agresi Israel yang berkelanjutan terhadap Jalur Gaza.

Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) mengutuk serangan Israel ke Jalur Gaza. Ketua Dewan Eksekutif PLO Saeb Erekat menyebut Israel “bertanggungjawab penuh atas kontinyuitas agresinya.”

Dalam siaran persnya dia meminta dukungan internasional kepada bangsa Palestina untuk mencegah “terulangnya genosida Israel.” (raialyoum)

Iran Mengaku Tahu Saudi Bersekongkol Untuk Membunuh Para Petinggi Iran

Iran mengaku sudah mencium adanya rencana Arab Saudi untuk membunuh pejabat senior Iran.

“Teheran memiliki informasi yang dapat dipercaya tentang hal ini,” kata Zarif dalam wawancara dengan Al-Araby al-Jadeed (berbasis di London), yang dipublikasikan secara penuh hari ini, Selasa (13/11/2018).

Pernyataan ini  merupakan tanggapan atas laporan The New York Times sehari sebelumnya, yang mengungkap adanya  pertemuan di Riyadh pada Maret 2017 yang membicarakan rencana pembunuhan Komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Mayjen Qassem Soleimani.

Seperti pernah diberitakan, The New York Times menyebutkan bahwa pertemuan yang berlangsung pada Maret 2017 itu melibatkan para pebisnis yang “memasang rencana senilai $ 2 miliar untuk menggunakan operasi intelijen swasta guna menyabotase ekonomi Iran.”

“Pejabat tinggi intelijen Saudi yang dekat dengan Putra Mahkota Mohamed bin Salman pada tahun lalu menanyakan kepada sekelompok kecil pengusaha ihwal penggunaaan perusahaan swasta untuk membunuh musuh-musuh Kerajaan (Saudi),” tulis NYT.

Pertemuan itu terjadi ketika bin Salman mengkonsolidasikan kekuasaannya di Kerajaan, dan laporan itu menyimpulkan bahwa rencana pembunuhan, seperti yang dilakukan terhadap jurnalis pembangkang Khashoggi, dimulai “sejak awal naiknya Pangeran Muhamed.”

Zarif kemudian mencontohkan kekejaman lain pemerintah Saudi, termasuk tindakannya mensponsori terorisme, menginvasi Yaman, memblokade Qatar, dan menculik Perdana Menteri Lebanon Saad Hariri.

“Seluruh dunia telah membuka mata terhadap apa yang dilakukan Riyadh seperti memblokade Qatar, membom Yaman, menahan perdana menteri Libanon dan pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi,” katanya. (presstv)

Oposisi Suriah Ganti Bintang Di Benderanya Dengan Lafadh Tauhid

Ketika operasi penumpasan teroris di Suriah sudah mendekati babak final, kawanan teroris yang terkepung di provinsi Idlib menjalankan strategi pemasaran baru dengan mengubah bendera mereka.

Apa yang disebut “Bendera Revolusi Suriah” memadukan tiga warna hijau, putih dan hitam dengan tiga bintang merah, dan diadopsi kembali pada tahun 2012, serta menjadi simbol pemersatu sejumlah besar gerakan teroris dan oposisi yang lebih kecil (kecuali ISIS) yang berperang melawan pemerintahan Presiden Bashar Al-Assad di seluruh perang Suriah.

Pada 2015, bendera itu semakin laku ketika oposisi Suriah berusaha menjauhkan diri dari ISIS dan para jihadis radikal lainnya.

“Bendera oposisi tetap menjadi titik pertentangan antara oposisi yang disebut” revolusioner “dan sayap Islamis garis keras selama bertahun-tahun,” kata penulis War on the Rocks, Sam Heller pada Oktober lalu.

Namun, Séamus Malekafzali, seorang penulis di International Review yang berfokus pada urusan Timur Tengah dan perang di Suriah, menyatakan bahwa apa yang disebut Konferensi Umum Suriah kini telah mengadopsi versi baru bendera tersebut, di mana bintang-bintangnya telah digantikan oleh lafadh “lailaha illa Allah, Muhammadur Rasulullah” berwarna merah.

“Konferensi Umum Suriah dari Pemerintah Penyelamat Suriah yang didukung oleh HTS telah sampai pada resolusi kompromi mengenai pengibaran bendera revolusi Suriah,” tulis Malekafzali di halaman Twitter-nya. HTS adalah kelompok Hay’at Tahrir al-Sham alias  Jabhat al-Nusra yang secara internasional diakui sebagai kelompok teroris.

Konferensi Umum Suriah adalah sebuah lembaga dalam struktur oposisi, dan mirip dengan majelis konstituante.

Oposisi di Idlib sangat terkait dengan Jabhat al-Nusra yang jelas-jelas merupakan kelompok teroris namun berusaha berkelit dari kehancuran dengan menyamar sebagai “oposisi moderat”. (almasdarnews)

Hizbullah Kutuk Serangan Israel ke Stasiun TV Milik Hamas di Gaza

Kelompok pejuang Hizbullah yang berbasis di Lebanon mengutuk serangan udara Israel terhadap stasiun TV Al-Aqsa milik kelompok pejuang Hamas.

Hubungan Media Hizbullah menyebut serangan yang telah menghancurkan stasiun itu secara total sebagai terorisme dan barbarisme yang mencerminkan kebrutalan Israel.

Hizbullah memastikan Israel sejak dulu memang mengincar media Poros Resistensi, sebagaimana juga pernah terjadi pada TV Al-Aqsa sebelumnya maupun pada saluran Al-Manar milik Hizbullah dalam peristiwa agresi Israel pada Juli 2006.

Hizbullah menekankan pentingnya media Poros Resistensi dalam menghadapi musuh, memuji peran besar institusi media yang beroperasi di tanah Palestina, dan menyerukan kampanye solidaritas untuk media Palestina sebesar mungkin.

Hizbullah juga menyerukan kepada semua pihak yang kompeten agar mengutuk “agresi mencolok ini” dan membela orang-orang Palestina yang tertindas.

Hubungan Media Hizbullah memastikan bahwa media Poros Resistensi akan terus memainkan misinya dan tidak akan terbungkam oleh rudal dan pesawat musuh. (alalam)