Rangkuman Berita Timteng Sabtu 15 Desember 2018

kekerasan israel di ramallahJakarta, ICMES: Situasi terus membara di Tepi Barat. Satu remaja Palestina gugur syahid di tangan pasukan Zionis Israel dalam aksi unjuk rasa warga Palestina anti-Israel di kamp pengungsi al-Jalazun, Ramallah, Tepi Barat.

Gerakan Ansarullah (Houthi) di Yaman menegaskan bahwa gencatan senjata yang telah disepakati oleh pihak-pihak yang berperang merupakan kemenangan bagi bangsa negara ini karena akan menghentikan serangan Saudi di kota strategis Hudaydah.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan kembali mengangkat kasus pembunuhan wartawan Saudi Jamal Khashoggi dengan menyatakan bahwa dalam rekaman audio peristiwa yang menggemparkan ini salah satu pelaku terdengar mengatakan, “Saya tahu cara memotong.”

Berita selengkapnya:

Satu Remaja Palestina Gugur Diserang Pasukan Israel Dalam Unjuk Rasa Di Ramallah

Situasi terus membara di Tepi Barat.  Satu remaja Palestina gugur syahid di tangan pasukan Zionis Israel dalam aksi unjuk rasa warga Palestina anti-Israel di kamp pengungsi al-Jalazun, Ramallah, Tepi Barat,  Jumat (14/12/2018).

Kementerian Kesehatan Palestina menyatakan bahwa korban adalah Mahmoud Nakhleh, 18 tahun, yang diterjang peluru tajam di bagian di perut.

Kantor berita Palestina, Maan, melaporkan bahwa tentara Israel menembak Nakhleh dari jarak kurang dari 10 meter, dan mereka semula mencoba menahan Nakhleh namun tim paramedis Palestina akhirnya berhasil mengevakuasinya setelah terhalang selama lebih dari 30 menit.

Remaja untuk menghembuskan nafasnya setelah dilarikan rumah sakit.

Fadwa Safi, waga kamp Jalazun, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa tentara Israel menyeret dan memukuli Nakhleh yang mengalami luka tembak.

“Saya melangkah keluar dari rumah saya, dan kemudian saya melihat mereka membawa dan memukulinya ketika dia terluka. Empat tentara menyeretnya dan ada sekitar tujuh tentara tambahan yang berjalan bersama mereka,” ujar Safi.

Dia melanjutkan, “Saya mengejar mereka. Mereka melemparkan granat suara ke arah saya dan mengatakan kepada saya agar pulang,  tapi saya mengatakan tidak akan pergi. Saya ingin anak itu karena dia masih hidup, masih bernapas dan bergerak. Mereka menghempaskannya ke tanah. ”

Safi mengatakan ambulan sudah ada tapi tentara Israel semula melarangnya masuk ke kamp.

Sembari menangis Safi melanjutkan, “Satu tentara mengarahkan senjatanya kepada saya. Saya bilang kepadanya, ‘Tembak aku, aku mau anak itu’. Saya berharap bisa menyelamatkannya tapi tidak bisa. Saya senang ketika saya membawanya (karena saya mengira) dia bisa diselamatkan. Saya tidak tahu dia sedang sekarat.”

Ramallah ditutup secara total tentara Israel, Kamis, menyusul serangan pejuang Palestina yang menewaskan dua tentara Israel di dekat pemukiman Zionis Ofra.

Sebagian besar pos pemeriksaan dibuka kembali pada hari Jumat, tapi pasukan Israel tetap dikerahkan di pinggiran Ramallah dan melakukan serangan sporadis ke al-Bireh sehingga warga Palestina memprotes keberadaan mereka.

Menurut Klub Tahanan Palestina, pasukan Israel telah menangkap setidaknya 100 orang Palestina dalam 24 jam terakhir.

Empat warga Palestina gugur di tangan pasukan Israel dalam operasi terpisah pada hari Rabu dan Kamis sore lalu.

Protes terhadap tentara Israel berlanjut di Tepi Barat. Di desa al-Lubban al-Gharbiyeh dekat Nablus, seorang pemuda Palestina terluka di bagian matanya diterjang peluru berlapis karet.

Protes lainnya terjadi di desa Taqu’a sebelah timur Bethlehem dan Hebron, di mana puluhan orang cidera terkena gas air mata dan peluru karet. (aljazeera)

Ansarullah Sebut Perjanjian Gencatan Senjata Kemenangan Bagi Bangsa Yaman

Gerakan Ansarullah (Houthi) di Yaman menegaskan bahwa gencatan senjata yang telah disepakati oleh pihak-pihak yang berperang merupakan kemenangan bagi bangsa negara ini karena akan menghentikan serangan Saudi di kota strategis Hudaydah.

Kepala tim perundingan Ansarullah Mohammed Abdulsalam mengatakan hal tersebut dalam wawancara dengan TV Al-Masirah, Jumat (14/12/2018), tak lama setelah pihak-pihak yang berseteru mencapai kesepakatan gencatan senjata setelah perundingan yang disponsori PBB berlangsung beberapa hari di Swedia.

Berdasarkan kesepakatan itu, “otoritas lokal yang ada akan secara resmi bertanggung jawab  mengendalikan kota itu dan membangun keamanan di bawah pengawasan PBB,” kata Abdulsalam.

Delegasi Ansrullah dan pemerintah yang didukung Saudi setuju bahwa PBB akan memainkan “peran utama” di Hudaydah yang saat ini dikendalikan oleh Ansarullah.

Mereka juga menyetujui pembukaan kembali bandara Sanaa yang ditutup tahun lalu setelah kerap menjadi sasaran serangan udara Arab Saudi.

Di pihak lain yang didukung Saudi dan mewakili mantan presiden Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi dalam pembicaraan di Stockholm pada hari yang sama mengatakan bahwa Ansarullah harus menyerahkan pelabuhan Hudaydah.

Namun, Abdulsalam menepis keras usulan tersebut dan menegaskan bahwa Hudaydah harus dipisahkan dari konflik militer, dan bahwa pemerintah harus dibentuk terlebih dahulu sebelum semua pihak dilucuti.

Pasukan loyalis Hadi dan tentara bayaran Saudi akhirnya bersedia berunding dengan Ansarullah setelah mereka operasi militer mereka secara besar-besaran untuk merebut kota dan pelabuhan Hudaydah gagal.

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab telah mengerahkan sekira 10.000 pasukan ke kawasan pesisir barat Yaman setelah serangan demi serangan mereka untuk merebut Hudaydah kandas dilawan oleh Ansarullah dan sekutunya.

Ansarullah menilai gencatan senjata itu sebagai kekalahan bagi Saudi karena menghentikan agresi, memungkinkan pasukan lokal yang telah menggagalkan serangan Saudi bertanggung jawab atas Hudaydah, dan memungkinkan Yaman untuk dapat kembali mengakses makanan, obat-obatan, dan kebutuhan pokok lain.

PBB mencatat sekira 14 juta orang terancam kelaparan sejak Saudi dan sekutunya mulai menginvasi Yaman pada 2015. (presstv)

Erdogan: Bin Salman Mengira Masyarakat Dunia Bodoh

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan kembali mengangkat kasus pembunuhan wartawan Saudi Jamal Khashoggi dengan menyatakan bahwa dalam rekaman audio peristiwa yang menggemparkan ini salah satu pelaku terdengar mengatakan, “Saya tahu cara memotong.” Erdogan juga menyebut Putra Mahkota Arab Saudi Mohamed bin Salman (MBS) mengira khalayak dunia bodoh.

Dalam pidato di Istanbul, Jumat (14/12/2018), Erdogan mengatakan Turki telah berbagi rekaman audio pembunuhan Khashoggi dengan beberapa negara, termasuk Amerika Serikat  (AS) dan Perancis.

“Amerika Serikat, Jerman, Prancis, Kanada, kami membuat mereka semua mendengarkan … Pria ini dengan jelas mengatakan, ‘Saya tahu cara memotong,’… Orang ini adalah seorang prajurit. Ini semua dalam rekaman audio,” kata Erdogan, tanpa memberikan rincian lebih lanjut tentang rekaman itu, atau identitas orang yang mengucapkan kalimat itu.

Pernyataan Erdogan meluncur sehari setelah Senat AS dengan suara bulat merilis resolusi yang menyatakan Puta Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (MBS) bertanggung jawab atas pembunuhan Khashoggi di dalam konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober lalu.

CIA bulan lalu membuat kesimpulan bahwa MBS memerintahkan pembunuhan Khashoggi, tapi Riyadh menyangkal keterlibatan MBS.

Beberapa orang terdekat MBS telah dituduh mendalangi pembunuhan itu. Otoritas Saudi telah menangkap 21 orang sehubungan dengan pembunuhan itu, dan dilaporkan bahwa kejaksaan Saudi sedang mengupayakan hukuman mati untuk lima tersangka.

Namun, Erdogan Jumat kemarin mengkritik Saudi karena berulang kali mengubah narasinya tentang apa yang terjadi pada Khashoggi.

Pemerintah Saudi semula mengatakan wartawan itu meninggalkan Konsulat Saudi dalam kondisi bugar, tapi kemudian mereka mengatakan dia meninggal akibat perkelahian, dan selanjutnya mereka mengakui bahwa pembunuhan itu direncanakan.

“Pangeran (MBS) mengatakan Jamal Khashoggi meninggalkan Konsulat. Apakah Jamal Khashoggi seorang anak kecil? Tunangannya sedang menunggu di luar,” kata presiden Turki itu.

“Mereka pikir dunia itu bodoh. Bangsa ini tidak bodoh dan tahu bagaimana membuat orang bertanggung jawab,” tegasnya lebih lanjut. (/mee)