Rangkuman Berita Timteng Rabu 21 November 2018

jamal khashoggi lilinJakarta, ICMES: Dalam tubuh keluarga kerajaan Saudi terjadi upaya mencegah jatuhnya tahta ke tangan Putra Mahkota Muhammad bin Salman, menyusul heboh kasus pembantaian wartawan Saudi Jamal Khashoggi.

Rekaman audio terkait dengan pembantaian jurnalis Saudi Jamal Khashoggi – yang secara luas diyakini telah diperintahkan oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman – diperkirakan akan dirilis minggu ini, dan akan “mengguncang” dunia “dan” menjungkirkan istana Saudi. ”

Komandan militer wilayah utara Israel, Jenderal Yoel Strik, mengungkapkan bahwa “Hezbollah” Lebanon sedang berusaha untuk membuka front pertempuran baru di luar wilayah Lebanon dan terletak di Dataran Tinggi Golan, wilayah Suriah yang diduduki Israel.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel al-Jubeir, menyatakan negaranya menolak keras “politisasi” kasus pembunuhan wartawan Saudi Jamal Khashoggi di konsulat Saudi di Istanbul bulan lalu.

Berita selengkapnya:

Para Senior Kerajaan Saudi Berusaha Mencegah Jatuhnya Tahta Ke Tangan Bin Salman

Kantor berita Reuters melaporkan bahwa di dalam tubuh keluarga kerajaan Saudi terjadi upaya mencegah jatuhnya tahta ke tangan Putra Mahkota Muhammad bin Salman, menyusul heboh kasus pembantaian wartawan Saudi Jamal Khashoggi.

Beberapa sumber menyabutkan bahwa puluhan pangeran dan sepupu dari klan al- Saud ingin melihat perubahan pada garis suksesi, tetapi masih enggan bergerak selagi masih ada Raja Salman karena mereka memastikan raja yang berusia 82 tahun itu tidak akan berbalik dari putra kesayangannya itu.

Beberapa pejabat Amerika Serikat (AS) mengutip pernyataan para senior keluarga kerajaan Saudi bahwa keluarga itu berpotensi mendukung Pangeran Ahmed bin Abdul Aziz untuk menjadi pengganti Salman.

Menurut Reuters, para senior keluarga kerajaan itu meyakini bahwa setiap upaya untuk mengubah garis putra mahkota akan dilawan oleh dinas keamanan dan intelijen yang dikendalikan oleh Muhammad bin Salman, karena badan-badan ini, meskipun setia kepada keluarga kerajaan secara keseluruhan, namun  mengikuti tangga piramida.

Sebuah sumber yang dekat dengan keluarga Saudi yang berkuasa mengatakan bahwa setiap langkah Pangeran Ahmed bin Abdul Aziz akan didukung oleh anggota keluarga kerajaan, badan-badan keamanan, dan beberapa kekuatan Barat. Beberapa pejabat AS juga menyarankan bahwa penasihat Saudi akan mendukung langkah Pangeran Ahmed bin Abdul Aziz sebagai penerus tahta Raja Salman.

Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada Reuters bahwa pemerintahan Presiden AS, Donald Trump, tidak tidak tergesa menjauhi Pangeran Mohammed bin Salman, meskipun terjadi tekanan yang cukup besar dari para anggota parlemen AS di Gedung Putih akibat kasus Khashoggi yang terbunuh di dalam gedung Konsulat Saudi di Istanbul, Turki, bulan lalu.

Pangeran Ahmad kembali dari AS ke Saudi bulan lalu di tengah heboh pembunuhan Khashoggi, dan dilaporkan bahwa dia kembali ke Saudi dengan jaminan Barat. (raialyoum)

Kasus Kashoggi, Bukti Rekaman Suara “Akan Guncang Dunia”

Rekaman audio terkait dengan pembantaian jurnalis Saudi Jamal Khashoggi – yang secara luas diyakini telah diperintahkan oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman – diperkirakan akan dirilis minggu ini, dan akan “mengguncang” dunia “dan” menjungkirkan istana Saudi. ”

Ketua redaksi koran Turki Yeni Safak, Ibrahim Karagul, dalam artikelnya yang dimuat Selasa (20/11/2018) menyebutkan keharusan adanya “bukti baru” mengenai instruksi pembunuhan Khashoggi di Istanbul beserta lembaga yang terlibat dengan persiapan dan eksekusinya.

“Hari ini atau minggu ini tampaknya menjadi waktu yang paling tepat untuk melakukan ini,” katanya.

Dia menjelaskan, “Percakapan di antara para pembunuh, percakapan mereka dengan Riyadh setelah melakukan pembunuhan, merupakan percakapan yang akan membuktikan bahwa Putra Mahkota Saudi (Mohamed binSalman) adalah orang memberikan perintah secara langsung.”

Ia juga mencatat bahwa bocoran yang ada bisa jadi akan berimplikasi pada Abu Dhabi, Kairo, Tel Aviv dan Washington terkait dengan kasus pembunuhan ini.

Ibrahim Karagul menilai bukti baru itu akan mengekspos kemungkinan keterlibatan Uni Emirat Arab (UEA), peranan intelijen Mesir, dan bahkan intelijen Israel dan atau AS.

“Informasi semacam ini akan mengguncang dunia, menyebabkan getaran di kawasan itu, membuat istana Saudi terbalik, dan menciptakan situasi baru dalam tatanan kekuatan di kawasan itu,” tambahnya.

Laporan Reuters itu juga menekankan bahwa poros AS-Israel-Arab Saudi-UEA merusak bukti demi  menyelamatkan Bin Salman, sementara Bin Salman tidak dapat lagi dilindungi dari dampak pembunuhan Kashoggi, dan upaya untuk menutup-nutupi kasus akan sia-sia belaka. (presstv)

Israel Ungkap Adanya Front Tempur Baru Hizbullah Di Dataran Tinggi Golan

Komandan militer wilayah utara Israel, Jenderal Yoel Strik, mengungkapkan bahwa “Hezbollah” Lebanon sedang berusaha untuk membuka front pertempuran baru di luar wilayah Lebanon dan terletak di Dataran Tinggi Golan, wilayah Suriah yang diduduki Israel.

“Hizbullah sedang mencoba memposisikan dirinya di Golan sisi Suriah untuk menciptakan front kedua dengan Israel di utara,” ujar Strik dalam sebuah wawancara eksklusif dengan A 24 News milik Israel, Selasa (20/11/2018).

Dia lantas bersumbar,”Kami tahu bahwa Hizbullah sedang berusaha membangun infrastruktur militer di Golan Suriah dekat perbatasan kami, sebagai front kedua di Libanon selatan, dan tentara Israel tidak akan mengizinkannya.”

Yoel Strik  menambahkan, “Meskipun rezim Suriah sudah stabil, namun arena tantangan masih kompleks dan terbuka bagi segala perkembangan. Kami sangat menyadari upaya Iran yang terus meningkat untuk mengkonsolidasikan posisinya di banyak bagian Suriah, dan kami melihat bagaimana Iran mencoba menggunakan wilayah Suriah sebagai titik transit untuk organisasi teroris Hizbullah di Lebanon. “  (raialyoum)

Saudi Tolak “Politisasi” Kasus Pembantaian Khashoggi

Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel al-Jubeir, menyatakan negaranya menolak keras “politisasi” kasus pembunuhan wartawan Saudi Jamal Khashoggi di konsulat Saudi di Istanbul bulan lalu.

“Kami menolak sepenuhnya upaya eksploitasi politik masalah Khashoggi, dan mereka yang menginginkan keadilan dan jenisnya cukup memberikan bukti untuk peradilan Saudi, yang merupakan pemilik yurisdiksi dalam kasus ini,” kata al-Jubeir dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Asyarq al-Awsat  edisi Selasa (20/11/2018).

Al-Jubeir mengklaim bahwa otoritas Turki telah memberikan konfirmasi kepada Riyadh mengenai diksi  “tingkat tertinggi” dalam menyebutkan dalang pembunuhan Khashoggi. Menurutnya, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman bukanlah orang yang dimaksud dalam diksi yang sampaikan oleh pihak Turki Turki tersebut.

Dia meminta Ankara “untuk memberikan bukti dalam kasus itu kepada Kejaksaan Umum Kerajaan, untuk membantu mencapai semua fakta.”

“Di sini, saya ingin menekankan bahwa kepemimpinan Kerajaan Arab Saudi, yang diwakili oleh Pelayan Haramain dan Putra Mahkota, merupakan garis merah, dan kami tidak akan membiarkan upaya untuk mencederai atau melemahkan kepemimpinan kami dari pihak mana pun, dengan dalih apapun. Mengusik kepemimpin kerajaan adalah mengusik semua warga (Saudi),” tegasnya.

Al-Jubeir kemudian menekankan bahwa “pimpinan Kerajaan ingin mempertahankan dan memperkuat hubungan strategis dan kemitraan historis dengan AS,” dan  bahwa “sanksi AS dalam kasus Khashoggi bersifat individual, bukan menarget pemerintah atau ekonomi Kerajaan.” (raialyoum)