Rangkuman Berita Timteng Rabu 14 November 2018

penduduk gazaJakarta, ICMES: Ribuan massa pendukung Hamas dan faksi-faksi pejuang Palestina lain berunjuk rasa di Gaza setelah tersiar pengumuman gencatan senjata baru antara para pejuang Palestina dan Israel dengan mediasi Mesir.

Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat menetapkan Jawad Nasrallah, putra Sekjen Hizbullah Sayyid Hasan Nasrallah, sebagai “teroris dunia” dan menuduhnya pernah mencoba “mengaktifkan bom bunuh diri dan menembak sel yang berbasis di Tepi Barat”.

Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa rekaman audio yang ditunjukkan Turki kepada para sekutunya di Barat mengenai pembunuhan Jamal Khashoggi “mengerikan”.

Kementerian Luar Negeri Turki menyatakan bahwa Arab Saudi ingin memindah konsulatnya dari Istanbul ke tempat lain menyusul heboh kasus pembunuhan jurnalis Saudi Kamal Khashoggi.

Berita selengkapnya:

Hamas Rayakan Kemenangan Di Gaza Usai Pengumuman Gencatan Senjata Baru

Ribuan massa pendukung Hamas dan faksi-faksi pejuang Palestina lain berunjuk rasa di Gaza setelah tersiar pengumuman gencatan senjata baru antara para pejuang Palestina dan Israel dengan mediasi Mesir, Selasa (13/11/2018).

Gencatan senjata ini menyudahi dua hari eskalasi militer berupa serangan udara Israel dan gempuran rudal pejuang Palestina yang telah menyebabkan 14 orang Palestina gugur syahid dan beberapa tentara Israel tewas dan luka.

Para pengunjuk rasa turun ke jalan setelah ada imbauan dari masjid-masjid. Mereka meneriakkan yel-yel dukungan kepada “muqawamah” (resistensi) para pejuang Palestina di Gaza terhadap agresi Israel sembari membentangkan bendera Palestina serta bendera Hamas dan faksi-faksi lain.

Pemerintah Gaza mengumumkan dimulainya aktivitas sehari-hari secara normal pada hari ini, Rabu, setelah sempat diumumkan libur.

Kementerian Pekerjaan Umum Dan Permukiman Palestina mengumumkan dimulainya pembersihan puing-puing puluhan bangunan yang hancur digempur Israel dan pembukaan jalur-jalur akses.

Kementerian ini menyebutkan bahwa bangunan yang hancur berjumlah 80 unit, sedangkan bangunan yang rusak berat 50 unit, dan yang rusak ringan 750 unit.

Sebelumnya, Hamas menyatakan siap menjalankan gencatan senjata “jika Israel menghentikan agresinya”.

Kepala Biro Politik Hamas Ismail Haniyeh menegaskan, “Poros Resistensi membela bangsa dan dirinya di depan agresi Israel, dan rakyat Palestina sebagaimana biasa menerima resistensi dengan sabar dan penuh rasa bangga.” (raialyoum)

AS Umumkan Salah Satu Putra Sekjen Hizbullah Sebagai “Teroris Dunia”

Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Selasa (13/11/2018), menetapkan Jawad Nasrallah, putra Sekjen Hizbullah Sayyid Hasan Nasrallah, sebagai “teroris dunia” dan menuduhnya pernah mencoba “mengaktifkan bom bunuh diri dan menembak sel yang berbasis di Tepi Barat” pada Januari 2016.

Kementerian ini juga mengklaim Jawad Nasrallah sebagai tokoh yang akan menjadi penerus ayahnya di Hizbullah, dan mengklaim bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini Jawad telah merekrut sejumlah orang  “untuk melancarkan serangan teror terhadap Israel di Tepi Barat.”

Kementerian itu kemudian mengklaim bahwa Brigade Mujahidin Palestina (AMB) yang eksis di Tepi Barat sebagai kelompok yang merencanakan serangan di Israel dan membina hubungan dengan Hizbullah.

“Penandaan hari ini adalah demi meniadakan sumber daya Nasrallah dan AMB untuk merencanakan dan melakukan serangan teror,” bunyi statemen kementerian itu.

Dengan demikian  kedua entitas itu akan ditolak akses ke sistem keuangan AS.

Lebih lanjut, Kementerian Luar Negeri AS mengumumkan sayember berhadiah hingga US$ 5 juta masing-masing untuk informasi yang mengarah kepada identifikasi atau penentuan lokasi dua pemimpin Hizbullah, Khalil Yusif Mahmoud Harb dan Haytham Ali Tabataba’i, dan pemimpin Hamas, Salih al-Aruri. (raialyoum/thewashingtonpost)

Erdogan: Rekaman Audio Kasus Pembunuhan Kashoggi “Mengerikan”

Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan, sebagaimana dikutip media Turki, Selasa (13/11/2018), mengatakan bahwa rekaman audio yang ditunjukkan Turki kepada para sekutunya di Barat mengenai pembunuhan Jamal Khashoggi “mengerikan” sehingga seorang perwira intelijen Saudi bahkan juga terkejut mendengarnya.

Khashoggi, jurnalis Saudi yang kritis terhadap Putra Mahkota Saudi Mohamed bin Salman,  terbunuh di dalam konsulat negara ini di Istanbul pada enam minggu lalu dalam operasi yang menurut Erdogan diperintahkan oleh “tingkat tertinggi” dalam Kerajaan Saudi.

Dalam perjalanan pulang di atas pesawat dari kunjungannya ke Perancis akhir pekan ini dia mengaku telah membahas kematian Khashoggi dengan para pemimpin Amerika Serikat (AS), Perancis dan Jerman saat makan malam di Paris.

“Kami telah memutar rekaman pembunuhan ini untuk semua orang yang menginginkannya dari kami. Intelijen kami tidak menyembunyikan apa pun. Kami mengoperasikannya untuk semua orang yang menginginkannya, termasuk Saudi, AS, Prancis, Kanada, Jerman dan Inggris,” ujar Erdogan.

Dia menambakan, “Rekamannya benar-benar mengejutkan. Ketika petugas intelijen Saudi mendengarkan rekaman ini dia sangat terkejut sehingga berucap; ‘Orang ini pasti terpengaruh heroin. Ini hanya dilakukan oleh orang yang terpengaruh heroin.’”

Erdogan menilai rekaman itu jelas menunjukkan bahwa pembunuhan itu direncanakan dan berasal dari tingkat tertinggi dalam Kerajaan Saudi, namun dia mengaku tidak percaya bahwa Raja Saudi Salman bin Abdulaziz tersangkut dengan kasus ini.

“Putra Mahkota (Saudi) berkata; ‘Saya akan membuatnya jelas dan saya akan melakukan apa yang diperlukan.’ Kami menunggu dengan tidak sabar,” tutur Erdogan

Dia mengingatkan bahwa para pelaku kejahatan ini antara lain adalah 18 tersangka yang ditahan di Arab Saudi.

“Penting untuk mengungkapkan siapa yang memberi mereka perintah untuk membunuh,” tegas Erdogan.

Dia mengaku sangat menantikan kesediaan Mohamed bin Salman mengungkap tabir misteri yang tersisa dalam kasus pembunuhan Khashoggi, dan Ankara akan menindak lanjuti masalah hingga ke level internasional. (raialyoum)

Buntut Kasus Kashoggi, Saudi Ingin Pindahkan Konsulatnya Dari Istanbul

Kementerian Luar Negeri Turki menyatakan bahwa Arab Saudi ingin memindah konsulatnya dari Istanbul ke tempat lain menyusul heboh kasus pembunuhan jurnalis Saudi Kamal Khashoggi di konsulat tersebut.

“Keinginan ini ada pada Riyadh, tapi pihak Saudi tidak mengajukan permohonan resmi untuk pemindahan konsulat,” ujar jubir Kementerian Luar Negeri Turki dalam jumpa pers, Selasa (13/11/2018).

Seperti diketahui, Khashoggi yang bekerja di The Washington Post menghilang pada 2 Oktober lalu setelah memasuki konsulat negaranya di Istanbul.

Pada 20 Oktober lalu media resmi Saudi merilis surat kejaksaan agung negara ini yang berisi konfirmasi bahwa berdasarkan keterangan-keterangan awal telah terjadi “pertengkaran” antara Khashoggi dan para pegawai konsulat Saudi di Istanbul hingga dia terbunuh, dan sebanyak 18 tersangka telah ditahan terkait dengan kasus ini.

Kejaksaan Istanbul menyatakan bahwa Khashoggi dibunuh secara disengaja dan jenazahnya dimutilasi setelah terbunuh dengan dijerat. (raialyoum)