Rangkuman Berita Timteng Kamis 6 Desember 2018

Ahmed Asiri dan Saud al-QahtaniJakarta, ICMES: Jaksa Istanbul, Turki, telah mengajukan surat perintah penangkapan Saud al-Qahtani dan Jenderal Ahmed Asiri atas dugaan terlibat dalam kasus pembunuhan jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi.

Warga kota-kota Israel di dekat perbatasan dengan Lebanon dilanda ketakutan  setelah tersiar kabar ditemukannya terowongan Hizbullah di kawasan lintas-perbatasan.

Amerika Serikat (AS) dilaporkan menekan beberapa negara Arab untuk mendukung rancangan resolusi PBB terhadap Gerakan Perlawanan Palestina (Hamas).

Berita selengkapnya:

Jaksa Turki Perintahkan Penangkapan Jenderal Saudi

Jaksa Istanbul, Turki, telah mengajukan surat perintah penangkapan Saud al-Qahtani dan Jenderal Ahmed Asiri atas dugaan terlibat dalam kasus pembunuhan jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi. Bersamaan dengan ini, Turki juga menyatakan tidak tertutup kemungkinan diadakannya penyelidikan internasional atas kasus ini jika dirasa perlu.

Al-Qahtani merupakan pembantu utama Putra Mahkota Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), sedangkan Jenderal Ahmed Asiri adalah wakil kepala intelijen asing Saudi. Keduanya telah dicopot dari jabatan masing-masing setelah kasus itu menggemparkan publik.

Jamal Khashoggi, warga Saudi yang bekerja sebagai kolumnis Amerika Serikat untuk The Washington Post, tewas tak lama setelah memasuki konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober.

Dua pejabat Turki, Rabu (5/12/2018), menyatakan bahwa Kejaksaan menyimpulkan ada “kecurigaan kuat” bahwa al-Qahtani dan Asiri termasuk orang yang merencanakan pembunuhan.

“Langkah jaksa penuntut untuk mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Asiri dan Qahtani mencerminkan pandangan bahwa pemerintah Saudi tidak akan mengambil tindakan formal terhadap orang-orang itu,” kata salah seorang pejabat itu kepada kantor berita Reuters.

Dia menambahkan bahwa Arab Saudi dapat mengatasi kekhawatiran internasional dengan mengekstradisi semua tersangka dalam kasus itu ke Turki.

Menurut AFP, permohonan surat perintah itu diajukan pada Selasa lalu. Pada saat publikasi, Arab Saudi belum secara terbuka menanggapi permintaan tersebut.

Kejaksaan Saudi sebelumnya telah mengakui bahwa al-Qahtani dan Asiri adalah bagian dari perencana pembunuhan Khashoggi.

Al-Qahtani tidak melakukan perjalanan ke Turki, tapi diduga telah mengawasi regu 15 orang yang terbang dari Riyadh ke Istanbul untuk mengeksekusi Khashoggi.

Sedangkan Asiri adalah jenderal yang pernah menjadi juru bicara pasukan koalisi pimpinan Saudi yang menyerang Yaman. Dia diangkat sebagai penasihat MBS, dan kemudian dipromosikan sebagai intelijennya pada tahun 2017.

Asiri kerap mendapat kecaman dari kelompok-kelompok peduli HAM atas pengabaiannya terhadap korban sipil dalam perang di Yaman.

Saudi dilaporkan telah menahan setidaknya 11 tersangka pembunuhan Khashoggi, yang kima di antaranya bahkan dituntut hukuman mati. Namun Saudi belum memberikan keterangan tentang siapa otak yang merencanakan pembunuhan Khashoggi. Dan Riyadh berulang kali membantah keterlibatan  MBS terlibat dalam kasus tersebut, namun dia masih kerap disebut-sebut sebagai dalang pembunuhan Khashoggi.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu menyatakan pihaknya tidak akan tidak akan ragu-ragu untuk berkonsultasi dengan pihak internasional jika terjadi kebuntuan pada proses penyelidikan kasus pembunuhan jurnalis Saudi, Jamal Khashoggi.

Berbicara kepada wartawan usai pertemuan para menteri luar negeri Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Brussels, Rabu, Cavusoglu mengatakan penyelidikan atas pembunuhan Khashoggi sedang berlangsung. (aljazeera/anadolu)

Israel Dilanda Ketakutan Menyusul Temuan Terowongan Hizbullah

Warga kota-kota Israel di dekat perbatasan dengan Lebanon dilanda ketakutan  setelah tersiar kabar ditemukannya terowongan Hizbullah di kawasan lintas-perbatasan.

Terowongan adalah cara yang sudah lama ada dalam perang sepanjang sejarah manusia, dan pernah digunakan terutama dalam Perang Dunia I dan II.  Vietnam juga pernah menjadikannya sebagai senjata ampuh dalam perjuangan melawan penjajahan Perancis pada tahun 1950-an dan kemudian melawan Amerika Serikat pada tahun 1960-an dan 1970-an.

Hezbullah menggunakan terowongan sesuai dengan kondisi geopolitik setempat.  Mereka mengelola metode pertempuran bawah tanah menjadi senjata penting dalam memukul dan menjalankan pertempuran melawan tentara Israel berserta senjata darat, laut dan udaranya.

Hizbullah mulai mempersiapkan pertempuran di masa mendatang melawan Israel sejak negara ilegal Zionis menarik pasukannya dari Libanon selatan pada tahun 2000. Hizbullah menggali jaringan terowongan dan tempat persembunyian yang dibentengi di daerah dekat perbatasan dengan Israel, selain membangun arsenal dan menyiapkan senjata sebanyak mungkin, terutama roket jarak pendek dan menengah, serta pusat-pusat komunikasi dan komando.

Para ahli mengatakan bahwa Hizbullah semula belajar dari pengalaman para pejuang Palestina yang pernah terowongan di Libanon selatan sebelum invasi Israel pada tahun 1982. Selanjutnya,  senjata rahasia berupa terowongan itu pindah ke Jalur Gaza, dan berperan utama dalam kesabaran para pejuang Palestina untuk melancarkan serangan kejutan pada tentara Israel selama perang pada tahun 2014.

Menariknya lagi, Israel yang berteknologi tinggi ternyata sangat kesulitan mendeteksi keberadaan terowongan Hizbullah di dekat perbatasan, dan temuan terowongan yang terjadi belakangan ini didahului dengan proses yang lama.

Seorang ahli Israel berkomentar bahwa masalahnya sekarang “bukan hanya terowongan untuk peluncuran rudal dengan teknologi Iran yang sulit untuk ditangkis, tapi kita juga berbicara tentang jaringan terowongan di mana segala sesuatu yang diperlukan untuk ratusan atau bahkan mungkin ribuan pejuang untuk dapat tinggal lama di bawah tanah.”

Ahli itu menjelaskan lebih lanjut bahwa tempat persembunyian dan terowongan Hizbullah tidak hanya didedikasikan untuk ” peluncuran dan perang, melainkan juga ada klinik medis dan ruang makan dan toilet, serta segala yang dibutuh pejuang Hizbullah seperti pencahayaan dan komunikasi, dan sulit untuk mengetahui kedalaman terowongan ini.” (rt)

AS Tekan Para Sekutu Arabnya Agar Dukung Draf Resolusi PBB Anti-Hamas

Amerika Serikat (AS) dilaporkan menekan beberapa negara Arab untuk mendukung rancangan resolusi PBB terhadap Gerakan Perlawanan Palestina (Hamas).

Majelis Umum PBB dijadwalkan akan melakukan pengambilan suara pada hari ini, Kamis (6/12/2018), untuk draf resolusi yang diusulkan AS untk mengutuk Hamas karena kelompok pejuang Palestina di Gaza ini telah “menembakkan roket ke Israel dan menyerukan kekerasan.”

Harian Israel Haaretz melaporkan bahwa Jason Greenblatt, utusan Presiden Donald Trump untuk Timur Tengah, telah mengirim surat kepada diplomat Maroko, Oman, Bahrain, Yordania, Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, Mesir dan Qatar agar mereka mendukung draf resolusi tersebut.

Seorang pejabat pemerintah AS menyebut bahwa Greenblatt telah mengklaim bahwa draf yang mengecam Hamas itu juga menyerukan dukungan untuk upaya-upaya menuju kesatuan politik Palestina.

Greenblatt  mengklaim bahwa negara-negara yang menentang terorisme dan menginginkan stabilitas di kawasan “tidak memiliki alasan” untuk menolak dokumen itu.

Greenblatt juga dilaporkan menyebut resolusi itu sebagai kecaman PBB pertama kalinya terhadap Hamas, dan menilainya sangat relevan di tengah eskalasi baru di Jalur Gaza.

Dia mendesak negara-negara Arab untuk tidak bergabung dengan upaya Otorita Palestina menentang draf itu.

Selain sekutu Arabnya, AS yang getol membela Israel juga telah melobi para sekutunya di Eropa untuk mendukung draf resolusi anti-Hamas. (presstv)