Rangkuman Berita Timteng Jumat 30 November 2018

pertahanan udara suriahJakarta, ICMES: Militer Suriah menyatakan telah menembak jatuh satu jet tempur  dan empat rudal Israel di wilayah selatan Suriah.

Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengakui bahwa masyarakat dunia tidak mendukung upayanya untuk mengganti pemerintahan Presiden Suriah Bashar al-Assad, menegaskan bahwa AS setidaknya masih akan berusaha menetralisir “watak dan perilaku” Damaskus.

Pemerintah Amerika Serikat (AS) memamerkan serpihan besi yang diklaimnya sebagai rongsokan senjata dan perlengkapan militer yang membuktikan bahwa Iran gencar dan intensif memasok senjata kepada kelompok-kelompok milisi di pelbagai penjuru Timteng.

Gerakan Ansarullah (Houthi) di Yaman menyatakan akan menghadiri perundingan damai yang akan diselenggarakan di Swedia dengan sponsor PBB pekan mendatang dengan syarat “kontinyuitas jaminan” bagi kepergian dan kepulangan delegasi Ansarullah.

Berita selengkapnya:

Suriah Tembak Jatuh Jet Tempur Dan Rudal Israel

Militer Suriah menyatakan telah menembak jatuh satu jet tempur  dan empat rudal Israel di wilayah selatan Suriah.

“Pasukan pertahanan udara kami menembak jatuh satu jet tempur Israel dan empat rudal sebelum mereka mencapai target,” kata sumber keamanan Suriah seperti dikutip kantor berita RIA milik Rusia, Kamis malam waktu setempat (29/11/2018).

Sumber itu mengatakan bahwa semua rudal yang ditujukan ke kota Kiswah, di selatan ibukota Damaskus, itu ditembak jatuh sebelum menerjang targetnya.

Sumber-sumber lain melaporkan bahwa serpihan telah jatuh dari angkasa dekat desa Harfa, tetapi tidak jelas apakah itu adalah serpihan rudal yang dicegat atau serpihan rudal pencegat.

Di pihak lain,  juru bicara militer Israel membantah laporan RIA dan menyebutnya “palsu.”

Media Israel mengklaim bahwa penasehat militer Iran serta pejuang Hizbullah Lebanon adalah target utama serangan itu.

Dua sumber intelijen senior regional mengatakan kepada Reuters bahwa  Hizbullah yang bekerja sama dengan Iran dalam pemberantasan teroris yang didukung asing di Suriah dilaporkan telah mendirikan pusat komunikasi dan logistik untuk operasi di Suriah selatan dekat perbatasan Israel di Dataran Tinggi Golan.

Tel Aviv menyebut keberadaan Iran di Suriah sebagai ancaman bagi keamanan Israel, dan dengan dalih ini Israel selama tujuh tahun perang Suriah telah beberapa kali menyerang posisi pasukan Iran dan pasukan lain yang diduga didukung Iran.

Serangan itu merupakan cara Israel dalam berusaha menyokong kelompok-kelompok teroris yang kalah perang  melawan tentara Suriah.

Israel dan AS bahkan telah menekan Rusia yang juga merupakan sekutu Suriah agar mengusir Iran dari Suriah. (presstv)

AS Nyatakan Dunia Tak Mendukung Perubahan Rezim Di Suriah

Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengakui bahwa masyarakat dunia tidak mendukung upayanya untuk mengganti pemerintahan Presiden Suriah Bashar al-Assad, menegaskan bahwa AS setidaknya masih akan berusaha menetralisir “watak dan perilaku” Damaskus.

Utusan Khusus Kementerian Luar Negeri (Kemlu) AS James Jeffrey saat menjawab pertanyaan Komisi Luar Negeri Kongres AS mengatakan, “AS dan semua lembaga pemerintahan di negara kita bersiteguh pada keharusan penarikan semua pasukan yang berada di bawah komando Iran di seluruh wilayah Suriah, dan menjamin proses politik pantang mundur untuk pengubahan watak dan perilaku pemerintah Suriah, sebab kita melihat tanpa itu konflik ini tidak akan ada habisnya.”

Dia menambahkan, “Kita tidak berkomitmen pada pernyataan resmi seseorang, kecuali anggapan kita bahwa Assad adalah yang terburuk dalam keranjang, di manapun tempatnya… Itu baik ataupun buruk, sebagian besar masyarakat dunia tidak menyokong upaya kita mengubah rezim itu. Karena itu kita tidak menghendaki perubahan signifikan pada pemerintahan Suriah.”

Dia kemudian memastikan bahwa AS akan mempersulit bantuan masyarakat dunia kepada Damaskus untuk rekonstruksi Suriah sebelum Damaskus mengaktifkan proses penyelesaian krisis negara ini melalui jalur politik.

Dalam beberapa bulan terakhir Presiden AS Donald Trump membuat statemen-statemen simpang siur mengenai sikapnya terhadap kebertahanan Assad sebagai presiden Suriah.

Pada 28 Agustus lalu Menteri Pertahanan AS James Mattis menyatakan negaranya bertujuan menyudahi pemerintahan Assad. Namun pada September lalu Wakil Tetap AS untuk PBB Nikki Haley menyatakan AS tidak mengupayakan mundurnya Assad sembari menyebutkan bahwa kebertahanan Assad hanyalah terkait dengan faktor waktu. (rt)

AS Pamerkan Rongsokan “Senjata Iran”

Pemerintah Amerika Serikat (AS), Kamis (29/11/2018), memamerkan serpihan besi yang diklaimnya sebagai rongsokan senjata dan perlengkapan militer yang membuktikan bahwa Iran gencar dan intensif memasok senjata kepada kelompok-kelompok milisi di pelbagai penjuru Timteng.

Di sebuah barak militer di Washington Utusan Khusus AS untuk urusan Iran Brian Hook memamerkan kepada wartawan sejumlah serpihan peluru, rudal, pesawat nirawak, dan berbagai perlengkapan militer lain.

Kemhan AS Pentagon mengklaim bahwa sebagian perlengkapan militer itu disita di Selat Hormuz ketika dikirim kepada kelompok Ansarullah (Houthi) di Yaman, dan sebagian lain disita oleh Saudi di Yaman.

Pemajangan serpihan besi seperti itu juga pernah dilakukan oleh Wakil Tetap AS untuk PBB Nikki Haley pada Desember 2017 ketika Presiden AS Donald Trump mengkampanyekan tekanan terhadap Iran dan berupaya meyakinankan negara-negara Barat sekutunya agar turut membendung pengaruh Iran di Timteng.

Dalam pameran kali ini item terpenting yang dinyatakan oleh Hook adalah rudal darat ke udara “Sayyad-2” yang, menurutnya, telah dirontokkan oleh Saudi di Yaman pada tahun ini.

“Tulisan Persia di sisi rudal ini membantu pembuktian bahwa itu buatan Iran. Simbol-simbol Persia yang jelas merupakan cara Iran untuk mengatakan bahwa mereka tidak peduli jika itu tersita, sementara mereka melanggar resolusi PBB, ”klaimnya.

Dia menambahkan bahwa rudal itu hendak dikirim Iran kepada Ansarullah yang berperang melawan pasukan koalisi pimpinan Saudi di Yaman.

“Iran ingin menyerahkannya kepada Houthi yang sudah pernah menggunakannya untuk membidik jet tempur pasukan koalisi dari jarak 46 mil,” ujar Hook.

Pameran rongsokan itu dilakukan sehari setelah Senat AS melakukan voting untuk menempuh tindakan yang dapat menghentikan dukungan militer AS kepada Saudi dan sekutunya di Yaman. (raialyoum)

Ansarullah Yaman Akan Hadiri Perundingan Di Swedia Pekan Depan

Gerakan Ansarullah (Houthi) di Yaman menyatakan akan menghadiri perundingan damai yang akan diselenggarakan di Swedia dengan sponsor PBB pekan mendatang dengan syarat “kontinyuitas jaminan” bagi kepergian dan kepulangan delegasi Ansarullah.

Tokoh papan atas Ansarullah Mohammad Ali al-Houthi melalui akun Twitter-nya, Kamis (29/11/2018), menyatakan, “Saya yakin bahwa delegasi nasional (Ansarullah) akan ada di Swedia, dengan izin Allah, pada 3 Desember, jika jaminan untuk kepergian dan kepulangan berlanjut, dan ada indikasi-indikasi positif yang menunjukkan bahwa pihak-pihak lain juga mementingkan perdamaian.”

Ini merupakan yang pertama kalinya Ansarullah memberikan pernyataan sedemikian gamblang bahwa mereka akan menghadiri perundingan damai, meskipun sejak beberapa waktu lalu mereka berulang kali menegaskan dukungannya kepada upaya perdamaian.

Sebelumnya, pihak lawan Ansarullah yang merupakan kubu mantan presiden Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi juga menyatakan akan menghadiri perundingan damai di Swedia.

Pada September lalu PBB gagal menyelenggarakan perundingan damai di Jenewa setelah Ansarullah pada saat-saat terakhir menjelang hari H menolak kepergian ke luar negeri dengan alasan tak ada jaminan delegasinya akan dapat pulang ke Sanaa, ibu kota Yaman, yang mereka kuasai.

Perundingan damai dinilai sebagai kesempatan terbaik untuk meredakan perang yang berkobar di Yaman sejak tahun 2014 di tengah tekanan internasional untuk pencegahan tragedi kelaparan di Yaman.

Sejak Arab Saudi dan sekutunya melakukan intervensi militer ke Yaman pada Maret 2015 sekira 10,000 orang yang sebagian besar adalah warga sipil terbunuh.

Sekjen PBB António Guterres Rabu lalu menyatakan siap menemui Putra Mahkota Arab Saudi Mohamed bin Salman untuk membicarakan perundingan damai Yaman.

“Jika kita dapat menghentikan perang di Yaman maka kita dapat menghentikan krisis kemanusiaan terbesar yang kita hadapi di dunia,” ujarnya. (raialyoum)